Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.
Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guru BK Dan Deal Pacaran 05.
Lantai ubin ruang BK terasa tiga kali lipat lebih dingin daripada koridor sekolah.
Di balik meja kayu jati yang besar, Bu Retno guru BK paling ditakuti se-SMA Wahidin sedang menatap Daffa dan Lilis bergantian.
Tatapannya setajam elang yang sedang mengincar mangsa.
Di atas meja, kemoceng bulu ayam yang tadi dipungut Daffa diletakkan sebagai barang bukti.
"Jadi," Bu Retno membuka suara, memecah keheningan yang mencekam. "Aksi lari gawang dan kejar-kejaran pakai senjata di lapangan basket tadi pagi itu apa maksudnya? Kalian pikir ini arena gladiator?"
Daffa berdeham, mencoba membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. "Anu, Bu... itu cuma salah paham kecil."
"Salah paham kecil tidak sampai membuat satu sekolah heboh, Daffa. Ibu sudah lihat video viral yang beredar di grup angkatan kalian. Puisi absurd, video ejekan, lalu keributan di lapangan. Kalian ini sudah kelas dua belas, bukan anak SD yang rebutan jajan!" Bu Retno mengetuk-ngetuk jarinya ke meja. "Ibu bisa saja langsung menulis poin pelanggaran dan memanggil orang tua kalian besok pagi."
Kata 'orang tua' langsung memicu alarm bahaya di kepala Daffa. Ayahnya bukan tipe pria yang penyabar kalau dipanggil ke sekolah untuk urusan memalukan seperti ini.
Di sebelahnya, Daffa bisa merasakan tubuh Lilis menegang. Lilis mungkin galak di koridor, tapi menghadapi ancaman skorsing atau surat panggilan, dia tetaplah remaja yang takut pulang ke rumah.
Otak Daffa berputar cepat. Menjelaskan kronologi asli bahwa video itu adalah pernyataan cinta yang salah sasaran, hal itu hanya akan memperlebar masalah. Bu Retno tipe guru konvensional, beliau tidak akan peduli pada 'bercandaan anak muda'.
Di mata beliau, ini adalah kasus perundungan atau perselisihan yang merusak nama baik sekolah. Daffa harus mencari alasan yang masuk akal, sesuatu yang bisa mematikan argumen Bu Retno secara instan.
"Sebenarnya..." Daffa memotong kalimat Bu Retno sebelum sang guru sempat mengambil lembar kertas poin. "Kami gak berantem karena musuhan, Bu."
Bu Retno menaikkan sebelah alisnya.
Lilis menoleh patah-patah ke arah Daffa, matanya memberi sinyal bahaya yang sangat jelas,
Lu ngomong macam-macam, mati lu.
"Terus apa?" tanya Bu Retno sangsi.
Daffa memejamkan mata sekejap, mengutuk instingnya yang sering kali bertindak lebih cepat daripada logika. "Kami... kami sebenarnya pacaran, Bu. Tadi pagi itu cuma... pertengkaran domestik. Masalah internal."
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Lilis mematung. Otaknya mendadak blank. Matanya melebar seukuran koin, menatap Daffa seolah cowok di sebelahnya ini baru saja kehilangan seluruh kewarasannya.
Pacaran? Dengan Daffa? Cowok yang nyaris merusak reputasinya di depan seluruh anak basket?
"Pacaran?" Bu Retno melipat kedua tangannya di dada, bersandar pada kursi kerjanya. Gurat ketat di wajahnya sedikit mengendur, digantikan oleh rasa penasaran. "Pacaran kok pakai kejar-kejaran bawa kemoceng?"
"Lilis cuma... cemburu, Bu," potong Daffa cepat, langsung menyusun skenario dadakan di kepalanya agar terdengar logis. "Puisi yang semalam itu, saya sebenarnya bikin buat Lilis. Tapi Niko salah paham dan malah ngetag akun Kinar di caption video. Makanya Lilis marah besar pagi ini karena mikir saya mendua. Ya kan, Lis?"
Daffa menoleh ke arah Lilis, memberikan kedipan kode yang sangat kentara.
Lilis merasakan darahnya berdesir hebat—bukan karena romantis, tapi karena tingkat stresnya melonjak ke ubun-ubun.
Di satu sisi, dia ingin mencakar wajah Daffa saat itu juga karena membuat kebohongan publik yang gila. Namun di sisi lain, pengakuan Daffa barusan secara ajaib menyelamatkan mukanya.
Jika semua orang percaya mereka pacaran dan video itu hanyalah salah paham internal, maka Lilis bukan lagi objek penderita yang ditertawakan satu sekolah karena cinta bertepuk sebelah tangan.
Dia adalah pacar yang sedang merajuk.
Hanya ada dua pilihan. Mengiyakan kebohongan ini dan selamat dari hukuman, atau membantahnya dan berakhir membersihkan toilet sekolah selama seminggu penuh plus panggilan orang tua.
Lilis menarik napas dalam-dalam. "I-iya, Bu," jawab Lilis dengan nada yang diusahakan selembut mungkin, meski suaranya agak bergetar. "Daffa benar. Saya cuma... kesal karena dia gak becus meluruskan salah paham di media sosial."
Di bawah meja yang tertutup dari pandangan Bu Retno, Lilis menggerakkan kaki kanannya.
Dengan presisi tinggi dan tenaga penuh, ujung sepatu sekolahnya menghantam dan menginjak punggung kaki Daffa.
BUM.
Daffa membelalak. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari jempol kakinya langsung menuju sistem saraf pusat.
Rahangnya mengatup rapat, menahan pekikan yang hampir lolos dari mulutnya.
Wajah Daffa memerah menahan perih, tangannya mencengkeram lututnya sendiri sampai buku-buku jarinya memutih.
"Daffa? Kamu kenapa? Kok mukanya merah begitu?" Bu Retno mengernyit melihat perubahan ekspresi Daffa yang mendadak dramatis.
"Eng-nggak apa-apa, Bu," jawab Daffa dengan suara parau, menahan napas agar suaranya tidak terdengar melengking karena menahan sakit.
Lilis masih belum mengangkat kakinya, justru memberikan sedikit tekanan memutar di sana. "Saya... saya cuma terharu karena Lilis mau memaafkan saya di depan Ibu."
Lilis tersenyum manis—senyum paling palsu yang pernah dia tunjukkan seumur hidupnya—lalu perlahan mengangkat kakinya dari atas sepatu Daffa.
Bu Retno menghela napas panjang, lalu memijit pelipisnya.
Sebagai guru yang sudah menghadapi ratusan drama remaja, beliau tahu ada sesuatu yang tidak beres, namun beliau juga lelah mengurusi hormon anak muda yang meledak-ledak.
Selama tidak ada kekerasan fisik yang berujung cedera parah, urusan asmara murid biasanya dihindari karena hanya memperpanjang birokrasi.
"Gini ya, Daffa, Lilis," kata Bu Retno sambil merapikan kertas di mejanya. "Ibu tidak melarang kalian punya hubungan kedekatan. Tapi tolong, tahu tempat, tahu waktu. Sekolah ini tempat belajar, bukan lokasi syuting drama romantis. Kalau sampai Ibu dengar ada keributan lagi di lapangan atau koridor, Ibu tidak akan peduli status pacaran kalian. Jelas?"
"Jelas, Bu," jawab Daffa dan Lilis serempak.
"Sekarang, ambil kemoceng itu, kembali ke kelas kalian. Dan Daffa, pastikan video itu dihapus sebelum bel istirahat pertama. Ibu tidak mau melihat video itu masuk ke grup koordinasi guru."
"Siap, dilaksanakan, Bu," Daffa segera menyambar kemoceng di meja.
Mereka berdua berdiri, menyalami tangan Bu Retno dengan sopan, lalu berjalan keluar dari ruang BK dengan langkah yang teratur.
Namun, begitu pintu kaca ruang BK tertutup rapat di belakang mereka dan mereka kembali ke koridor yang sepi karena bel masuk sudah berbunyi, atmosfer di antara keduanya langsung berubah total.
Lilis berbalik, menatap Daffa dengan tatapan yang bisa membunuh instan.
"Lu. Gila. Ya?" desis Lilis, menekankan setiap kata dengan penuh penekanan.
Daffa meraba bahunya yang masih agak perih akibat sabetan kemoceng tadi pagi, lalu melirik kakinya yang masih terasa nyut-nyutan. "Gue menyelamatkan kita berdua, Lilis! Lu mau bokap lu dipanggil ke sekolah? Lu mau kita berdua dapet poin pelanggaran?"
"Tapi gak dengan bilang kita pacaran, Daffa Mahendra! Lu tahu gak apa dampaknya? Satu sekolah bakal mikir kita beneran ada apa-apa!" Lilis menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi.
"Ya biarin aja. Buat sementara waktu, itu opsi terbaik," Daffa melangkah maju, menurunkan nada suaranya agar tidak menggema di koridor kelas. "Pikirin deh. Kalau orang-orang mikir kita pacaran, video semalam itu cuma dianggap bumbu berantem biasa. Cowok futsal yang lu taksir itu juga gak bakal mikir lu cewek menyedihkan yang ditertawakan orang. Lu aman, gue aman."
Lilis terdiam, seringkih apa pun itu, sialnya memiliki poin kebenaran yang tidak bisa dia bantah.
Harga dirinya terselamatkan, meski dia harus membayar harga yang sangat mahal: terikat status palsu dengan cowok paling menyebalkan di angkatan mereka.
"Ini cuma di depan Bu Retno dan biar situasi tenang," kata Lilis tegas, menunjuk dada Daffa dengan jari telunjuknya. "Jangan harap lu bisa ambil kesempatan dari situasi ini."
Daffa terkekeh geli, rasa bersalahnya yang tadi pagi sempat menumpuk kini sedikit mencair melihat Lilis yang kembali galak. "Tenang aja, Tuan Putri. Gue juga masih sayang nyawa. Punggung kaki gue hampir patah gara-gara lu injek tadi."
Lilis memutar bolam matanya, lalu berbalik dan berjalan menuju kelasnya tanpa mengucapkan kata perpisahan.
Daffa memperhatikan punggung cewek itu yang perlahan menjauh. Dia tahu, sandiwara ini baru saja dimulai, dan mengendalikan rumor di sekolah SMA jauh lebih sulit daripada sekadar berbohong di depan guru BK.
......................
...****************...
Tbc,