NovelToon NovelToon
AURORA [TRANSMIGRASI ISTRI YANG TERBUANG]

AURORA [TRANSMIGRASI ISTRI YANG TERBUANG]

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Transmigrasi
Popularitas:838
Nilai: 5
Nama Author: An_cin

Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...

Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.

"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 07

Kelas A, tingkatan kecil di taman kanak-kanak. Kini Aurora telah berada di depan kelas, bersama dengan ibu-ibu lain.

"Hai, aku baru melihatmu hari ini, Aku Lucia kalau kau?" Seseorang mengulurkan tangannya. Mengajak Aurora berkenalan.

"Aku Aurora". Ucap wanita itu, membalas jabatan tangan.

"Kau cantik sekali, hanya saja sayang. Kau sudah menikah, baru saja aku ingin..." Belum selesai Lucia berbicara. Aurora sudah lebih dahulu menyela ucapannya.

"Astaga, aku ini masih single ya kakak. Aku saja enggan dekat dengan pria, bagaimana bisa aku menikah?"

Mendengar hal itu, Lucia pun langsung bingung. "Lalu? Untuk apa kau kemari?"

"Untuk adikku". Mendengar ucapan Aurora, benar-benar membuat Lucia syok. Ia lalu menatap Aurora dari bawah hingga atas.

"Luna Darren Nita". Ucap Guru yang berteriak, untuk memberitahu wali sang murid.

"Saya..." Ujar Aurora, yang kemudian langsung menghampiri adiknya.

Lucia sampai detik ini masih syok, ia masih mematung di tempat. "Sudah sebesar itu? Punya adik?"

"Mama, ayo kita pulang! Mama, Ayo pulang!" Rengek anak laki-lakinya yang sudah meminta pulang.

"MAMAAAA!" Teriak anak itu, dan masih belum bisa menyadarkan mamanya.

"Sudah sebesar itu? Punya adik? Keren sekali ibunya. Wow, Andai Jordan punya adik. Maka..." Wanita itu pun menatap putranya.

"Nando pasti akan memanggilnya Paman. Ups... Astaga apa yang aku pikirkan, itu justru malah terdengar seperti lelucon. Untung Jordan anak tunggal. Ayo Nando, kita pulang!". Nando yang sedari tadi sudah berteriak memanggil mamanya, kini hanya bisa memberikannya tatapan datar.

***

Luna terlihat sangat gembira, ia berlarian kesana kemari, dan memutari tubuh kakaknya.

"Luna happy banget, akhirnya kakak yang jemput Luna. Soalnya Luna bosan, kalau yang jemput mama. Pasti dia tuh berhenti dulu tuh di situ." Luna menunjuk kerumunan ibu-ibu yang tengah merumpi.

Aurora pun kini berjongkok di depan anak kecil itu, "Itu normal adik kesayangan kakak. Biar mama kamu juga ada hiburan segar."

Aurora mencubit hidung Luna, ia melihatnya benar-benar sangat gemas.

"Ihhh kakakkkkk."

"Sudahlah, ayo kita pulang!"

"Hemmmm"

Baru sampai di gerbang sekolah, Aurora langsung di kejutkan oleh sosok yang jelas sangat-sangat ia kenal.

"Paman Jordan..." Panggil seorang anak kecil yang langsung memeluk pria itu.

Aurora yang melihatnya pun, kini langsung berbalik badan.

"Sialan, kenapa harus dia?" Tanya Aurora kepada dirinya sendiri.

"Kakak, orang itu aneh." Luna melihat seseorang berbaju hitam yang berjalan mendekatinya. Aurora tidak mendengar hal itu, meskipun ia telah memanggilnya beberapa kali.

"Kakak, dia kesini, Luna takut". Keramaian itu membuat Aurora tidak dapat medengar Luna berbicara.

Dari samping, terlihat Jordan yang mengamati Luna. Ia melihat gadis kecil itu tampak ketakutan akan sesuatu. Matanya kemudian tertuju kepada pria yang tengah mendekatinya.

Pria itu kemudian menarik lengan Luna, membopong tubuh kecilnya. Lalu membawa gadis kecil itu lari.

"Kakak..." Teriak Luna, akhirnya mampu membuat Aurora yang semula hanya diam. Kini langsung menoleh mencarinya.

"? Luna? Kok, hilang? Luna?" Dengan raut wajah panik, Aurora mengamati sekitar.

Kini tampak Jordan yang berlari melewatinya, serta Pak Tono yang turut keluar dari mobil. Dan beberapa orang pria lain yang turut mengejar pria itu.

Aurora yang sadar akan hal itu pun, kini langsung ikut mengejar mereka.

"Aurora, sialan kau. Bagaimana bisa kecolongan? Ayo fokus!" Ucapnya, sebari berlari kencang mengejar penculik.

Penculik itu membawa Luna berlari dengan cepat, ia melihat mobil yang terparkir lumayan dekat dengan sekolah. Mobil Sedan hitam yang telah di siapkan oleh seseorang.

Namun, penculik itu pasti tidak akan menyangka. Bahwa Jordan juga bisa secepat dirinya dalam berlari.

"Hai anak kecil, kau baik-baik saja?" Ucap Jordan, bertanya pada Luna.

Luna yang melihat hal itu pun langsung menggelengkan kepalanya. Matanya juga langsung berbinar saat itu juga. Dalam pikiran anak kecil itu pasti. "Wow, keren. Seperti pahlawan di buku dongeng."

Penculik itu kini menatap ke samping, mendapati Jordan yang sudah berlari sejajar dengannya. Sorot matanya yang semula tenang, kini langsung berubah panik.

"Dasar penculik bodoh" Jordan dengan tenang langsung menendang penculik itu. Penculik itu tidak bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya. Hingga pada akhirnya terhuyung dan terjatuh ke aspal jalan.

Luna sudah lepas dari tangan penculik itu, namun anak kecil itu. Kini benar-benar ketakutan, lantaran banyak mobil yang berlalu lalang di sekitar.

Hingga, sebuah bus dari arah yang jauh terlihat. Luna yang mencoba melarikan diri dari sana, tidak bisa. Kaki anak kecil itu, terhimpit oleh dada penculik.

"LUNAAAAAA" Teriak Aurora dari kejauhan.

Jordan tak hanya diam, ia dengan sigap langsung membantu Luna dan menariknya ketepian. Lalu menyeret penculik itu, dan menyerahkannya kepada beberapa orang sekitar yang tadi sempat ikut mengejar.

Jordan kini berjongkok, menyelaraskan tubuhnya yang besar, di hadapan anak kecil itu.

"Kamu pasti takut ya?" Tanya Jordan, dan hanya di jawab anggukan oleh Luna.

"Lain kali, jangan sembarangan ikut orang". Mendengar ucapan Jordan, Luna langsung menggeleng.

"Aku tidak ikut dengannya, dia yang menarikku pergi".

Melihat Luna yang sudah mau berbicara, membuat pria itu sangat lega. Ia menaruh tangannya, di kepala anak kecil itu. Kemudian mengelusnya pelan.

"Iya, lain kali hati-hati".

Melihat Jordan yang begitu baik kepadanya, membuat Luna sangat kagum kepada pria itu.

"Kakak tampan, kau baik sekali padaku, kakak, kau saja yang jadi pacar kakakku. Kebetulan pacarnya tidak becus".

Tepat pada waktunya, Aurora datang dan langsung membungkam mulut Luna dengan tangannya.

"Adikku sayang, kau ini berbicara apa sih, jangan melantur".

Jordan kini langsung berdiri, pria itu merasakan hawa yang aneh sejak tadi. Ia sempat mengamati Aurora, ia merasa ada yang berbeda dengan wanita itu.

"Pak Jordan, terima kasih. Atas bantuan Anda, adik saya dapat selamat". Aurora tersenyum, namun Jordan. Merasa ini benar-benar aneh.

"Luna, ayo!" Aurora kini membawa Luna pergi, namun Jordan. Malah menahan lengan tangannya.

"Tunggu! Dari mana kau tahu namaku? Padahal, ini adalah pertama kalinya Saya melihatmu" Ucapan Jordan itu benar.

"Sial, aku salah bicara" Ucap Aurora dalam hati.

Ia kemudian menoleh, dan menatap Jordan. Tampak raut wajah kebingungan pria itu masih ada.

"Pak Jordan, Anda lupa ya. Direktur besar seperti Anda. Pasti semua orang juga kenal". Ucap Aurora sambil mengedipkan matanya.

"Kau pikir ini dracin". Ucapan Jordan itu sontak langsung membuat Aurora yang semula genit menggodanya secara terang-terangan. Kini langsung di buat bungkam dan berwajah datar.

"JORDAN..... MENGAPA KAU HARUS TERLALU JUJUR..." Teriak Aurora dalam hati.

Pak Tono kini kembali, ia tadi sempat mengikuti beberapa orang. Membawa penculik itu ke kantor polisi.

"Nona muda, Anda baik-baik saja". Tanya Pak Tono, memastikan kondisi kedua pewaris keluarga Darren itu.

"Aku baik-baik saja Pak Tono, namun Luna sepertinya masih sangat syok. Ayo kita kembali. Mama Grace pasti sedang menunggu, o iya. Tolong bawa adik saya naik mobil dulu. Ada hal yang perlu saya ucapkan kepada pria ini".

Pak Tono pun mengangguk, ia kemudian membawa Luna pergi ke mobil.

Jordan yang mendengar hal itu, kini langsung mengangguk paham. "Ok, saya paham sekarang. Kau ternyata bukan orang sembarangan. Pantas kau mengenalku, kau dari kalangan atas juga rupanya".

Mendengar ucapan Jordan yang seperti itu, membuat Aurora membungkukkan badannya. Untuk rasa hormat dan penyampaian terima kasih sekali lagi.

"Sekali lagi, terima kasih Tuan".

"Sudah, jangan banyak berterima kasih. Lain kali hati-hati". Jordan menatap sekitar, ia menunjuk beberapa tempat.

"Untung di sini ramai, kau harus tau nona Aurora, di manapun, kau harus selalu waspada. Bisa saja kejadian ini terulang kembali. Untung di sini ramai, jika sepi. Lalu hanya ada kau dan anak kecil itu, dia pasti telah benar-benar di bawa pergi".

Aurora kini mengangguk paham.

Seorang anak kecil laki-laki berlari, menghampiri Jordan dan menyebutnya paman.

"Paman...." Anak kecil itu memeluk Jordan dan Jordan langsung membopong tubuh kecilnya.

"Yang tadi itu keren" Nando memberikan jempolan tangannya.

"O jelas, siapa dulu dong?"

"Paman Jordan" Ucap keduanya, secara bersamaan.

Nando kini menoleh, dan mendapati Aurora, "Kakak, kamu cantik sekali. Kebetulan pamanku jomblo, apa kamu tidak mau menjadi bibiku." Jordan yang mendengar hal itu keluar dari mulut keponakannya pun. Kini langsung dengan cepat membungkamnya. Aurora yang mendengar hal itu pun langsung syok.

Lucia, kini juga menghampirinya. "Nando, kau jangan sembarangan berbicara. Paman itu sangat-sangat anti Women". Ucapan Lucia itu membuat Jordan langsung tak terima.

"Hai, apa maksudmu?"

Aurora yang mendengar hal itu, kini tertawa.

"Tidak ada yang lucu!" Ucap Jordan, dengan wajah datar.

Mobil yang di bawa oleh Pak Tono, kini menghampiri Aurora. "Kakak, ayo pulang!"

"Tunggu sebentar Luna". Aurora berpamitan kepada Lucia, Nando dan juga Jordan. Ia kemudian masuk ke dalam mobil, lalu menyuruh Pak Tono, untuk segera membawa mobil itu pergi.

"Jalan pak!"

"Baik nona".

Jordan masih berdiri di tempat yang sama, menatap kepergian mobil itu dengan perasaan yang aneh.

"Wanita itu, kemarin aku melihatnya di pemakaman Maudy. Aku tidak salah lihat, itu memang dia".

***

Di tempat yang lumayan jauh dari sekolah itu, sebuah mobil sedan hitam. Kini berhenti di sebuah toko kelontong.

"Sialan, pria tidak becus itu kini malah tertangkap". Pria itu benar-benar Kris. Ia telah membayar seseorang untuk menculik adik Aurora.

"Bagaimana Aurora bisa tahu. Padahal dia sama sekali tidak pernah menjemput anak kecil itu".

Dari kaca toko kelontong, tampak Jiwa Aurora yang kini tengah tersenyum menatap kegagalan Kris.

"Kris Kris, jangan harap kali ini aku akan memberimu kesempatan. Lihat saja, ini baru awal, akan ku buat kamu membayar rasa sakit yang selama ini aku rasakan".

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!