Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 - PELUKAN PERTAMA DI LUMBUNG PADI
Setelah pesta panen yang kacau itu, aku menjadi sangat terkenal di seluruh Kerajaan Langit.
Bukan terkenal karena cantik. Bukan terkenal karena gaun emas. Tapi terkenal karena muntahan hitam dan arang aktif.
Setiap pagi, Tabib Ageng datang dengan murid-murid tabib yang baru, membawa buku catatan yang lebih besar lagi. "Gusti Permaisuri Obat Dewa, bolehkah hamba mencatat lagi cara membuat arang aktif penawar racun itu? Dan oralit itu terbuat dari apa, Gusti? Garam dan gula saja bisa menyelamatkan nyawa?"
Anak desa yang kemarin batuknya sembuh, sekarang setiap hari mengantarkan telur ayam kampung ke gerbang istana dan menitipkan pesan, "Untuk Gusti Permaisuri Obat Dewa yang sudah menyembuhkan saya dan kakak penari."
Bahkan para menteri yang dulu memandangku sebelah mata karena aku tidak bisa baca tulis aksara Kerajaan Langit dengan lancar, sekarang setiap kali bertemu denganku di koridor, mereka akan menunduk hormat dalam-dalam. "Gusti Permaisuri Obat Dewa."
Gelar itu... awalnya aku malu mendengarnya. Tapi lama-lama, aku merasa gelar itu lebih manusiawi daripada gelar Permaisuri Mawar yang terasa terlalu indah dan jauh.
Hanya ada satu orang yang membuatku tidak nyaman dengan ketenaran itu.
Segara El-Bhumi.
Sejak kejadian aku menyelamatkan penari di tengah Balairung dengan gaun emas kotor itu, Segara menjadi sangat protektif. Sangat.
Dia memerintahkan 10 pengawal untuk berjaga di depan Paviliun Mawar ku siang malam. Dia melarangku keluar dari Paviliun Mawar selama dua hari dengan alasan, "Ada yang berani meracuni pesta panen, pasti dia juga akan mencoba meracunimu. Kau harus di dalam paviliun saja."
Aku protes. "Gusti Kaisar, saya tidak bisa di dalam paviliun terus. Saya bosan. Saya ingin melihat padi emas hasil panen kemarin. Katanya padi emas tahun ini paling bagus."
"Tidak boleh," jawabnya dingin sambil membaca laporan di Balairung. "Padi emas bisa kau lihat dari jendela paviliun mu."
"Gusti Kaisar pelit," gumamku pelan, tapi cukup keras agar dia dengar.
Dia menoleh, telinganya sedikit memerah. "Apa katamu?"
"Tidak ada, Gusti Kaisar. Saya bilang Gusti Kaisar baik hati," jawabku cepat dengan senyum palsu.
Malam kedua setelah larangan itu, aku benar-benar tidak tahan bosan.
Mbok sudah tertidur pulas. Para pengawal di depan paviliun mengantuk dan bersandar di pilar. Bulan purnama bersinar terang di langit, membuat halaman istana terlihat seperti siang.
Aku memakai jubah hitam Mbok lagi yang kebesaran itu, menyelipkan lentera kecil, dan menyelinap keluar lewat jendela belakang paviliun yang jarang dijaga.
Tujuanku hanya satu: lumbung padi di belakang istana. Tempat di mana semua padi emas hasil panen kemarin disimpan. Aku ingin melihat padi emas itu dari dekat, mencium aroma padi yang baru dipanen, dan merasakan tekstur padi emas yang katanya bisa membuat kulit halus.
Lumbung padi itu adalah bangunan kayu besar yang sangat sederhana, jauh dari kemewahan istana. Atapnya dari jerami, dindingnya dari anyaman bambu, lantainya dari tanah yang dipadatkan. Tapi di dalamnya, ada tumpukan padi emas setinggi dua meter, menggunung seperti bukit kecil.
Aroma padi yang baru dipanen itu harum sekali, menenangkan.
Aku membuka pintu lumbung yang berderit pelan dan masuk dengan lentera kecilku.
"Wow..." bisikku kagum melihat gunungan padi emas itu di bawah cahaya lentera.
Aku jongkok dan mengambil segenggam padi emas itu. Butirannya besar-besar, berwarna kuning keemasan, keras dan harum.
Tiba-tiba, dari balik gunungan padi emas itu, terdengar suara langkah kaki dan suara seseorang yang sedang menghela napas berat.
Aku kaget setengah mati dan hampir menjatuhkan lentera.
"Siapa di sana?" teriakku dengan suara gemetar.
Dari balik gunungan padi, muncul sosok tinggi besar dengan jubah hitam. Lentera besar di tangannya menerangi wajahnya yang dingin dan datar.
Segara El-Bhumi.
Dia juga ada di sini, di lumbung padi, malam-malam, sendirian, tanpa pengawal.
Kami berdua saling menatap dengan kaget, dengan lentera masing-masing di tangan.
"Kahiyang?" Dia yang pertama bersuara, dengan nada tidak percaya. "Apa yang kau lakukan di sini malam-malam? Bukankah aku sudah melarangmu keluar dari paviliun?"
Aku yang kaget dan sedikit kesal karena ketahuan menyelinap, menjawab dengan ketus, "Gusti Kaisar juga apa yang kau lakukan di sini malam-malam? Bukankah Gusti Kaisar seharusnya ada di Balairung membaca laporan? Kenapa Gusti Kaisar ada di lumbung padi sendirian tanpa pengawal?"
Segara terdiam mendengar pertanyaan balikku. Dia meletakkan lentera besarnya di atas tumpukan padi dan duduk di atas tumpukan padi itu dengan gerakan yang lelah.
"Aku... aku tidak bisa tidur," jawabnya pelan, dengan suara yang tidak lagi dingin, tapi lelah dan manusiawi. "Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat penari itu pingsan dengan mulut berbusa. Dan aku melihatmu yang jongkok di lantai dengan gaun kotor karena muntahan. Aku takut... aku takut jika racun itu ada di dalam teh mu atau makanan mu."
Jawaban itu membuatku membeku.
Jadi dia tidak bisa tidur bukan karena laporan desa, tapi karena khawatir padaku?
Aku berjalan mendekat dan duduk di atas tumpukan padi emas itu juga, di sampingnya, dengan jarak sekitar satu meter. Lentera kecilku aku letakkan di tengah-tengah kami, sehingga cahaya kami berdua menyatu.
"Gusti Kaisar khawatir pada saya?" tanyaku pelan, dengan suara yang juga pelan dan santai.
Segara tidak menjawab langsung. Dia mengambil segenggam padi emas itu dan membiarkannya jatuh perlahan dari tangannya, seperti pasir waktu.
"Di Kerajaan Langit ini, tidak ada yang berani kotor-kotoran demi orang lain, Kahiyang. Tidak ada. Semua orang takut kotor, takut miskin, takut sakit. Bahkan aku, sebagai kaisar, aku tidak pernah mau kotor. Aku selalu menyuruh pengawal yang menggali selokan, menyuruh tabib yang menyentuh orang sakit," bisiknya pelan, matanya menatap padi emas yang jatuh dari tangannya.
"Tapi kau... kau berbeda. Kau jongkok di tanah berdebu demi anak desa yang batuk. Kau jongkok di lantai Balairung yang penuh muntahan demi seorang penari yang bahkan kau tidak kenal namanya. Gaun emas yang kuberikan padamu, kau buat kotor tanpa ragu, hanya untuk menyelamatkan satu nyawa."
Dia berhenti dan menoleh menatapku. Di bawah cahaya lentera yang temaram dan bulan purnama yang masuk dari celah dinding bambu, matanya yang sedalam samudra itu terlihat sangat jernih dan tulus.
"Kau membuatku ingin menjadi kaisar yang berbeda, Kahiyang. Kaisar yang tidak perlu ditakuti, tapi dipercaya. Kaisar yang berani kotor tangannya demi rakyatnya, seperti yang kau lakukan."
Kata-kata itu... kata-kata itu ngena sekali di hatiku. Lebih ngena dari 100 peti emas Pangeran Tirta. Lebih ngena dari semua pujian Permaisuri Obat Dewa dari para menteri.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku hanya tersenyum dan mengambil segenggam padi emas itu juga, membiarkannya jatuh seperti yang dia lakukan.
"Kotor itu tidak apa-apa, Gusti Kaisar. Asal kotornya karena hal yang baik. Seperti lumpur di sawah, kotor tapi bisa menumbuhkan padi emas yang indah ini," jawabku dengan filosofi sawah yang aku dapat dari Mbok.
Segara tertawa kecil. Tawa kecil yang sangat jarang terdengar, tawa yang hanya keluar jika dia benar-benar merasa nyaman.
"Baru kali ini ada yang mengajariku filosofi sawah di lumbung padi tengah malam," katanya.
Kami berdua tertawa bersama, dengan tawa pelan, di tengah gunungan padi emas yang harum.
Lalu, hening kembali. Hanya ada suara jangkrik dari luar lumbung dan napas kami berdua yang pelan.
Tanpa aba-aba, tanpa kata-kata, Segara mengulurkan tangannya yang besar dan sedikit kasar karena sering memegang pedang, dan dengan gerakan yang sangat canggung dan kaku, dia memelukku dari samping.
Pelukan pertama.
Pelukan itu canggung sekali. Bahunya kaku, tangannya tidak tahu harus ditaruh di mana, dan dia menahan napas seperti sedang memegang bom.
Aku tahu, dia tidak pernah memeluk siapa pun sejak umur 15 tahun, sejak dia mendapat luka besar di punggungnya karena melindungi desanya dari harimau. Sejak itu, dia tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuh punggungnya atau memeluknya.
Tapi malam ini, di lumbung padi yang sepi, dengan aroma padi emas yang harum dan cahaya bulan purnama, dia memberanikan diri memelukku.
Aku tidak menolak. Aku membiarkan pelukan canggung itu. Bahkan aku menyandarkan kepalaku pelan di bahunya yang bidang dan hangat. Bahunya yang selalu terlihat kokoh dan dingin, ternyata hangat dan nyaman untuk bersandar.
"Kahiyang," bisiknya di atas kepalaku, dengan suara yang sedikit gemetar karena gugup memeluk. "Tetap di sini sebentar saja. Jangan pergi dulu. Aku... aku suka aroma padi emas ini kalau ada kau di sini."
Aku mengangguk di dalam pelukannya. "Ya, Gusti Kaisar. Saya di sini. Sampai bulan purnama ini tenggelam."
Dan malam itu, kami berdua duduk berpelukan di atas gunungan padi emas setinggi dua meter, di dalam lumbung padi yang sederhana dan berdebu, jauh dari singgasana naga hitam dan Balairung Langit yang megah.
Tidak ada Sistem yang berbunyi. Tidak ada misi yang harus diselesaikan. Tidak ada racun yang harus dihindari.
Hanya ada kami berdua, berpelukan dengan santai, tanpa terburu-buru, di bawah cahaya bulan purnama yang masuk dari celah dinding bambu, dengan aroma padi emas yang harum di sekeliling kami.
Pelukan pertama yang canggung, tapi hangatnya sampai ke jantung.
Dan di luar lumbung, pengawal yang seharusnya menjaga Paviliun Mawar, tertidur pulas sambil bersandar di pilar, tidak tahu bahwa Kaisar dan Permaisurinya sedang berpelukan di lumbung padi belakang istana.