Aria Utama, seorang arsitek bertangan dingin, mendadak terjebak dalam pusaran konflik dua pria paling dominan di kota. Di satu sisi ada Adrian Mahardika, CEO dingin dari Mahardika Group yang menawarkan perlindungan, kestabilan, dan cinta yang tenang. Di sisi lain ada Dante Vance, pemimpin sindikat kejahatan paling tak tersentuh yang siap menghancurkan dunia demi mendapatkan Aria. Saat rahasia masa lalu terkuak, Aria harus memilih antara kepastian yang aman atau gairah yang mematikan di tengah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aletaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Aliansi Tak Terduga
Angin malam di puncak lantai teratas gedung terbengkalai berembus kencang, membawa aroma tanah basah dan mesiu yang menyengat. Di tepi bangunan tanpa pagar pengaman itu, Aria berdiri terikat dengan moncong senjata otomatis yang menempel rapat di pelipisnya. Di bawah kakinya, kegelapan jurang puluhan meter menanti.
Di hadapan para pengkhianat, berdiri dua pria paling berkuasa di kota ini.
Adrian Mahardika memegang senjata taktisnya dengan tatapan mata cokelat gelap yang liar dan tak lagi mengenali rasa takut. Bahu kirinya yang berbalut perban tampak memerah oleh darah yang merembes, namun postur tubuhnya berdiri kokoh bagaikan dinding baja. Di sampingnya, Dante Vance mengokang pistol otomatis bermata ganda, mata abu-abunya berkilat membunuh dengan aura kejam yang pekat.
Dua musuh bebuyutan yang tadinya saling membantai demi satu wanita, kini berdiri berdampingan di atas puing-puing pertempuran.
"Mundur, atau kubuat otaknya berhamburan ke malam ini!" teriak komandan pengkhianat itu panik, meremas rambut Aria hingga wanita itu merintih menahan sakit.
"Aria!" panggil Adrian, suaranya parau menahan amarah yang membakar dada.
"Riko sudah mati di bawah," suara Dante terdengar sangat rendah dan dingin, memotong angin malam. Pria itu melangkah satu senti ke depan tanpa gentar. "Kalian tidak punya jalur evakuasi, tidak punya helikopter, dan tidak punya masa depan di Black Viper. Lepaskan istrimu, dan aku akan mempertimbangkan untuk memberi kalian kematian yang cepat."
"Tutup mulutmu, Dante!" bentak pengkhianat kedua yang bersiap menembak dari sisi kiri.
Dalam fraksi detik yang amat krusial, Adrian dan Dante saling melirik tanpa mengucap sepatah kata pun. Sebuah kesepahaman tanpa suara terjalin di antara dua pria yang sama-sama bersedia menyerahkan nyawa demi keselamatan Aria.
BANG! BANG!
Tembakan meletus secara bersamaan!
Adrian melompat ke kanan, melepaskan tembakan presisi yang menembus dada pengkhianat kedua sebelum pria itu sempat menekan pelatuknya. Di saat yang sama, Dante meluncur di atas lantai beton yang licin, menarik pisau taktis dari boot-nya dan melemparkannya tepat ke pergelangan tangan pengkhianat yang menyandera Aria.
"Argh!" pengkhianat itu menjerit saat pisau menancap telak, membuat senjatanya terlempar jatuh.
Aria memanfaatkan kesempatan itu. Dengan sisa tenaganya, ia menyikut perut pengkhianat tersebut dan melompat menjauh. Namun, keseimbangannya hilang di tepi bangunan yang licin!
"Aria!" teriak Adrian dan Dante serentak.
Tubuh Aria meluncur ke luar batas lantai beton, melayang di udara jurang malam yang kelam!
Dalam refleks yang luar biasa, dua tangan meluncur bersamaan menembus kegelapan. Tanggan tegap Adrian cengkeram erat pergelangan tangan kanan Aria, sementara tangan berotot Dante mencengkeram jemari tangan kirinya!
Aria menggantung di udara malam, jantungnya berdetak kencang menatap dua wajah pria yang bersimbah peluh dan darah di atasnya.
"Genggam kami rapat-rapat, Aria!" urak Dante dengan rahang mengeras rapat.
Dengan sisa kekuatan fisik mereka yang terkuras habis oleh pertempuran, Adrian dan Dante mengerahkan seluruh tenaga, menarik tubuh Aria naik kembali ke atas lantai beton yang aman. Aria tersungkur di antara mereka berdua, terengah-engah dengan air mata yang membanjiri pipinya.
Pengkhianat terakhir yang terluka di tangan merangkak meraih senjatanya. Tanpa ragu sedikit pun, Adrian dan Dante membungkuk dan melepaskan tembakan penutup secara bersamaan, mengakhiri ancaman kudeta tersebut untuk selamanya.
Keheningan seketika melingkupi puncak gedung terbengkalai itu. Hanya suara deru angin malam dan helaan napas memburu dari ketiganya yang terdengar.
Aria terduduk lemas, memandangi Adrian dan Dante yang berdiri berdampingan. Kedua pria itu tampak terluka parah—Adrian dengan bahunya yang pendarahan dan Dante dengan lengan serta pelipisnya yang memar berdarah.
Adrian melangkah mendekat, berlutut di hadapan Aria dan membuka ikatan tali di tangan wanita itu dengan jemarinya yang gemetar. "Kau tidak apa-apa, Aria? Ada yang terluka?" tanya Adrian lembut, tatapan matanya dipenuhi rasa cemas yang tulus.
"Aku baik-baik saja, Adrian... aku baik-baik saja," bisik Aria lirih, menyentuh pipi Adrian yang ternoda debu.
Dante berdiri menyandarkan tubuhnya di pilar beton, memperhatikan interaksi hangat itu dengan mata abu-abu yang redup. Ada rasa lega yang amat sangat di dadanya saat melihat Aria selamat, namun di saat yang sama, tatapan matanya kembali mengeras saat melihat Adrian berada begitu dekat dengan istrinya.
Dante melangkah mendekat, menyisipkan senjatanya kembali ke balik pinggang.
"Ancaman di dalam organisasiku sudah selesai, Adrian," ujar Dante, suara beratnya kembali dipenuhi ketegasan seorang Raja Mafia. "Terima kasih atas bantuanmu di puncak gedung ini... tapi pengorbananmu berakhir di sini. Aria adalah istri sahku."
Adrian perlahan berdiri, memutar tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan Dante. Senyuman hangat di wajah sang CEO mendadak sirna, berganti dengan kilatan mata cokelat gelap yang dingin dan penuh pembalasan.
Adrian tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, secara perlahan dan tenang, Adrian mengangkat senjatanya kembali—mengarahkan moncong pistolnya tepat ke dada Dante dari jarak satu meter.
Mata Aria membelalak horor. "Adrian, apa yang kau lakukan?!"
"Aliansi kita selesai saat Aria aman, Dante," desis Adrian dengan suara rendah yang amat mematikan. "Kau memaksanya menikahimu di bawah ancaman. Sekarang, giliranmu membayar seluruh dosa keluargamu."