**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**
Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.
Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.
Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.
Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.
Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...
**suamiku sendiri membunuhku.**
Aku pikir kematian adalah akhir.
Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.
Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.
Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.
Suamiku masih belum menjadi suamiku.
Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.
Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.
Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.
Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.
Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07- DUDUK DI MEJA PEMBURU
Pintu ganda ruang rapat tertutup dengan dentuman berat yang teredam lapisan kedap suara.
Suasana di dalam ruangan seketika berubah hening. Enam direktur senior Arlena Holding yang duduk mengitari meja marmer bundar langsung menghentikan bisik-bisik mereka. Pandangan mereka serempak beralih ke pintu masuk, menatapku dengan sorot mata campur aduk: heran, meremehkan, dan bingung melihat putri bungsu keluarga Arlena melangkah sejajar dengan Adrian Varell.
"Nadia," panggil Ayah dari ujung meja. Suaranya datar, namun tatapannya menuntut penjelasan. "Duduk di sebelah pamanmu, Hendra."
Hendra Arlena—adik kandung Ayah sekaligus direktur operasional yang selama ini kukenal berwajah ramah. Namun di garis waktu pertamaku, Hendra-lah orang dalam yang membocorkan dokumen audit internal ke tangan Ryan dan Selena. Dialah racun di dalam sumur keluarga Arlena.
Paman Hendra tersenyum hangat, menepuk kursi kosong di sampingnya. "Kemarilah, Nadia. Biarkan para tetua menyelesaikan urusan dokumen membosankan ini, ya?"
Nada bicaranya terdengar seperti seorang paman penyayang yang sedang membujuk anak kecil. Menjijikkan.
Sebelum aku sempat melangkah, Adrian bergerak lebih dulu. Ia tidak menuju kursi tamu kehormatan di seberang Ayah, melainkan menarik kursi kosong tepat di sisi kanan meja utama—posisi strategis pengawas rapat—lalu menatapku dingin.
"Duduk di sini, Nona Arlena," ujar Adrian singkat.
Gerakan Paman Hendra membeku di udara. Senyum di wajahnya lenyap seketika, digantikan rona merah samar karena rasa malu dan tersinggung. Di dunia korporasi, membiarkan seorang gadis sembilan belas tahun menempati kursi pengawas di hadapan perwakilan konglomerat Varell adalah sebuah pernyataan status yang luar biasa kasar bagi dewan direksi.
"Tuan Varell," sela Hendra dengan tawa sumbang yang dipaksakan. "Keponakan saya ini baru masuk kuliah semester dua. Dia belum mengerti kalkulasi dividen atau mitigasi risiko logistik. Kehadirannya di sini hanya untuk memenuhi permintaan Kak Edward agar dia mulai mengenal atmosfer kantor."
Adrian bahkan tidak repot-repot menoleh ke arah Hendra. Tangannya yang besar dan berurat merapikan lipatan kemeja di pergelangan tangannya.
"Jika Nona Arlena tidak duduk di meja ini," suara Adrian mengalun rendah, menusuk ke setiap sudut ruangan, "maka nota kesepahaman senilai dua koma empat triliun ini tidak akan pernah ditandatangani hari ini. Keputusan ada di tangan Anda, Tuan Hendra."
Napas Hendra tercekat. Matanya membelalak, menatap Ayah dengan panik meminta pembelaan. Namun Ayah hanya terdiam, mengamati gelagat Adrian dan diriku dengan tatapan yang semakin rumit.
"Duduklah di sana, Nadia," titah Ayah akhirnya, suaranya dingin tak terbantahkan.
Aku melangkah tenang, menarik ujung rok span hitamku sedikit, lalu duduk di kursi yang ditarikkan Adrian. Punggungku tegak sempurna, kedua tangan bertaut di atas meja marmer dingin.
Sekretaris Adrian segera membagikan draf tebal bersampul abu-abu baja kepada seluruh jajaran direksi.
"Poin pertama," Adrian memulai presentasinya tanpa basa-basi pembuka, matanya menatap tajam ke seluruh anggota dewan. "Varell Group menyuntikkan modal segar sebesar tujuh puluh persen untuk pembangunan dermaga peti kemas di kawasan pesisir barat. Kepemilikan saham operasional dibagi rata, lima puluh persen untuk masing-masing pihak."
Beberapa direktur mengangguk puas. Angka itu jauh lebih menguntungkan dibandingkan proposal Arkana yang memeras kas perusahaan.
Namun, mataku tidak tertuju pada lembar pembagian dividen. Aku membuka langsung halaman sembilan belas—bagian tim pelaksana teknis dan vendor pengadaan. Di sana, tertulis satu nama konsultan logistik pihak ketiga: PT Samudra Marvia Prima.
Sudut bibirku terangkat sangat tipis.
Rupanya sulur-sulur keluarga Selena sudah merayap ke dalam proyek ini jauh sebelum Arkana Group mengajukan kerja sama resmi. Selena bukan sekadar pion Ryan; keluarganya adalah parasit yang sengaja ditanam untuk menyedot darah Arlena Holding dari dalam.
"Tunggu sebentar," suaraku memecah keheningan saat notaris bersiap menyodorkan pena ke arah Ayah.
Seluruh ruangan kembali membeku. Paman Hendra memutar bola matanya jengkel. "Nadia, jangan menyela saat berkas hendak disahkan. Ini bukan waktu untuk bertanya hal sepele."
"Saya tidak menyela hal sepele, Paman Hendra," balasku lugas tanpa memandangnya. Mataku menatap lurus ke arah Ayah. "Saya ingin mencoret penunjukan PT Samudra Marvia Prima sebagai konsultan logistik tunggal."
"Apa?!" seru Hendra, refleks berdiri dari kursinya. "Itu perusahaan terpercaya! Mereka sudah menangani jalur distribusi kargo pelabuhan selama lima tahun terakhir! Ayah Selena adalah kawan lama kita, Nadia. Kenapa kamu tiba-tiba membawa urusan sentimen pribadi ke dalam rapat bisnis?"
"Bukan sentimen pribadi, Paman. Ini murni mitigasi risiko kebangkrutan," sahutku tenang, membalik lembaran berkas dengan bunyi gesekan kertas yang renyah. "Tiga hari yang lalu, otoritas bea cukai pelabuhan menahan empat kontainer ilegal berisi barang selundupan berlabel tekstil di dermaga Tanjung Priok. Kapal pengangkutnya disewa langsung di bawah lisensi PT Samudra Marvia Prima. Dalam tempo dua pekan ke depan, kantor mereka akan disegel oleh kejaksaan tinggi untuk investigasi pencucian uang."
Hendra ternganga. Seluruh darah seolah surut dari wajahnya. "D-dari mana kamu mengarang cerita kotor seperti itu?!"
"Tuan Hendra," suara bariton Adrian memotong histeria itu bagai pedang tajam. Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap Hendra dengan sorot mata seekor serigala yang sedang menatap mangsa lemah. "Apa yang dikatakan keponakan Anda akurat seratus persen. Tim intelijen Varell Group menerima salinan surat perintah penyidikan kejaksaan satu jam yang lalu."
Adrian menoleh ke arah asistennya. "Ganti klausul vendor logistik. Serahkan seluruh hak pengawasan dan distribusi jalur laut secara eksklusif kepada anak perusahaan Arlena Holding di bawah supervisi langsung Nona Nadia."
DEG.
Jantungku berdegup kencang. Adrian bukan hanya menyetujui rekomendasiku—dia baru saja menyerahkan kendali operasional bernilai triliunan rupiah ke tanganku sendiri di hadapan dewan direksi. Ini adalah kartu liar yang dia lemparkan untuk menguji apakah aku benar-benar tahu cara mengayunkan pedang, atau hanya gadis yang kebetulan beruntung memiliki informasi rahasia.
Ayah menatapku lama sekali. Ada keheningan panjang di mana hanya desau pendingin ruangan yang terdengar.
Akhirnya, Ayah meraih pena bermata emas di atas meja, menandatangani lembar pengesahan terakhir dengan guratan tegas, lalu menutup dokumen itu rapat-rapat.
"Klausul diubah sesuai instruksi Tuan Varell dan Nadia," ucap Ayah dengan nada final. "Rapat selesai."
Para direktur mulai berkemas dengan wajah tegang, sementara Paman Hendra buru-buru keluar dari ruangan dengan ponsel menempel di telinganya—pasti sedang panik menghubungi ayah Selena untuk menyelamatkan sisa aset mereka yang akan segera disita negara.
Langkah pertama untuk memotong jalur pasokan dana Selena dan Ryan... berhasil.
Aku menghela napas pelan, bersiap bangkit dari kursi ketika sebuah ketukan jari berirama lambat di atas meja menghentikan gerakanku.
Tuk. Tuk. Tuk.
Adrian masih duduk di sampingku. Pria itu tidak beranjak sedikit pun, menatapku dengan mata kelamnya yang berkilau tajam di balik bayangan lampu ruang rapat.
"Insting yang sangat tajam, Nona Arlena," bisik Adrian rendah, suaranya sarat akan rasa penasaran yang berbahaya. "Kamu memotong napas keluarga Marvia dalam satu tarikan napas, sekaligus membuat pamanmu panik setengah mati. Tapi kamu lupa satu hal."
Aku menoleh, membalas tatapannya tanpa gentar. "Apa itu?"
Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan, jarak kami kembali terkikis.
"Anjing yang tersudut tidak akan lari ke hutan, Nadia. Mereka akan menggigit orang terlemah di rumahmu untuk bertahan hidup." Adrian melirik jam tangan mewahnya sekilas. "Kalau saya jadi kamu, saya akan memeriksa di mana Ethan Arlena berada sekarang. Tuan Muda Ryan Arkana baru saja meninggalkan gedung ini dengan mobil berkecepatan tinggi menuju kampus adikmu."
Darahku seketika membeku.
Ethan.
Bersambung...