"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat Pertama Nawang Di OSIS 25.
Esok paginya, ruang OSIS SMA Veteran tidak pernah terasa sepadat ini.
Di atas meja rapat kayu yang panjang, tumpukan proposal bertuliskan,
“Veteran Youth Festival: Reviving the Roots"
Proposal itu berserakan di antara laptop-laptop yang menyala.
AC ruangan berdengung rendah, beradu dengan suara ketikan keyboard yang bersahutan.
Nawang duduk di kursi ujung dekat jendela.
Di dadanya kini tersemat pin staf magang OSIS—sebuah identitas baru yang ia pilih bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk menegakkan kembali kepalanya yang sempat tertunduk akibat patah hati.
"Oke, kita mulai," suara Rendy memecah fokus semua orang.
Ketua OSIS itu berdiri di depan whiteboard, memegang spidol hitam dengan lengan kemeja yang kembali digulung rapi.
Tidak ada basa-basi. Tidak ada sambutan selamat datang yang menye-menye untuk para staf baru. Gaya kepemimpinan Rendy selalu efisien, langsung menusuk ke inti masalah.
"Bulan depan festival ini harus jalan. Tapi, kita punya masalah besar di divisi acara. Konsep opening ceremony yang dibuat tim lama terlalu generik. Cuma tari tradisional, sambutan kepala sekolah, lalu potong pita. Bosan. Kalau pembukaannya se-kaku ini, target dua ribu penonton yang kita omongin kemarin cuma bakal jadi angan-angan," kata Rendy, matanya menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti tepat pada Nawang.
"Nawang, lu udah pelajari draf yang gue kirim semalam di drive?"
Semua pasang mata di ruangan itu seketika beralih ke Nawang. Sebagai anak baru yang masuk lewat ketua nya sendiri, Nawang tahu posisinya sedang diuji. Sebagian anak OSIS lama mungkin berpikir dia hanya pion yang dibawa Rendy untuk sekadar meramaikan.
Nawang tidak gugup. Dia membuka laptopnya, membalikkan layarnya agar bisa dilihat oleh Rendy dan anggota inti lainnya.
"Udah, Ren. Dan jujur, konsep itu emang mati kutu," sahut Nawang lugas. Suaranya tenang, tanpa keraguan. "Anak muda zaman sekarang gak bakal mau bayar tiket kalau cuma buat nonton seremonial formal. Kita harus ubah opening-nya jadi sebuah experience. Gue saranin kita ganti potong pita dengan light mapping show mini yang digabung sama korps drumband sekolah, berlatar sejarah Veteran. Visual yang kuat di awal bakal langsung memicu orang buat update di media sosial. Itu marketing gratis."
Keheningan sempat merayap di ruangan. Gagasan Nawang terhitung berani untuk ukuran anak baru.
"Tapi anggaran kita terbatas, Wang," sela Gita, bendahara OSIS yang terkenal pelit. "Duit dari sponsor logistik yang kemarin belum cair semua. Light mapping itu mahal."
Nawang tersenyum tipis, tipe senyuman yang penuh perhitungan. "Gue udah antisipasi itu. Kita gak perlu sewa vendor luar yang tarifnya puluhan juta. Anak-anak ekstrakurikuler multimedia dan sinematografi kita punya alat dan skill-nya. Kita tinggal kasih mereka panggung dan insentif sertifikat serta portofolio. Biayanya bisa ditekan sampai tujuh puluh persen."
Rendy tidak langsung menjawab. Dia menatap papan tulis, lalu menuliskan satu kata besar: EFISIENSI. Di bawahnya, dia menarik garis lurus dan menulis nama Nawang.
"Gue suka cara mikir lu," ujar Rendy, ada binar apresiasi yang tertangkap sekilas di matanya. "Logis, hemat, dan berdampak. Git, catat perubahan anggarannya. Nawang, lu pegang kendali penuh buat eksekusi konsep ini. Rapat sama anak multimedia sore ini juga."
Interaksi itu singkat, namun intens. Di ruang rapat ini, status Nawang bukan lagi "mantan pacar Timy sang bintang basket", melainkan seorang konseptor yang kapabel. Dan Rendy memfasilitasi hal itu dengan sangat profesional, memisahkan urusan personal mereka di dalam mobil kemarin dengan tuntutan kerja hari ini.
Namun, realitas sekolah tidak pernah sesederhana ruang OSIS yang steril.
Saat jam istirahat kedua, Nawang berjalan menyusuri koridor koridor tengah menuju laboratorium komputer.
Langkahnya terhenti ketika sesosok tubuh tinggi tegap menghadang jalannya di dekat mading.
Timy. Cowok itu berdiri di sana, masih dengan keringat yang membasahi dahi setelah latihan basket siang. Di belakangnya, beberapa anak sirkelnya memperhatikan dari kejauhan.
"Wang, kita perlu ngomong. Beneran, kali ini aja," kata Timy. Suaranya tidak lagi meledak-ledak seperti kemarin di parkiran. Ada nada frustrasi dan kebingungan yang nyata di sana. Ego cowok itu tampaknya mulai terkikis oleh rasa kehilangan.
Nawang menghentikan langkah, memeluk laptopnya erat di dada sebagai pembatas jarak di antara mereka. "Gue sibuk, Tim. Rapat festival."
"Lu beneran masuk OSIS cuma buat ngehindari gue? Atau karena cowok itu?" Timy melirik ke arah ruang OSIS di ujung koridor. "Lu sengaja mau manasin gue dengan numpang di mobil tua dia kemarin?"
Nawang menghela napas panjang. Sudut matanya menangkap siluet Rendy yang kebetulan sedang berjalan keluar dari ruang guru, membawa tumpukan dokumen.
Rendy sempat melihat mereka, namun alih-alih ikut campur secara heroik atau memprovokasi suasana, Rendy hanya memberikan anggukan kecil pada Nawang—sebuah kode yang berarti: 'Selesaikan urusan lu, gue tunggu di lab.'
Rendy lalu berjalan terus tanpa menoleh lagi. Tindakan yang sangat dewasa, yang membuat kontras di antara kedua cowok itu semakin nyata di mata Nawang.
Nawang kembali menatap Timy, matanya memancarkan kedewasaan yang gagal dipahami oleh mantan kekasihnya itu. "Tim, dengerin gue baik-baik. Otak lu selalu mikir semuanya berputar tentang lu. Gue masuk OSIS karena gue butuh portofolio buat beasiswa kuliah nanti. Gue butuh masa depan yang jelas, bukan cuma drama cemburu gak jelas sama teman masa kecil lu itu."
"Tapi gue bisa kasih lu apa aja, Wang! Lu mau apa? Gue bisa minta bokap gue buat—"
"Itu duit bokap lu, Timy. Bukan punya lu," potong Nawang, kalimatnya tajam dan langsung menusuk realitas. "Dan satu hal lagi. Rendy gak ada hubungannya sama keputusan gue. Dia cuma ketua yang tahu cara menghargai otak gue, sesuatu yang gak pernah lu lakuin selama kita jalan setahun ini. Sekarang, punten. Gue mau lewat."
Nawang melangkah melewati Timy tanpa ragu sedikit pun.
Langkah kakinya mantap, meninggalkan Timy yang terpaku, perlahan mulai menyadari bahwa dunia tidak lagi berjalan sesuai kendalinya.
Pukul lima sore, suasana sekolah sudah berangsur sepi. Di dalam laboratorium komputer, hanya tersisa Nawang dan Rendy.
Anak-anak multimedia baru saja pulang setelah menyepakati konsep light mapping yang diajukan Nawang.
Nawang sedang sibuk merapikan kabel-kabel proyektor ketika Rendy berjalan mendekat, membawa dua kaleng kopi instan dari kantin luar. Dia meletakkan satu kaleng di samping laptop Nawang.
"Kerja bagus buat hari ini," kata Rendy, menduduki ujung meja kosong di dekat Nawang.
"Makasih kopi-nya, Ren," Nawang mengambil kaleng dingin itu, menempelkannya sesaat ke pipinya yang terasa hangat karena lelah. "Dan... makasih karena tadi di koridor lu gak ikut campur."
Rendy meminum kopinya sedikit, lalu terkekeh pelan. "Kenapa gue harus ikut campur? Itu area personal lu. Lagian, gue tahu lu bisa atasin itu sendiri. Kalau gue datang sok jadi pahlawan, itu malah bakal ngerendahin kapasitas lu buat nyelesaiin masalah."
Nawang menoleh, menatap Rendy yang kini sedang memandangi langit sore dari jendela lab. Ada kedalaman karakter pada diri Rendy yang perlahan mulai ia pahami. Rendy bukan tipe cowok yang menawarkan perlindungan berlebihan yang mengekang, melainkan tipe yang memberikan ruang agar pasangannya bisa tumbuh sama kuatnya.
"Gue cuma gak mau OSIS kena imbas gosip aneh-aneh," gumam Nawang jujur.
"OSIS dinilai dari hasil kerja, Wang, bukan dari omongan anak-anak yang nongkrong di kantin," sahut Rendy tenang. Dia menurunkan pandangannya, menatap Nawang dengan intensitas yang berbeda dari biasanya—lebih hangat, lebih personal, namun tetap berada dalam koridor logika yang nyaman. "Dan hari ini lu udah ngebuktiin kalau lu aset paling berharga yang dipunya divisi acara sekarang."
Kata-kata itu sederhana, namun bagi Nawang yang baru saja melewati masa-masa diremehkan, apresiasi Rendy rasanya seperti jangkar yang membuatnya merasa berpijak kuat di bumi.
"Rapat besok jam berapa, Kapten?" tanya Nawang, berusaha mencairkan suasana intens yang mendadak tercipta di antara mereka.
Rendy tersenyum, lesung pipit tipis muncul di wajahnya. "Jam delapan pagi. Jangan telat. Kita punya satu vendor panggung yang harus didebat besok."
Nawang tertawa kecil, menutup laptopnya dengan bunyi klik yang memuaskan.
Di ruang laboratorium yang mulai menggelap itu, di antara sisa-sisa lelah rapat perdana, Nawang tahu dia telah memilih jalan yang benar.
Hubungan mereka mungkin baru sebatas profesional, namun fondasi yang dibangun di atas rasa saling menghargai ini terasa jauh lebih nyata dan kokoh daripada apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya.
......................
...****************...
Tbc,