Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Pintu mobil terbuka perlahan. Alina melangkah turun, menutup pintu di belakangnya.
Rafael langsung melangkah mendekat, senyum tipis terukir di bibirnya. "Kamu datang. Kebetulan sekali, kami baru saja mau pergi makan siang. Kamu ikut bersama kami, ya."
Alina terdiam sejenak. Tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan mata Revan untuk sepersekian detik yang terasa panjang, sebelum ia menunduk sedikit dan mengangguk pelan.
"Baiklah," jawabnya lembut.
Rafael menoleh ke arah Revan dan Kayla yang menunggu di dekat pintu utama. "Revan, tolong parkirkan mobil Nyonya ke lantai dasar dulu, lalu ambil mobilku. Kita berangkat pakai mobilku."
"Baik, Tuan," jawab Revan singkat.
Ia berjalan menuju mobil merah itu, membuka pintu pengemudi yang tadi diduduki Alina, dan masuk ke dalam. Mesin menderu pelan, lalu mobil itu perlahan berbelok dan menghilang menuju pintu masuk parkiran basement.
Sesampainya di area parkiran lantai dasar, Revan mematikan mesin mobil. Ruang itu seketika hening, hanya terdengar suara samar sistem ventilasi di kejauhan.
Baru saja ia hendak membuka pintu untuk turun, matanya tanpa sengaja melirik ke kursi penumpang sebelah. Di sana, tergeletak kotak bekal cokelat keemasan yang tertata rapi, dengan pita emas yang mengkilap lembut di bawah lampu parkiran yang temaram.
Gerakannya terhenti seketika. Ia mendekatkan tubuhnya sedikit, menatap kotak itu lebih lama, seakan baru menyadari keberadaannya. Jemarinya yang tergantung di gagang pintu perlahan menurun, seakan ada sesuatu yang menahan dirinya untuk segera keluar.
--
Sementara itu di depan lobi kantor, Kayla dengan riang langsung menyelipkan lengannya ke lengan Alina.
"Kak Alin," ucapnya ceria, seakan sama sekali tidak merasakan ketegangan yang menggelayut di udara. "Baguslah Kakak datang, jadi Kak Rafael tidak jadi obat nyamuk. Salah sendiri dia mau ganggu makan siangku dengan Kak Revan."
Alina terkejut sedikit saat merasakan lengan Kayla melingkar erat di lengannya. Sentuhannya hangat, tapi terasa memaksa, seakan memberi jarak yang tak terlihat antara dirinya dengan Rafael.
Alina tersenyum kaku. "Obat nyamuk?"
"Iya," Kayla terkikik pelan, mencondongkan wajahnya mendekat ke telinga Alina. Suaranya pelan seakan berbisik, tapi cukup jelas terdengar oleh Rafael yang berdiri tak jauh dari sana. "Aku kan tadinya mau makan siang berdua saja sama Kak Revan. Eh Kak Rafael maksa ikut, jadi bertiga. Kan canggung? Tapi sekarang Kak Alin ikut juga. Pas banget! Kita berempat. Kak Rafael sama Kak Alin duduk berdua, aku sama Kak Revan di sebelah. Adil kan?"
Rahang Rafael mengeras seketika.
"Kayla," tegurnya rendah namun tegas. "Jaga bicaramu."
Kayla tidak takut, malah mengedipkan satu matanya ke Alina seakan mereka sedang bersekutu. "Bener kan, Kak Alin? Kakak juga mau kan?"
Alina hanya mengangguk kecil, senyumnya terasa berat di bibir. "Iya... tentu saja."
Belum lama berlalu, mobil hitam elegan meluncur pelan keluar dari pintu masuk parkiran, berhenti tepat di depan mereka. Pintu pengemudi terbuka, dan Revan turun dari mobil. Rafael langsung melangkah mendekat, tangannya terulur dan menggenggam tangan Alina.
Revan membukakan pintu belakang untuk mereka berdua. Alina masuk lebih dulu, lalu Rafael duduk di sebelahnya, menutup pintu dengan lembut namun terdengar tegas.
Kayla sudah naik ke jok depan, menyandarkan punggungnya dengan nyaman di kursi penumpang. Revan melingkari mobil, masuk ke kursi pengemudi, menyalakan mesin, dan perlahan melajukan mobil keluar dari area lobi.
-
-
-
Mereka sudah duduk melingkar di meja marmer yang elegan. Hidangan tertata rapi di depan masing-masing, ada salmon panggang dengan saus lemon yang mengkilap, roti gandum hangat dengan mentega, dan minuman yang menyegarkan. Ruangan itu tenang, hanya terdengar suara musik lembut di latar belakang dan gemericik percakapan tamu lain di kejauhan.
Kayla menatap piring di depannya dengan mata berbinar, lalu segera menoleh ke arah Revan di sebelahnya.
"Wah, ini semua makanan favoritku!" ucapnya riang, menunjuk hidangannya dengan ujung garpu. "Kakak mau coba sedikit milikku? Atau kita tukar saja?"
Revan tersenyum tipis, sopan namun tetap menjaga jarak. "Terima kasih, Nona Kayla. Milikku sudah cukup."
Alina memegang garpunya perlahan, menunduk sedikit menatap makanannya tanpa benar-benar menyentuhnya. Di sebelahnya, Rafael duduk tegak. Ia menelan ludah, lalu akhirnya berbicara.
"Sayang," panggilnya lembut, "Kamu ada yang mau ditambahkan? Biar aku pesankan."
"Tidak perlu," jawab Alina tenang, tanpa menoleh. "Ini sudah cukup."
Rafael mengangguk pelan. Tangannya bergerak di bawah meja, ingin menyentuh tangan Alina, tapi Alina sudah lebih dulu memindahkan garpunya ke tangan kanan.
Kayla tersenyum lebar menatap Alina, lalu berkata antusias, "Ngomong-ngomong, Kak Alina itu pinter banget lho masak! Makanan buatannya sangat enak."
Ia segera menoleh ke arah Revan, matanya berbinar penuh semangat.
"Kak Revan belum pernah cobain masakan Kak Alina, kan? Kalau belum, Kakak harus banget coba suatu saat nanti. Pasti Kakak bakal ketagihan, jamin deh!"
Revan berhenti sejenak mengaduk minumannya. Tatapannya menyapu sekilas ke arah Alina yang menunduk memegang gelasnya erat, lalu ia tersenyum tipis.
"Benarkah?" suaranya rendah dan lembut. "Kalau begitu, saya ingin mencoba croissant hangat, telur orak-arik, roti panggang dengan salmon asap dan alpukat, serta roti manis dengan sirup maple buatan Nyonya."
Alina yang sedang meneguk air putih langsung tersedak mendengar itu. Ia batuk pelan, wajahnya memerah seketika, matanya terbelalak kaget. Rafael segera menyodorkan tisu, menepuk pelan punggung Alina dengan cemas.
Kayla terkejut lalu tertawa kecil melihat reaksi Alina, "Ya ampun, Kak Alina sampai kaget begitu."
Alina masih terbatuk pelan, tisu menempel di bibirnya yang sedikit basah. Napasnya belum sepenuhnya teratur, dadanya masih naik turun halus.
Croissant hangat, telur orak-arik, roti panggang dengan salmon asap dan alpukat, serta roti manis dengan sirup maple... Itu adalah menu yang ia minta Bi Hani tata di kotak bekal tadi di rumah.
Bagaimana Revan tahu?
Revan menatapnya dengan lembut, tidak ada tawa mengejek di matanya, hanya perhatian yang tulus dan sedikit kekhawatiran.
"Maaf, apakah saya berbicara terlalu tiba-tiba?" tanyanya lembut, namun ada senyum tipis yang tersembunyi di sudut bibirnya. "Saya hanya menyebut apa yang terlintas di pikiran saat ini. Kedengarannya sungguh lezat."
Alina mengusap bibirnya dengan tisu, berusaha menenangkan napasnya.
"Bukan... bukan begitu," suaranya terdengar pelan, nyaris berbisik. "Hanya... sedikit terkejut saja."
Belum sempat ada yang menambahkan, Alina sudah berdiri pelan. "Aku ke kamar mandi sebentar ya," pamitnya, suaranya masih sedikit serak.
Ia berbalik berjalan menjauh dari meja, namun baru beberapa langkah, seorang pelayan yang berjalan terburu-buru dari arah samping tak sengaja berpapasan dengannya. Nampan berisi gelas-gelas tinggi terhuyung, dan salah satu minuman berwarna keemasan tumpah tepat membasahi bagian depan gaun Alina.
"Maafkan saya, Nyonya! Sungguh maaf!" pelayan itu panik seketika.
Alina terkejut, mundur selangkah melihat noda basah yang kini terlihat jelas di bajunya.
Di meja, Rafael dan Revan hampir serentak berdiri. Wajah keduanya berubah tegang, penuh kekhawatiran yang nyata terlihat di sorot mata mereka.
Kayla menatap Rafael lalu ke Revan, matanya beralih bolak-balik dengan kerutan halus di dahi.
"Mereka berdua ini..." batinnya bingung, lalu menatap Revan lebih lama. "Kak Rafael itu wajar kan khawatir sama istrinya. Tapi Kak Revan... reaksinya kok secepat itu ya?"
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰