NovelToon NovelToon
Lima Kakak Valerius

Lima Kakak Valerius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: mona28

Di mata masyarakat, keluarga Valerius adalah keluarga pengusaha terpandang dan salah satu keluarga terkaya di kota. Namun di balik kemewahan mansion mereka, keluarga Valerius merupakan salah satu keluarga mafia paling berkuasa dan ditakuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mona28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAHASIA SANG KAKAK TERTUA

Ruangan bawah tanah itu mendadak sunyi.

Di layar komputer Kian, satu nama masih terpampang jelas.

SUBJEK R-18: RAKA VALERIUS.

Aren menatap tulisan itu tanpa berkedip. Ia berharap layar tersebut akan mati, tulisan itu menghilang, lalu seseorang mengatakan bahwa semuanya hanyalah kesalahan sistem.

Namun, tulisan itu tetap ada.

Raka Valerius.

Kakak tertuanya.

Pria yang selama ini berdiri paling depan setiap kali bahaya mengancam keluarga mereka. Pria yang selalu memastikan Aren makan tepat waktu, pulang dengan selamat, dan tidak pernah menghadapi masalah sendirian.

Pria yang mengajarinya bahwa keluarga adalah tempat paling aman di dunia.

“Kak Raka?” panggil Aren pelan.

Raka tidak menjawab.

Ia berdiri membelakangi layar, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Wajahnya tetap dingin, tetapi Aren melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Ketakutan.

Bukan ketakutan terhadap musuh.

Melainkan ketakutan terhadap sesuatu yang mungkin telah menjadi bagian dari dirinya sendiri.

“Raka,” ujar Adrian melalui sambungan suara yang kembali aktif. “Dengarkan aku. Jangan biarkan Alistair memisahkan kalian.”

Raka langsung menoleh ke arah kamera.

“Ayah tahu?”

Adrian terdiam.

Satu detik.

Dua detik.

Bagi Raka, jeda itu sudah cukup menyakitkan.

“Ayah tahu bahwa ada dua bayi yang keluar dari fasilitas itu?” tanyanya lagi. “Ayah tahu aku mungkin salah satu dari mereka?”

“Tidak semuanya seperti yang kau pikirkan.”

“Jawaban yang bagus.” Raka tertawa hambar. “Itu juga jawaban favorit Ayah selama bertahun-tahun setiap kali kami bertanya tentang masa lalu.”

“Raka, aku tidak pernah menganggapmu berbeda dari anak-anakku yang lain.”

“Aku tidak bertanya tentang itu!”

Suara Raka menggema di ruangan.

Aren tersentak. Darren segera mendekati kakak tertuanya, tetapi Raka mengangkat tangan, meminta semua orang tetap di tempat.

“Aku bertanya apakah Ayah tahu siapa aku sebenarnya.”

Adrian menunduk.

“Aku tahu siapa dirimu sekarang. Kau anakku.”

“Itu bukan jawaban.”

“Raka…”

“Apakah aku anak kandung Ayah?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar.

Dan kali ini, Adrian tidak segera menjawab.

Darren menjadi orang pertama yang memecah keheningan.

“Kita tidak boleh membuat keputusan berdasarkan pesan dari Alistair. Dia sengaja memilih waktu ketika kita sedang kebingungan.”

“Benar,” sahut Kian. Jemarinya kembali bergerak di atas papan ketik. “Pesan itu dikirim melalui sistem internal Proyek Serigala Hitam. Kita belum tahu apakah identitas R-18 benar-benar terhubung dengan Raka atau hanya menggunakan namanya untuk memancing reaksi.”

“Namun, sistem itu mengenali gelang Aren,” kata Leon. “Dan Alistair memiliki rekaman asli dari fasilitas.”

“Artinya, kita harus memverifikasi semuanya,” ujar Darren. “Bukan langsung percaya.”

Riven berdiri di dekat Raka.

“Kalaupun kau bukan anak kandung Ayah, itu tidak mengubah apa pun.”

Raka meliriknya.

“Aku belum mengatakan apa-apa.”

“Aku tahu. Tapi aku mengenalmu. Kau sedang menyalahkan dirimu sendiri atas sesuatu yang bahkan belum terbukti.”

Riven menghela napas, kemudian melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Kau kakakku. Kau orang yang mengajariku bertarung, orang yang menyeretku keluar dari masalah ketika aku masih bodoh, dan orang yang selalu berdiri di depan kami ketika semuanya kacau. Tidak ada pesan dari orang gila yang bisa menghapus itu.”

“Siapa yang kau sebut orang gila?” terdengar suara Alistair dari pengeras suara.

Semua orang langsung menoleh.

Layar kembali menyala.

Alistair muncul sambil duduk di belakang meja. Adrian masih berada di kursi logam, tetapi amplop hitam kini terbuka di hadapannya.

“Raka Valerius,” ujar Alistair. “Atau sebaiknya aku memanggilmu dengan nama yang tercatat dalam arsip?”

Raka melangkah mendekati kamera.

“Kalau kau ingin bicara denganku, katakan apa yang kau ketahui.”

Alistair tersenyum.

“Keberanian. Kesetiaan. Kecenderungan mengorbankan diri untuk orang lain. Kau benar-benar mewarisi sifat yang menarik.”

“Aku tidak peduli dengan penilaianmu.”

“Seharusnya kau peduli. Karena jika kau memang Subjek R-18, seluruh hidupmu dibangun di atas sebuah kebohongan.”

Aren maju satu langkah.

“Berhenti memainkan kata-kata!”

Alistair menatapnya melalui layar.

“Ah, cucuku. Kau selalu ingin melindungi kakak-kakakmu. Sayangnya, kali ini mungkin justru kakakmu yang perlu kau takuti.”

“Jangan bicara tentang keluargaku seolah-olah kau mengenal mereka!”

“Aku mengenal mereka jauh sebelum kau lahir.”

Alistair mengangkat sebuah dokumen tua.

“Subjek R-18 diambil dari fasilitas pada malam yang sama dengan Subjek R-17. Keduanya memiliki hubungan darah dengan dua keluarga yang seharusnya tidak pernah dipersatukan.”

Kian segera mengambil tangkapan layar.

“Dua keluarga yang mana?” tanyanya.

Alistair hanya tersenyum.

“Valerius dan Ravencroft.”

Kemudian ia menoleh kepada Adrian.

“Bukankah begitu?”

Adrian mengangkat wajahnya.

“Jangan percaya semua yang dikatakan Alistair,” katanya dengan susah payah. “Dia menggunakan kebenaran kecil untuk menyembunyikan kebohongan yang lebih besar.”

“Kalau begitu, katakan kebenarannya,” desak Raka.

Adrian memejamkan mata.

“Aku tidak tahu apakah kau Subjek R-18.”

Raka terdiam.

“Tetapi,” lanjut Adrian, “ada sesuatu yang harus kalian ketahui. Tujuh belas tahun lalu, aku menemukan seorang anak di luar ruang medis fasilitas itu. Anak tersebut tidak memiliki gelang identitas. Aku membawanya pulang setelah memastikan tidak ada orang yang mencarinya.”

Darren menegang.

“Ayah membawa seorang anak pulang?”

“Ya.”

“Dan siapa anak itu?”

Adrian menatap layar dengan mata yang dipenuhi penyesalan.

“Kau, Raka.”

Tidak ada yang bergerak.

Bahkan Kian berhenti mengetik.

Raka menatap Adrian seolah-olah sedang melihat orang asing.

“Ayah menemukanku di fasilitas Proyek Serigala Hitam?”

“Ya.”

“Lalu Ayah mengadopsiku?”

Adrian mengangguk pelan.

“Aku tidak pernah tahu siapa orang tua kandungmu. Tidak ada dokumen yang bisa memastikan identitasmu. Ketika aku membawamu pulang, kau masih bayi.”

Raka tertawa kecil, tetapi tidak ada kebahagiaan dalam suara itu.

“Jadi, selama ini aku memang bukan anak kandung Ayah.”

“Aku tidak pernah mengatakan itu.”

“Tapi Ayah juga tidak pernah memberitahuku bahwa aku ditemukan di fasilitas rahasia.”

“Aku ingin memberitahumu ketika waktunya tepat.”

“Dan kapan waktu yang tepat itu, Ayah? Setelah aku berusia empat puluh tahun? Lima puluh tahun? Atau setelah Alistair membunuh kami semua?”

“Raka, aku—”

“Cukup.”

Raka berpaling dari layar.

Aren langsung mendekatinya, tetapi kakak tertuanya mengangkat tangan.

“Jangan sekarang, Ren.”

Kata-kata itu membuat Aren berhenti.

Raka tidak pernah menolaknya seperti itu.

Bahkan ketika marah, Raka selalu membiarkan Aren mendekat. Selama ini, kakak tertuanya menjadi tempat berlindung yang paling kokoh.

Kini, untuk pertama kalinya, Raka terlihat seperti seseorang yang kehilangan tempat berpijak.

Mara berdiri dekat meja, wajahnya semakin pucat.

“Aku ingat sesuatu,” katanya.

Semua orang menoleh kepadanya.

“Apa?” tanya Viktor.

Mara memandang Raka dengan mata berkaca-kaca.

“Tujuh belas tahun lalu, aku melihat seorang bayi dibawa keluar dari ruang medis. Bayi itu menangis sangat keras. Seorang petugas mengatakan bahwa anak tersebut harus dipisahkan dari bayi lainnya karena kedua anak itu tidak boleh tumbuh bersama.”

Raka menatapnya.

“Apakah kau melihat wajah petugas itu?”

Mara mengangguk ragu.

“Tidak jelas. Tetapi aku ingat lambang pada seragamnya.”

Ia mengambil selembar kertas dan menggambar sebuah simbol: serigala hitam dengan garis melintang di tengahnya.

Lambang pengawal pribadi Alistair.

“Petugas itu bekerja untuk kakekmu,” ujar Mara.

Raka tidak menjawab.

Aren memandang kakak tertuanya dengan perasaan campur aduk. Jika Raka benar-benar berasal dari fasilitas itu, berarti ada kemungkinan Alistair mengetahui identitas orang tua kandungnya.

Namun, mengapa Raka dibawa ke rumah Valerius?

Mengapa ia tumbuh bersama empat kakak lainnya dan kemudian menjadi orang yang paling bertanggung jawab menjaga keluarga?

Dan yang paling mengerikan, apakah ia ditempatkan di keluarga Valerius untuk suatu tujuan?

Kian tiba-tiba mengangkat kepala.

“Aku menemukan sesuatu.”

Ia menampilkan dokumen hasil pemulihan dari arsip yang sebelumnya terkunci.

Berkas tersebut memuat dua foto bayi.

Foto pertama diberi label R-17.

Foto kedua diberi label R-18.

Di bawah masing-masing foto tercantum tanggal lahir yang sama, tetapi nomor identitas biologisnya berbeda.

Kian memperbesar bagian bawah dokumen.

“Lihat ini. Ada catatan mengenai kecocokan genetik.”

Darren mendekat.

“Bacakan.”

Kian menelan ludah.

“R-17 dan R-18 memiliki hubungan biologis langsung. Namun, data orang tua mereka disegel oleh administrator utama.”

“Hubungan biologis langsung bisa berarti saudara kandung,” ujar Leon. “Tetapi kita belum tahu apakah mereka memiliki kedua orang tua yang sama.”

Aren memandang kedua foto itu.

Foto R-17 memperlihatkan bayi yang mengenakan gelang hitam berlambang serigala.

Foto R-18 memperlihatkan bayi yang dibungkus kain putih.

Di sudut foto kedua, terlihat tangan seorang perempuan memegang bayi tersebut.

Pada jari manisnya terpasang cincin perak berbentuk serigala.

Mara menutup mulutnya.

“Aku pernah melihat cincin itu.”

“Di mana?” tanya Raka.

Mara menatapnya dengan ketakutan yang semakin jelas.

“Di tangan orang yang membawa bayi itu keluar dari fasilitas.”

“Siapa orangnya?”

“Aku tidak melihat wajahnya.”

“Lalu bagaimana kau bisa yakin?”

Mara menunjuk bagian foto yang lain.

Ada sebuah tanda kecil di pergelangan tangan perempuan itu. Bekas luka berbentuk bulan sabit.

Mara mengangkat tangannya sendiri. Pada pergelangan tangannya terdapat bekas luka yang sama.

“Karena luka itu milikku.”

Viktor membeku.

“Mara, apa maksudmu?”

“Aku tidak ingat bagaimana luka ini kudapatkan. Aku hanya ingat terbangun di sebuah ruangan empat tahun setelah malam itu, dengan ingatan yang berlubang dan seseorang mengatakan bahwa aku harus melupakan keluarga Ravencroft.”

Raka memandang foto itu lama sekali.

Kemudian ia berkata dengan suara dingin, “Kalau bekas luka itu milikmu, mungkin kau adalah orang yang membawa salah satu bayi keluar.”

Mara menggeleng cepat.

“Aku tidak tahu.”

“Semua orang mengatakan tidak tahu!” Raka membentak. “Ayah tidak tahu. Kau tidak tahu. Alistair selalu berbicara seolah-olah dia mengetahui segalanya, tetapi tidak pernah memberikan jawaban utuh!”

Ia menghantam meja hingga beberapa benda bergetar.

Aren segera mendekatinya.

“Kak, lihat aku.”

Raka tidak menoleh.

“Kak Raka.”

Perlahan, Raka memandangnya.

Aren menggenggam tangan kakak tertuanya.

“Aku tidak tahu siapa orang tua kandungmu. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi tujuh belas tahun lalu. Tapi aku tahu satu hal.”

“Apa?”

“Kau kakakku.”

Raka menatapnya lama.

“Kalau ternyata aku memang ditempatkan di keluarga ini untuk mengawasimu?”

Aren menggeleng.

“Kalau begitu, kau punya tujuh belas tahun untuk membuktikan bahwa kau bukan orang seperti yang mereka inginkan. Dan kau sudah membuktikannya setiap hari.”

Bibir Raka bergetar tipis sebelum ia mengalihkan pandangan.

Ia menarik Aren ke dalam pelukan erat.

“Jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi,” bisiknya.

Aren membalas pelukan tersebut.

“Kalau begitu, jangan pernah berpikir bahwa aku akan berhenti menganggapmu kakakku.”

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Lalu ponsel Kian bergetar.

Sebuah pesan baru masuk dari nomor tak dikenal.

KALIAN SALAH MENCARI ORANG TUA RAKA VALERIUS.

Di bawahnya, sebuah foto dilampirkan.

Foto seorang pria berdiri di depan fasilitas bawah tanah. Wajahnya lebih muda, tetapi garis rahangnya sangat mirip dengan Raka.

Di samping pria itu berdiri seorang perempuan yang memiliki mata sama persis dengan Aren.

Kian memperbesar gambar.

Di bagian belakang foto tertulis satu kalimat:

ORANG TUA KANDUNG SUBJEK R-18 MASIH HIDUP. SALAH SATUNYA ADALAH ORANG YANG PALING DIBENCI RAKA VALERIUS.

Raka melepaskan pelukannya dari Aren.

Wajahnya kembali dingin.

Namun, kali ini bukan karena ia ingin menyembunyikan kesedihan.

Ia sedang berusaha menahan amarah.

“Siapa?” tanyanya pelan.

Tidak ada jawaban.

Hingga pesan kedua masuk.

TANYAKAN KEPADA ADRIAN VALERIUS MENGAPA DIA MEMBUNUH IBU KANDUNGMU.

Raka menatap layar.

Lalu perlahan, ia mengangkat wajahnya ke arah kamera tempat Adrian masih terkurung.

“Ayah,” katanya dengan suara yang hampir tidak terdengar.

“Jika pesan itu benar…”

Ia berhenti sejenak, menelan rasa sakit yang terasa menyesakkan tenggorokannya.

“Siapa sebenarnya ibu kandungku?”

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!