Olivia seorang penyanyi, karirnya semakin bersinar setelah mendapat warisan bros dari sang nenek yang dulunya juga seorang sinden terkenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perjodohan dimas
sore hari di rumah dimas
"ma... pak bayu kemarin datang ke kantor" pak haikal sepulang dari kantor
"ada masalah apa pa?" tanya bu Ratna
"dia ingin segera menikahkan dinda dengan dimas"
"apa dimas mau pa?"
"aku ndak yakin kalau dimas mau ma, tapi kalau dimas ndak mau. pak bayu akan menarik semua saham dari perusahaan kita
bu ratna memikirkan cara untuk merayu dimas
"nah itu dimas datang ma, coba kamu rayu dia" pak haikal meninggalkan istrinya di teras rumahnya itu
"capek mas?"
"lumayan ma. tumben mama duduk disini"
"iya, papamu baru aja masuk"
dimas melepas sepatu Fantovelnya
"mas, bagaimana hubungan mu dengan dinda?"
"mama.. capek capek gini malah bahas dinda"
"mama serius mas. pak bayu akan menarik semua sahamnya jika kamu tidak segera menikahi dinda"
"tapi aku ndak suka dengan dia ma. rumah tangga macam apa jika aku menikah dengan orang yang ndak aku suka"
"cinta bisa di pupuk nak. belajarlah membuka hatimu"
"aku capek ma. lagian aku juga sudah punya calon istri"
"calon istri? siapa dia?"
"kapan-kapan aku kenalin ke mama"
"lalu bagaimana dengan dinda"
"ndak tau ma" ucap dimas cuek
bu Ratna menyusul pak haikal dikamarnya
"dimas tetap ndak mau dengan dinda pa"
"kalau kita ndak bisa membujuk dimas, alamat perusahaan kita akan bangkrut ma"
Bu Ratna gelisah dengan mendengar ucapan suaminya itu
malam hari sebelum dimas berangkat ke cafe
"mas. papa mau bicara serius" pak haikal memanggil dimas
"ya pa. ada apa?"
"kali ini kamu harus membantu papa, jika tidak, papa tidak tau bagaimana dengan nasib perusahaan kita termasuk cafemu juga"
"maksud papa? aku harus menikah dengan dinda?"
"hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan semuanya mas. tolong kamu pikirkan lagi"
"kenapa sih pa, urusan pekerjaan selalu di kaitkan dengan masalah pribadi"
"papa minta tolong ya mas. hanya kamu yang bisa menyelamatkan"
"tapi aku punya pilihan sendiri pa, bukan dinda"
"masa depanmu dan keluarga ini juga penting mas. kalau kamu belum cinta, Lama-lama juga akan cinta mas"
"tapi pa"
"sebenarnya papa juga ndak setuju kalau kamu menikah dengan dinda, papa ingin kamu memilih calon istrimu sendiri"
dimas berpamitan kepada kedua orang tuanya.
"sayang aku jemput sekarang" dimas menelpon Olivia
"aku berangkat sendiri mas"
"kenapa seperti itu? kamu masih marah?"
"ndak mas, aku bawa mobil sendiri"
"kamu beli mobil syang?"
"iya mas, hasil kerja keras 3 bulan ini"
"wah hebat kamu sayang... oke sampai ketemu di cafe ya"
hari itu untuk pertama kali Olivia mengendarai mobilnya sendiri.
Sampainya di cafe, Mely melihat Olivia turun dari mobilnya. rasa iri semakin dia rasakan
"wah mobil baru nih" ucap Mely basa basi
"iya Mel... hasil kerja keras"
"aku yang kerja setahun disini belum dapat apa-apa vi. kamu yang baru beberapa bulan sudah bisa beli mobil"
"kalau ndak di bantu event mungkin aku juga belum bisa beli Mel"
Kedatangan Olivia membawa mobil barunya menjadi bahan pembicaraan grup bandnya. ada yang mengapresiasi ada juga yang mencibir
"Mel.. aku besok libur. kamu lebur ya" ucap Olivia sambil membenahi penampilannya
malam itu dimas datang sedikit terlambat dari biasanya
"kamu sudah bilang mas dimas kalau kamu besok libur vi?" tanya kakok
"belum mas. nanti aja. mas dimas juga belum datang"
"vi... ni dapat surat lagi" ucap Widi memberikan secarik kertas berisi no ponsel dan pesan "call my plis"
Olivia memasukkan kertas itu kedalam tasnya
"ndak kamu hubungi vi?" tanya Widi
"ndak lah wid... paling juga orang iseng" ucap Olivia cuek
*****
di rumah dimas
pak bayu dan dinda berkunjung ke rumah keluarga pak haikal
"selamat malam"
"selamat malam" sahut dimas ketika hendak berangkat ke cafe
"pak haikal ada?"
"apa pak, mari masuk" dimas mempersilahkan pak bayu dan dinda masuk kedalam rumahnya
"ma.. ada pak bayu" dimas memanggil bu Ratna
Setelah memanggil pak haikal, kedua orang tua dimas menemui tamunya itu
"kamu mau kemana mas?" tanya pak bayu
"mau ke cafe om"
"om datang kesini mau ada keperluan dengan kamu juga"
Firasat dimas sudah tidak enak. dimas ikut duduk bersama dengan mereka
setelah berbincang-bincang
"pak haikal, bagaimana dengan pembahasan kita kemarin?"
"tentang dinda dan dimas pak?"
"iya. apa lagi?"
dimas dan dinda sama-sama anak semata wayang.
"saya serius dengan perkataan saya pak. dinda mencintai dimas" ucap pak bayu
"beri kami waktu sehari untuk merundingkannya pak"
"hanya sehari ya pak" ancam pak bayu
dimas tertunduk dalam diamnya, dia tidak mempunyai pilihan, jika tidak menuruti permintaan pak bayu, semua sahamnya akan di tarik dari perusahaan pak haikal. tapi di sisi lain dia mencintai Olivia. dimas sadar, status Olivia tidak mungkin di terima di keluarganya
"aku siap om" Tiba-tiba dimas bersuara membuat semua orang tercengang
"kamu bilang apa mas?" tanya bu Ratna memastikan lagi
"aku siap ma... karena hanya cara ini aku bisa menyelamatkan perusahaan papa"
Kedua keluarga langsung membicarakan acara pertunangan.
"pa, aku harus ke cafe" pamit dimas
"jangan pergi dulu mas, atau kalau kamu pergi ajak dinda sekalian" usul bu Ratna
"tapi ma"
"sudah sana pergi"
dimas punya pergi ke cafe mengajak dinda, selama dalam perjalanan dimas merasa cemas dengan apa yang akan dia temui nanti, bagaimana Olivia pasti akan cemburu melihat dia dan dinda
"kamu sukanya apa sayang?" dinda mencoba membuka pembicaraan
"semua aku suka"
dinda anak yang cantik, tapi kesannya manja dan tidak suka di atur.
"aku akan membuat pesta pernikahan yang mewah. kamu setuju kan?"
"atur saja din"
Sesampainya di cafe.
"din. kamu mau tunggu di sini apa ikut aku ke dalam" ucap dimas ketus
"aku disini aja, nanti aku nyusul" dinda mengambil tempat duduk di indoor, karena tidak terlalu kuat dengan angin malam. dinda menikmati performa Olivia yang bersuara lembut menyanyikan lagu melankolis. Olivia melihat ketika dinda dan dimas datang bersamaan.
Setelah selesai membawakan sebuah lagu, Olivia meminta untuk beristirahat sejenak menghampiri dimas di ruang kerjanya.
Olivia mengetuk pintu ruang kerja dimas
"masuk" jawab dimas dari dalam
"mas... besok jadwalku libur" ucap Olivia berdiri mematung di depan meja dimas
"duduklah sayang"
"aku besok libur mas"
"mau pulang kampung?"
"iya, seperti biasanya"
Tiba-tiba suara dinda memanggil dimas dari luar
"mas... sayang... "
alis Olivia menggernyit mendengar gadis itu memang sayang kepada dimas.
"masuk din" jawab dimas
"kenapa kamu lama sekali? eh ada tamu" ucap dinda melihat Olivia duduk di meja kerja dimas
"kenalkan ini Olivia"
Olivia dan dinda saling berkenalan
"oke mas, saya hanya mau bilang itu saja. saya permisi" ucap Olivia pergi dari ruangan dimas
dimas tidak bisa berkata apa-apa di depan dinda.
"aku mau dia yang mengisi di pesta pernikahan kita sayang" ucap dinda
"kenapa harus Olivia sih din. kan banyak penyanyi yang lainnya"
"aku suka dengan suaranya sayang. aku ndak mau yang lain"
"Olivia itu banyak job dinda... tolong mengerti jangan kekanak-kanakan"
"aku mau dia sayang. titik. lagian sebentar lagi kita juga akan menikah"
"sebentar lagi? jangan ngaco kamu din. kenapa juga kamu maunya nikah sama aku. kan banyak cowok ganteng di luar sana din"
"aku maunya sama kamu sayang. aku cinta sama kamu"
Ucap dinda genit
"yuk pulang din sudah malam"
"kok buru-buru sayang"
"sudah malam. ndak enak sama pak bayu kalau kamu sampai pulang larut malam" ajak dimas untuk segera pergi dari cafe itu
"tapi aku baru aja pesan mas. aku habiskan pesananku dulu ya"
dinda kembali duduk di tempatnya semula sambil memandang Olivia yang tengah duduk di stage menyanyikan lagu
"bagus cafenya sayang" puji dinda
"terimakasih" sahut dimas. dimas tak berani melihat ke arah Olivia
"yuk din... kapan-kapan kesini lagi"
dinda pun mengikuti ajakan dimas
"kenapa kamu ndak lanjutin kuliahmu dulu din"
"aku masih kuliah kok sayang"
"kan enak kuliah, dari pada harus kawin, ngurus anak"
"aku pinginnya jadi mama muda sayang.. bayangkan ketika anak-anak kita sudah besar kita belum terlalu tua. kan seru"
Kali ini dimas betul-betul gagal merayu dinda untuk membatalkan pernikahannya