Annisa Marwa harus pergi dari kehidupan keluarganya setelah dia tahu bahwa dua orang yang dia sayangi dan dia percaya menjalin hubungan dibelakangnya.
Disakiti oleh kedua orangtuanya, Dikecewakan oleh Kakak dan Tunangannya tak membuat Marwa mundur atas kepergian itu. Tak ada air mata tangisan yang mengiringi langkahnya dalam meninggalkan kota itu.
Hingga pertemuannya dengan Rayyan Al Ghafa Pangestu merubah hidupnya. Marwa menjadi wanita yang lebih tangguh dan kuat dalam menghadapi apapun.
••••••••
"Aku Marwa, Sesuai dengan namaku.. Aku akan jadi wanita tangguh dan kuat tanpa takut pada siapapun.. " Annisa Marwa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setuju Menjadi Istri
Marwa meletakkan beberapa lembar kertas yang ia yakini adalah sebuah sertifikat rumah itu. Jika biasanya sertifikat berbentuk seperti buku dengan beberapa halaman. Tidak dengan sertifikat ini.
Semua halamannya terpisah, Marwa bahkan mengecek kembali satu persatu lembaran kertas tersebut. Satu persatu lembaran ini dilipat menjadi segi empat kecil-kecil lalu diletakkan dibelakang foto kedua orangtuanya. Barulah setelah itu figura tersebut tertutup dengan rapat.
Mau dicari sampai lumutan pun tetap tidak akan ketemu karena semuanya ada ditempat yang benar-benar tersembunyi.
"Gak salah lagi.. Ini sertifikat rumah peninggalan ayah dan bunda.. Dan ini juga ada sertifikat tanah milik Ayah sama bunda.. Semua ini adalah barang milik Ayah dan bunda yang dicari Paman dan Bibi selama ini.." Tidak salah lagi, Semua itu adalah harta berharga yang dicari oleh Paman dan Bibinya selama ini.
Tak hanya lembaran sertifikat rumah, Tapi adapula sertifikat tanah yang memang lebar tanahnya hektaran dan sampai sekarang Marwa belum tahu pasti dimana letaknya.
Dan siapa yang akan menyangka kalau semua harta ini berada didalam bingkai foto kedua orang tuanya. Sebuah foto satu-satunya yang Marwa simpan.
Beruntung Marwa ikut membawa foto itu pergi. Sehingga harta milik kedua orangtuanya masih aman dari orang-orang licik itu. Andai saja semuanya jatuh ketangan Paman dan Bibi nya? Apa tidak akan hancur semuanya.
Orangtuanya yang bekerja mati-matian demi mendapatkan semua ini dengan mudahnya mereka yang menikmati. Ibaratkan orang tua Marwa yang menanam pohon, Mereka yang memetik dan memakan buahnya, Sungguh tamak sekali.
"Aku harus bagaimana sekarang? Apa yang harus aku lakukan?" Marwa mulai berpikir sekarang. Barang yang diincar oleh Paman dan Bibinya nyatanya ada disamping Marwa selama ini. Barang yang dicari mereka ternyata ada didekatnya. Semua masih utuh, Tulisannya masih bisa dibaca. Namun hanya ada bekas lipatan nya saja. Semuanya seolah memang sengaja disembunyikan ditempat yang tidak seharusnya itu.
Marwa terdiam, Ia berpikir apa yang harus ia lakukan setelah ini. Tidak mungkin Marwa kembali pulang dan merebutnya kembali, Karena percuma saja karena ia tetap akan kalah.
"Apa aku terima saja tawaran Tuan Rayyan.. Dengan begitu, Aku bisa minta bantuannya." Monolog Marwa seorang diri dikamar itu.
Ya! Jalan satu-satunya ialah, Akan lebih baik dia menerima tawaran Rayyan saja. Tidak apa-apa menikah tanpa cinta, Yang penting dia bisa hidup nyaman dengan adanya hidup yang tercukupi.
Lagipula, Tawaran dari Rayyan tidak seram-seram amat kok. Dia hanya perlu memberikan seorang keturunan saja bukan? Mungkin dengan menerima tawaran tersebut hidupnya akan berubah.
Sebenarnya Marwa bukan wanita yang matre. Namun setelah dipikir-pikir lagi, Tawaran ini lebih baik daripada dia diminta melayani seorang pria tanpa adanya pernikahan.
Kalaupun dirinya disentuh oleh Rayyan dia sudah menjadi sebagai seorang istri, Bukankah itu lebih baik. Apa yang dia lalukan tidak dosa sama sekali yang ada akan mendapatkan pahala.
"Ya, Aku harus menghubungi Tuan Rayyan dulu.. Mungkin dengan keputusan ini menjadi jalan yang terbaik.." Marwa segera meraih benda pipihnya lalu menghubungi Rayyan.
Sayangnya nomor pria itu tidak bisa dihubungi membuat Marwa sangat kesal sekali. Pas lagi butuh, Dihubungi gak bisa.
"Huuuffft.. Katanya kalau udah setuju langsung bisa dihubungi, Eh tapi mana.. Malah gak aktif.." Gumam Marwa semakin kesal saja.
"Sabar Wa.. Namanya juga orang kaya ya, Pasti sibuk lah.." Marwa kembali meletakkan benda pipihnya tersebut di atas nakas.
Gadis itu mulai membereskan beberapa lembar kertas yang ada diatas tempat tidur itu. Surat penting itu harus diperbaiki karena dilihat saja sudah tidak pantas. Sudah mirip seperti kertas yang tidak kepakai. Terlebih banyak lipatan yang semakin membuat kertas penting itu seperti kertas yang harusnya dibuang ke tong sampah.
Tapi tak apa, Marwa akan menyimpan kertas ini dengan aman. Sungguh Marwa merasa sangat bahagia sekali.
Bagaimana tidak, Dalam surat itu sudah tertulis bahwa rumah yang ditempati oleh keluarga tidak tahu diri itu adalah milik Marwa. Yang itu artinya, Semuanya milik Marwa. Dialah pewaris rumah dan tanah itu.
"Aku akan merebutnya.. Lihat saja, Kalian akan menyesal nanti..." Marwa sebenarnya bukan orang yang pendendam. Tapi kalau dia tidak dendam mana bisa merebut kembali hak nya.
Sekali-kali orang itu harus punya rasa tega. Meski kita baik bukan berarti kita bisa di injak-injak ingat itu!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rapat penting Rayyan dan Haidar telah selesai. Dua pria tampan yang seumuran itu sama-sama masuk kedalam mobil.
Seperti biasa, Haidar yang menyetir Rayyan yang duduk dibelakang. Putra sulung Papa Damian itu bersandar karena merasa lelah. Ia juga meraih ponselnya, Begitu benda pipih itu menyala. Seketika Rayyan menegakkan tubuhnya.
"Ada apa Tuan..?" Tanya Haidar, Rayyan tak menjawab. Melihat ada banyak panggilan dari Marwa, Rayyan kembali menghubungi gadis itu.
"Halo...
"Ada apa?
"Aku.. Aku sudah membuat keputusan Tuan.. " Rayyan memejamkan matanya. Sesuatu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
"Okey.. Apa keputusan mu?
"Saya...Saya setuju dengan tawaran anda.." Rayyan berseru yes! Tapi mana mungkin pria itu perlihatkan, Gengsi lah..
"Tunggu aku.. Aku akan kesana..." Panggilan putus secara sepihak. Rayyan kembali memasukan ponselnya kedalam saku jas nya.
"Kita ke apartemen..
"Hah? Ke Apartemen Tuan?
"Kau tidak tuli kan?" Kakak dari Nina itu langsung mengangguk.
"Baik..
Haidar langsung memutar setirnya kearah apartemen milik Rayyan. Meski Marwa telah membuat keputusan setuju dengan tawarannya. Rayyan akan tetap mendatangi gadis itu lalu bertanya agar lebih jelas.
Rayyan memberikan waktu selama dua hari untuk Marwa berpikir. Tapi ini belum ada sehari Marwa sudah setuju.
Baru saja mobil itu terhenti, Tanpa menunggu dibukakan pintu Rayyan langsung keluar dan berlari masuk kedalam gedung apartemen itu.
Haidar hanya bisa geleng-geleng kepala melihat bosnya yang ternyata bisa bucin juga.
"Aku juga mengincar seorang gadis, Tapi sayangnya gadis itu sama pria lain.." Gumam Haidar menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kakak dari Nina itu bersandar lalu memejamkan matanya.
Sementara itu, Rayyan masuk kedalam apartemen dan bertanya kembali pada Marwa apakah dia benar-benar mau menikah dengannya.
"Kau tidak main-main dengan keputusanmu itu?" Marwa menggelengkan kepalanya. Ia medongak menatap berani Rayyan. Keputusan yang ia ambil telah bulat, Sama seperti keputusannya pergi ke kota ini.
"Saya setuju Tuan.. Saya mau menikah dengan anda, Dan memberikan anda keturunan.. Tapi, Saya punya syarat..
"Apa? Katakan saja..
"Setelah saya menikah dengan anda, Apakah boleh saya meminta apapun yang saya mau?" Pria itu mengangkat satu sudut bibirnya.
"Kau ingin apa?
"Jangan salah paham dulu.. Saya hanya butuh bantuan anda saja Tuan.. Anda orang kaya, Dan saya yakin tidak akan ada yang berani melawan orang seperti anda ini.." Rayyan mengangguk.
"Setelah kau menjadi istriku, Kau bisa meminta apapun padaku.." Ucap Rayyan seraya bangkit.
"Besok, Aku akan bawakan kau pakaian.. Aku harap kau segera bersiap karena besok aku akan ajak kau untuk bertemu dengan kedua orangtua ku...
•
•
•
TBC
Dina mana.. dina manaaa..
biar makin seru nechdrama ny 😃😃😃
gmn tuuh ,, gmn tuuuh ,,
pgen jungkir balik rasa ny aq ,, 🤸🤸🤸🤸🤸🤸🤸
aq rasa udh ijooo mukany si tania ,,
udh pulang aj ke Susan ,, dy juga istri km koq raskii ,,