Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cermin Kebenaran
Udara pagi di Pavilion Timur terasa begitu asing, seolah tiap jengkal ruangan menyembunyikan ancaman yang siap menerkamnya kembali. Aurelia berdiri di depan cermin berukir emas, membiarkan jemarinya meraba permukaan kaca yang dingin. Pantulan dirinya mengenakan gaun pagi berwarna hijau zamrud dengan kerah renda putih yang tertutup rapat, pilihan yang sangat kontras dengan gaun-gaun berpotongan rendah yang biasa ia kenakan di kehidupan lalunya demi menarik perhatian Julian.
"Nona Muda..." Suara Marta terdengar ragu-ragu dari balik punggungnya. Pelayan itu memegang sisir gading dengan tangan gemetar, takut jika salah melangkah sedikit saja akan memicu amarah sang Lady seperti beberapa saat lalu. "Apakah Anda ingin hamba merias rambut Anda dengan gaya memikat seperti biasa? Nanti siang, Raja Julian mungkin akan melintasi taman dalam saat jamuan teh berlangsung."
Aurelia memiringkan kepalanya sedikit, menatap pantulan Marta di dalam cermin. Senyum tipis yang sarat akan ironi terukir di bibirnya.
"Gaya memikat?" tanya Aurelia halus, namun setiap kata yang diucapkannya terasa menusuk. "Seperti anak ayam yang memperlihatkan leher mulusnya di hadapan serigala, begitu?"
Marta menunduk dalam-dalam, ketakutan. "H-hamba tidak bermaksud demikian, Nona Muda..."
"Sanggul rapi rambutku ke atas," perintah Aurelia tegas. "Sederhana, tetapi anggun. Jangan tinggalkan satu helai pun terurai secara berantakan. Dan gunakan perhiasan mutiara dari kediaman Montclair, bukan gaun busana berlebih yang membuatku tampak seperti wanita yang haus akan perhatian."
"Baik, Nona Muda." Dengan jemari yang masih agak canggung, Marta mulai merawat helai demi helai rambut cokelat kemerahan milik Aurelia.
Sambil menatap proses merias itu, pikiran Aurelia berputar cepat melintasi memori masa lalunya. Di kehidupan sebelumnya, hari kedua ini adalah hari di mana ia kehilangan harga dirinya secara total. Ia ingat betul bagaimana ia sengaja berdandan sangat mencolok, mengenakan gaun merah menyala dan perhiasan paling mahal demi menutupi rasa malu karena Julian tidak mengunjunginya di malam pertama.
Hasilnya? Selir Genevieve dan rombongannya menjadikan Aurelia bahan tertawaan di depan seluruh bangsawan. Mereka menyebutnya "Putri Manja yang Putus Asa", seorang gadis yang menjual harga diri keluarganya hanya demi lirikan mata sang Penguasa.
Keributan yang diciptakan Aurelia hari itu akhirnya terdengar hingga ke telinga Julian, membuat sang Raja memberikannya hukuman tahanan rumah selama satu bulan karena dinilai mencoreng nama baik istana interior.
Hukuman itu tidak akan pernah terjadi lagi, batin Aurelia. Kali ini, merekalah yang akan merangkak di lantai taman itu.
"Nona Muda, ada hal lain yang ingin hamba sampaikan..." Marta berbisik pelan, matanya melirik ke arah pintu kamar yang tertutup rapat seolah memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.
"Katakan," sahut Aurelia pendek.
"Tadi pagi... sebelum hamba masuk ke kamar ini, salah seorang pelayan dari kediaman Selir Evelyn mendatangi dapur Pavilion Timur. Ia bertukar sapa dengan pelayan masak kita dan membawa sebuah kotak teh herbal." Marta menelan ludah sebelum melanjutkan. "Katanya, teh itu adalah hadiah penyambutan dari Lady Evelyn untuk menyegarkan tubuh Anda setelah perjalanan jauh."
Mata Aurelia berkilat tajam. Teh herbal dari Selir Evelyn.
Aurelia mengingat kejadian itu dengan sangat jelas. Di kehidupan lalunya, teh herbal itu memang benar-benar disajikan padanya. Teh yang mengandung racun dosis rendah yang tidak mematikan, tetapi cukup untuk membuat pencernaannya terganggu dan wajahnya tampak pucat serta mengerikan selama seminggu penuh. Karena wajah pucat itulah ia semakin panik dan bertindak makin irasional hingga dijauhi oleh seluruh penghuni istana.
Evelyn... wanita dari faksi menengah yang selalu berpura-pura manis di depannya, namun menjadi orang pertama yang menancapkan pisau dari belakang.
"Di mana teh itu sekarang?" tanya Aurelia dengan nada yang sangat tenang, sampai-sampai terasa ganjil.
"Masih ada di dapur, Nona Muda. Para juru masak berencana menyeduhkannya untuk Anda sebelum Anda berangkat ke taman dalam."
Aurelia memutar tubuhnya di atas kursi, menatap lurus ke dalam mata Marta. Tatapan matanya begitu menembus, membuat Marta merasa seolah seluruh rahasianya sedang dikuliti habis oleh sang majikan.
"Marta," panggil Aurelia lambat-lambat. "Kau adalah pelayan yang tumbuh bersamaku di Kediaman Montclair. Ayahku membayar keluargamu dengan sangat layak agar kau menjaga kesejahteraanku di tempat asing ini. Apakah kau ingat tugas utamamu?"
Bahu Marta terangkat naik karena terkejut. Pria dan wanita di istana ini terkenal kejam, tetapi keberanian dan aura dingin yang terpancar dari gadis muda di depannya ini belum pernah ia lihat sebelumnya.
"T-tentu saja, Nona Muda! Kesetiaan hamba hanya untuk Nona Muda dan Keluarga Montclair!" jawab Marta gagap, tubuhnya gemetaran.
"Bagus," bisik Aurelia. Ia berdiri, tinggi badannya dan gaun zamrudnya membuat sosoknya tampak begitu berwibawa meski ia hanya seorang selir baru. "Kalau begitu, dengarkan instruksiku baik-baik. Bawa teh dari Selir Evelyn itu ke kamarku sekarang. Jangan biarkan juru masak menyeduhnya."
"Nona Muda hendak membuangnya?"
"Membuangnya?" Aurelia terkekeh kecil, sebuah suara tanpa rasa humor yang membuat bulu kuduk Marta berdiri. "Mengapa harus membuang hadiah penuh perhatian dari seorang sahabat? Tidak, Marta. Kita akan menyimpannya. Dan nanti siang... teh itu akan menjadi sajian paling istimewa yang pernah diminum oleh orang lain di taman dalam."
Marta tidak berani bertanya lebih lanjut. Ia membungkuk dalam-dalam sebelum bergegas keluar kamar untuk menjalankan perintah Aurelia.
Setelah Marta pergi, Aurelia berjalan perlahan menuju jendela besar Pavilion Timur. Dari sana, ia bisa melihat pemandangan Istana Utama yang berdiri megah di tengah benteng batu abu-abu. Menara tingginya menjulang menembus awan pagi, menampakkan kemewahan dan keangkuhan Kerajaan yang dibangun atas tumpukan tulang dan darah para pesaing politiknya.
Di salah satu jendela menara tinggi itu, Aurelia tahu ada seorang pria yang sedang menatap peta-peta wilayah atau mendengarkan laporan dari para dewan menteri.
Raja Julian.
Pria yang memiliki sepasang mata kelam sedingin es, dengan wajah tampan yang dipahat sempurna namun tak memiliki celah empati. Pria yang dulu dipujanya bagaikan dewa, namun kini hanya menjadi target utama permainan catur mematikannya.
"Kau menganggapku hanya sebagai beban politik yang memuakkan, bukan?" gumam Aurelia, jemarinya mengepal di atas ambang jendela kayu cedar yang keras. "Kau membiarkan selir-selirmu mencabikku sampai mati karena bagimu, seorang putri Montclair yang bodoh tidak memiliki nilai dalam rencanamu."
Angin pagi menghembuskan helai-helai renda gaunnya. Aurelia tersenyum, sebuah senyuman manis yang menyembunyikan bisa paling mematikan.
"Tunggulah sedikit lagi, Julian. Aku tidak akan lagi mengemis agar kau melirikku. Aku akan memastikan kau sendiri yang mencari keberadaanku, mengejar bayanganku, dan memohon agar aku sudi membagikan senyumanku padamu."
Lonceng istana berbunyi tiga kali, menandakan waktu minum teh di taman dalam akan segera dimulai dalam waktu satu jam.
Aurelia berbalik membelakangi jendela, menyambut Marta yang kembali membawa sebuah kotak kayu kecil berisi daun-daun teh beracun halus milik Selir Evelyn.
"Mari kita lihat," ujar Aurelia sembari melangkah anggun keluar dari kamarnya, "bagaimana ular-ular kecil itu bereaksi ketika mangsanya kembali dengan gigi yang lebih tajam."
~ To Be Continue