Setiap hari aku difitnah mertuaku.
_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_
Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.
_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_
Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.
_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_
Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.
Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.
Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?
Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌
Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 Memantapkan Hati
Malam itu kebun mangga terasa begitu sunyi. Hanya suara jangkrik dan desir angin yang terdengar.
Setelah kepergian Arman sore tadi, rumah kecil di pojok kebun itu terasa jauh lebih sepi. Nisa dan Raffi sudah tertidur pulas di atas kasur tipis mereka, wajah mereka terlihat damai. Tapi Alya tidak bisa memejamkan matanya sama sekali.
Kata-kata yang ia ucapkan sore tadi terus terngiang di kepalanya sendiri.
"Ceraikan aku, Man."
Ia sendiri terkejut bisa mengucapkan kalimat seberat itu. Selama lima tahun ia selalu bertahan, selalu mengalah, selalu memaafkan. Tapi sore tadi, melihat Arman datang dengan wajah memelas, ia justru merasa hatinya sudah tidak sanggup lagi untuk kembali.
Alya bangun, mengambil air wudhu, lalu berjalan pelan ke rumah besar Ustadzah Munah. Lampu teras rumah besar itu masih menyala.
"Assalamualaikum, Bu..." sapa Alya dengan suara pelan.
Ustadzah Munah yang sedang membaca Al-Quran di ruang tengah langsung menoleh.
"Waalaikumsalam, Nak Alya. Masuk, Nak. Belum tidur?"
Alya duduk di lantai berhadapan dengan Ustadzah Munah. Wajahnya terlihat gelisah, matanya sembab.
"Bu, Alya tidak bisa tidur, Bu. Pikiran Alya tidak tenang setelah Arman datang tadi sore."
Ustadzah Munah menutup Al-Qurannya dengan lembut, lalu menggenggam tangan Alya yang dingin.
"Ceritakan pada Ibu, Nak. Apa yang membuat hati kamu tidak tenang?"
Alya menarik napas panjang.
"Bu, tadi sore Alya minta cerai sama Arman. Alya minta dia menceraikan Alya. Tapi setelah Alya mengucapkan itu, hati Alya jadi tidak tenang, Bu. Apakah Alya salah, Bu? Apakah Alya berdosa karena sudah meminta cerai dari suami sendiri? Apakah Alya termasuk istri durhaka, Bu?"
Air mata Alya jatuh menetes ke atas tangannya.
Ustadzah Munah menatap Alya dengan tatapan penuh kasih sayang seorang ibu. Ia mengelus punggung Alya dengan lembut.
"Nak Alya, dengarkan Ibu baik-baik ya. Dalam agama kita, perceraian itu memang perkara yang paling dibenci oleh Allah, tapi Allah memperbolehkannya, Nak. Allah Maha Tahu, kadang ada rumah tangga yang jika dipertahankan justru akan membawa lebih banyak mudharat, lebih banyak luka, lebih banyak air mata, terutama untuk anak-anak."
Alya mengangkat wajahnya.
"Tapi Bu, Alya takut, Bu."
"Nak, yang disebut istri durhaka itu adalah istri yang meninggalkan suami yang baik, suami yang bertanggung jawab, suami yang melindungi. Kamu tidak seperti itu, Nak. Ibu melihat sendiri bagaimana kamu bertahan selama lima tahun. Kamu sudah bersabar luar biasa, Nak. Kamu sudah memaafkan berkali-kali. Kamu dimaki, kamu dihina, bahkan anakmu didorong sampai jatuh, kamu tetap bertahan. Itu bukan durhaka, Nak, itu adalah kesabaran yang sudah melampaui batas."
Alya terisak semakin kencang.
"Jadi Alya tidak salah, Bu, kalau Alya ingin berpisah?"
"Kamu tidak salah, Nak. Jika memang bertahan membuat hatimu hancur dan membuat anak-anakmu hidup dalam ketakutan setiap hari, maka berpisah adalah jalan untuk menyelamatkan. Allah itu Maha Penyayang, Nak. Allah tidak ingin melihat hamba-Nya tersiksa terus-menerus di dalam rumahnya sendiri. Rumah tangga itu seharusnya menjadi tempat yang paling aman, bukan tempat yang paling menakutkan."
Mendengar kalimat itu, dada Alya terasa sedikit lebih lega.
"Lalu Alya harus bagaimana, Bu?"
Ustadzah Munah tersenyum lembut.
"Jika kamu masih ragu, lakukanlah sholat istikharah, Nak. Minta petunjuk langsung kepada Allah. Ceritakan semua kegelisahanmu di atas sajadah. Biar Allah yang menunjukkan jalan terbaik untuk kamu. Jika setelah istikharah hati kamu mantap untuk berpisah, berarti itu memang jalan dari Allah. Jika hati kamu masih ragu, berarti Allah masih memberi waktu untuk berpikir."
Malam itu juga, setelah kembali ke rumah kecilnya, Alya mengambil air wudhu lagi.
Di atas sajadah tipis yang sudah agak usang, ia melaksanakan sholat istikharah dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. Ia menumpahkan semua lelahnya selama lima tahun dalam sujudnya yang panjang.
"Ya Allah, Ya Tuhanku, hamba sudah lelah, Ya Allah. Jika perceraian ini adalah jalan terbaik untuk hamba dan untuk Nisa dan Raffi, maka mantapkanlah hati hamba dan mudahkanlah jalan hamba. Jika Arman masih jodoh hamba, maka lembutkanlah hati hamba untuk memaafkan dan melupakan semua luka ini. Tunjukkanlah jalan-Mu, Ya Allah, hamba pasrah kepada-Mu."
Dua hari berlalu setelah malam istikharah pertama itu.
Selama dua hari itu, Alya tidak pernah melewatkan sholat istikharah setiap malam. Dan ajaibnya, semakin hari ia melaksanakan sholat itu, hatinya justru semakin tenang, semakin mantap, semakin yakin.
Ia melihat Nisa yang sekarang tertawa lepas setiap hari tanpa rasa takut. Ia melihat Raffi yang badannya semakin gemuk dan sehat karena bisa minum susu setiap hari. Ia melihat tabungan di kaleng bekas biskuitnya yang semakin bertambah dari gaji kebun.
Hatinya berkata, inilah kebahagiaan yang ia cari selama ini.
Di sore hari kedua, setelah memandikan Nisa dan Raffi, Alya kembali datang ke rumah besar Ustadzah Munah.
"Bu, boleh Alya bicara lagi, Bu?" ucap Alya. Kali ini wajahnya terlihat lebih tenang, tidak segelisah dua hari yang lalu.
"Tentu, Nak. Duduk sini," jawab Ustadzah Munah.
"Bu, dua hari ini Alya sudah istikharah, Bu. Setiap malam Alya minta petunjuk sama Allah. Dan hati Alya semakin mantap, Bu. Alya semakin yakin ingin berpisah, Bu. Alya tidak ragu lagi. Alya ingin hidup tenang bersama anak-anak Alya di sini, Bu. Alya ingin fokus membesarkan Nisa dan Raffi tanpa harus takut lagi."
Ustadzah Munah menatap wajah Alya yang kini terlihat tegar.
"Alhamdulillah, Nak. Jika hati kamu sudah mantap setelah istikharah, berarti itu memang petunjuk dari Allah. Ibu mendukung keputusan kamu, Nak."
"Terima kasih, Bu," Alya menangis haru.
Ustadzah Munah kemudian berdiri dan mengambil telepon genggamnya.
"Kalau kamu sudah benar-benar yakin, Ibu akan minta tolong seseorang untuk mendampingi kamu mengurus berkas ke pengadilan. Kamu tidak usah takut, Nak. Kamu tidak sendirian. Ada Ibu di sini."
Ustadzah Munah kemudian menghubungi seseorang. Tidak lama kemudian, ia berkata kepada Alya.
"Nak, besok pagi Mbak Rina akan datang ke sini. Beliau adalah pengacara perempuan yang biasa membantu perempuan-perempuan yang tidak mampu. Beliau kenalan baik Ibu. Beliau orangnya baik dan tegas. Biar beliau yang bantu kamu mengurus berkas gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Kamu tinggal ceritakan saja apa adanya kepada beliau."
Mendengar itu, Alya langsung memeluk Ustadzah Munah dengan erat.
"Terima kasih banyak, Bu. Alya tidak tahu harus membalas kebaikan Ibu seperti apa, Bu."
Ustadzah Munah mengelus kepala Alya.
"Kamu tidak perlu membalas apa-apa, Nak. Cukup jadi ibu yang kuat untuk Nisa dan Raffi. Itu sudah cukup untuk Ibu."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah dua hari gelisah, Alya bisa tidur dengan nyenyak. Di dalam hatinya sudah tidak ada lagi keraguan. Ia sudah mendapatkan petunjuk dari Allah melalui istikharah, dan ia sudah mendapatkan dukungan dari orang yang ia anggap sebagai ibunya sendiri.
Langkah baru untuk hidup barunya akan segera dimulai besok pagi.
Bersambung...