NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...

​Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.

Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.

​Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.

​Bagaimana kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Jumat, 4 November 2016 — New York

Arthur Sterling selalu percaya bahwa peluang terbaik tidak selalu datang dengan penampilan yang mengesankan.

Dalam kehidupan pertamanya, ia pernah menyaksikan perusahaan kecil yang diabaikan banyak investor tumbuh menjadi raksasa industri. Ia juga pernah melihat perusahaan bernilai miliaran dolar runtuh karena para pemimpinnya terlalu percaya pada keberhasilan masa lalu.

Akan tetapi, ada satu hal yang baru benar-benar ia pahami setelah kehilangan seluruh kesempatan dalam hidupnya: peluang tidak akan berguna jika seseorang tidak memiliki kemampuan untuk mengenali batasnya sendiri.

Karena itulah, ketika Arthur tiba di kampus pada Jumat pagi, ia tidak langsung membuka berita keuangan atau memeriksa nilai opsi Aurelia Therapeutics yang masih dimilikinya.

Ia justru membuka dokumen sederhana berjudul Rencana Operasional — November 2016.

Di dalamnya terdapat tiga bagian utama: daftar pelanggan, pendapatan dan pengeluaran, serta target usaha untuk tiga bulan berikutnya.

Target mereka tetap sama, yakni memperoleh lima hingga tujuh pelanggan berbayar tanpa menyewa kantor atau merekrut pegawai tetap. Namun, Arthur ingin menambahkan sesuatu yang sebelumnya belum mereka susun secara terperinci.

Ia membuat sebuah tabel yang berisi waktu pengerjaan setiap proyek.

Untuk pelanggan pertama, Samuel Carter, mereka telah menghabiskan waktu lebih banyak daripada yang diperkirakan. Sebagian waktu digunakan untuk memperbaiki informasi bisnis, mengambil foto, menyusun halaman promosi, dan berkomunikasi dengan pemilik restoran. Sebagian lainnya habis untuk mencoba memahami persoalan yang sebenarnya dihadapi Samuel.

Mereka menerima pembayaran sebesar $200.

Jumlah itu cukup untuk membuktikan bahwa seseorang bersedia membayar jasa mereka, tetapi belum cukup untuk membuktikan bahwa model bisnis mereka dapat berkembang dengan sehat.

Arthur menambahkan kolom baru: pendapatan per jam kerja.

Ia tidak bermaksud menjadikan setiap menit sebagai sesuatu yang harus dihitung secara kaku. Ia hanya ingin mengetahui apakah pekerjaan mereka memberikan nilai yang sepadan dengan waktu yang dikeluarkan.

Jika sebuah proyek menghasilkan pendapatan kecil tetapi menyita waktu terlalu banyak, mereka harus memperbaiki proses atau mengubah cakupan layanan.

Jika sebuah proyek memberikan hasil yang jelas dengan biaya rendah, mereka dapat mempelajari cara mengulangi keberhasilan tersebut.

Kesederhanaan gagasan itu membuat Arthur tersenyum.

Di masa depan, ia pernah membayar konsultan mahal untuk menjelaskan konsep yang hampir sama kepada para eksekutifnya.

Sekarang, ia hanya membutuhkan laptop bekas, spreadsheet sederhana, dan kesediaan untuk menghadapi kenyataan.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan dari Daniel Brooks muncul di layar.

Jangan lupa kita bertemu pukul sepuluh. Aku punya kabar tentang calon pelanggan baru.

Arthur membalas singkat.

Baik. Jangan bilang kau sudah membuat kesepakatan bernilai satu juta dolar.

Daniel segera menjawab.

Belum. Pemilik toko masih belum membalas pesanku.

Arthur tertawa kecil.

Setidaknya, Daniel masih menjadi Daniel yang ia kenal.

Pukul sepuluh tepat, Arthur bertemu Daniel di sebuah kedai kopi tidak jauh dari kampus.

Daniel telah membuka laptopnya. Di layar terdapat daftar beberapa bisnis lokal yang mereka hubungi selama beberapa hari terakhir.

"Aku berhasil mendapatkan dua tanggapan," katanya.

Arthur menarik kursi.

"Dua calon pelanggan yang tertarik?"

"Lebih tepatnya, satu orang meminta penjelasan tambahan, sedangkan satu lagi mengatakan akan mempertimbangkannya."

"Itu kemajuan."

"Kalau dibandingkan dengan tiga orang yang menutup telepon sebelum aku selesai berbicara, mungkin."

Arthur mengambil daftar tersebut.

Salah satu calon pelanggan adalah pemilik salon kecil di Queens yang mengeluhkan informasi bisnisnya sering salah di internet. Calon lainnya merupakan pemilik bengkel mobil yang tidak memiliki situs web dan bergantung pada pelanggan lama.

Arthur membaca catatan Daniel dengan teliti.

"Untuk salon ini, kita bisa menawarkan pembaruan informasi bisnis dan foto. Untuk bengkel, kita perlu bertanya lebih dahulu bagaimana mereka mendapatkan pelanggan."

Daniel mengangguk.

"Aku sudah belajar untuk tidak langsung menawarkan situs web kepada semua orang."

"Bagus. Situs web tidak selalu menjadi solusi."

Daniel menutup laptop sebentar.

"Ada hal lain yang ingin kubicarakan."

Nada suaranya berubah sedikit lebih serius.

Arthur menunggu.

"Aku mulai berpikir bahwa kita perlu menentukan dengan lebih jelas siapa yang bertanggung jawab atas setiap bagian pekerjaan. Saat ini, aku menangani sebagian besar urusan teknis, sementara kau mengurus penawaran dan strategi. Itu masuk akal, tetapi kadang-kadang aku tidak tahu apakah aku boleh mengubah sesuatu tanpa meminta persetujuanmu."

Arthur memahami maksudnya.

Selama beberapa minggu terakhir, ia memang terlalu sering mengambil keputusan berdasarkan pertimbangannya sendiri. Ia berusaha melindungi usaha mereka dari kesalahan, tetapi kebiasaan mengendalikan segala sesuatu juga dapat membuat Daniel merasa hanya menjadi pelaksana.

Dalam kehidupan sebelumnya, Arthur pernah melakukan kesalahan yang sama.

Ia terlalu sering percaya bahwa orang yang memiliki informasi paling banyak berhak menentukan arah perusahaan.

Padahal, seseorang yang memahami angka belum tentu memahami semua orang yang harus menjalankan keputusan tersebut.

"Kau benar," jawab Arthur.

Daniel tampak sedikit terkejut karena Arthur tidak membantah.

Arthur melanjutkan, "Kita perlu membedakan keputusan operasional sehari-hari dan keputusan yang memengaruhi seluruh usaha. Kau bisa mengubah desain halaman, memperbaiki fungsi situs, atau memilih alat yang lebih efisien tanpa meminta izin setiap kali. Namun, perubahan harga, pengeluaran besar, atau janji baru kepada pelanggan harus kita diskusikan bersama."

"Bagaimana dengan menerima pelanggan baru?"

"Kalau pekerjaannya sesuai dengan layanan yang sudah kita sepakati dan tidak mengganggu proyek lain, kau bisa mengurusnya. Kalau permintaannya berada di luar kemampuan kita, kita bicarakan dulu."

Daniel terdiam sejenak.

"Baik. Aku ingin memastikan bahwa ini benar-benar usaha kita berdua, bukan hanya usaha yang kebetulan menggunakan kemampuanku."

Arthur menatap temannya.

"Aku tidak akan membangun sesuatu bersamamu hanya untuk menjadikanmu pegawai tanpa gaji."

Daniel tertawa.

"Bagus. Karena aku tidak akan menerima gaji sebesar nol dolar."

"Sayang sekali. Anggaran kita sebenarnya mendukung angka itu."

Daniel melemparkan serbet ke arahnya.

Ketegangan kecil itu mencair.

Namun, bagi Arthur, percakapan tersebut jauh lebih penting daripada yang terlihat. Ia tidak ingin mengulangi pola lama, ketika pertumbuhan bisnis menjadi alasan untuk mengabaikan orang-orang yang membantu membangunnya.

Ia ingin Daniel menjadi mitra, bukan bayangan di belakangnya.

Setelah menyelesaikan pembicaraan, mereka memutuskan untuk menghubungi dua calon pelanggan pada sore hari. Mereka juga menyepakati bahwa setiap proyek baru harus memiliki ruang lingkup, biaya, perkiraan waktu, dan cara mengevaluasi hasil.

Tidak ada yang spektakuler.

Tetapi usaha kecil mereka mulai memiliki struktur yang lebih jelas.

Menjelang siang, Arthur menerima email dari Thomas Miller, pemilik Miller's Corner Café.

Thomas menulis bahwa ia telah membaca proposal yang mereka kirimkan sebelumnya. Ia tertarik memperbarui informasi bisnis dan foto kafenya, tetapi belum bersedia membayar untuk pembuatan halaman promosi yang lebih lengkap.

Ia bertanya apakah ada pilihan yang lebih murah.

Arthur membaca email itu dua kali sebelum memanggil Daniel.

"Thomas ingin mengurangi cakupan pekerjaan."

Daniel mendekat dan membaca pesan tersebut.

"Kalau kita mengurangi pekerjaan terlalu banyak, mungkin pendapatannya tidak sepadan dengan waktu kita."

"Itulah yang harus kita hitung."

Arthur membuka proposal awal mereka.

Mereka sebelumnya menawarkan pembaruan informasi bisnis, pengambilan foto sederhana, halaman promosi, dan evaluasi dasar. Thomas hanya membutuhkan informasi yang akurat, foto baru, dan penyesuaian jam operasional di beberapa platform.

Pekerjaan itu lebih kecil, tetapi juga lebih mudah diselesaikan.

Arthur menghitung perkiraan waktu yang diperlukan. Jika mereka dapat menyelesaikannya dalam beberapa jam, biaya yang lebih rendah mungkin masih masuk akal. Mereka juga dapat menggunakan proses serupa untuk pelanggan lain, asalkan kualitasnya tetap terjaga.

"Bagaimana kalau kita tawarkan paket dasar seharga $75?" tanya Arthur.

Daniel mengerutkan kening.

"Apa saja yang termasuk?"

"Pembaruan informasi bisnis, penyesuaian jam operasional, dan penggantian foto yang disediakan pemilik. Kita tidak membuat situs web, tidak menjalankan iklan, dan tidak menjanjikan peningkatan penjualan."

Daniel mempertimbangkan tawaran itu.

"Kalau fotonya perlu diambil sendiri, waktunya akan bertambah."

"Kalau begitu, kita jelaskan bahwa harga tersebut berlaku untuk foto yang disediakan Thomas. Jika dia ingin kita datang mengambil foto, kita berikan harga terpisah."

Daniel mengangguk.

"Itu lebih masuk akal."

Arthur menyusun proposal baru dan mengirimkannya kepada Thomas.

Ia tidak tahu apakah tawaran itu akan diterima. Bahkan jika diterima, proyek senilai $75 tidak akan mengubah kondisi keuangan mereka secara drastis.

Namun, Arthur tidak sedang mencari satu transaksi yang dapat membuat mereka kaya.

Ia sedang mencari layanan yang dapat dijalankan dengan baik, dibayar secara wajar, dan diulangi tanpa mengorbankan kualitas.

Beberapa menit kemudian, Thomas membalas.

Ia tertarik dengan paket dasar tersebut dan akan mengonfirmasi setelah memeriksa jadwalnya.

Belum ada kesepakatan.

Tetapi setidaknya, percakapan mereka bergerak ke arah yang lebih konkret.

Arthur mencatat status calon pelanggan itu di spreadsheet.

Thomas Miller — Paket dasar $75 — Menunggu konfirmasi.

Daniel melihat catatan tersebut.

"Kau mencatat semuanya, bahkan sebelum dia benar-benar menjadi pelanggan."

"Justru karena dia belum menjadi pelanggan."

Daniel memiringkan kepala.

Arthur menjelaskan, "Kalau kita hanya mencatat keberhasilan, kita akan lupa berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk mendapatkan satu kesepakatan. Kita perlu mengetahui berapa banyak calon pelanggan yang harus dihubungi sebelum satu orang bersedia membayar."

Daniel memandang layar itu dengan serius.

"Jadi, penolakan juga bagian dari data."

"Benar. Selama kita tidak menganggap setiap penolakan sebagai alasan untuk berhenti."

Sore harinya, Arthur pergi ke perpustakaan untuk menemui Clara Vance.

Clara duduk di dekat rak buku ekonomi dengan beberapa lembar kertas di hadapannya. Ketika Arthur tiba, ia sedang membandingkan dua versi tabel keuangan untuk restoran Samuel.

"Aku membuatnya lebih sederhana," kata Clara sambil memperlihatkan lembar pertama.

Arthur memperhatikan tabel tersebut.

Versi baru itu hanya memiliki beberapa kolom utama: tanggal, total penjualan, jumlah transaksi, pengeluaran utama, dan catatan mengenai makanan yang terbuang. Clara juga menyediakan bagian kecil untuk mencatat kejadian yang tidak biasa, seperti pesanan dalam jumlah besar atau gangguan pasokan.

"Ini jauh lebih mudah digunakan," ujar Arthur.

"Aku mencoba membayangkan seseorang yang harus mengisi tabel ini setelah bekerja seharian. Kalau terlalu rumit, dia mungkin akan berhenti menggunakannya."

Arthur mengangguk.

"Bagaimana dengan biaya yang tidak dibayar setiap hari?"

"Aku memisahkannya ke bagian mingguan dan bulanan. Aku tidak ingin Samuel menganggap pengeluaran yang tidak muncul setiap hari sebagai sesuatu yang tidak penting."

Arthur tersenyum.

"Kau sudah memikirkan masalah itu dengan baik."

Clara menatapnya.

"Kau terdengar seperti sedang memberikan penilaian kepada pegawai."

"Maaf. Kebiasaan buruk seorang mahasiswa yang terlalu banyak membaca laporan bisnis."

"Kalau begitu, sebagai mahasiswa yang terlalu banyak membaca laporan bisnis, bagaimana pendapatmu tentang bagian ini?"

Clara menunjuk sebuah kolom yang mencatat jumlah barang yang terbuang.

Arthur memeriksanya.

"Aku akan mempertahankannya, tetapi kita harus memastikan Samuel tidak perlu menimbang atau mencatat setiap potongan makanan. Untuk tahap awal, kategori dan perkiraan jumlah mungkin sudah cukup."

"Itu juga yang kupikirkan."

Mereka kembali membahas tabel tersebut, memperbaiki beberapa istilah, dan mengurangi jumlah kolom yang tidak terlalu diperlukan.

Setelah selesai, Clara menyimpan dokumennya.

"Aku ingin bertanya sesuatu," katanya.

Arthur menutup bukunya.

"Tentu."

"Bagaimana kalau seseorang tahu apa yang diinginkan keluarganya, tetapi dia sendiri tidak yakin apakah itu yang dia inginkan?"

Arthur langsung memahami bahwa pertanyaan itu mungkin berkaitan dengan percakapan mereka sebelumnya. Namun, ia tidak tahu seberapa jauh persoalan Clara telah berkembang.

Ia tidak ingin berasumsi.

"Menurutku, orang itu perlu memahami pilihan yang tersedia sebelum memutuskan."

"Bagaimana kalau keluarganya mengatakan bahwa hanya ada satu pilihan?"

Arthur terdiam sesaat.

"Kalau begitu, mungkin hal pertama yang perlu dia ketahui adalah apakah benar-benar hanya ada satu pilihan."

Clara menunduk, memainkan ujung kertas di tangannya.

"Mereka mengatakan keputusan ini penting untuk masa depanku. Mereka juga mengatakan bahwa aku belum cukup memahami dunia untuk menentukan apa yang terbaik bagiku."

Arthur merasakan kemarahan lama muncul di dalam dirinya.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia pernah melihat orang-orang kaya menggunakan uang, pengaruh, dan hubungan keluarga untuk menentukan masa depan orang lain. Mereka menyebutnya perlindungan, kewajiban, atau kepentingan keluarga. Kadang-kadang, di balik semua kata itu, yang mereka inginkan hanyalah kepatuhan.

Namun, ia tidak tahu apakah keluarga Clara benar-benar bertindak seperti itu. Ia belum mendengar seluruh ceritanya.

Karena itu, ia menahan diri.

"Pengalaman orang lain bisa membantu kita melihat hal-hal yang belum kita pahami," katanya. "Tetapi itu tidak berarti mereka selalu tahu apa yang akan membuat kita bahagia."

Clara mengangkat wajah.

"Kalau keputusan itu membuat orang-orang yang kita sayangi kecewa?"

"Itu bagian yang sulit."

Arthur tidak mencoba memberikan jawaban mudah.

"Kadang-kadang, pilihan kita memang membuat seseorang kecewa. Tetapi jika kita terus memilih hanya untuk menghindari kekecewaan orang lain, pada akhirnya kita mungkin kehilangan kemampuan untuk menentukan hidup sendiri."

Clara memandangnya lama.

"Apakah kau pernah mengecewakan seseorang?"

Pertanyaan itu menghantam bagian terdalam dari ingatan Arthur.

Ia teringat pada Clara di kehidupan pertamanya. Pada kesempatan yang tidak pernah ia ambil. Pada tahun-tahun yang ia habiskan untuk mengejar kekayaan karena mengira masih memiliki banyak waktu untuk kembali dan memperbaiki semuanya.

"Ya," jawabnya pelan. "Dan aku juga pernah mengecewakan diriku sendiri."

Clara tidak langsung bertanya lebih jauh.

Arthur bersyukur atas hal itu.

"Aku tidak tahu apa yang sedang kau hadapi," lanjutnya. "Aku juga tidak akan berpura-pura memahami semua hal yang terjadi di keluargamu. Kalau kau ingin bercerita, aku akan mendengarkan. Kalau kau belum siap, aku tidak akan memaksamu."

Bahu Clara tampak sedikit lebih rileks.

"Terima kasih."

Arthur tersenyum.

Clara kemudian memasukkan kertas-kertasnya ke dalam tas.

"Aku belum tahu apa yang akan kulakukan," katanya. "Tetapi setidaknya sekarang aku merasa bisa memikirkannya tanpa harus langsung memberikan jawaban."

"Itu sudah merupakan langkah awal."

Mereka berjalan keluar dari perpustakaan bersama-sama.

Udara sore terasa dingin. Di sepanjang jalan, mahasiswa berlalu-lalang dengan buku, tas, dan percakapan mereka sendiri.

Clara berhenti di dekat persimpangan.

"Arthur, bolehkah aku meminta pendapatmu lagi suatu hari nanti?"

"Tentu."

"Tanpa kau mencoba menyelesaikan semuanya untukku?"

Arthur tertawa kecil.

"Aku akan berusaha."

Clara tersenyum.

"Bagus. Karena aku masih ingin belajar membuat keputusanku sendiri."

"Aku akan mengingatnya."

Ia menyadari bahwa membantu Clara bukan berarti membangun sangkar yang lebih nyaman untuknya. Jika Arthur benar-benar ingin melihat Clara bahagia, ia harus memberinya ruang untuk memilih, bahkan ketika pilihan itu mungkin berbeda dari yang ia harapkan.

Dan kesadaran itu jauh lebih sulit daripada sekadar membuat rencana untuk masa depan.

Malam itu, Arthur kembali ke apartemennya dan memeriksa catatan keuangan.

Saldo rekeningnya masih terbatas, tetapi lebih aman dibandingkan beberapa minggu lalu. Usaha kecilnya bersama Daniel mulai memiliki prosedur yang lebih teratur. Mereka memiliki satu pelanggan yang telah membayar, satu proyek yang masih berjalan, dan beberapa calon pelanggan yang belum memberikan keputusan.

Tidak ada alasan untuk merasa puas secara berlebihan.

Arthur juga membuka catatan investasi Aurelia Therapeutics. Sebagian besar posisinya sudah dijual, sementara sisa kecil yang dipertahankannya masih menghadapi risiko. Ia memutuskan untuk tidak melakukan transaksi baru hanya karena ingin mempercepat pertumbuhan kekayaannya.

Ia telah mempelajari satu hal penting: modal yang bertahan memberinya kesempatan untuk mengambil keputusan lain pada masa depan.

Setelah menyimpan dokumen, Arthur berdiri di dekat jendela.

Lampu-lampu kota terlihat berkilauan di kejauhan. New York yang ia kenal pada usia delapan puluh tahun belum menjadi kota yang sama pada 2016. Beberapa perusahaan besar masih berada pada tahap awal, sebagian teknologi belum mencapai puncaknya, dan banyak peluang yang kelak mengubah dunia bahkan belum menarik perhatian publik.

Ia memiliki ingatan tentang apa yang akan terjadi.

Namun, ia tidak memiliki kendali mutlak atas bagaimana semua itu berlangsung.

Pasar bisa berubah. Perusahaan bisa gagal. Orang-orang bisa membuat keputusan berbeda dari yang ia ingat. Bahkan dengan pengetahuan yang luas, ia tetap harus menguji setiap asumsi.

Arthur tidak lagi ingin mengejar masa depan dengan tergesa-gesa.

Ia ingin membangun sesuatu yang cukup kuat untuk bertahan ketika ingatannya tidak lagi memberikan jawaban.

Sebuah pesan dari Daniel muncul di ponselnya.

Besok kita periksa data Peter lagi. Kalau Thomas menyetujui proposal, kita juga perlu menentukan jadwalnya.

Arthur membalas:

Setuju. Kita selesaikan pekerjaan yang sudah ada sebelum mengambil terlalu banyak proyek baru.

Ia meletakkan ponselnya dan mematikan lampu.

Besok mungkin akan membawa kabar baik, penolakan, atau sekadar pekerjaan rutin yang melelahkan.

Apa pun yang terjadi, Arthur akan menghadapinya.

Karena masa depan yang ia inginkan tidak akan dibangun hanya dengan mengetahui apa yang akan terjadi.

Masa depan itu harus dibangun melalui keputusan-keputusan yang ia ambil hari ini.

1
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
mantap
Fauziah Daud
trusemangattt
saras
keren siiib ceritanya👍👍👍
saras
👍
saras
semangaaaaaat💪💪💪💪💪👍
saras
ssemangat tor
saras
🙏🙏💪
saras
👍
saras
👍💪
saras
👍
saras
novel yang bagus. lanjutkan tor semangat bikin cerita yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!