【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26- Jarak, Ego , dan Pelarian Sesaat
Melihat Nara jalan dan jadian sama Riski adalah pukulan paling telak yang pernah kuhadapi di masa SMA. Untuk menyelamatkan harga diri dan meredakan rasa sakit di dada, aku mengambil keputusan tegas: membuka jarak selebar-lebarnya dari Nara.
Aku tidak lagi menyapa Nara duluan, tidak lagi menunggunya di selasar, dan sama sekali tidak menawarkan bantuan apa pun. Setiap kali tidak sengaja berpapasan di ruang kelas X IPA 2, aku memilih membuang muka atau pura-pura sibuk mengobrol dengan Diko.
Apalagi dari penglihatanku dan anak-anak sekelas, hubungan Nara dan Riski kelihatan sangat baik-baik saja. Riski sering membawakan makanan, mengantarnya pulang, dan mereka kelihatan akrab tanpa ada masalah sedikit pun. Melihat kenyataan itu, ada rasa panas, kesal, dan amarah yang membuat egoku membumbung tinggi.
Kalau dia bisa bahagia sama orang lain dengan mudah, kenapa aku harus terus-terusan meratapi patah hati ini? pikirku saat itu.
Di tengah gejolak ego dan amarah yang tak tertampung itu, perhatianku teralih pada sosok cewek di kelas kami bernama Wulan. Wulan adalah cewek yang ramah, manis, dan sejak awal aku sudah tahu dari Diko kalau Wulan sebenarnya memendam rasa suka padaku.
Hari Rabu jam istirahat kedua, saat suasana kelas sepi dan Nara sedang keluar bersama Riski, egoku yang sedang memuncak mendorongku mengambil langkah nekat yang sangat konyol.
Aku menghampiri meja Wulan di barisan samping.
"Lan," panggilku santai.
Wulan mendongak, matanya berbinar kaget melihatku mendatangi mejanya. "Eh, Satria. Ada apa, Sat?"
Aku menyunggingkan senyum tipis—senyum yang lahir dari dorongan ego dan pelarian rasa sakit hati semata. Aku tahu persis kalau aku menembaknya sekarang, dia pasti bakal menerima tanpa ragu.
"Kamu mau gak jadi pacarku, Lan?" tanyaku langsung tanpa basa-basi.
Wulan terpaku kaget. Wajahnya mendadak merah padam, matanya membelalak tak percaya mendengar tembakan mendadak itu.
"Beneran, Sat?! Kamu gak bercanda kan?" tanya Wulan dengan suara gemetar gembira.
"Beneran, Lan. Aku serius," balasku.
Tanpa perlu berpikir panjang, Wulan menganggukkan kepalanya dengan cepat dan tersenyum lebar. "Aku mau, Sat! Aku mau jadi pacarmu!"
Kabar aku jadian sama Wulan langsung menyebar di kelas X IPA 2. Namun, bukannya merasa puas atau berhasil membuktikan sesuatu pada Nara, perasaan di dalam dadaku justru makin berantakan.
Keputusan yang kubuat berdasarkan ego dan emosi itu ternyata menjadi kesalahan terbesar.
Baru berjalan tiga hari pacaran sama Wulan, rasa bersalah yang amat sangat mulai menghimpit dadaku. Setiap kali jalan atau mengobrol sama Wulan, hatiku terasa hampa total. Tidak ada getaran, tidak ada rasa nyaman, dan tidak ada rasa suka sedikit pun. Aku sadar, aku cuma memanfaatkan kebaikan Wulan buat melampiaskan rasa sakit hatiku pada Nara. Dan itu adalah perbuatan yang sangat tidak bertanggung jawab.
Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, apalagi membohongi perasaan cewek lain yang tulus.
Hari kelima pacaran, aku mengajak Wulan berbicara jujur di dekat selasar belakang sekolah.
"Lan... maafin aku ya," kataku pelan, menatap matanya dengan raut penuh penyesalan.
Wulan yang tadinya tersenyum mendadak bingung. "Maaf buat apa, Sat?"
Aku menarik napas panjang, mengakui kesalahanku secara lugas. "Kita gak bisa lanjutin hubungan ini, Lan. Kita putus ya."
Wulan shock berat, air matanya langsung menetes pelan. "Kenapa, Sat? Aku ada salah ya sama kamu? Kok mendadak banget baru beberapa hari?"
"Kamu gak ada salah sama sekali, Lan. Yang salah itu aku," jawabku tulus dan jujur. "Aku maksa pacaran sama kamu cuma gara-gara egoku lagi tinggi. Tapi aku sadar ini salah. Aku gak ada rasa apa-apa sama kamu, dan aku gak mau makin melukai kamu kalau kita lanjutin."
Wulan menyeka air matanya, menatapku dengan kekecewaan mendalam, tapi dia cukup dewasa buat memahami kalau perasaanku memang tidak bisa dipaksakan. Keputusan itu tuntas dalam waktu tidak sampai seminggu. Aku kembali sendiri, membawa penyesalan atas keputusanku yang impulsif, sembari terus menjaga jarak dari Nara.
Sore harinya di atas matras silat aula bawah, aku meluapkan seluruh kekacauan pikiran dan penyesalanku dalam sesi sparing bersama teman-teman tim silat dari jam tiga sore sampai jam enam sore.
Mas Teguh memperhatikan caraku tanding yang sangat emosional.
"Fokus, Satria! Jangan biarkan emosimu mengendalikan gerakanmu!" tegur Mas Teguh keras.
"Siap, Mas!" sahutku sambil menyapu keringat di dahi.
Pukul enam sore lewat sedikit, usai mandi di ruang ganti, aku berjalan sendirian keluar menuju gerbang sekolah yang mulai sepi diiringi rintik gerimis sore.
Dari kejauhan di bangku semen parkiran, aku melihat Nara sedang berjalan sendirian menuju gerbang. Di mata semua orang—termasuk mataku saat itu—hubungannya sama Riski masih kelihatan mulus-mulus saja. Aku tidak pernah tahu bahwa di balik keharmonisan yang kelihatan di permukaan itu, kelak Nara bakal menceritakan kenyataan pahit padaku bahwa hubungan mereka sebenarnya hancur karena hadirnya orang ketiga.
Tapi sore itu, aku memilih tetap diam dan mempertahankan jarak. Aku melangkah melewatinya begitu saja tanpa menyapa, membiarkan gerimis sore membasahi langkahku.
Aku harus menata ulang hatiku yang berantakan, membersihkan sisa-sisa ego, dan fokus total pada kejuaraan silat di depan mata. Karena aku percaya, apa pun yang ditakdirkan buatku, tidak akan pernah tertukar.