Aksi heroik Kapten Fikri Rafisqy ditengah perampokan swalayan berujung duka. Berusaha menyelamatkan seorang anak kecil, Fikri tak sadar peluru maut mengincar nyawanya. Naas, seorang kakek justru mengorbankan diri demi menyelamatkannya. Dalam kondisi kritis dirumah sakit, sang kakek menyampaikan wasiat terakhir: Fikri harus menikahi cucu tunggalnya, Seruni Shafira, gadis penjual bunga kini sebatang kara.
Seruni menolak tegas. Bagaimana mungkin ia harus menikah disaat impian sekolahnya masih membumbung tinggi? Namun demi melunasi utang nyawa dan amanah terakhir, Fikri menerimanya. Didepan ruang ICU, ijab kabul terucap sebelum sang kakek mengembuskan napas terakhirnya.
Kini, kehidupan mereka berubah total. Bisakah Seruni menerima takdir pernikahannya bersama pria yang terpaut jarak usia 12 tahun darinya? Apalagi, Seruni masih bersikeras memanggil suami dengan sebutan "Paman"!
Saksikan kisah cinta penuh liku, aksi menegangkan dan kepolosan Seruni yang meluluhkan hati dingin Kapten Fikri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Ulang Tahun Seorang Diri.
Senin pagi menjelang. Hari ini adalah hari penentuan, hari pertama Ujian Nasional bagi siswa-siswi kelas XII, sekaligus hari spesial bagi Seruni. Seperti yang pernah ia katakan dengan lantang dua hari lalu saat membela suaminya di Balai Desa Tamiang, tepat di hari Senin ini usianya genap 18 tahun.
Di meja makan rumah dinas, Fikri yang duduk berseragam rapi sebenarnya ingat betul hari ulang tahun istri kecilnya. Namun, sang Kapten sengaja berpura-pura lupa dan bersikap biasa saja agar Seruni bisa fokus sepenuhnya pada lembar soal ujian tanpa terdistraksi hal lain.
Usai sarapan cepat, Fikri mengantar Seruni ke SMA Tunas Bangsa menggunakan mobil jip dinasnya. Begitu jip berhenti di depan gerbang sekolah yang mulai ramai, Fikri menoleh menatap Seruni yang sibuk merapikan kartu ujian dan pensil 2B di dalam tempat pensil transparannya.
"Fokuslah ujian," ujar Fikri dengan nada datar yang tegas. "Jangan memikirkan hal lain, terutama toko bunga. Kalau nilai ujian kamu anjlok, apalagi sampai tidak lulus... toko bungamu akan saya ratakan jadi tanah hari itu juga."
Seruni yang sedang mengancingkan tas ranselnya seketika berhenti, lalu memajukan bibir mungilnya beberapa senti dengan raut wajah dongkol.
"Huh! Itu tidak akan pernah terjadi, Paman Kapten!" seru Seruni percaya diri seraya menepuk dadanya bangga. "Secara, Runi ini kan anak pintar dan selalu dapat juara umum! Bahkan Runi dari SMP sampai SMA tidak pernah bayar sekolah karena dapat beasiswa terus saking pintarnya!"
Fikri menyunggingkan senyum tipis, sangat tipis, melihat kesombongan polos dari istrinya yang menggemaskan itu. "Buktikan. Tidak perlu memamerkan yang lalu, tapi buktikan dengan hasil sekarang."
"Oke, siapa takut!" sahut Seruni antusias, matanya berbinar menantang. "Kalau kali ini Runi berhasil dapat nilai tertinggi lagi sekabupaten, apa yang bakal Paman Kapten berikan untuk Runi?"
Fikri menatap lurus mata bulat Seruni. "Apapun yang kamu inginkan, pasti akan aku berikan."
"Benarkah? Apapun itu kan, Paman?" Seruni menyengir jahil, lalu melempar pertanyaan tanpa dosa, "Termasuk kalau Runi minta cerai?"
DEG!
Raut santai di wajah Fikri seketika sirna. Wajah tegas sang Kapten mengeras kaku, matanya memicing tajam menembus manik mata Seruni dengan pendar amarah yang dingin dan pekat. Suasana di dalam kabin jip mendadak berubah sangat mencekam.
"Terkecuali cerai," pangkas Fikri dengan suara rendah dan berat yang bergetar penuh penekanan. "Hal itu tidak akan pernah terjadi, kamu paham? Jadi jangan pernah berpikir konyol seperti itu lagi, Seruni. Karena selamanya aku tidak akan pernah menceraikanmu... terkecuali aku mati."
Seruni tersentak pelan. Melihat perubahan drastis wajah suaminya yang menakutkan, gadis itu langsung mendengus kesal untuk menutupi rasa gugupnya.
"Ihh! Makanya jangan asal berjanji kalau Paman tidak bisa memenuhinya!" gerutu Seruni seraya membuka pintu jip kasar, menyentakkan kakinya ke tanah, dan berjalan masuk gerbang sekolah tanpa menoleh lagi.
Siang harinya, bel panjang tanda berakhirnya hari pertama Ujian Nasional bergema nyaring. Para murid berhamburan keluar kelas dengan wajah lega.
Seruni yang berada di koridor sekolah segera memanggil Cindy dan Juliya. Wajahnya berseri-seri, berharap sahabat-sahabatnya ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Cindy, Juliya! Hari ini kan hari spesial... kalian ada waktu tidak? Aku mau traktir kalian makan bakso di depan!" panggil Seruni riang.
Namun, reaksi kedua sahabatnya justru di luar dugaan. Cindy membetulkan posisi ranselnya seraya mengusap dahi. "Aduh, Runi... maaf banget ya! Aku harus langsung pulang, mau belajar buat ujian besok."
"Iya, Runi, aku juga tidak bisa. Ibuku sudah nunggu di rumah," tambah Juliya terburu-buru. "Kami duluan ya, Runi!"
Kedua sahabatnya melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Seruni yang berdiri mematung di koridor sekolah. Seruni menundukkan kepala, matanya berkaca-kaca menahan rasa sedih yang mendalam. Biasanya, Cindy dan Juliya adalah orang pertama yang membawakan kue atau setidaknya mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Tapi hari ini, semua orang tampak begitu cuek dan lupa.
Dengan langkah kaki yang diseret lelah, Seruni berjalan sendirian menuju gerbang sekolah. Bibir kecilnya bergumam sendu.
"Biasanya kalau ada Kakek... Kakek pasti sudah bangun subuh-subuh buat bikin nasi kuning sama telur dadar iris buat Runi..." bisik Seruni pelan, matanya mulai basah oleh air mata yang menggenang. "Tapi sekarang Kakek sudah tidak ada..."
Saat menyapu pandangan ke luar gerbang, mata Seruni menangkap mobil jip hitam Fikri yang sudah terparkir di bawah pohon. Namun, dari kaca yang terbuka, bukan Fikri yang duduk di kursi kemudi, melainkan Briptu Dimas.
Rasa rindu pada sang Kakek yang membuncah membuat Seruni enggan langsung pulang ke toko bunga. Tanpa memikirkan risiko, Seruni memutar arah tubuhnya, berlari kecil menuju gerbang belakang sekolah, lalu menyambar ojek online yang melintas.
"Pak, ke Pemakaman Umum Taman Asri ya," pintanya pelan.
Tiga puluh menit kemudian, motor ojek berhenti di depan gerbang pemakaman umum. Angin siang bertiup sepoi-sepoi, menembus deretan pohon kamboja yang sepi dan senyap.
Seruni melangkah masuk dengan perasaan agak cemas. Sambil berjalan celingak-celinguk melewati nisan-nisan batu, bibirnya berkomat-kamit polos. "Permisi... Assalamu'alaikum... Saya tidak mengganggu ya, Mbah-Mbah, Om-Om, Tante-Tante sekalian... Saya cuma mau ke makam Kakek saya..."
Setelah menyusuri jalan setapak tanah, Seruni akhirnya menemukan makam Kakek Rahmat. Rumput hijau tumbuh rapi di atas tanah pusara sang Kakek.
Tanpa mampu menahannya lagi, Seruni langsung bersimpuh di samping batu nisan, lalu memeluk batu nisan batu milik Kakeknya. Tangisnya yang ditahan sejak siang akhirnya pecah perlahan.
"Kakek... Runi lagi sedih banget di hari ulang tahun Runi..." isak Seruni seraya mengusap air mata di pipinya. "Hari ini Runi sendirian, Kakek. Runi kangen banget sama nasi kuning buatan Kakek yang selalu Kakek buatkan tiap kali Runi ulang tahun... Kenapa Kakek cepat banget perginya?"
Seruni mengusap rumput basah di atas makam. "Runi jadi sendirian dihari ulang tahun yang sekarang... Walaupun sekarang ada Paman Kapten yang menjaga Runi, tetap saja Runi merasa sendiri... Paman Kapten itu galak banget, Kakek! Suka mengancam mau tutup toko bunga Kakek, terus suka memaksa Runi ikut latihan silat sampai paha Runi pegal semua..."
Di tengah keluh kesahnya yang mengalir polos dan mengharukan di atas makam yang hening, tiba-tiba sebuah suara bariton yang sangat berat, dingin, dan familier terdengar menggelegar persis dari arah belakang punggungnya.
"Benarkah dia galak?"
DEG!
Bulu kuduk di leher Seruni seketika berdiri tegak seratus persen! Sekujur tubuhnya membeku kaku di tempat!
"Iiiihh..." gumam Seruni dengan bibir gemetar hebat, matanya terbelalak ketakutan tanpa berani sedikit pun memutar kepalanya ke belakang. "Kok... kok Runi merinding ya? A-Apakah di belakang ada hantu di siang bolong begini...?"