NovelToon NovelToon
Kebangkitan Istri Yang Direndahkan

Kebangkitan Istri Yang Direndahkan

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:509.9k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Astrid mengorbankan segalanya untuk keluarga. Namun, pengorbanannya justru dibalas dengan hinaan.

Setelah melahirkan, tubuh Astrid berat badannya naik drastis hingga membuat Lucas, suaminya yang seorang dokter, merasa malu memiliki istri sepertinya. Tak hanya itu, Marta, sang mertua, juga menganggap Astrid sebagai wanita tidak berguna karena tidak memiliki pekerjaan maupun prestasi yang bisa dibanggakan.

Puncaknya terjadi saat Lucas dan Marta mempermalukannya di depan banyak tamu undangan. Harga dirinya diinjak-injak tanpa belas kasihan, seolah seluruh pengorbanannya selama ini tidak pernah berarti. Hari itu, Astrid memutuskan untuk berhenti menangis.

Dengan bantuan Mateo, Astrid bangkit dan mengubah hidupnya. Saat satu per satu kesuksesan berhasil diraihnya, orang-orang yang dulu merendahkan mulai menyadari kesalahan mereka.

Kini giliran mereka yang memohon, sementara Astrid tak lagi peduli. Karena ada penghinaan yang bisa dimaafkan, tetapi tidak pernah bisa dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

CUP

Bibir mereka bersentuhan. Walau hanya sepersekian detik, namun cukup membuat keduanya membeku.

Mata Astrid membelalak, begitu pula Mateo. Tak satu pun bergerak. Seolah waktu berhenti. Beberapa detik kemudian mereka sama-sama mundur dengan gugup.

"A ... aku ...." Astrid spontan menyentuh bibirnya sendiri. Wajahnya memerah sampai ke telinga.

Mateo juga segera mengambil jarak. "Maaf. Aku benar-benar nggak sengaja." Nada suaranya terdengar pelan, bahkan sedikit serak.

Astrid menggeleng cepat. "Aku juga tadi hampir jatuh."

Jantung keduanya berdetak begitu keras hingga seolah bisa terdengar di ruangan yang tiba-tiba sunyi itu. Tidak ada yang tahu harus mengatakan apa.

Suasana berubah canggung. Mateo mencoba mengalihkan pandangan, sementara Astrid terus menggigit bibir bawahnya karena gugup.

Di tengah keheningan itu, Ariana yang masih duduk di lantai mendongak polos. "Mama ...."

Astrid langsung menoleh. "Iya, Sayang?"

Ariana menunjuk balok kecil yang masih berada di dekat kaki ibunya. "Mainan aku jatuh."

Astrid menatap balok itu, lalu tanpa sadar tertawa kecil. "Iya."

Ariana ikut tertawa geli dengan suara khas balitanya.

Mateo akhirnya ikut tersenyum. Ketegangan yang tadi memenuhi ruangan perlahan mencair berkat kepolosan gadis kecil itu.

Meski suasana mulai kembali normal, dada Mateo masih bergemuruh. Sentuhan singkat itu terus terulang di dalam benaknya. Selama bertahun-tahun ia berhasil menyembunyikan perasaannya. Ia selalu mengingatkan dirinya bahwa tugasnya hanyalah menjaga Astrid tetap bahagia, bukan berharap memiliki wanita itu. Kecelakaan kecil barusan membuat benteng yang selama ini ia bangun mulai retak.

Sementara itu, Astrid terus berusaha meyakinkan dirinya bahwa kejadian tadi hanyalah sebuah kecelakaan. Tidak lebih.

Mateo tetaplah sahabat terbaik yang selalu berdiri di sisinya. Pria yang menolongnya tanpa pernah meminta balasan. Pria yang selalu datang ketika hidupnya terasa paling gelap.

Namun entah mengapa, setiap kali tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Mateo malam itu, jantungnya kembali berdebar pelan. Ia buru-buru mengalihkan wajah, berharap perasaan aneh yang tiba-tiba muncul itu segera menghilang. Sayangnya, semakin ia berusaha melupakannya, semakin jelas pula ingatan tentang sentuhan singkat yang sama sekali tidak mereka rencanakan itu.

Pagi itu, rumah Marta yang biasanya dipenuhi suara musik dan aroma kopi mahal terasa sunyi. Wanita itu baru saja selesai memilih perhiasan yang akan dipakai untuk menghadiri arisan siang nanti. Di atas tempat tidur terhampar beberapa tas bermerek dan gaun mahal yang selama ini menjadi kebanggaannya. Ia berdiri di depan cermin sambil memasang anting berlian.

Senyum tipis menghiasi wajah Marta. "Yang ini saja, terlihat lebih cocok."

Belum sempat Marta menyemprotkan parfum ke pergelangan tangannya, suara bel rumah tiba-tiba berbunyi nyaring.

"Ting tong... Ting tong... Ting tong..."

Bunyinya terdengar berkali-kali, seolah orang yang berada di luar sudah tidak sabar menunggu pintu dibuka.

Marta mengernyit kesal. "Siapa pagi-pagi begini?" gumamnya pelan.

Dengan langkah santai, ia berjalan menuju pintu depan. Namun, begitu daun pintu terbuka, seluruh tubuhnya langsung membeku. Ada empat orang berdiri di hadapannya. Dua di antaranya mengenakan seragam kepolisian, sementara dua lainnya berpakaian sipil sambil membawa map tebal di tangan.

"Selamat pagi, Bu Marta." Salah seorang polisi mengangkat kartu identitasnya agar dapat dilihat dengan jelas. "Kami dari Direktorat Tindak Pidana Ekonomi."

Senyum di wajah Marta langsung lenyap. Tenggorokannya terasa kering. "Ada apa, Pak?" tanyanya dengan suara yang mulai bergetar.

Polisi itu tetap berbicara dengan tenang. "Kami ingin meminta Ibu datang ke kantor untuk dimintai keterangan sebagai saksi."

"Saksi?" ulang Marta dengan dahi berkerut.

"Iya, Bu. Terkait perkara dugaan penggelapan dana dan tindak pidana pencucian uang yang sedang kami selidiki."

Nama Lucas memang belum disebutkan. Namun, seketika itu juga Marta tahu siapa yang dimaksud. Jantungnya berdetak semakin cepat hingga dadanya terasa sesak.

"Apa hubungannya dengan saya?" tanya Marta, berusaha terdengar tenang meski wajahnya mulai memucat.

Salah seorang petugas membuka map yang dibawanya, lalu memperlihatkan beberapa lembar dokumen.

"Kami menemukan sejumlah transaksi dengan nominal cukup besar yang secara rutin ditransfer ke rekening milik Ibu."

Tatapan Marta langsung tertuju pada angka-angka yang tertera di atas kertas itu. "I-tu ... itu uang dari anak saya," ucapnya terbata-bata.

"Kami mengetahui hal tersebut," jawab polisi itu dengan nada datar. "Namun kami tetap memerlukan keterangan dari Ibu."

Marta mencoba tersenyum, meski senyum itu tampak kaku dan dipaksakan.

"Itu uang pemberian anak kepada ibunya," katanya sambil menggenggam kedua tangannya agar tidak terlihat gemetar. "Memangnya salah?"

"Tidak ada yang mengatakan salah, Bu." Polisi itu menatap Marta tanpa mengubah ekspresi.

"Yang sedang kami selidiki adalah asal-usul uang tersebut."

Kalimat itu menghantam Marta seperti petir di siang bolong. Lututnya mendadak terasa lemas.

Selama bertahun-tahun Marta memang sering meminta uang kepada Lucas. Kadang untuk membeli tas bermerek, mengganti mobil dengan model terbaru, merenovasi rumah, atau sekadar berlibur bersama teman-temannya. Dan setiap kali ia meminta, Lucas selalu mentransfer uang tanpa pernah bertanya untuk apa uang itu digunakan.

Marta tidak pernah sekalipun memikirkan dari mana putranya memperoleh uang sebanyak itu. Di matanya, Lucas adalah dokter dengan jabatan tinggi. Penghasilannya besar. Jadi semua kemewahan itu terasa wajar.

"Ibu bersedia ikut bersama kami sekarang?" tanya polisi itu dengan sopan.

Marta membuka mulut, tetapi suaranya seolah tertahan di tenggorokan. Jemarinya mulai bergetar tanpa bisa ia kendalikan.

Beberapa detik kemudian, ia hanya mampu mengangguk pelan.

***

Aku ucapkan banyak terima kasih banyak kepada pembaca karyaku yang berjudul;

• Muara Hati Azalea

• Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

• Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Ketiga karyaku itu mendapatkan juara lomba.

1
Night Watcher
mampir ah... siapa tau ikutan erosi..🤭🙏
Felycia Fernandez
RIP Lucas
Felycia Fernandez
berarti Ariana sudah 31 tahun ya
Priskha
biyuh bnr2 suami durhakim....
Aditya hp/ bunda Lia
kalo jodoh gak kemana itulah Ariana dan Noel akhirnya mereka kembali bersama ... happy ending makasih Thor tetap semangat dan sehat selalu 🫰🫰
Setyo Budi Ningsih
aku tau namamu udah lama thoor tapi aku baru baca 2 novel karya mu keren buat cerita perempuan yg tidak selalu diam saat disakiti. banyak perempuan bisa bangkit saat terpuruk. semoga lancar barokah rejeki nya dan selalu yg terbaik cerita2 mu🫰❤️👍
Momcia
Mateo..lama2 jd buah matoalah..
Erni Kusumawati
cerita kak Author yg satu ini mmg selalu cantik dan menarik.Di setiap ceritanya selalu tersimpan dan tersurat makan tth hidup dan pesan moral yg selalu penuh makna.Seperti kisah Astrid dan Ariana seberapa pun besarnya luka kita tidak akan dpt menghapus bekasnya hanya bisa ikhlas menerima sebagai ujian kehidupan.Dan jangan pernah menggenggam kebencian terlalu dalam Krn rasa benci itu laksana bara yg kita genggam,lama2 bara itu akan membakar dan menyakiti tangan kita sendiri.
🌸 Sunshine 🌸: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
Eni Istiarsi
terimakasih untuk kisah mengharukan ini. tetep sehat tetep semangat untuk menghasilkan karya2 baru lainya🙏💪
Sri Supriatin
eeh happy rnding, terimakasih sdh membuat karya indah ditunggu karya srlamjutnya n sehat Thor 👍🙏🙏😍😍
Sri Supriatin
naga2nya.mau tamat yah🤭🤭
Fa Yun
terimakasih thor akhirnya happy😍
Fa Yun
bertemu kembali masihkah ada cinta yang lalu
Fa Yun
lupakan masa lalu bisakah 😕
Suriyah Lasminah Sari
akhir nya cinta dapat di miliki ,walawe pun ada luka,tapi akhir nya cinta yg menang (terimakasih mbak Santi sehat selalu buat mbak Santi )🙏
Reni Setia
selamat ya udah tamat karyanya
Mutia
13 tahun kemudian, brp umur mereka skrg, pasti dah diatas 30 ya ..kelamaan jumpanya
Enny Suhartini
terimakasih cerita nya kak 👍
Nha_A
😭😭 terimakasih thoorr ud ngasih kami cerita yang bagusss,suka sama cerita ini..aq gak pernah skip looh,semangat untuk karya berikutnyaa🥰💪😘
ryuka
makasih thor atas karya bagus nya.. 😍😍😍😍😍 semangat trus unt berkarya ya thorrr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!