NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 - Nyai Maryam Menjadi Jembatan

Kalau Kiai Hasyim itu dindingnya, Nyai Maryam itu pintunya.

Dinding itu keras, tegas, menjaga wibawa. Pintu itu yang membuat orang bisa masuk, bisa keluar, bisa bernapas.

Setelah kejadian Jay dengan Kiai Hasyim di ndalem sore itu, Nyai Maryam tahu, yang retak bukan hanya hubungan ayah dan anak, tapi juga hati satu santriwati pendiam yang tidak tahu apa-apa tapi jadi sasaran gosip.

Makanya malam itu, habis Isya, Nyai Maryam menyuruh santri ndalem memanggil Muthi'ah.

"Mbak, dipanggil Nyai di ndalem. Sendirian saja," kata santri ndalem itu pelan.

Muthi'ah yang lagi di kamar, lagi murajaah, langsung kaget.

Dina langsung panik, "Muth, kenapa?"

Zahra juga khawatir, "Jangan takut. Nyai Maryam orangnya lembut."

Muthi'ah dengan jantung berdegup kencang, memakai jilbab rapi, berjalan ke ndalem. Sepanjang jalan pikirannya ke mana-mana.

Ndalemnya Kiai Hasyim itu rumahnya hangat. Lampunya kuning, bau kayu. Nyai Maryam sudah menunggu di ruang tengah, duduk di karpet, di depannya ada teh hangat dan toples kurma.

"Muthi'ah, sini Nak, duduk," kata Nyai Maryam lembut.

Muthi'ah mencium tangan, duduk dengan jarak, menunduk.

"Inggih, Nyai," jawabnya pelan.

Nyai Maryam tidak langsung membicarakan gosip atau perjodohan. Dia malah menyodorkan teh.

"Minum dulu. Tadi habis mengaji ya?"

Muthi'ah mengangguk, "Sedikit, Nyai."

Hening sebentar.

"Nyai dengar kamu dapat surat tidak enak di kelas ya? Zahra tadi pagi cerita ke Ustazah Khadijah, Ustazah yang cerita ke Nyai," tanya Nyai akhirnya, pelan.

Muthi'ah kaget. Ternyata sudah sampai ke Nyai. Dia menunduk makin dalam.

"Inggih, Nyai," jawabnya kecil.

"Kamu tidak usah jawab kalau tidak mau. Nyai hanya mau bilang, Nyai tahu rasanya," kata Nyai Maryam.

Muthi'ah mengangkat kepala sedikit, bingung.

Nyai Maryam tersenyum, lalu bercerita.

"Dulu, waktu Nyai seumuran kamu, Nyai juga dijodohkan. Sama Kiai Hasyim. Nyai tidak kenal beliau. Tiba-tiba bapak Nyai bilang, 'Maryam, kamu mau ya nikah sama Hasyim'. Nyai kaget. Nangis seminggu. Tidak mau makan. Soalnya Nyai ingin lanjut sekolah, ingin jadi guru, tidak mau nikah dulu," kata Nyai Maryam.

Muthi'ah mendengarkan serius. Baru kali ini ada orang dewasa yang bercerita kalau dia juga pernah merasakan takut yang sama.

"Terus gimana, Nyai?" tanya Muthi'ah pelan.

"Ya takut. Sama seperti kamu. Takut masa depan ditentukan orang lain. Takut tidak bisa jadi diri sendiri lagi. Rasanya campur aduk, ya kan?" kata Nyai Maryam, menebak perasaan Muthi'ah dengan tepat.

Muthi'ah mengangguk, air matanya jatuh. Akhirnya ada yang mengerti.

"Iya, Nyai. Saya... saya takut," bisik Muthi'ah.

Nyai Maryam mengelus punggung Muthi'ah pelan.

"Nyai mengerti, Nak. Makanya malam ini Nyai memanggil kamu bukan sebagai calon menantu. Nyai memanggil kamu sebagai santri Nyai. Sebagai Muthi'ah Azzahra, santriwati berprestasi yang Nyai bangga. Bukan sebagai 'calon istrinya Jay'," kata Nyai Maryam.

Muthi'ah menangis pelan. Dipanggil sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai embel-embel orang lain, rasanya lega sekali.

"Nyai mau bilang, soal janji perjodohan itu... itu janji dua bapak-bapak yang lagi akrab. Niatnya baik, ingin menyatukan dua keluarga yang saling menghormati. Tapi Nyai sadar, janji itu membuat kamu dan Jay jadi korban. Kalian yang harus menanggung gosip. Itu tidak adil buat kalian," lanjut Nyai Maryam.

Muthi'ah mengusap air matanya.

"Jay kemarin sudah bicara dengan Abi-nya. Dia bilang dia tidak mau kamu terluka karena janji itu. Dan malam ini, Nyai mau bilang hal yang sama ke kamu," kata Nyai Maryam.

"Nyai janji, Nyai tidak akan memaksa kamu menikah dengan Jay. Kalau kamu butuh waktu untuk kuliah, untuk jadi guru bahasa Arab seperti cita-cita kamu, Nyai dukung. Kalau kamu butuh kenal Jay pelan-pelan dulu, Nyai dukung. Kalau nanti kamu bilang 'Nyai, saya belum siap', Nyai yang akan bantu bicara pelan-pelan dengan Kiai dan dengan bapakmu. Nyai yang akan jadi jembatan. Bukan yang memaksa," kata Nyai Maryam, suaranya mantap.

Muthi'ah tidak bisa menahan tangis lagi.

"Syukron, Nyai... syukron," kata Muthi'ah terbata-bata.

Nyai Maryam tersenyum, lalu mengambil sesuatu dari sampingnya. Sebuah mushaf kecil, se-telapak tangan, sampulnya hijau beludru, masih baru.

"Ini buat kamu, Nak. Nyai dapat ini waktu dulu mondok, dari guru Nyai. Katanya, kalau lagi takut, pegang mushaf ini, baca satu ayat saja, insyaAllah hatinya tenang. Nyai kasih ke kamu sekarang. Biar kamu ingat, kamu punya Allah yang menjaga kamu," kata Nyai Maryam.

Muthi'ah menerima dengan dua tangan, hati-hati sekali.

"MasyaAllah, bagus sekali, Nyai. Tapi... saya tidak enak menerima," kata Muthi'ah.

"Ambil. Anggap saja dari ibu ke anaknya. Bukan dari calon mertua ke calon menantu," jawab Nyai Maryam, bercanda sedikit.

Muthi'ah tertawa kecil di sela tangisnya.

Pas Muthi'ah pamit mau balik ke asrama, Nyai Maryam berpesan satu hal lagi.

"Muthi'ah, kalau nanti ada yang mengganggu kamu lagi, surat-surat tidak jelas lagi, langsung ke Nyai ya. Jangan dipendam sendiri. Nyai di sini. Ya?"

Muthi'ah mengangguk, mencium tangan Nyai Maryam lama.

Keluar dari ndalem, angin malam Darul Hikmah dingin, tapi hati Muthi'ah hangat. Mushaf kecil itu dia peluk di dada.

Di kamarnya, Dina, Zahra, Salsa sudah menunggu.

"Gimana? Nyai marah?" tanya Dina.

Muthi'ah tersenyum, pertama kalinya senyum lebar setelah seminggu muram.

"Nggak. Nyai baik sekali. Nyai kasih ini," kata Muthi'ah sambil menunjukkan mushaf kecil itu.

Malam itu, Muthi'ah tidur dengan mushaf kecil itu di bawah bantalnya. Tidurnya nyenyak.

Di ndalem, Nyai Maryam masuk ke kamar, melihat Kiai Hasyim masih duduk berpikir.

"Abi, Muthi'ah itu anak baik. Jangan keras-keras dengan dia ya. Dia sama seperti saya dulu," kata Nyai Maryam pelan.

Kiai Hasyim mengangguk, "Iya, Umi. Abi lagi berpikir. Mungkin Abi yang salah. Janji itu niatnya baik, tapi caranya salah."

Nyai Maryam tersenyum, duduk di sebelah suaminya.

"Pelan-pelan, Bi. Jadi jembatan itu tidak harus langsung menyeberang. Kadang harus berhenti di tengah dulu, lihat airnya tenang apa tidak."

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah retak kemarin, dinding di ndalem Darul Hikmah tidak terasa setinggi biasanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!