Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.
Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.
Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.
Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 07
Part 07
"Kenapa kamu membawaku ke mari?" Amanda bertanya kaku tanpa mau menatap ke arah Cio dengan sesekali menghapus air mata pipinya.
"Tadi bilang terima kasih, sekarang tanya kenapa. Maunya apa sih? Untung sayang." Cio menjawab sebal meski ucapan terakhirnya cukup ngawur untuk Amanda dengar.
"Tinggal jawab saja, kenapa kamu membawaku kemari? Menyelamatkan aku dari rasa malu? Kalau memang iya, seharusnya kamu tidak perlu melakukannya." Amanda bertanya kesal, mencoba untuk menutupi rasa malunya.
"Tunggu! Memangnya kamu punya malu?" Cio bertanya seolah tidak memiliki rasa bersalah.
"Kamu pikir aku ini kamu, yang enggak punya rasa malu?" sungut Amanda kian sebal, merasa tidak terima dengan pertanyaan sederhana itu.
"Kalau kamu punya rasa malu, berhentilah memberinya perhatian yang hanya akan diabaikan dan direndahkan." Cio menjawab sarkastik dan itu cukup berhasil membuat Amanda terdiam.
"Ke-kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Kamu kan baru kenal aku, kamu tidak pantas berbicara sekasar itu." Amanda menundukkan wajahnya, merasa tidak terima dengan apa yang Cio katakan meski rasanya apa yang lelaki itu katakan ada benarnya. Perhatian yang ia berikan untuk Farel selalu tidak lelaki itu pedulikan, membuatnya merasa sangat direndahkan.
"Iya, aku memang baru kenal kamu. Tapi aku berteman dengan Alex, dia bilang kalau kamu selalu memberi lelaki itu perhatian tapi tidak pernah diacuhkan. Bagaimana mungkin kamu terus-terusan melakukan hal yang sama, sedangkan orang seperti Alex saja bisa melihat bagaimana lelaki itu tidak memperdulikanmu?" ujar Cio begitu menggebu-gebu, namun Amanda justru terdiam tanpa mau melawan. Baginya, ucapan Cio itu memang benar, tapi tetap saja lelaki itu tidak berhak mengaturnya.
"Kamu tidak usah memperdulikanku, aku bukan anak kecil, aku tahu apa yang aku lakukan." Amanda menjawab tak acuh, mencoba tidak luluh dengan kata-kata Cio.
"He siapa yang bilang bila aku peduli denganmu? Aku cuma tidak mau melihat orang dipermalukan hanya karena dia terus-terusan memberi perhatian kepada orang bahkan tidak ingin melihatnya." Cio menjawab sebal, merasa frustrasi dengan pemikiran Amanda yang cukup keras kepala. Namun, kali ini Amanda berhasil dibuat bungkam dengan ucapan Cio, seorang lelaki menyebalkan yang cara berbicaranya selalu ngawur. Tapi sekarang, lelaki itu berbicara begitu bijak, seolah ia tahu rasanya diabaikan dan tidak dipedulikan.
Dengan perasaan yang sedikit lebih tenang, Amanda menghembuskan nafasnya lalu mendudukkan tubuhnya di bangku besi taman yang berada di belakangnya. Matanya yang sembab itu sudah menghentikan tangisnya, meski bekas aliran matanya belum sepenuhnya menghilang di pipinya.
"Farel itu temanku sejak lama. Dulu, dia sangat baik padaku meskipun aku cuma anak dari pembantu di rumahnya. Kemanapun dia pergi, aku tidak pernah ketinggalan untuk diajak. Masa-masa itu begitu menyenangkan, kita juga sering menghabiskan waktu bersama-sama." Amanda menyunggingkan senyum manisnya sembari menatap langit biru di atasnya. Sedangkan yang Cio lakukan hanya terdiam lalu duduk di bangku yang sama dengan Amanda, menemani gadis itu di saat-saat terpuruknya. Mendengarkan kisahnya, yang mungkin menjadi alasan kenapa dia melakukan hal yang membuatnya sering direndahkan.
"Tapi sejak bertemu dengan Vanessa, Farel banyak berubah." Amanda menundukkan wajahnya, mengingat setiap perlakuan Farel yang kian tak acuh pada dirinya.
"Dulu, Farel tidak pernah mau melihatku naik bis ke sekolah. Dia selalu mengajakku untuk ikut semobil dengannya, padahal orang tuaku sudah melarangnya karena tidak pantas, tapi Farel akan tetap memaksa. Pertemanan kami sering mendapatkan tatapan iri dan benci, karena status orang tua kami yang berbeda, tapi Farel selalu membelaku meski banyak teman-temannya yang menjauhinya."
"Bagiku, Farel adalah malaikat pelindungku sejak kecil. Meskipun sekarang dia sudah berubah, tapi tetap saja aku tidak bisa melupakan kebaikan, apalagi hatiku sudah terlanjur nyaman bersamanya. Aku sangat berharap, bila suatu saat nanti Farel mau kembali menerimaku sebagai teman, hanya itu, tidak lebih." Amanda menatap ke arah Cio yang sedari tadi terdiam, membuat Amanda merasa curiga kalau-kalau lelaki itu tertidur mendengar celotehannya.
"Kenapa kamu diam? Aku pikir kamu tidur." Amanda berujar tak habis pikir, karena tidak biasanya lelaki yang bernama Cio itu terdiam lama seperti sekarang.
"Kalau di dekat kamu, aku tidak mau tidur." Cio menjawab aneh terlebih lagi tatapannya memperlihatkan keseriusan kali ini.
"Kenapa?"
"Nanti kalau aku bangun, kamu pasti kabur ke Farel." Cio menjawabnya dengan mata keseriusannya itu, namun justru ditanggapi decapan malas oleh Amanda.
"Aku bahkan sekarang merasa menyesal sudah mendengarkanmu dengan serius." Amanda menjawab malas, yang kali ini dicengiri oleh Cio dengan memicingkan matanya ke arah Amanda.
"Memangnya kamu berpikir apa?"
"Aku pikir, kalau kamu tidur, kamu takut tidak bisa bangun lagi." Cio seketika memandang jengah ke arah Amanda yang selalu bersikap sama, ketus kala berbicara, padahal baru beberapa menit yang lalu, gadis itu berbicara penuh kelembutan dan membuatnya terlihat kian manis, tapi sekarang justru kembali ke sikap awalnya.
"Jahat." Cio menjawab tak percaya, yang nyatanya mampu membuat Amanda tertawa, memperlihatkan bagaimana bibirnya itu melepaskan tawa di depan Cio yang terpesona.
"Jangan tiba-tiba tertawa di hadapanku!" Cio berujar serius, membuat Amanda menghentikan tawanya lalu menatap ke arahnya dengan sorot mata bertanya.
"Kenapa?"
"Nanti aku jatuh cinta kepadamu, memangnya kamu mau bertanggung jawab dengan cara memberikan hatimu sepenuhnya untukku?" Cio menjawab ngawur seperti biasa sembari menatap lamat-lamat ke arah Amanda dengan memasang senyum manisnya.
"Terus, kalau aku mau tertawa, aku harus minta izin lebih dulu ke kamu, begitu?" Amanda bertanya dengan nada tak percaya, merasa kesal juga dengan ucapan Cio yang selalu ngawur.
"Tentu saja, dengan cara seperti itu aku akan bisa menyiapkan hati dan mentalku untuk melihat senyum manis kamu." Cio menjawab serius, namun itu justru berhasil membuat Amanda ingin tertawa terlihat dari sudut bibirnya yang berkedut. Dengan berusaha tetap tenang, Amanda mendorong kening Cio hingga kepalanya mundur beberapa senti ke belakang.
"Dasar, Babi. Apa ucapanmu itu selalu aneh?" Amanda mendirikan tubuhnya, berniat pergi dari sana, namun langsung ditahan oleh Cio yang menarik lengannya hingga tubuh Amanda kembali duduk di sampingnya.
"Kamu mau ke mana?"
"Tentu saja aku mau pulang, aku belum bisa mengikuti kelas hari ini." Amanda menjawab lesuh dengan kembali mendirikan tubuhnya, namun Cio justru terlihat berpikir sekarang.
"Aku akan mengantarkanmu, aku juga mau tahu di mana rumahmu." Cio menjawab tiba-tiba sembari mendirikan tubuhnya dengan menatap serius ke arah Amanda yang menyengitkan keningnya kali ini.
"Kita sama-sama naik bis kan tadi pagi? Untuk apa kamu mengantarkan aku? Rumahmu pasti lebih dekat dari rumahku." Amanda menjawab tak habis pikir, meski bibirnya tersenyum tipis melihat Cio yang terlihat cemberut.
"Oh iya, aku kan tidak punya kendaraan pribadi." Cio bergumam lesuh di dalam hati, ia lupa bila hidupnya sekarang sudah jauh berbeda. Tidak ada kemewahan, tidak ada kendaraan pribadi, ataupun sopir yang akan mengantarkannya ke manapun ia pergi.
"Kapan-kapan saja ya kamu mengantarkan aku? Hari ini aku ingin segera pulang ke rumah." Amanda menjawab bersalah.
"Kenapa? Apa karena aku tidak memiliki kendaraan pribadi, jadi kamu tidak mau aku antar pulang?" Tiba-tiba Cio bertanya dengan nada putus asa, seolah sudah tersinggung dengan kalimat yang baru Amanda ucapkan.
"Tentu saja tidak. Aku tidak pernah berpikir bila aku akan menerima tawaran orang lain hanya karena dia tidak atau punya kendaraan pribadi. Tapi kamu tahu kan kejadian tadi, aku hanya merasa ingin sendiri." Amanda menjawab lirih di akhir kalimatnya, mencoba membuat Cio mengerti meski pada akhirnya hatinya yang merasa perih mengingat kejadian itu.
"Baiklah, aku mengerti." Cio menjawab seadanya, tanpa bisa membantah permintaan Amanda.
"Kalau begitu, aku pergi dulu." Amanda tersenyum tipis sampai pada akhirnya kakinya melangkah, meninggalkan Cio sendiri di sana.