Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.
Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.
Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror dari Pakde
Pagi hari di tempat kerja, Melisa tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Sejak semalam ia sudah membayangkan akan ia habiskan untuk apa saja gaji yang sebanyak itu dalam sebulan. Dalam satu tahun apa saja yang kira-kira bisa ia beli untuk dipamerkan di sosial medianya. Astaga, ia sampai bermimpi jadi artis terkenal yang menenteng tas-tas mewah berharga fantastis dan mengenakan perhiasan-perhiasan limited edition dari merek-merek ternama.
“Tumben ga lesu, Mel.”
“Iya, lah. Akhir bulan ini ga perlu kasbon nih, Mbak. Pencapaian banget itu.”
Mereka tertawa. Saking seringnya Melisa mengeluh kehabisan uang di tanggal tua seperti ini, hampir semua orang yang bekerja di situ jadi tahu permasalahan yang jadi langganan Melisa untuk dicurhatkan. Apalagi bosnya, kalau sudah tanggal tua begini biasanya akan menghindar jika bertemu atau berpapasan dengan Melisa, takut disuguhi cerita sedih yang ujung-ujungnya adalah rayuan kasbon.
“Sukurlah, Melisa kita akhirnya bisa mengatur keuangannya. Sepertinya ini one step closer menuju Melisa kaya raya.”
Semua orang dalam ruangan tertawa, bahkan Melisa juga.
Ia sudah biasa jadi bahan candaan begini, selama tidak berlebihan dan tidak sampai menyinggung perasaan ia baik-baik saja. Daripada bergosip yang tidak-tidak, kan?
“Iya, nih. Nanti kalau sudah tercapai Melisa Kaya Raya itu, semua orang di sini yang butuh pinjaman pasti aku pinjemin.” Melisa mengatakan itu sambil berdiri dan menunjuk rata semua orang dalam ruangan.
Ia yang paling muda di sini, makanya sering dimaklumi kalau bertingkah konyol seperti ini. Beberapa pekerja yang sudah berumur seperti Mbak Muna dan Pakde Hadi bahkan menganggapnya seperti anak sendiri karena seusia dengan anak bungsunya. Sesekali mereka menasihati kalau tingkah laku Melisa dirasa kelewatan, Melisa pun legowo jika dinasihati. Jadi, hubungan mereka tetap hangat.
“Sudah, sudah. Ayo dibereskan dulu ini, sebentar lagi mobil jemputan paket akan datang.” Ketua tim pengemasan mengingatkan anggotanya.
“Siap, bos.”
Semua orang patuh. Meskipun masih ada beberapa celetukan yang keluar sepanjang mereka mengemas pesanan.
Sambil bekerja, Melisa sesekali melihat wajah orang-orang di sana, suasana hangat ini mungkin suatu saat nanti akan ia rindukan. Bagaimanapun, ia tumbuh dalam keluarga ini. Sejak lulus SMA dan ibunya meninggal, Melisa diterima bekerja di sini. Saat awal bekerja ia tidak tahu apa-apa, banyak perkerjaannya yang salah, bahkan beberapa komplain berkalimat buruk dari customer masuk karena pesanan yang sampai di alamat mereka tidak sesuai ketentuan resi, tapi tidak ada yang menyudutkannya.
Mereka menasihatinya dan membesarkan hatinya agar tidak menyerah, kadang seseorang memang melakukan kesalahan saat masih belajar.
Mengingat itu semua dan melihat suasana kekeluargaan yang hangat di sini Melisa jadi ingin menangis, tapi malu. Ia belum mengatakan pada siapapun tentang rencana resignnya itu.
Akhir bulan nanti setelah gajian, ia mungkin akan berpamitan kepada bosnya dan memberitahu semua yang ada di sini. Membayangkannya saja hati Melisa sudah merasa sedih. Ia sambil selalu berharap semoga menemukan suasan yang seperti ini juga di tempat kerja yang baru nanti.
...
Siang hari Melisa terbangun karena suara dering telepon beberapa kali terdengar cukup mengganggu.
“Halo.” Melisa lupa mengecek nomor siapa yang menghubunginya itu.
“Halo, Mel. Kamu tinggal di mana sekarang? Pakde jemput ya, pulang ke rumah. Di sini semua merindukanmu.” Suara di seberang telepon itu Melisa hafal betul suara siapa. Yang tidak bisa ia duga adalah dari mana orang itu bisa mengetahui nomornya.
“Maaf, Pakde. Aku lagi kerja. Nanti aku hubungi lagi, ya.” Ia memutuskan sambungan telepon itu sepihak lalu memblokir nomor Pakdenya.
Setelah sekian lama hidup damai di kota orang, kenapa harus ada lagi drama rayuan pulang seperti tadi. Mereka bukan merindukan Melisa sebagai keponakan, hanya butuh tenaga bantuan gratis untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan bantu-bantu di toko.
Dulu, Melisa mau-mau saja karena menganggap bantuan-bantuan yang ia berikan sebagai balas budi pada keluarga Pakde karena sudah menampungnya. Lama-lama mereka semakin semena-mena, bahkan sampai berniat menikahkan Melisa dengan juragan tua di sana sebagai tebusan hutang. Yang berhutang siapa yang diumpankan siapa.
Teleponnya berbunyi lagi. Nomor baru.
“Mel, Pakde minta maaf. Dulu itu khilaf, Mel.”
Melisa mengembuskan napas pelan. Bahunya ia biarkan menggantung tanda pasrah. Ia akan coba dengarkan dulu apa yang sebenarnya mau disampaikan oleh Pak Tua itu agar tidak terus meneror nomornya.
“Iya. Sudah aku maafkan, Pakde. Sekarang maunya apa? Kalau harus pulang, aku tidak mau. Aku punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja di sini.” Melisa menahan emosinya, kejadian-kejadian kurang menyenangkan mendadak bermunculan di ingatannya sejak telepon pertama dari Pakde tadi. Hatinya jadi sesak, ia tidak tahu harus bagaimana membuang semua kenangan buruk itu agar tidak pernah muncul seperti ini lagi selamanya.
“Kami butuh cap jempol kamu untuk membagi warisan kakek, Mel. Pakde benar-benar butuh untuk biaya kuliah anak Pakde dan beli obat-obatan untuk perawatan budemu. Apa kamu sudah tidak menganggap kami saudara lagi, Mel?”
Alasan klasik, sejak lama selalu itu yang mereka minta. Padahal tanah dan warisan itu bukan punya kakek, tapi sudah masuk bagian ibu Melisa.
“Kapan-kapan aku akan coba mengajukan cuti biar bisa pulang ke rumah kalian sebentar, ya. Kalau harus langsung hari ini, maaf, aku tidak bisa.”
Melisa bernapas dengan perasaan yang berat. Ia memijat pelipisnya, kepalanya jadi ikut pusing memikirkan ini semua. Pertanyaan ‘kenapa keluarganya sendiri justru tidak terasa seperti keluarga baginya’ selalu menghantuinya selama ini.
Telepon terputus. Kali ini Pakde yang memutuskan sambungan lebih dulu tanpa basa-basi menanyakan kabar dirinya di perantauan atau setidaknya penutup percakapan khas orang dewasa kepada keluarga yang lebih muda.
Baiklah, itu sudah biasa. Melisa melihat jarum jam. Masih jam dua, ada waktu sedikit lagi untuk meredakan sakit kepalanya sebelum nanti berangkat ke tempat yang ditunjukkan Bu Inggit untuk fitting seragam kerja baru. Mengingat Bu Inggit hatinya agak sedikit lega, masih ada porsi kebahagiaan yang Tuhan kirimkan padanya melalui keluarga kaya itu.
Melisa menarik selimutnya lagi. Ia bersiap tidur setelah mengatur alarm agar tidak terlambat bangun nanti.
Baru saja ia hampir terlelap, teleponnya berdering lagi.
“Astaga, apalagi sih? Sudah dibilang Melisa lagi kerja ga bisa diganggu-ganggu terus,” ocehnya cepat. Ia geram sekali.
“Ini Maya, Mbak.”
“Hah?” Melisa gelagapan, ia membentak orang yang salah. Untung cuma Maya, setidaknya posisi mereka setara, sama-sama karyawan. Kalau tadi Bu Inggit yang menelepon bisa batal dia mencicipi fasilitas orang kaya di tempat kerja barunya nanti.
“Maaf kalau mengganggu, Mbak. Saya cuma diminta Bu Inggit untuk ngasih tahu Mbak Melisa, nanti dijemput pakai mobil Ibu, jadi tidak usah pesan ojek atau apapun. Sudah gitu aja, Mbak. Sekali lagi maaf banget kalo ganggu siang-siang begini.”
Mati. Melisa menepuk dahinya, menyesal. Harusnya ia lihat dulu tadi itu nomor siapa yang menghubunginya, malah langsung ngomel panjang lebar, salah sasaran kan jadinya.