NovelToon NovelToon
Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Reinkarnasi / Dunia Lain
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.

Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.

Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 - GERBANG TANPA PENANDA

Roda gerobak berhenti dengan hentakan yang membangunkan Lin Feng.

Ia tidak tahu kapan tertidur. Punggungnya pegal dan rusuknya terasa kaku, tetapi rasa sakitnya tidak bertambah parah. Di balik kain terpal, suara pedagang memeriksa tali muatan bercampur dengan panggilan orang-orang di jalan.

“Sudah sampai?” tanya Lin.

“Belum. Kita antre di gerbang.”

Lin menyingkap sedikit terpal. Sebuah tembok kelabu menjulang di hadapannya. Di atasnya berkibar panji biru dengan lambang awan putih. Gerbang timur berdiri di antara dua menara penjaga. Orang, gerobak, dan hewan bergerak melalui jalur yang dibagi menjadi beberapa baris.

Ia pernah melihatnya.

Dalam Eternal Heaven Online, gerbang itu menjadi titik masuk bagi pemain pemula. Ia hafal bentuk menaranya dari puluhan kali keluar masuk, juga posisi pasar kecil di dekat jalan selatan. Namun dari bawah, temboknya tampak lebih tinggi dan lebih tua. Batu-batunya tidak tersusun sempurna. Beberapa bagian ditambal dengan jenis batu berbeda. Panji di atas gerbang bukan sekadar penanda lokasi; kainnya kusam oleh hujan dan berkibar berat dalam angin.

Lin Feng menurunkan terpal.

“Kenapa menutupnya?” tanya pedagang.

“Aku ingin melihat dari depan.”

“Kalau begitu, nanti setelah kita lolos pemeriksaan. Jangan sampai jatuh dari gerobak karena terlalu sibuk memandangi batu.”

Gerobak bergerak sedikit demi sedikit. Penjaga memeriksa muatan, bertanya asal dagangan, lalu memastikan pedagang memiliki izin. Ketika tiba giliran mereka, seorang petugas berseragam gelap memeriksa keranjang tanah liat milik penumpang lain dengan hati-hati.

“Keperluanmu di kota?” tanyanya kepada Lin Feng.

“Mencari pekerjaan.”

“Punya surat pengantar?”

“Tidak.”

Penjaga memandang pakaian sederhana Lin, lalu menoleh kepada pedagang. “Dia ikut rombonganmu?”

“Penumpang. Sudah bayar sampai gerbang.”

Penjaga itu mengamati bungkusan Lin. “Bawa senjata?”

“Tidak.”

“Kalau tidak membawa barang terlarang, lewat jalur kanan. Jangan menghalangi gerobak.”

Tak ada biaya tambahan. Penjaga tidak tertarik pada kisah hidupnya, hanya ingin menjaga arus masuk kota tetap berjalan. Lin Feng turun dari gerobak setelah roda melewati gerbang. Ia berdiri sebentar, memberi jalan kepada kereta berikutnya, lalu memandang jalan lebar yang terbentang di balik tembok.

Azure Cloud City.

Tidak ada tulisan yang menyatakan namanya di udara. Tidak ada peta yang muncul di sudut pandang. Ada papan batu di dekat pos jaga, penuh aksara dan pengumuman yang tidak sempat ia baca karena orang-orang terus lewat.

Kota itu tidak terasa seperti tempat yang disiapkan untuknya. Pedagang membongkar muatan, pembawa barang memanggil pelanggan, dan beberapa anak berlari di sela roda. Seorang perempuan menegur seorang penjaga toko karena timbangannya kurang. Di atas atap, seseorang menggantung kain basah sampai air menetes ke jalan.

Pedagang mulai menurunkan barang. “Aku berhenti di sini. Kalau kau mencari pasar obat, tanya setelah melewati kanal kecil. Ada banyak pasar di kota ini.”

“Terima kasih sudah membawaku.”

“Jangan berterima kasih. Kau sudah membayar.” Ia menunjuk dua karung yang harus dipindahkan. “Kalau mau membantu, angkat yang itu ke gerobak tangan. Jangan sentuh mangkuk lelaki tadi.”

Lin Feng mengikuti arah jarinya. Karung itu lebih ringan daripada yang tampak, tetapi ia tetap mengangkatnya dengan hati-hati agar rusuknya tidak tertarik. Ia memindahkannya ke gerobak tangan tanpa menjatuhkan apa pun. Pedagang memeriksa ikatannya dan mengangguk singkat.

“Sudah. Cari jalanmu.”

Penumpang lain berpamitan dan menyusuri jalan yang berbeda. Ia membawa keranjangnya menuju gang sempit, mungkin ke rumah singgah tempat saudara-saudaranya menunggu. Lin Feng tidak sempat bertanya lebih jauh. Kota telah menelan mereka ke dalam keramaian.

Ia mengeluarkan peta buatan tangan. Garisnya menunjukkan gerbang di sisi timur dan kanal yang mengarah ke bagian tengah kota. Peta itu kecil, tetapi setidaknya memperlihatkan nama jalan utama. Ia mencoba mencocokkannya dengan ingatan game. Posisi kanal sesuai, tetapi jalan di sekitarnya tidak. Ada tambahan gang dan kios yang tidak pernah tercantum di peta pemain.

Ia melipat kertas itu. Tidak ada gunanya berdiri di tengah jalan sambil berharap arah muncul sendiri.

“Maaf,” katanya kepada seorang lelaki yang sedang menata keranjang buah. “Pasar bahan obat lewat mana?”

Lelaki itu menunjuk ke arah jalan berkanal. “Ikuti air sampai jembatan batu. Setelah itu tanya lagi. Pasar besar ada di sana, tapi kios bahan obat tersebar.”

“Terima kasih.”

“Kalau mau mengantar barang, cari orang yang membawa papan kuning. Mereka biasanya menyewa tenaga harian. Jangan membayar untuk daftar nama sebelum melihat pekerjaannya.”

Lin Feng mengangguk. Nasihat yang sama seperti ayahnya, tetapi datang dari seseorang yang tak mengenalnya dan tidak mendapat apa-apa dengan memberikannya. Ia mengingat wajah lelaki itu dan melanjutkan perjalanan.

Jalan berkanal menurun perlahan. Airnya keruh kehijauan, dipenuhi daun dan serpihan kayu. Toko-toko berdiri rapat di kedua sisi. Di antara kain, alat dapur, dan hasil bumi, ia melihat lambang tungku pada sebuah bangunan besar di kejauhan.

Asosiasi alkemis.

Ia mengenali bentuk lambang itu dari game: tungku tiga kaki dengan garis api di atasnya. Namun bangunannya lebih sederhana daripada yang ia bayangkan. Dindingnya berwarna tanah liat, dan halaman depannya dipenuhi orang yang menunggu giliran masuk. Ada yang membawa kotak kayu, ada pula yang berbicara dengan penjaga pintu. Lin Feng tidak mencoba bergabung. Ia belum memiliki resep, bahan, atau bukti bahwa ia mampu melakukan apa pun selain mengingat nama-nama dari layar.

Di dekat jembatan batu, ia bertanya kepada penjual air tentang penginapan murah. Lelaki itu menunjuk sebuah rumah panjang di belakang kios beras. “Tempat tidur bersama. Satu keping semalam. Makan beli sendiri.”

Dua keping yang tersisa terasa lebih ringan ketika ia mengeluarkannya. Ia membayar satu keping untuk tempat tidur di ruang bersama dan menggunakan satu lagi untuk semangkuk sup serta sedikit roti. Kini ia tidak memiliki uang.

Pemilik penginapan menulis namanya di buku tipis. “Lin Feng dari mana?”

“Dusun Sungai Abu.”

“Kerja?”

“Belum dapat.”

“Kalau begitu, jangan menempati ranjang orang yang sudah bayar besok.”

Lin Feng mengangguk. Ia diberi alas tidur di dekat dinding. Ruangan itu berbau kayu lembap dan minyak lampu. Seorang buruh tidur sambil memeluk kantong pakaiannya; dua pedagang berbisik tentang harga kain. Tak seorang pun memperhatikan Lin cukup lama untuk bertanya siapa dirinya.

Ia berbaring dan menatap balok-balok atap.

Gerbang yang ia kenal dari game benar-benar ada. Tetapi jalur yang ia lewati berbeda, orang-orangnya punya urusan sendiri, dan asosiasi alkemis tidak menawarkan tempat bagi siapa pun yang sekadar mengingat resep.

Besok pagi, ia harus menemukan pekerjaan atau kehilangan tempat tidur.

Untuk pertama kalinya, peta kota tidak menunjukkan jalan keluar. Ia harus mencari dengan bertanya, mendengar, dan menerima bahwa seseorang bisa saja tidak menjawab.

1
Uranenantios
Enaknya sehari up berapa bab ya?
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!