Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Sinar matahari pagi merayap masuk melalui celah tirai jendela apartemen, membiaskan cahaya hangat ke dalam kamar luas bernuansa modern tersebut.
Gladys perlahan mengerjap-ngerjapkan matanya. Kepalanya masih terasa sedikit berat, namun demamnya sudah jauh mereda.
Saat ia memalingkan wajah, manik matanya menangkap siluet seorang pria berpostur atletis yang sedang membelakanginya, mengenakan kaos tanpa lengan yang basah oleh keringat, tengah meluapkan tenaganya pada sebuah samsak tinju tergantung di sudut ruangan.
Bugh! Bugh!
Suara hantaman tinju yang solid menggema pelan di dalam ruangan.
Sadar bahwa ia tidak berada di kamarnya sendiri, Gladys buru-buru bangkit dari posisinya dan hendak menurunkan kakinya dari tepi ranjang.
"Jangan turun dulu." suara berat Praduta terdengar memecah keheningan.
Pria itu menghentikan latihannya. Ia meraih handuk kecil yang menggantung di lehernya untuk menyeka peluh di wajah dan leher bidangnya, lalu berjalan mendekati tempat tidur.
Suara langkah tenang, Praduta mendudukkan diri di samping ranjang, menatap Gladys dengan sorot mata yang menyiratkan kelegaan sekaligus perhatian.
Gladys menatap sekeliling ruangan dengan bingung, lalu kembali menatap pria di depannya.
Tenggorokannya terasa kering saat ia bertanya dengan suara parau,
"Kenapa aku ada disini ?"
Praduta menatap Gladys sejenak, lalu meletakkan handuk kecilnya di atas nakas sebelah tempat tidur.
Ia meraih segelas air hangat yang sudah disiapkan sejak tadi, lalu mengulurkannya kepada Gladys dengan perlahan.
"Minumlah dulu. Tenggorokanmu pasti kering setelah semalaman demam tinggi," ucap Praduta lembut, suaranya terdengar begitu menenangkan.
Gladys menerima gelas itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
Ia meneguk air hangat tersebut perlahan, merasakan kehangatan yang langsung menjalar ke kerongkongannya, meredakan rasa perih akibat tangisan semalam.
Setelah meletakkan kembali gelasnya, Gladys menatap Praduta dengan pandangan menuntut penjelasan.
"Semalam, aku menemukanmu pingsan tergeletak di depan pintu kafe," jawab Praduta menjawab tatapan penuh tanya itu, sebelum Gladys sempat mengulang pertanyaannya.
"Kamu kehujanan dan kecapekan. Karena aku tidak mungkin membiarkanmu sendirian dalam kondisi separah itu, jadi aku membawamu ke apartemenku."
Mendengar kata 'apartemenku', mata Gladys langsung melebar.
Bayangan kejadian semalam mendadak berkelebat di kepalanya—bagaimana ia lari dari rumah setelah dibentak dan dituduh keji oleh Raka, lalu berlari tanpa arah hingga ambruk di depan kafenya sendiri.
Seketika itu juga, air mata hangat kembali menggenang di pelupuk matanya.
Rasa sakit, harga diri yang diinjak-injak, dan kepedihan pernikahan itu kembali menghantam dadanya dengan telak.
Praduta yang melihat perubahan ekspresi di wajah Gladys langsung menangkap kesedihan yang mendalam itu.
Tanpa berkata apa-apa, ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat, lalu menatap Gladys dengan sorot mata penuh empati.
"Hei, jangan dipikirkan dulu kalau itu bikin kamu sakit," bisik Praduta pelan, jemarinya terulur secara spontan untuk merapikan helaian rambut Gladys yang berantakan di kening.
"Kamu aman di sini. Tidak ada siapa pun yang bisa menyakiti atau membuatmu menangis lagi."
Sentuhan hangat dan perhatian tulus yang diberikan Praduta membuat pertahanan Gladys runtuh seketika.
Di saat suaminya sendiri membuang dan mencaci maki dirinya, pria asing inilah yang justru merawatnya sepanjang malam.
Tanpa mampu menahan diri lagi, Gladys menutup wajah dengan kedua tangannya dan menangis tersedu-sedu di hadapan Praduta.
Melihat air mata Gladys yang tumpah seketika, Praduta tidak tinggal diam.
Tanpa ragu, pria itu merengkuh tubuh rapuh Gladys dan membawanya ke dalam pelukannya yang hangat dan kokoh.
Ia membiarkan wanita itu menyandarkan kepala di dadanya, membiarkan isak tangis yang selama ini tertahan akhirnya tumpah sepuasnya.
Praduta mengusap punggung Gladys dengan gerakan lembut, memberikan ketenangan di tengah badai kehancuran yang dirasakan wanita itu.
"Ada apa, Gladys? Ceritakan padaku," bisik Praduta lembut di dekat telinganya, suaranya terdengar begitu sabar dan meneduhkan.
"Apa yang membuatmu sampai berlari di malam hari dan pingsan di depan kafe dalam kondisi separah ini?"
Gladys menggelengkan kepalanya pelan di balik dada bidang Praduta.
Ia sama sekali tidak berniat menceritakan kebejatan rumah tangganya atau penghinaan keji yang baru saja dilontarkan Raka.
Harga diri Gladys terluka terlalu dalam untuk diumbar, bahkan kepada pria yang telah menyelamatkannya.
Ia hanya ingin membenamkan diri dalam rasa aman yang tiba-tiba diberikan oleh Praduta, melupakan sejenak kenyataan pahit bahwa ia terjebak dalam pernikahan yang menyiksa.
Merasa Gladys enggan bicara, Praduta tidak mendesaknya lebih jauh.
Ia hanya mengeratkan pelukannya, membiarkan Gladys menangis hingga tenang, sementara di balik tatapan tenangnya, sebuah seringai tipis terukir—rencana gelapnya berjalan semakin mulus dari yang ia bayangkan.
Gladys perlahan melepaskan diri dari pelukan Praduta.
Dengan ujung jarinya yang masih sedikit gemetar, ia mengusap sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya.
Ia menyedot napas panjang, mencoba menguasai dirinya sendiri dari kepedihan yang baru saja meluap.
Untuk mengalihkan pikiran dari kehancuran rumah tangganya sendiri, Gladys mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar dan ruang tengah apartemen yang terasa terlalu luas dan sunyi itu.
"Apakah kamu di sini sendirian?" tanya Gladys pelan, menatap Praduta yang masih duduk setia di sampingnya.
Praduta menganggukkan kepalanya pelan. Senyum tipis yang hangat kembali terukir di bibirnya, namun kali ini ada duka samar yang tersembunyi di balik binar matanya.
"Dimana orang tuamu?" tanya Gladys lagi, penasaran.
Pertanyaan itu membuat Praduta terdiam sejenak. Pria itu menyandarkan kedua tangannya di tepi ranjang, menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang mendadak dingin dan kelam.
"Orang tua? Aku tidak punya, Gladys," ujar Praduta datar, suaranya terdengar begitu sunyi.
"Ibuku membuangku sejak kecil, dan ayahku sama sekali tidak pernah menerima kehadiranku. Semua orang selalu mengatakan kalau aku ini cuma seorang anak haram."
Deg!
Jantung Gladys seakan berhenti berdetak mendengarnya.
Kata-kata Praduta menghantam ulu hatinya begitu telak.
Gladys terpaku, sama sekali tidak menyangka bahwa di balik sosok Praduta yang selama ini selalu ceria, usil, jahil, dan penuh percaya diri itu, tersimpan luka masa lalu yang begitu kelam dan menyakitkan.
Gladys menatap wajah Praduta dari samping. Rasa empati yang mendalam seketika menggantikan rasa canggung di antara mereka.
Gladys mengulurkan tangannya, meletakkannya di atas jemari Praduta yang mengepal kaku.
"Kamu bukan anak haram, Praduta." ucap Gladys tulus dan lembut, matanya menatap tajam penuh keyakinan.
"Jangan pernah biarkan ucapan orang lain membuatmu merasa tidak berharga. Kamu orang baik."
Tanpa Gladys sadari, kalimat tulus yang meluncur dari bibirnya justru semakin mengunci dirinya ke dalam jaring permainan Praduta yang semakin berliku.
Mendengar ucapan tulus Gladys yang begitu lembut, Praduta terdiam sejenak.
Sorot mata dingin dan kelam di iris matanya pelan-pelan meleleh, berganti menjadi tatapan tajam yang dipenuhi kehangatan intens sekaligus pesona yang menghipnosis.
Praduta tidak menjawab dengan kata-kata. Ia perlahan mengikis jarak di antara mereka, memajukan wajahnya hingga Gladys bisa merasakan desah napas hangat pria itu menyapu kulit pipinya.
Gladys terpaku di tempat, terkunci oleh sorot mata Praduta yang begitu dalam.
Tanpa memberikan jeda bagi Gladys untuk berpikir, Praduta semakin mendekatkan bibirnya ke bibir Gladys.
Gladys yang masih dalam kondisi rentan, haus akan kasih sayang, dan terluka hebat oleh perlakuan Raka, tak mampu menolak.
Ia perlahan memejamkan matanya rapat-rapat saat bibir Praduta menyentuh bibirnya dengan ciuman yang lembut namun tegas—sebuah sentuhan yang seketika meluluhkan seluruh pertahanan batinnya.
Selama beberapa menit, keheningan apartemen itu diisi oleh desir detak jantung yang berpacu kencang.
Ketika Praduta akhirnya menyudahi ciuman itu dan menarik diri perlahan, Gladys membuka matanya dengan binar rapuh dan pipi yang merona hangat. Kesadarannya perlahan kembali, mengingatkan dirinya pada realita yang ada.
Gladys membuang pandangan sejenak, merapikan helai rambutnya yang sedikit berantakan dengan jemari yang gemetar.
"Pra, a-aku pulang dulu ya," bisik Gladys dengan suara parau namun mantap.
'Terima kasih banyak, atas semalam."
Praduta menatap Gladys dengan senyuman tipis yang sulit diartikan di bibirnya.
Tanpa mendesak atau menahannya lebih lama, Praduta menganggukkan kepalanya pelan, membiarkan Gladys bersiap untuk melangkah keluar dari apartemennya.
Sementara itu, suasana pagi di kediaman mewah keluarga Devandra terasa sangat mencekam dan penuh tekanan.
Di ruang makan, hidangan sarapan yang tersaji di atas meja sama sekali tak tersentuh.
Raka duduk terpaku di salah satu kursi, penampilannya berantakan dengan mata sembab dan lingkaran hitam di bawah mata setelah semalaman berputar mengelilingi kota tanpa hasil.
Jas yang ia kenakan kemarin bahkan masih tergeletak di kursi sebelah.
Papa Devandra yang duduk di ujung meja menatap putranya dengan rahang menegang dan sorot mata dingin.
Ia meletakkan cangkir kopinya hingga menimbulkan suara dentukan kecil yang memecah keheningan.
"Apakah tidak ada kabar tentang istrimu?" tanya Papa Devandra, suaranya terdengar berat dan menuntut.
Raka tertunduk lesu. Ia hanya menggelengkan
kepalanya pelan tanpa berani menatap sang ayah. Rasa bersalah dan penyesalan yang membakar dadanya membuat pria itu kehilangan kata-kata.
Melihat respons putranya yang hanya diam seperti kehilangan arah, emosi Papa Devandra kembali menyala. Ia menepuk meja makan dengan telapak tangannya.
"Lalu, apa kamu mau diam saja?!" bentak sang papa dengan nada meninggi.
"Gladys itu istrimu, Raka! Dia keluar dari rumah ini malam-malam tanpa membawa apa-apa setelah kamu hina! Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya, bagaimana kamu mau mempertanggungjawabkannya di depan mendiang Dewi?!"
Kata-kata itu bagaikan cambukan keras yang menghantam Raka.
Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas pangkuan, menahan rasa sesak yang kian mencekik lehernya.