Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PARA PENGUASA
"Penjara ini dikenal sebagai pusat isolasi terpidana mati. Namun di kalangan kami, tak sedikit yang menyebutnya neraka terakhir."
Ivan mengangkat sebelah alisnya, sementara Renzo tetap tenang menyuap makanannya tanpa perubahan ekspresi wajah, seakan apa yang baru saja didengarnya hanyalah kabar angin biasa belaka. Namun di balik diamnya itu, pendengarannya menegang tajam — setiap kata tersimpan rapi di benaknya.
"Seluruh terpidana mati dari berbagai pelosok negeri dikirim ke sini, karena tak ada penjagaan yang lebih ketat dari tempat ini. Dikelilingi tembok, dijaga ribuan penjaga bersenjata lengkap, dan di dalamnya terbagi menjadi enam gedung utama, masing-masing berdiri terpisah, diberi nama yang sendiri saja sudah cukup membuat bulu kuduk berdiri: Taring Serigala, Cakar Harimau, Naga Neraka, Darah Buaya, Singa Perkasa, dan Kuda Hitam."
Ia tersenyum tipis, lalu menunjuk lantai tempat mereka berdiri seakan gedung itu sendiri mendengarkan pembicaraan mereka.
"Gedung tempat kita tinggal bernama Naga Neraka. Di antara keenam gedung, tempat ini dinilai paling 'biasa' — katanya tahanan di sini tidak sekejam penghuni gedung lainnya." Ia terkekeh pelan, namun matanya tak ikut tertawa. "Tapi jangan keliru. Di sini pun masih ada dua puluh hingga tiga puluh orang yang pantas disebut iblis berjalan di atas bumi. Orang-orang yang bahkan para sipir pun enggan mendatangi selnya sendirian."
Suasana di meja makan mendadak membeku. Udara yang semula biasa saja kini terasa menekan dada seakan beratnya berlipat ganda, napas pun terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Pria berkulit hitam itu menurunkan suaranya perlahan, matanya bergerak waspada ke kiri dan kanan memastikan tak ada telinga lain yang ikut menyimak, sebelum melanjutkan dengan nada rendah serak.
"Setiap gedung dipimpin oleh satu penguasa mutlak. Kami menyebut mereka Enam Penguasa Gedung Utama. Dialah bos sejati di antara ribuan penghuni penjara ini. Sipir hanya mengatur pintu dan kunci — merekalah yang mengatur nyawa dan aturan hidup di dalamnya."
"Di Gedung Taring Serigala, rajanya bernama Belly. Ia adalah bandar narkoba terbesar dalam sejarah Indonesia, penghubung utama Segitiga Emas yang mengalirkan barang haram dari perbatasan hingga ke seluruh Asia Tenggara bahkan sampai ke jantung Eropa Tengah. Selama belasan tahun tak tersentuh hukum, kaya raya bak raja. Namun kekayaan dan kekuasaan tak mampu melawan pisau dari belakang — ia dikhianati orang kepercayaannya sendiri. Identitasnya terungkap, dan selama lima hari penuh ia diburu gabungan Biro Anti Narkoba serta pasukan khusus militer dari udara maupun darat sebelum akhirnya dikepung dan menyerah."
Ivan mendengus pelan, jemarinya mengetuk pelan pinggiran nampan berirama tenang. "Menarik. Lalu siapa pemimpin gedung lainnya?"
Pria itu tersenyum miring, seakan baru saja membuka pintu neraka satu per satu. Ia mulai menyebutkan nama-nama yang kelak akan menjadi bayang-bayang mimpi buruk mereka.
"Gedung Cakar Harimau — dikuasai Darren. Dahulu ia kebanggaan negara, perwira termuda pasukan khusus bergelar Mayor, pahlawan yang dikirim ke berbagai misi internasional dan pulang membawa tanda jasa demi tanda jasa. Namun satu malam nasibnya berbalik total. Ia berselisih dengan putra pejabat tinggi negara yang melanggar hukum hingga nyawa orang tak bersalah melayang... dan dalam amarahnya yang memuncak, Darren membunuh sepuluh orang sekaligus — putra pejabat itu beserta sembilan pengawalnya yang mencoba menghalanginya." Ia berhenti sejenak, menghela napas panjang sebelum melanjutkan. "Sejak masuk ke sini, nyawanya berkali-kali diincar dari belakang, diracun, disergap beramai-ramai... namun tak satu pun berhasil. Justru sebaliknya, merekalah yang tak pernah bangun lagi. Kini namanya paling ditakuti di seluruh sisi barat penjara ini."
"Gedung Naga Neraka — dulunya ada yang mengaku rajanya, Kaneo. Nasibnya tak jauh berbeda dengan dirimu, Renzo. Mantan prajurit khusus yang dijebloskan ke sini karena membunuh atasannya sendiri — karena sang atasannya yang justru mengkhianati pasukannya dan membiarkan kawan-kawannya mati sia-sia. Dijuluki 'Senjata Berjalan' karena kemampuannya bertarung sendirian melawan pasukan bersenjata lengkap. Sombong, kuat, merasa tak terkalahkan... hingga beberapa bulan lalu ia mencari masalah ke gedung sebelah dan ditantang Darren. Pertarungan itu tak sampai sepuluh menit. Kaneo dihajar hingga nyaris tewas dan dibawa ke rumah sakit penjara. Sampai sekarang belum turun ke bawah. Mungkin sebentar lagi ia akan kembali."
"Gedung Darah Buaya milik Axel. Namanya dulu membasahi koran-koran bawah tanah selama bertahun-tahun. Tak pernah kalah di arena tinju gelap, empat tahun berturut-turut berdiri di puncak tak tersentuh. Kemenangannya tak terhitung angkanya... hingga satu malam di tengah ring ia kehilangan kendali sepenuhnya. Tak hanya lawannya, penonton yang berusaha lari pun dihajarnya, bahkan lima belas anggota kepolisian yang datang membawa senjata lengkap pun tak luput. Puluhan nyawa melayang dalam satu malam itu sendirian."
"Gedung Kuda Hitam — Damian. Sosok paling misterius di antara keenamnya. Pembunuh bayaran kelas dunia yang namanya masuk daftar lima puluh penjahat paling berbahaya di seluruh benua. Tak ada yang tahu bagaimana caranya akhirnya tertangkap dan dikurung di sini. Hampir tak pernah terlihat berbicara, tak pernah tertawa, tak pernah berkelahi... namun siapa pun yang berani menatap matanya lama-lama tak pernah kembali utuh."
"Dan terakhir, Gedung Singa Perkasa — rajanya adalah Pangeran Kael. Pemimpin Geng Singa Emas yang dulu menguasai seluruh wilayah timur. Dalam tujuh tahun ia menyatukan semua kelompok kriminal di sana tanpa perang besar, seakan ia raja kecil berdaulat. Terlalu berkuasa, terlalu sombong, hingga ia lupa dirinya masih berada di tanah negara. Berani mengancam nyawa pejabat tinggi pemerintah secara terbuka. Akhirnya dalam satu malam kekuasaannya diratakan dengan tanah, ribuan anak buahnya ditangkap bersamanya, dan ia sendiri dijatuhi hukuman mati."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu begitu pria itu selesai bercerita. Hanya terdengar suara samar piring yang beradu, langkah kaki sipir di lorong jauh, dan derit rantai besi yang saling berbenturan tertiup angin lorong. Pria berkulit hitam itu menatap satu per satu wajah mereka lekat-lekat seakan ingin menanamkan setiap kata ke dalam kepala mereka.
"Itulah semua yang aku ketahui tentang keenam penguasa gedung utama ini." Ia menyeringai lebar menampakkan gigi-giginya yang tak rata, sorot matanya berkilat penuh peringatan. "Sekarang kalian sudah paham bukan? Bukan penjara biasa yang kalian masuki ini. Ini istananya iblis-iblis yang menunggu waktu lepas."
Ivan tertawa kecil, bukan ketakutan — melainkan antusiasme murni. Ia perlahan menyuap nasi ke mulutnya, matanya menyala penuh minat seakan baru saja mendengar peta harta karun.
"Menarik sekali..." gumamnya pelan, senyum melebar hingga sudut bibirnya nyaris menyentuh telinga. "Sepertinya di setiap gedung ada harimau yang berjongkok diam dan naga yang bersembunyi di dalam bayang-bayang menunggu mangsa yang tepat. Semakin lama di sini, semakin terasa... tempat ini belum sepenuhnya memperlihatkan wajah aslinya."