NovelToon NovelToon
Teman Kecilmu Datang, Neng Pergi Ya!

Teman Kecilmu Datang, Neng Pergi Ya!

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"

Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.

Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.

Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.

Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapat Pertama Nawang Di OSIS 25.

Esok paginya, ruang OSIS SMA Veteran tidak pernah terasa sepadat ini.

Di atas meja rapat kayu yang panjang, tumpukan proposal bertuliskan,

“Veteran Youth Festival: Reviving the Roots"

Proposal itu berserakan di antara laptop-laptop yang menyala.

AC ruangan berdengung rendah, beradu dengan suara ketikan keyboard yang bersahutan.

Nawang duduk di kursi ujung dekat jendela.

Di dadanya kini tersemat pin staf magang OSIS—sebuah identitas baru yang ia pilih bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk menegakkan kembali kepalanya yang sempat tertunduk akibat patah hati.

"Oke, kita mulai," suara Rendy memecah fokus semua orang.

Ketua OSIS itu berdiri di depan whiteboard, memegang spidol hitam dengan lengan kemeja yang kembali digulung rapi.

Tidak ada basa-basi. Tidak ada sambutan selamat datang yang menye-menye untuk para staf baru. Gaya kepemimpinan Rendy selalu efisien, langsung menusuk ke inti masalah.

"Bulan depan festival ini harus jalan. Tapi, kita punya masalah besar di divisi acara. Konsep opening ceremony yang dibuat tim lama terlalu generik. Cuma tari tradisional, sambutan kepala sekolah, lalu potong pita. Bosan. Kalau pembukaannya se-kaku ini, target dua ribu penonton yang kita omongin kemarin cuma bakal jadi angan-angan," kata Rendy, matanya menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti tepat pada Nawang.

"Nawang, lu udah pelajari draf yang gue kirim semalam di drive?"

Semua pasang mata di ruangan itu seketika beralih ke Nawang. Sebagai anak baru yang masuk lewat ketua nya sendiri, Nawang tahu posisinya sedang diuji. Sebagian anak OSIS lama mungkin berpikir dia hanya pion yang dibawa Rendy untuk sekadar meramaikan.

Nawang tidak gugup. Dia membuka laptopnya, membalikkan layarnya agar bisa dilihat oleh Rendy dan anggota inti lainnya.

"Udah, Ren. Dan jujur, konsep itu emang mati kutu," sahut Nawang lugas. Suaranya tenang, tanpa keraguan. "Anak muda zaman sekarang gak bakal mau bayar tiket kalau cuma buat nonton seremonial formal. Kita harus ubah opening-nya jadi sebuah experience. Gue saranin kita ganti potong pita dengan light mapping show mini yang digabung sama korps drumband sekolah, berlatar sejarah Veteran. Visual yang kuat di awal bakal langsung memicu orang buat update di media sosial. Itu marketing gratis."

Keheningan sempat merayap di ruangan. Gagasan Nawang terhitung berani untuk ukuran anak baru.

"Tapi anggaran kita terbatas, Wang," sela Gita, bendahara OSIS yang terkenal pelit. "Duit dari sponsor logistik yang kemarin belum cair semua. Light mapping itu mahal."

Nawang tersenyum tipis, tipe senyuman yang penuh perhitungan. "Gue udah antisipasi itu. Kita gak perlu sewa vendor luar yang tarifnya puluhan juta. Anak-anak ekstrakurikuler multimedia dan sinematografi kita punya alat dan skill-nya. Kita tinggal kasih mereka panggung dan insentif sertifikat serta portofolio. Biayanya bisa ditekan sampai tujuh puluh persen."

Rendy tidak langsung menjawab. Dia menatap papan tulis, lalu menuliskan satu kata besar: EFISIENSI. Di bawahnya, dia menarik garis lurus dan menulis nama Nawang.

"Gue suka cara mikir lu," ujar Rendy, ada binar apresiasi yang tertangkap sekilas di matanya. "Logis, hemat, dan berdampak. Git, catat perubahan anggarannya. Nawang, lu pegang kendali penuh buat eksekusi konsep ini. Rapat sama anak multimedia sore ini juga."

Interaksi itu singkat, namun intens. Di ruang rapat ini, status Nawang bukan lagi "mantan pacar Timy sang bintang basket", melainkan seorang konseptor yang kapabel. Dan Rendy memfasilitasi hal itu dengan sangat profesional, memisahkan urusan personal mereka di dalam mobil kemarin dengan tuntutan kerja hari ini.

Namun, realitas sekolah tidak pernah sesederhana ruang OSIS yang steril.

Saat jam istirahat kedua, Nawang berjalan menyusuri koridor koridor tengah menuju laboratorium komputer.

Langkahnya terhenti ketika sesosok tubuh tinggi tegap menghadang jalannya di dekat mading.

Timy. Cowok itu berdiri di sana, masih dengan keringat yang membasahi dahi setelah latihan basket siang. Di belakangnya, beberapa anak sirkelnya memperhatikan dari kejauhan.

"Wang, kita perlu ngomong. Beneran, kali ini aja," kata Timy. Suaranya tidak lagi meledak-ledak seperti kemarin di parkiran. Ada nada frustrasi dan kebingungan yang nyata di sana. Ego cowok itu tampaknya mulai terkikis oleh rasa kehilangan.

Nawang menghentikan langkah, memeluk laptopnya erat di dada sebagai pembatas jarak di antara mereka. "Gue sibuk, Tim. Rapat festival."

"Lu beneran masuk OSIS cuma buat ngehindari gue? Atau karena cowok itu?" Timy melirik ke arah ruang OSIS di ujung koridor. "Lu sengaja mau manasin gue dengan numpang di mobil tua dia kemarin?"

Nawang menghela napas panjang. Sudut matanya menangkap siluet Rendy yang kebetulan sedang berjalan keluar dari ruang guru, membawa tumpukan dokumen.

Rendy sempat melihat mereka, namun alih-alih ikut campur secara heroik atau memprovokasi suasana, Rendy hanya memberikan anggukan kecil pada Nawang—sebuah kode yang berarti: 'Selesaikan urusan lu, gue tunggu di lab.'

Rendy lalu berjalan terus tanpa menoleh lagi. Tindakan yang sangat dewasa, yang membuat kontras di antara kedua cowok itu semakin nyata di mata Nawang.

Nawang kembali menatap Timy, matanya memancarkan kedewasaan yang gagal dipahami oleh mantan kekasihnya itu. "Tim, dengerin gue baik-baik. Otak lu selalu mikir semuanya berputar tentang lu. Gue masuk OSIS karena gue butuh portofolio buat beasiswa kuliah nanti. Gue butuh masa depan yang jelas, bukan cuma drama cemburu gak jelas sama teman masa kecil lu itu."

"Tapi gue bisa kasih lu apa aja, Wang! Lu mau apa? Gue bisa minta bokap gue buat—"

"Itu duit bokap lu, Timy. Bukan punya lu," potong Nawang, kalimatnya tajam dan langsung menusuk realitas. "Dan satu hal lagi. Rendy gak ada hubungannya sama keputusan gue. Dia cuma ketua yang tahu cara menghargai otak gue, sesuatu yang gak pernah lu lakuin selama kita jalan setahun ini. Sekarang, punten. Gue mau lewat."

Nawang melangkah melewati Timy tanpa ragu sedikit pun.

Langkah kakinya mantap, meninggalkan Timy yang terpaku, perlahan mulai menyadari bahwa dunia tidak lagi berjalan sesuai kendalinya.

Pukul lima sore, suasana sekolah sudah berangsur sepi. Di dalam laboratorium komputer, hanya tersisa Nawang dan Rendy.

Anak-anak multimedia baru saja pulang setelah menyepakati konsep light mapping yang diajukan Nawang.

Nawang sedang sibuk merapikan kabel-kabel proyektor ketika Rendy berjalan mendekat, membawa dua kaleng kopi instan dari kantin luar. Dia meletakkan satu kaleng di samping laptop Nawang.

"Kerja bagus buat hari ini," kata Rendy, menduduki ujung meja kosong di dekat Nawang.

"Makasih kopi-nya, Ren," Nawang mengambil kaleng dingin itu, menempelkannya sesaat ke pipinya yang terasa hangat karena lelah. "Dan... makasih karena tadi di koridor lu gak ikut campur."

Rendy meminum kopinya sedikit, lalu terkekeh pelan. "Kenapa gue harus ikut campur? Itu area personal lu. Lagian, gue tahu lu bisa atasin itu sendiri. Kalau gue datang sok jadi pahlawan, itu malah bakal ngerendahin kapasitas lu buat nyelesaiin masalah."

Nawang menoleh, menatap Rendy yang kini sedang memandangi langit sore dari jendela lab. Ada kedalaman karakter pada diri Rendy yang perlahan mulai ia pahami. Rendy bukan tipe cowok yang menawarkan perlindungan berlebihan yang mengekang, melainkan tipe yang memberikan ruang agar pasangannya bisa tumbuh sama kuatnya.

"Gue cuma gak mau OSIS kena imbas gosip aneh-aneh," gumam Nawang jujur.

"OSIS dinilai dari hasil kerja, Wang, bukan dari omongan anak-anak yang nongkrong di kantin," sahut Rendy tenang. Dia menurunkan pandangannya, menatap Nawang dengan intensitas yang berbeda dari biasanya—lebih hangat, lebih personal, namun tetap berada dalam koridor logika yang nyaman. "Dan hari ini lu udah ngebuktiin kalau lu aset paling berharga yang dipunya divisi acara sekarang."

Kata-kata itu sederhana, namun bagi Nawang yang baru saja melewati masa-masa diremehkan, apresiasi Rendy rasanya seperti jangkar yang membuatnya merasa berpijak kuat di bumi.

"Rapat besok jam berapa, Kapten?" tanya Nawang, berusaha mencairkan suasana intens yang mendadak tercipta di antara mereka.

Rendy tersenyum, lesung pipit tipis muncul di wajahnya. "Jam delapan pagi. Jangan telat. Kita punya satu vendor panggung yang harus didebat besok."

Nawang tertawa kecil, menutup laptopnya dengan bunyi klik yang memuaskan.

Di ruang laboratorium yang mulai menggelap itu, di antara sisa-sisa lelah rapat perdana, Nawang tahu dia telah memilih jalan yang benar.

Hubungan mereka mungkin baru sebatas profesional, namun fondasi yang dibangun di atas rasa saling menghargai ini terasa jauh lebih nyata dan kokoh daripada apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya.

......................

...****************...

Tbc,

1
Luna
tenang Nawang sitimy udah punya pandangan baru 😆😆😆😆,dia akan jadi tameng mu karena rasa bersalah nya,kalo ulet Naya pasti mencak mencak deh,,,,,
Luna
ternyata Rendy sama sama begonya sama timy,Bima, heran juga sih cowok lebih suka cewek yg model nya kalem tapi menenggelamkan, sebelum jauh lebih baik stop dari sekarang Nawang, kewarasan lo lebih penting, nyatanya sirendy gampang dimanipulasi Naya ,
Luna
nih cewek GK ada kapok kapoknya yh,,,🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
mangkanya,,, jangan bermuka dua jangan pura pura,yg ada lama lama kamu masuk rumah sakit jiwa beneran loh🤣🤣🤣🤣
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 Bima laki apaan banci main keroyokan .. andai ini nawang kayak jihan Badas pasti keren sayangnya nawang menye menye 🤭
Luna
mantep Rendy dan Nawang,,,, orang kek Naya seharusnya dibikin trauma nya makin parah 🤣🤣🤣🤣🤣,
falea sezi
🤣🤣🤣 jihan ini tipe cewek sok asik sok pahlawan biar apa biar di kenal kan😒😒 ayo donk thor bahas kisah nawang masak second lead trs yg di bahas
Luna
berarti mereka ada konflik sebelum nya di Jakarta, seharusnya Nawang ikutan bringas juga sebagai protagonis utama perempuan dia setelah putus belum ada panggung lagi,🤣🤣🤣🤣🤣,,,enak kali si Naya dia niat cari kedamaian sekolah dibandung" kedamaian matamu nay" lah elu udah ngerusak hubungan orang peak 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
sebagai tim hore ,,,cuma bisa menyoraki timy ,,,ayo tim kamu itu tokoh protagonis pria ,,,, jangan putus asa pantang mundur lah
falea sezi
uda Nawang move on aja di timy aja kayak nya mau move on🤣 ehh dia emank cpet berpaling denggg🤭 maklum cwok plin plan
falea sezi
males deh malah bahas jihan terossssssssss😒 ini MC nya siapa nawang kan 🤣 kenapa jihan teros di bahas thor second lead gk penting
falea sezi: klo protagonis nya timy trs MC nya siapa kak bawang timy kan
total 3 replies
Luna
timy jadi obsesi😱😱😱🤣🤣🤣🤣
falea sezi
malah bahas jihan timy🤣🤣 melenceng dr judul thor😒
Luna
cie cie cie🤭🤭🤭
falea sezi
lah kenapa malah kisan jihan timy lebih bagus🤣🤣 gimana sih author apakah karena nawang menye menye.. karena pembaca suka cwek badasss
Luna
bintang 5 buat nih novel, dapat banget lah karakter para tokoh disini,ikut greget juga sih🤭🤭🤭, terus berkarya yh author ,
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣timy oh timy ayo dong bangkit dari rasa bersalah mu ,kalo aku jadi kamu sudah habis kubabat si Bima dan Naya 🤭🤭🤭🤭,balas sakit hati mu yg dipermainkan Naya, lupakan Nawang tengok si Jihan
falea sezi
🤣🤣🤣 suka bgt cwek Badas gini dripada nawang yg menye menye
Luna
enteng kali dia bilang gabut bikin onar hubungan orang, kayak nya si Naya ini belum sembuh bener sudah menjadi penyakit jiwa alias gila ,😱😠
falea sezi
🤣🤣 berharap ap lu ma nawang noleh aja ogah klo q jd nawang nasi tim
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!