Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Satu Fakta yang Menyakitkan
Kabar tentang perceraian Mateo dan Ivy akhirnya sampai juga pada kedua orang tua Mateo, kabar itu baru mereka ketahui kemarin. Namun kabar tentang perceraian itu bukanlah satu-satunya kabar yang membuat mereka terpukul, ada satu kenyataan yang jauh lebih menyakitkan yaitu tentang cucu perempuan mereka, Grizella. Cucu perempuan mereka, sudah meninggal dunia dan itu semua karena ulah Mateo yang lebih mementingkan wanita lain dibandingkan anak dan istrinya.
Yang membuat mereka lebih terpukul adalah, mereka bahkan belum pernah bertemu dengan cucu mereka itu, belum pernah memeluknya, melihat wajahnya, bahkan mendengar suara manjanya. Mereka bahkan baru mengetahui kalau mereka ternyata telah memiliki seorang cucu.
Ibu Mateo, Cassandra duduk di sofa dengan tubuh gemetar. Kedua tangannya menutupi wajahnya, sementara air mata terus mengalir tanpa henti.
"Jadi selama ini aku punya seorang cucu perempuan?" bisiknya lirih, matanya kembali berair. Penyesalan itu ternyata benar-benar nyata dan hal itu kini terjadi padanya.
Gilbert yang berdiri di dekat jendela hanya diam, wajah pria yang selalu terlihat kuat dan tangguh itu kini terlihat sangat rapuh. Terlalu banyak penyesalan di hatinya, pengabaiannya selama ini ternyata berhasil merenggut nyawa sang cucu.
"Kenapa aku baru mengetahuinya sekarang?" lanjut Cassandra dengan suara bergetar.
"Kenapa aku tidak pernah diberi kesempatan untuk melihatnya?" Cassandra kembali berucap lirih sebelum akhirnya tangisnya semakin pecah.
"Dia bahkan belum pernah memanggilku Nenek..."
Cassandra menundukkan kepala, pikirannya kembali pada semua kejadian sebelumnya. Pada pernikahan Ivy dan Mateo, juga pada rasa kecewanya terhadap menantu yang menurutnya telah menghancurkan hubungan Evelyn dan Mateo.
Selama ini Cassandra begitu marah kepada Ivy hingga tanpa sadar menutup matanya terhadap kenyataan bahwa mungkin saja suatu hari nanti akan ada seorang anak kecil yang tidak pernah memiliki kesalahan apa pun dalam semua masalah orang dewasa itu dan kini semua terjadi. Cucunya yang polos itu menjadi korban dari keegoisan mereka. Grizella sama sekali tidak pernah bersalah,
anak itu tidak pernah memilih bagaimana dirinya dilahirkan. Tidak pernah memilih siapa orang tuanya, namun sekarang anak itu telah pergi untuk selamanya.
"Seandainya aku tahu..." Cassandra terisak. "Seandainya aku tahu aku punya cucu..." Lirihnya,
tangannya mencengkeram kain bajunya.
"Aku pasti akan datang dan melindunginya, aku pasti akan selalu melihat dan bermain dengannya."
Gilbert yang mendengar setiap perkataan istrinya, hanya bisa mengepalkan tangannya.
Berbeda dengan Cassandra yang dipenuhi penyesalan, kemarahan di dalam diri Gilbert semakin membara. Bukan kepada Ivy, tetapi kepada putranya sendiri Mateo.
"Jadi benar, Mateo meninggalkan anaknya yang sedang sakit demi wanita lain? Anak itu berselingkuh?" suara Gilbert terdengar berat, dadanya sesak saat dia menanyakan hal itu pada Cassandra. Seolah dia belum bisa menerima fakta itu, tetapi Cassandra hanya diam, dia tidak mampu menjawab pertanyaan dari suaminya itu.
Gilbert lalu mengembuskan napas panjang, selama ini dia memilih diam. Dia tahu Cassandra belum bisa menerima Ivy, dia menghargai perasaan istrinya dan tidak ingin memperburuk keadaan keluarga mereka.
Selain itu, Gilbert sengaja membiarkan Mateo menghadapi konsekuensi dari semua keputusan-keputusannya sendiri. Dia berharap putranya akan belajar menjadi seorang suami, belajar menjadi seorang ayah dan belajar bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.
Namun ternyata Mateo justru mengulangi kesalahan yang sama.
"Dia sudah menyakiti Evelyn," ujar Gilbert dingin.
"Dan sekarang dia menyakiti Ivy."
Tatapannya mengeras.
"Yang paling buruk..." Gilbert mengepalkan tangannya semakin kuat, "dia gagal melindungi putrinya sendiri." Kata Gilbert, air mata laki-laki itu akhirnya luruh ketika menyelesaikan ucapannya. Laki-laki yang seumur hidupnya tidak pernah menangis itu, kini menangis meratapi kegagalannya sebagai ayah, sebagai ayah mertua dan sebagai seorang kakek.
Cassandra kembali menangis.
"Aku memang marah kepada Ivy," kata Cassandra lirih.
"Aku kecewa karena apa yang dia lakukan kepada Evelyn, tapi aku tidak pernah menginginkan perceraian ini." Lanjutnya.
Gilbert menoleh kepadanya.
"Aku juga tidak, tapi sekarang semuanya sudah terlambat." Ucap Gilbert.
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi, Cassandra hanya menatap kosong ke depan. Pertanyaan Seandainya mereka tahu lebih cepat, seandainya mereka mau mendengarkan dan Seandainya mereka mencari tahu tentang Grizella dan Ivy terus berputar di kepalanya, seandainya saja dia mau menerima Ivy, mungkin semuanya akan berbeda, namun kenyataan tidak bisa diubah. Grizella telah pergi dan Ivy telah memilih meninggalkan Mateo.
Kini Mateo harus hidup dengan semua konsekuensi dari pilihannya sendiri.
Gilbert akhirnya berkata dengan suara rendah namun tegas,
"Mulai sekarang, aku tidak akan membela Mateo dan kau juga tidak boleh membela anak itu lagi."
Cassandra menatap suaminya.
"Gilbert..."
"Dia sudah cukup dewasa untuk bertanggung jawab atas perbuatannya."
Gilbert menatap pintu ruangan dengan sorot mata penuh kekecewaan.
"Aku sudah terlalu lama diam, cassy." Gilbert menghela napas berat.
"Dan mungkin diamku selama ini juga merupakan sebuah kesalahan."
Sementara itu, Cassandra hanya bisa menangis.
Untuk seorang cucu yang belum sempat dikenalnya, untuk seorang anak kecil yang tidak pernah diberinya kesempatan untuk dicintai.
Dan untuk sebuah keluarga yang baru menyadari betapa berharganya seseorang setelah semuanya terlambat.
Keesokan harinya, Mateo akhirnya datang ke rumah kedua orang tuanya. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa suasana di rumah itu akan terasa begitu berbeda. Begitu memasuki ruang keluarga, Mateo melihat ibunya duduk dengan mata sembap. Wajah Cassandra terlihat begitu pucat, seolah-olah semalaman tidak tidur.
"Mom? Dad?" Sapa Mateo ramah.
Tapi sama sekali tidak ada jawaban, hingga membuat Mateo mengerutkan keningnya bingung. Baru beberapa hari yang lalu dia menemui kedua orang tuanya, dan mereka masih menyambutnya dengan ramah. Lalu kenapa hari ini rasanya semua berbeda. Mateo kemudian melihat ayahnya yang berdiri di dekat jendela dengan wajah dingin.
"Dad?" Panggil Mateo, lalu tiba-tiba.
BUK
Gilber langsung melayangkan tinjunya pada Mateo, saat melihat putranya itu datang seakan tidak ada apa-apa. Membuat kekecewaan dan kemarahannya semakin memuncak.
"Kau masih bertanya ada apa?" Tanya Gilbert sinis.
Mateo mengernyit bingung, dia memegang pipinya yang terasa sangat sakit akibat pukulan ayahnya.
"Ada apa?"
"Apa kau sama sekali tidak merasa telah melakukan kesalahan?" Tanya Gilbert, tatapannya penuh kekecewaan.
Cassandra perlahan mengangkat wajahnya, tatapannya membuat Mateo terpaku, sama sekali tidak ada kehangatan seorang ibu di mata itu yang ada hanya kesedihan mendalam.
"Kenapa kau tidak pernah memberitahuku tentang Grizella?" Tanya nyonya Cassandra lirih.
Mateo membeku saat mendengar nama Grizella di sebut, apakah orang tuanya sudah mengetahui tentang Grizella.
Ruangan itu seketika terasa sunyi.
"Mom..." Lirih Mateo, Dia berjalan menghampiri Cassandra. Saat tangannya hampir meraih tangan sang ibu, Cassandra dengan cepat menghentikannya.
"Jangan menyentuh ku Mateo." Kata Cassandra, tatapannya tajam.
"Sekarang katakan padaku, kenapa? Kenapa kau menyembunyikan kenyataan bahwa aku memiliki seorang cucu?" Tanya Cassandra marah, suaranya bahkan bergetar.
Mateo menundukkan kepalanya.
"Aku tidak tahu harus bagaimana." Jawab Mateo.
"Apa katamu? Kau tidak tahu? Bagaimana bisa kau tidak tau."
Cassandra tertawa kecil, menatap wajah Mateo dengan penuh kekecewaan.
"Aku bahkan belum pernah melihat wajahnya, Mateo." Lirih Nyonya Cassandra, Air mata kembali mengalir di pipinya.
"Sekarang, aku bahkan tidak akan pernah melihat wajah cucuku lagi. Aku tidak akan pernah bisa memeluknya walaupun itu hanya satu kali dalam hidupnya." Lirih Nyonya Cassandra.
Mateo terdiam, rasa bersalah yang selama ini berusaha dia tekan kembali menghantam dadanya.
Namun sebelum dia sempat menjawab, suara Gilbert terdengar.
"Dan yang paling menyakitkan adalah bagaimana Grizella meninggal."
Mateo menatap ayahnya.
Tuan Gilbert berjalan mendekat.
"Anakmu sakit, Mateo. Demi Tuhan, dia sakit." Teriak tuan Gilbert.
"Daddy..."
"Padahal malam itu Ivy meminta bantuanmu, tidak bisakah kau mengantar mereka. Dia putrimu, putri kandungmu. Sebenci apapun kau pada Ivy, Grizella tetap putrimu." Ucap Tuan Gilbert.
Mateo mengepalkan tangannya.
"Tapi kau justru lebih memilih wanita simpananmu itu, kau benar-benar brengsek Mateo." Ujar Tuan Gilbert marah, dia menarik kerah baju Mateo. Sedangkan Mateo tidak mampu membantah perkataan ayah dan ibunya.
"Jawab aku!" Teriak Gilbert, Suaranya menggema di seluruh ruangan.
"Kau tahu saat itu putrimu sedang membutuhkanmu, Mateo!" Kata tuan Gilbert.
"Aku..."
"Kau bahkan tidak memberi kami kesempatan untuk mengenal cucu kami!" potong tuan Gilbert.
Mateo menunduk semakin dalam.
Gilbert menatap putranya dengan kekecewaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.
"Selama ini aku diam ketika kau menghancurkan hubunganmu dengan Ivy, aku diam ketika kau terus hidup dalam bayang-bayang Evelyn. Aku juga diam ketika kau membuat keputusan-keputusan yang semakin menghancurkan keluargamu sendiri."
Gilbert menarik napas panjang.
"Karena aku berpikir kau harus belajar menjadi laki-laki dewasa."
Tatapan Gilbert semakin tajam.
"Tapi ternyata aku salah."
Mateo mengangkat wajahnya.
"Daddy."
"Kau bukan hanya menyakiti Ivy, Mateo."
Gilbert menunjuk ke arah putranya.
"Tapi kau juga telah menghancurkan hidup seorang anak yang tidak pernah melakukan kesalahan apa pun padamu."
Mata Mateo mulai memerah.
"Grizella adalah putrimu, Mateo."
Kalimat itu membuat Mateo terdiam total.
"Dan sekarang dia sudah tidak ada dan itu semua karena mu."
Cassandra kembali menangis.
Mateo menatap ibunya, kemudian menatap ayahnya. Kali ini tidak ada seorang pun yang membelanya, kedua orang tua nya hanya menatapnya penuh kekecewaan.
"Jika kau tidak bisa menjadi suami yang baik untuk istrimu, setidaknya kau bisa menjadi ayah yang baik untuk putrimu." Kata Tuan Gilbert.
Mateo tidak menjawab apapaun lagi, dia hanya menunduk penuh penyesalan. Benar, semua ini adalah salahnya. Bukan salah Ivy ataupun takdir, tapi murni kesalahannya sendiri. Kini Mateo telah kehilangan putrinya dan sekarang dia juga telah kehilangan istrinya.
Gilbert berbalik membelakanginya.
"Kedepannya, apapun yang kau lakukan. Aku tidak akan mencampurinya lagi, jika kau ingin menikahi wanita itu silahkan. Aku ataupun ibumu tidak akan menghalangi, tapi kami tidak akan pernah datang dan jangan pernah berharap anak wanita simpanan itu akan menjadi pewaris Agler."
Kata Tuan Gilbert, Suaranya terdengar dingin.
"Mulai sekarang, tanggung sendiri semua akibat dari pilihanmu. Kau telah dewasa, berhentilah terus menyusahkan orang tua mu." Lanjut tuan Gilbert.
Mateo berdiri terpaku.
Cassandra menatapnya sambil menangis.
"Mateo..."
Pria itu menoleh.
"Seandainya waktu bisa kembali..."
Suara Cassandra pecah.
"Aku harap kau tidak akan membiarkan Ivy membawa Grizella sendirian di rumah sakit, aku berharap kau bisa bertanggung jawab atas putrimu."
Mateo tidak menjawab, dia hanya menundukkan kepala, kali ini dia benar-benar menyadari bahwa tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk mengubah masa lalu. Grizella tidak akan pernah kembali dan Ivy juga sudah pergi dengan membawa banyak luka karenanya.
Dan keluarganya sendiri mulai kehilangan kepercayaan kepadanya.
Saat Mateo akhirnya meninggalkan rumah itu, Gilbert hanya berdiri diam di belakangnya.
Tidak ada ucapan selamat tinggal.
Tidak ada pelukan.
Hanya sebuah kalimat terakhir yang terdengar sebelum Mateo membuka pintu.
"Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab atas kehancuran yang kau buat sendiri dan jangan pernah membawa wanita itu ke rumah ini."
Bersambung