"Woy sampah rendahan."
"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."
Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.
Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.
Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.
Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.
"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Begitu keduanya melangkah masuk, suara berdenting keras terdengar dari belakang mereka. Juna menoleh cepat, mendapati pintu besi itu sudah tertutup rapat, dikunci dari luar oleh dua orang berjaket hitam yang berdiri menjaga di sisinya, lengan mereka bersedekap seolah menantang siapa pun yang berani mencoba membukanya kembali.
Ruangan di hadapannya jauh dari perkiraan Juna. Bukan sekadar tempat pertemuan kecil, melainkan sebuah arena bundar besar yang dikelilingi tribun kayu bertingkat, dipenuhi puluhan siswa berjaket hitam yang duduk berjejer sambil bersorak dan bertaruh satu sama lain. Bau keringat, asap rokok, dan minyak mesin bercampur menjadi satu di udara yang pengap, membuat setiap tarikan napas terasa berat di tenggorokan.
"Gery?" Juna menoleh ke arah sahabatnya, namun sebelum sempat berkata lebih jauh, dua orang bertubuh besar sudah mencengkeram lengan Gery dari kedua sisi, menyeretnya menjauh dari Juna.
"Apa yang kau lakukan lepaskan dia!" Juna refleks melangkah maju, namun suara riuh dari tribun langsung membuatnya berhenti, menyadari betapa banyaknya mata yang mengawasi setiap gerakannya.
"Wih, baru masuk udah sok jagoan," salah satu penonton di baris depan berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah Juna, disambut gelak tawa dari sekitarnya. "Anak baru emang paling doyan cari mati."
"Muka doang yang belagu," sahut yang lain, melempar botol plastik kosong ke arah kaki Juna, "nanti juga bersujud minta ampun kayak yang lain-lain."
Juna tidak menghiraukan ejekan itu, matanya tetap terkunci pada Gery yang meronta dalam cengkeraman dua orang bertubuh besar.
"Juna!" Gery berteriak, tubuhnya meronta sia-sia dalam cengkeraman dua orang itu. Wajahnya yang tadi tenang kini berubah panik, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Maaf... maaf, Juna, aku... aku kepaksa..."
"Apa maksudmu?" Juna menatapnya tajam, meski nada suaranya masih terkendali.
"Mereka yang menyuruhku bawa kamu ke sini," Gery terisak, suaranya bergetar hebat. "Udah dari kemarin mereka mengancamku, kalau aku nggak bawa kamu ke sini hari ini, aku bakal dipukulin dua orang, setiap hari, sampai aku nurut. Aku... aku nggak punya pilihan lain, Juna. Maafin aku..."
"Hahahah," salah satu dari dua orang yang mencengkeram Gery ikut menimpali dengan seringai puas, mengguncang bahu Gery kasar. "Sampah kayak dia mah gampang banget dijinakin. Tinggal ancem sekali dua kali, langsung nurut kayak anjing kelaparan."
"Emang kerjaannya sampah cuma itu, kan," temannya menambahkan, tertawa keras. "Jadi alat orang lain. Nggak berguna buat apa-apa selain dijadikan umpan."
Juna terdiam sejenak, rahangnya mengeras, matanya menatap wajah Gery yang basah oleh air mata dan ketakutan. Ada amarah yang membakar di dadanya, tapi bukan ditujukan pada Gery.
'Jadi ini alasannya,' batin Juna, giginya bergemerutuk pelan. 'Mereka tidak berani menghadapi ku satu lawan satu, jadi mereka manfaatin orang yang paling lemah di sekitarku untuk membawaku ke markas mereka, lalu bangga dengan hal itu.'
"Kamu nggak salah," ucap Juna akhirnya, suaranya tenang namun tegas, cukup keras agar Gery bisa mendengarnya di tengah kericuhan tribun. "Yang salah itu mereka yang mengancammu, dan mereka yang bangga banget ngeliat orang lemah ketakutan."
"Halah, sok bijak, ngentot" salah satu penonton di tribun berteriak lagi, melempar ludah ke arah lantai arena. "Nanti juga lu yang nangis paling keras di sini, liat aja."
"Bener tuh," yang lain menyahut sambil terkekeh, "orang-orang kayak lu itu selalu sama, sok berani di depan, tapi begitu ketemu Ben, langsung ngompol di tempat."
Gelak tawa memenuhi tribun, bergema di setiap sudut ruangan bawah tanah yang lembap itu. Juna membiarkan seluruh ejekan itu lewat begitu saja, tidak ada satu pun yang benar-benar menyentuh sesuatu di dalam dirinya. Justru semakin banyak mereka bicara, semakin dingin dan tajam pikirannya bekerja.
"Kamu nggak salah," Juna mengulangi lagi ke arah Gery, kali ini lebih pelan, seolah kalimat itu ditujukan hanya untuk mereka berdua di tengah kebisingan yang mengelilingi. "Aku yang bakal nyelesain ini."
Gery menatapnya dengan mata sembab, seolah tidak percaya Juna tidak marah padanya. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa lagi, sorak-sorai tribun semakin keras, menandakan sesuatu yang lain sedang terjadi di ujung ruangan.
'Sialan,' batin Juna, menatap berkeliling ruangan yang kini terasa seperti kandang yang sengaja disiapkan untuknya. 'Mereka sedang merencanakan apa?'
Ia menegakkan bahunya, menatap lurus ke arah kursi tertinggi di ujung arena, tempat sebuah bayangan mulai bergerak dari balik tirai gelap, seolah baru saja menunggu momen yang tepat untuk muncul.