“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
“Assalamualaikum.”
Suara Hanan terdengar pelan namun tegas ketika ia melangkah masuk ke rumah neneknya.
“Waalaikumsalam,” jawab Fatim dari arah ruang tengah. Gadis itu langsung menoleh, matanya berbinar saat melihat kakaknya pulang. “Mas Hanan, dari mana? Kok lama banget? Dari tadi Fatim nungguin.”
Hanan meletakkan tas kecilnya di atas meja, lalu mengusap wajahnya perlahan. Raut lelah tak bisa ia sembunyikan.
“Tadi ke bengkel sebentar,” jawabnya singkat.
“Ohh…” Fatim manggut-manggut paham, lalu matanya berbinar lagi. “Terus, pesanan Fatim mana? Jangan bilang lupa ya, Mas.”
Hanan terkekeh kecil, meski senyumnya tak sampai ke mata. “Di mobil. Kamu ambil sendiri ya? Mas capek banget hari ini.”
“Okeee!” Fatim langsung berdiri dengan semangat. “Makasih banyak, Mas!”
Tanpa menunggu jawaban lagi, Fatim bergegas keluar rumah. Langkahnya ringan menyusuri teras menuju mobil Hanan yang terparkir di halaman. Ia membuka pintu depan, berniat langsung mengambil kantong belanjaan yang ia pesan sejak kemarin.
Namun baru saja pintu terbuka, dahi Fatim mengernyit. Sebuah ponsel tergeletak di jok depan.
“Ini HP siapa?” gumamnya pelan.
Fatim mengangkat ponsel itu, memutar-mutar sebentar. Bukan ponsel milik Hanan, itu sudah pasti. Casing-nya sederhana, agak lecet di sudut, dengan gantungan kecil berbentuk bunga yang terlihat sangat… perempuan.
Rasa penasaran mengalahkan niat awalnya. Ia menekan tombol samping, layar ponsel menyala.
Dan seketika itu juga matanya membelalak.
Wallpaper di layar menampilkan seorang perempuan dengan ekspresi jutek setengah malas wajah yang sangat ia kenal.
“Astaghfirullah…” Fatim spontan menutup mulutnya. “Ini HP mbak Kayla?!”
Dadanya mendadak terasa sesak oleh kebingungan. Ia menatap ponsel itu lagi, memastikan benar ponsel Kayla atau ponsel Hanan yang diberi walpaper foto Kayla.
Fatim berdiri beberapa detik di depan kamar kakaknya. Ponsel itu masih ia genggam erat. Jantungnya berdebar bukan karena takut melainkan karena penasaran yang menggelitik.
Ia mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
“Mas… Mas Hanan buka pintunya.”
Tak lama terdengar suara langkah pelan dari dalam. Cklek.
Pintu terbuka.
Hanan berdiri di ambang pintu dengan wajah yang masih terlihat lelah. Koko yang tadi ia pakai sudah diganti dengan kaos rumahan sederhana, tapi pecinya masih terletak rapi di meja samping tempat tidur.
“Kenapa dek?” tanyanya tenang.
Fatim menatap wajah kakaknya beberapa detik, mencoba membaca ekspresi yang biasa sulit ditebak itu.
“Mas ada hubungan sama Mbak Kayla?”
Kalimat itu meluncur begitu saja. Seketika mata Hanan membola. Ekspresinya berubah drastis.
“Astaghfirullah!” Ia refleks menegakkan tubuhnya. “Kamu ini bicara apa sih, dek? Ini bisa jadi fitnah loh!”
Fatim mengangkat bahu santai, meski sudut bibirnya menahan senyum jahil. “Fatim cuma bertanya, Mas. Kalau nggak ada hubungan apa-apa, sejak kapan Mas Hanan pakai foto Mbak Kayla buat wallpaper HP?”
‘’Maksudnya ?’’ Hanan mengerutkan dahi dalam. “Kamu ngomong apa sih, dek?”
Fatim langsung mengulurkan ponsel yang ia pegang. “Ini! Aku nemu di mobil Mas Hanan. Nih, foto Mbak Kayla kan?”
Hanan mengambil ponsel itu. Begitu layar menyala, wajah Kayla terpampang jelas di sana ekspresi juteknya, rambut ombre ungu tergerai, latar belakang entah di mana.
“Astaghfirullah…” gumam Hanan pelan. “Ini bukan HP Mas.”
Fatim berkedip. “Terus HP siapa?”
Hanan menatap layar itu lagi. “Itu foto siapa?”
“Mbak Kayla.”
“Ya berarti punya dia.”
Fatim melipat tangan di dada. “Tapi kok di mobil Mas Hanan?”
Pertanyaan itu membuat suasana mendadak hening. Hanan terdiam beberapa saat. Ia menarik napas pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri lebih dulu sebelum menjelaskan.
“Tadi habis dari bengkel,” ucapnya akhirnya. “Dia juga di bengkel ternyata. Mobilnya rusak parah… sepertinya dia habis kecelakaan.”
Nada suaranya berubah sedikit lebih lembut tanpa ia sadari. “Karena nunggu taksi lama, Mas tawarin buat bareng. Toh sejalan,” lanjutnya.
Fatim mengangguk pelan, wajahnya berubah paham.
“Ohhhh begituuu…”
Hanan menatap adiknya tajam tapi tidak galak. “Hem. Makanya jangan asal suudzon. Dosa kamu.”
Fatim langsung nyengir lebar. “Hehehee iya iya maaf.”
Namun ia belum selesai. “Tapi Fatim berharap Mas Hanan beneran ada hubungan sama Mbak Kayla.”
“Astaghfirullah, Fatim!” Hanan langsung memijat pelipisnya.
Fatim terkekeh melihat reaksi kakaknya yang biasanya tenang kini terlihat terusik. “Kenapa sih Mas? Mbak Kayla cantik loh.”
“Fatim,” suara Hanan berubah serius, “Semua wanita itu cantik!’’
Fatim mengangguk, tapi matanya masih berbinar nakal. “Ya kan, jadi apa mas Hanan tidak berniat untuk mengkhitbah mbak Kayla? Jadikan dia kakak ipar Fatim, ya ya ya yaaa…’’
Kalimat itu membuat Hanan terdiam. Ia menatap ponsel di tangannya lagi. Wajah Kayla di layar terlihat begitu kontras dengan kehidupannya sendiri. Rambut berwarna, ekspresi bebas, dunia yang jauh dari pesantren.
“Manusia itu berproses…” gumam Hanan pelan, tanpa sadar mengulang ucapan Uminya beberapa hari lalu.
Fatim menangkap gumaman itu.
“Tuh kan,” bisiknya pelan, lebih pada dirinya sendiri. “Mas mulai mikirin…”
“Apa?” tanya Hanan cepat.
“Nggak apa-apa,” jawab Fatim pura-pura polos, ‘’Fatim gak denger apa apa kok, kuping Fatim ketutup hijab beneran gak bohong!’’
Hanan menghela napas panjang. Ia mematikan layar ponsel itu lalu menyerahkannya kembali ke Fatim.
‘’Besok mas antar ke rumahnya,” ucap Hanan.
‘’Kook besok sih Mas?’’
‘’Astagfirullah Fatim, ini sudah malam.’’
‘’JUstru itu Mas, gimana kalau mbak Kayla butuh HP nya mala mini?’’
‘’Untuk apa malam malam butuh HP?’’
‘’Ya kali aja telfon pacarnya,” celetuk Fatim seolah sengaja.
‘’Astagfirullah al adzim Fatim, sejak kapan kamu suka suudzon sama orang begini?’’
‘’Loh kok suudzon sih Mas? Kita kan gak tahu, apa mbak Kayla udah punya pacar atau belum, toh mas Hanan juga gak suka sama mbak Kayla, jadi gak usah baper, oke!’’
Hanan menatap datar pada adiknya. Entah mengapa, ia merasa kurang menyukai perkataan Fatim barusan. Tapi ia juga tidak bisa mengelak,
Kayla begitu cantik, pintar, cerdik, mustahil jika tidak memiliki kekasih. Apalagi Dunia Kayla yang begitu gemerlap glamor seperti itu.
Hanan menghela napas nya berat, ‘’Kamu temani mas, ke rumah Kayla.”
‘’Asiaaapppp!’’