Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.
Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.
Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 — SUMPAH DARAH JIWA
Malam Jumat Kliwon puncak penetapan sajen akhirnya tiba menyelimuti seluruh desa.
Hujan deras mengguyur bumi, ditiup angin kencang yang mematahkan dahan-dahan jati tua.
Aku berdiri kaku di depan cermin kamar, memandangi kerah kemeja leher tinggiku yang basah peluh.
Sisik hitam tebal yang membungkus leher kananku terasa dingin menyengat bagaikan tusukan es batu.
“Mas... apakah kamu benar-benar harus meneteskan darah jarimu di atas nisan malam ini?” tanya Ningsih berbisik gemetar.
Istriku melangkah mendekat sambil memeluk erat tubuh Dedek yang sedang tertidur lelap di ranjang bambu.
“Iya, Ningsih, ritual Sumpah Darah Jiwa malam ini adalah puncak pengikat keselamatan kita,” jawabku pelan.
“Apakah tidak ada rasa takut sedikit pun di dalam dadamu melangkah ke bukit pekat itu, Mas?” tanyanya cemas.
“Aku jauh lebih takut melihat raga anak dan istriku hancur membatu seperti Mbah Kasan,” tegasku.
“Aku takut sekali kalau jiwamu ditarik permanen oleh iblis makam keramat itu, Mas,” rintih Ningsih menangis terisak.
“Jangan biarkan rasa cemas merusak pikiranmu malam ini, Ningsih,” bujukku pelan memegang bahunya.
“Aku pasti akan pulang kembali membawa kepastian keselamatan buat keluarga kita,” janji serakku menenangkan.
“Tolong jaga Dedek baik-baik di dalam kamar tidur selama aku pergi ke puncak bukit,” pesanku mengarahkan.
“Iya, Mas, aku akan memeluk Dedek di kamar dan berdoa terus sampai kamu kembali,” sahut Ningsih terisak.
“Jangan pernah membuka pintu dapur buat siapa pun sebelum mendengar ketukan tiga kali dariku,” pesanku lagi.
“Baik, Mas, aku mengerti pesanmu, aku pasti akan menunggu ketukan tiga kali darimu,” janji Ningsih.
Aku mengangguk pelan, lalu menyelipkan bilah pisau dapur tajam yang sudah diolesi minyak mawar di saku kemeja.
Ayam jantan hitam mulus di dalam kurungan bambu kecil kuangkat erat memakai jemari tangan kiri.
Aku melangkah keluar dari pintu dapur belakang rumah, menembus lelehan air hujan dan kegelapan malam.
Drap! Drap! Drap!
Langkah kakiku yang bertelanjang menapak cepat di atas permukaan jalanan tanah setapak yang basah.
Gumpalan lumpur dingin dan embun malam membilas jemari kakiku di sepanjang tanjakan bukit.
Aroma bau pandan basah dan wangi kamboja busuk tercium menyengat menyertai setiap helaan napasku.
“Aku harus bertahan demi keselamatan Ningsih dan Dedek,” bisikku pelan menguatkan tekad dada.
“Ritual Sumpah Darah Jiwa malam ini harus tuntas tanpa ada cela sedikit pun!” desisku bertekad.
“Tolong berikan hamba keberanian dan perlindungan ya Allah buat melewati ujian gaib ini!” mohonku gemetar.
Jalanan tanah setapak menuju puncak bukit terasa kian menanjak licin dan sangat gelap pekat.
Kurungan bambu berisi ayam hitam di tangan kiriku terasa dingin membekukan, seolah terbuat dari es.
Ayam jantan hitam itu membisu kaku tanpa mengepakkan sayap, seolah menyadari takdir mautnya.
Srik!
Suara gersak dedaunan kering di balik rumpun bambu membuat langkah kakiku mendadak terhenti kaku.
Bayangan hitam tinggi besar berdiri membungkuk di balik rimbunan pohon pisang liar.
Dua titik mata merah menyala menatapku lurus-lurus dari balik kegelapan semak-semak hutan.
“Siapa yang berdiri di balik pohon pisang itu?” tanyaku berbisik dengan nada suara bergetar hebat.
“Apakah kamu utusan gaib dari Makam Keramat Panjang yang sengaja mengawasi langkahku?” tanyaku tegang.
“Jawab pertanyaan saya sekarang kalau kamu memang penunggu hutan ini!” seruku berusaha tegar.
Tidak ada jawaban suara kata manusia yang membalas bisikan ketakutanku di tengah hutan sepi.
Namun desah napas dingin berbau bangkai busuk terasa menyapu lembut tengkuk leher kiriku.
Suara tawa serak seorang wanita tua mendadak bergema sangat dekat di samping daun telinga.
“Surya... bawa darah jarimu ke atas batu nisan tempat rumahku...” bisik suara gaib itu.
“Segel jiwamu dan tumpahkan darah ayam hitam itu di atas tanahku...” tambah suara mendesis.
“Anak dan istri mu di rumah sedang menunggu kepulanganmu membawa kepastian...” lanjut suara dingin itu.
Seluruh bulu kuduk di sekujur tubuhku berdiri tegak bagaikan ditusuk ribuan jarum es membekukan.
“Ingat pesan Ujang, jangan pernah menoleh ke belakang sedikit pun!” bisikku mengingatkan diri.
“Fokuskan pikiran cuma buat sampai ke puncak bukit makam keramat!” tegasku menguatkan hati.
Aku memejamkan mata rapat-rapat, lalu melangkah berlari sekuat tenaga menaiki tanjakan bukit.
Drap! Drap! Drap!
Langkah kakiku menapak deras di atas bebatuan licin dan perakaran pohon jati tua yang melilit.
Di ujung tanjakan bukit, dua tiang batu hitam berlumut berdiri menatap anggun dan angker.
Makam Keramat Panjang terhampar membisu di bawah naungan pohon kamboja raksasa yang rindang.
Gundukan tanah makam sepanjang lima meter itu membentang kaku di atas tanah pelataran bukit.
Cklek!
Suara dentang jam dinding dari balai desa di kejauhan terdengar berbunyi dua belas kali berturut-turut.
Tepat pukul dua belas malam, puncaknya malam Jumat Kliwon yang paling sakral dan mengerikan.
Aku menuntun langkahku mendekati batu nisan tua di ujung gundukan tanah makam dengan tubuh gemetar.
Lututku bergetar hebat saat aku berlutut di atas tanah merah yang basah berembun dingin.
“Permisi, Mbah... saya Surya datang membawa sajen Sumpah Darah Jiwa Jumat Kliwon,” bisikku gemetar.
“Saya datang buat menepati janji puncak penetapan keselamatan keluarga saya,” tambahku serak.
“Saya mohon dengan sangat, lindungilah anak dan istri saya dari bahaya gaib,” pintaku memohon ampun.
Grombol!
Tanah merah di atas gundukan makam sepanjang lima meter itu mendadak berguncang sangat hebat.
Retakan-retakan tanah terbuka lebar, mengeluarkan asap hitam tebal yang berbau bangkai menyengat.
Dua lengan hitam raksasa berdaging busuk menerobos keluar dari dalam gundukan tanah makam.
Jemari berkerut dengan kuku-kuku hitam panjang mencengkeram erat pinggiran batu nisan tua.
Sosok mahluk raksasa tinggi besar membungkuk berdiri perlahan di atas gundukan tanah makam.
Wajahnya yang hancur membusuk tidak memiliki hidung, dan dua titik matanya menyala merah terang.
“Surya... kamu datang membawa ayam hitam dan jarimu buat Sumpah Darah Jiwa...” gemuruh suara gaib.
“Apakah kamu benar-benar bersedia meneteskan darah jiwamu di atas batu nisanku malam ini?” tanyanya.
Aku terpaku kaku berlutut di atas tanah basah, dadaku bergemuruh dihantam rasa takut luar biasa.
“Saya datang membawa ayam jantan hitam mulus dan darah jari manis saya sesuai janji, Mbah,” sahutku bergetar.
“Keluarkan ayam itu dan potong lehernya di atas batu nisanku sekarang!” perintah mahluk raksasa itu.
“Sayat jari manis tangan kananmu dan campurkan darahmu dengan darah ayam itu!” seru suara gaib.
Dengan jemari gemetar hebat, aku membuka selot bambu kurungan ayam jantan hitam di depanku.
Aku mengeluarkan ayam hitam itu, menekan lehernya rapat-rapat di atas permukaan batu nisan tua.
Aku merogoh pisau dapur tajam dari saku kemeja memakai jemari tangan kiri yang bergetar.
Sret!
Bilah pisau dapur tajam kugoreskan keras menembus urat leher ayam jantan hitam tersebut.
Darah segar berwarna merah gelap memancar keras menyembur membasahi permukaan batu nisan tua.
Grojok!
Aroma wangi amis darah menyengat pekat membumbung tinggi bercampur dengan asap hitam makam.
Ayam hitam itu berguncang kejang sebentar di atas nisan sebelum akhirnya terkulai mati kaku.
Setelah itu, aku mengangkat jari manis tangan kananku yang bersisik hitam ke atas batu nisan.
Dengan mata memejam erat, aku menancapkan ujung pisau dapur tajam ke dalam kulit jari manisku.
Sret!
Ujung pisau menyayat dalam daging jari manisku, mengeluarkan lelehan darah segar merah kehitaman.
Tetesan darah manusia segar dari jari manisku menetes deras mencampuri darah ayam hitam di batu nisan.
Begitu darah jariku menyentuh lelehan darah ayam, mahluk raksasa itu mengaum keras mengerikan.
Auman gaib itu bergemuruh hebat mengguncang seluruh pepohonan hutan dan tanah pelataran bukit.
“Darah jiwamu dan darah ayam hitam ini telah menyatu meresap ke dalam tanah rumahku!” seru mahluk itu.
“Sumpah Darah Jiwa ini resmi menyegel raga dan keturunanmu sebagai abdiku yang sah!” tambahnya.
Mahluk raksasa itu membungkukkan wajah hancurnya tepat di atas batu nisan yang berlumur darah.
Mulut besarnya yang bertaring tajam mengisap lelehan darah bercampur dari permukaan batu nisan.
Pendar cahaya merah menyala dari matanya makin berkilau terang di dalam kegelapan malam.
“Sumpah Darah Jiwa Jumat Kliwon sudah kuterima utuh dan sempurna, Surya!” gemuruh suara gaib.
“Sisik hitam di lehermu sudah kusegel terkunci tanpa merambat naik menelan mukamu!” tegas mahluk itu.
“Toko grosirmu dan kekayaan hartamu akan tetap menjadi yang paling melimpah selamanya!” lanjutnya.
Jantungku melonjak keharuan luar biasa mendengar terkuncinya penyebaran sisik hitam di leherku.
“Terima kasih banyak, Mbah! Terima kasih atas perlindungan dan penguncian rasa sakit ini!” jeritku gemetar.
“Ingat baik-baik, ikatan Sumpah Darah Jiwa ini tetap berlaku abadi seumur hidupmu!” ancam mahluk itu.
“Setiap Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon kamu wajib datang menyembelih darah segar!” tegasnya.
“Tanda nisan di kuku jempolmu dan sisik hitam di lehermu adalah segel abadi milikku!” lanjut mahluk itu.
“Kalau kamu alpa satu kali saja... nyawa anak dan istri mu yang langsung kucabut masuk!” gertaknya keras.
“Saya janji tidak akan pernah alpa, Mbah! Saya akan selalu datang mematuhi perintah!” sahutku bersumpah.
“Saya akan rajin membawa sajen dan menyembelih darah segar setiap jadwal ritual!” janjiku.
“Pulanglah sekarang sebelum kegelapan malam menelan raga dan jiwamu!” perintah mahluk raksasa itu.
“Pergilah sekarang menemui istri dan anakmu yang sedang menunggu di rumah!” serunya bergemuruh.
Aku menyambar goni kosong dan pisau dapur, lalu berbalik berlari sekuat tenaga menuruni bukit.
Drap! Drap! Drap!
Langkah kakiku menapak deras menembus kegelapan jalanan tanah setapak yang licin berembun.
Aroma wangi bunga kantil busuk dan bau bangkai perlahan-lahan memudar hilang ditiup angin.
Sesampainya di halaman rumah panggung, aku segera mendorong pintu dapur belakang dan menguncinya.
Tok! Tok! Tok!
Aku mengetuk pintu dapur tiga kali sesuai dengan kode janji yang kubuat bersama Ningsih.
Ningsih bergegas membuka selot kayu pintu dapur dari dalam dengan raut wajah lega luar biasa.
“Alhamdulillah ya Allah... kamu sudah pulang kembali dengan selamat, Mas!” jerit Ningsih memelukku.
“Aku sudah menuntaskan ritual Sumpah Darah Jiwa di atas bukit, Ningsih,” jawabku pelan.
Aku meletakkan pisau dapur bernoda darah dan goni kosong di atas meja kayu dapur.
Dedek sedang tertidur pulas di atas ranjang bambu dengan nafas yang sangat halus dan teratur.
Wajah anak kami terlihat sangat bersih, hangat, dan bebas dari bekas pendar memar hitam gaib.
“Bagaimana kondisi tempat makam keramat itu saat kamu menyayat jarimu tadi, Mas?” tanya Ningsih.
“Suasana di makam itu sangat mencekam dan menakutkan, Ningsih,” jawabku berbisik jujur.
“Apakah mahluk gaib penunggu makam itu benar-benar menerima Sumpah Darah Jiwamu, Mas?” tanya Ningsih.
“Mahluk itu menerima seluruh Sumpah Darah Jiwa dan darah ayam hitam, Ningsih,” tuturnya.
“Penunggu makam sudah menyegel sisik hitam di leherku tanpa merambat lagi,” tambahku.
“Beliau bilang raga dan keselamatan keluarga kita aman selama aku mematuhi jadwal,” tuturku menghibur.
“Alhamdulillah ya Allah... terima kasih banyak sudah menyelamatkan keluarga kami malam ini,” rintih Ningsih.
“Tapi tolong perlihatkan leher dan jari manis tangan kananmu sekarang, Mas,” minta Ningsih berbisik cemas.
Aku perlahan melepaskan kerah kemeja leher tinggiku dan gulungan perban di leher tangan kanan.
Di bawah pendar redup lampu minyak tanah, pemandangan keajaiban dan kerapuhan terlihat jelas.
Penyebaran sisik hitam tebal di leher kananku mendadak terhenti kaku tepat di garis bawah rahang.
Sisik hitam gaib itu tidak lagi merambat naik ke wajahku, namun membeku keras bagaikan baju besi.
Di jari manis tangan kananku, luka bekas sayatan pisau telah menutup menjadi bekas noda garis hitam.
“Mas... sisik hitam di lehermu benar-benar terhenti dan tidak merambat ke wajah!” jerit Ningsih gemetar.
“Sisik hitam ini adalah segel abadi yang wajib kubawa seumur hidupku, Ningsih,” jawabku.
“Selama aku mematuhi jadwal ritual, sisik hitam ini tidak akan membahayakan nyawa kalian,” jelasku.
“Apakah rasa dingin menyengat di lehermu ini masih terasa menyiksa saat kamu bernapas, Mas?” tanya Ningsih.
“Rasa nyerinya membeku kaku, tapi aku sanggup menahannya demi kebahagiaan kalian,” jawabku.
Ningsih memeluk erat tubuhku, menangis terisak di atas dadaku dengan kepasrahan yang dalam.
“Aku akan selalu menemanimu menghadapi ujian berat perjanjian ini, Mas,” bisik Ningsih penuh haru.
“Kita tanggung beban gaib ini bersama-sama demi masa depan dan keselamatan Dedek,” sambungnya.
Aku membalas pelukan Ningsih dengan derai air mata keharuan dan tekad yang makin terpatri bulat.
Dedek menggeliat pelan di atas ranjang bambu, tersenum manis di dalam tidurnya yang tenang.
Wajah anak kami terlihat sangat polos, dilindungi oleh pengorbanan jiwa dan raga ayahnya sendiri.
Perjanjian berdarah di Makam Keramat Panjang kini telah resmi menyegel garis takdir hidupku.
Sisik hitam di leherku dan bekas luka di jari manisku akan menjadi saksi abadi pengorbananku.
***