Up di jam yang sama 12.00 WIB
Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.
Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Temu di Bawah Langit Tropis
London selalu punya cara untuk merajut kesunyian di tengah ribuan kerumunan manusia. Di kota berbalut mantel tebal dan kabut kelabu itu, Martha Giorgiana menghabiskan dua puluh lima tahun hidupnya. Sebagai seorang penulis perjalanan (travel writer) independen, hidup Martha adalah sebuah peta yang senantiasa bergerak. Ia telah menjejakkan kaki di reruntuhan kuno Athena, menyelami dinginnya Fjord di Norwegia, hingga menyesap kopi di kafe-kafe remang Paris. Namun, ada satu ruang kosong di dalam hatinya yang belum pernah terisi—sebuah rasa ingin tahu yang mendalam tentang belahan bumi timur yang jauh, Nusantara.
Bagi Martha, Indonesia bukan sekadar destinasi di dalam daftar perjalanannya. Negeri kepulauan itu adalah sebuah teka-teki raksasa yang memanggilnya melalui lembaran-lembaran jurnal etnografi tua di perpustakaan nasional Inggris.
“Kau akan menemukan ritme waktu yang berbeda di sana,” bisik sahabatnya, Clara, sebelum Martha naik ke pesawat.
Dan benar saja. Ketika pintu kabin pesawat terbuka di Bandara Ngurah Rai, Bali, embusan angin tropis yang hangat langsung menyambutnya. Aroma dupa, kelapa terbakar, dan garam laut bergesekan di udara, menciptakan sensasi hidup yang belum pernah Martha rasakan di Eropa.
Hari ketiga di Bali membawanya ke sebuah pura tua di kawasan Ubud. Sore itu, langit sedang memamerkan kemegahannya. Gradasi jingga, ungu tua, dan biru laut melebur di ufuk barat, memantul di permukaan sawah terasering yang menghijau subur. Martha berjalan seorang diri, menenteng kamera DSLR kesayangannya. Di lehernya tersampir syal linen tipis, sementara rambut ikalnya yang berwarna cokelat madu dibiarkan tergerai bebas, berterbangan ditiup angin lembap.
Ia sedang membidik lensa ke arah sekelompok anak lokal yang berlari riang di pematang sawah ketika dunianya tiba-tiba berhenti berputar.
Bruuk!
Sebuah tabrakan tak terhindarkan terjadi. Martha, yang berjalan mundur untuk mendapatkan sudut foto terbaik, menabrak sesosok tubuh bidang yang berdiri kokoh bagai pilar batu. Kamera di tangannya hampir terlepas, beruntung sebuah tangan yang cekatan dengan sigap menahan pergelangan tangannya sebelum benda mahal itu menghantam tanah.
"Oh, I'm so sorry! Saya tidak sengaja," seru Martha buru-buru dalam bahasa Inggris, napasnya sedikit memburu akibat terkejut. Ia mendongak, bersiap melayangkan permintaan maaf yang lebih panjang kepada siapa pun orang yang baru saja ia tabrak.
Namun, kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya.
Di hadapannya kini berdiri seorang pemuda lokal. Usianya mungkin sekitar akhir dua puluhan. Kulitnya sawo matang, bersih, dengan garis rahang tegas yang dipahat sempurna oleh alam. Namun, bukan ketampanan konvensional itu yang membuat detak jantung Martha mendadak berpacu di luar kendali. Melainkan keseluruhan figur pemuda itu yang tampak kontras sekaligus magis dengan latar belakang sawah Ubud.
Pemuda itu mengenakan busana adat Jawa lengkap—blangkon batik bermotif klasik yang pas di kepalanya, beskap hitam bertekstur halus yang melekat pas di tubuh atletisnya, serta kain jarik batik melilit pinggang dengan wiru yang rapi. Di era modern seperti sekarang, melihat seseorang berpakaian tradisional lengkap di tengah jalan setapak Ubud bukanlah hal aneh, mengingat seringnya ada upacara adat atau pementasan seni. Tetapi, cara pemuda itu mengenakannya, ditambah aura ketenangan yang menguar dari dirinya, membuat Martha merasa seolah sedang menatap seorang pangeran dari naskah kuno yang baru saja bangkit dari tidur panjangnya.
Untuk sesaat, waktu di sekitar mereka seolah melambat. Suara gemerisik angin di daun padi lenyap, suara tawa anak-anak menguap, dan yang tersisa hanyalah tatapan mata itu.
Sepasang mata hitam legam yang jernih, teduh, dan menyimpan kedalaman samudra. Tidak ada kemarahan di sana. Tidak ada kernyit dahi tanda terganggu. Yang ada hanyalah sorot mata sabar yang menatap Martha lekat-lekat, seolah ia adalah satu-satunya objek penting di dunia pada detik itu.
Pemuda itu perlahan menundukkan sedikit kepalanya—sebuah gestur santun yang menjunjung tinggi adat ketimuran. Bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang menenangkan, sebelum sebuah suara bariton yang lembut dan rendah mengalun di telinga Martha.
"Luput kulo nggeh, Mbak."
Martha tertegun. Kalimat itu diucapkan dalam bahasa asing baginya, tetapi intonasi dan kelembutan suaranya langsung meresap ke dalam relung jiwa. Tidak mengerti arti harfiah dari kata-kata tersebut, Martha hanya bisa mengerjap, terpesona oleh cara suara itu bergetar di udara sore.
"Ah... what? I mean, I'm sorry, I don't speak..." bisik Martha terbata-bata, lidahnya kelu. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang penulis yang terbiasa merangkai ribuan kata, Martha Giorgiana kehilangan seluruh perbendaharaan kosakatanya.
Pemuda itu tersenyum kecil, menyadari kebingungan di wajah bule di hadapannya. Ia tidak langsung pergi. Tangannya yang tadinya menahan lengan Martha perlahan ditarik kembali dengan sopan.
"Mboten nopo-nopo," ucap pemuda itu sekali lagi, kali ini disertai anggukan kepala pelan yang menyiratkan ketulusan mutlak. Sebelum Martha sempat merangkai kalimat tanya atau sekadar memperkenalkan diri, pemuda itu telah membalikkan badan, melangkah pergi dengan tenang di antara pematang sawah, menyatu dengan bias cahaya senja yang mulai meredup.
Martha berdiri mematung di tempatnya. Angin sore Ubud kembali berembus, kali ini membawa hawa dingin pegunungan yang menusuk kulit. Namun, kehangatan aneh justru menjalar di dadanya.
Ia menatap genggaman tangannya sendiri—tempat di mana jemari kokoh pemuda tadi sempat menyentuhnya sekilas. Ada desir asing yang belum pernah ia rasakan di belahan bumi mana pun. Sebuah percikan kecil yang tanpa ia sadari, akan membakar habis seluruh prinsip logis yang selama ini ia pegang teguh tentang dunia, perjalanan, dan cinta.
Bagi Martha, petualangan di Indonesia baru saja dimulai. Dan ironisnya, ia tahu persis bahwa jalan pulangnya kini telah hilang, tertinggal di dalam sepasang mata teduh seorang mas-mas Jawa berbusana adat yang entah siapa namanya.
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.
Salam paseduluran rek❤️❤️