NovelToon NovelToon
Hukuman Penjara Pengantin Pengganti Sang Mafia

Hukuman Penjara Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:36.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.

Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.

Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Beberapa menit berlalu.

Ruang makan kediaman Dominic tampak elegan seperti biasanya. Meja panjang dari kayu mahoni dipenuhi hidangan sarapan, mulai dari roti panggang, telur, buah-buahan segar, hingga secangkir kopi hitam yang mengepulkan aroma khas.

Nyonya Fantika Dominic sudah duduk di salah satu kursi ketika suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Amerda muncul dengan gaun rumah berwarna lembut. Rambutnya tertata rapi, sementara senyum cerah menghiasi wajahnya. Tidak ada tanda-tanda bahwa malam sebelumnya ia sempat dilanda kemarahan dan kegelisahan. Perempuan itu justru tampak seolah-olah tidak memiliki beban sedikit pun.

“Selamat pagi, Mama,” sapanya ramah.

Fantika langsung menoleh. Senyumnya mengembang ketika melihat menantunya.

“Selamat pagi, Sayang. Kemarilah, duduk bersama Mama. Kamu pasti belum sarapan, bukan?”

Amerda mengangguk kecil. “Belum, Ma.”

“Kalau begitu, mari sarapan bersama. Mama tadi meminta koki menyiapkan beberapa hidangan kesukaan Ricardo. Kamu juga harus makan dengan baik. Jangan sampai sakit hanya karena masih menyesuaikan diri dengan rumah baru.”

Perhatian hangat itu membuat Amerda tersenyum semakin manis.

“Terima kasih, Ma. Mama baik sekali kepada aku.”

Fantika terkekeh pelan, lalu menepuk lembut punggung tangan menantunya.

"Sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Dominic. Tidak perlu sungkan. Anggap saja rumah ini rumahmu sendiri.”

“Baik, Ma.”

Amerda menarik kursi dan duduk di samping Fantika. Ia mulai mengambil sepotong roti panggang, sesekali melontarkan senyum kepada perempuan yang telah menerimanya dengan begitu baik. Namun, tidak semua orang di meja makan itu menyambutnya dengan kehangatan yang sama.

Tuan Sagara Dominic, kepala keluarga sekaligus ayah Ricardo, duduk di ujung meja sambil membaca beberapa dokumen. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan setelan formal yang belum sepenuhnya lengkap. Meski pagi masih begitu awal, wajahnya sudah memperlihatkan Ketegasan seorang pria yang terbiasa mengendalikan keadaan. Tatapannya terangkat sesaat ketika Amerda mulai berbincang dengan Fantika.

Wajahnya datar dan tidak ada senyum. Tidak pula sapaan hangat sebagaimana yang diberikan istrinya.

“Selamat pagi, Papa,” sapa Amerda ketika menyadari tatapan itu.

Sagara menutup dokumen di tangannya, “Pagi.”

Hanya satu kata, singkat dan tanpa basa-basi.

Senyum Amerda sempat menegang, tetapi ia segera menguasai ekspresinya. Ia tidak mungkin menunjukkan rasa tersinggung kepada ayah mertuanya, terlebih ketika dirinya masih berusaha mengukuhkan posisi di keluarga Dominic.

Fantika melirik suaminya, “Mas, mengapa menyapa menantu sendiri seperti sedang berbicara dengan rekan bisnis? Amerda baru saja turun untuk sarapan.”

Sagara menatap istrinya sekilas, “Aku sudah menyapanya.”

“Ya, tetapi setidaknya bersikaplah sedikit lebih ramah.”

“Ramah tidak selalu berarti harus banyak bicara, Fantika.”

Fantika menggeleng kecil, seolah sudah terbiasa dengan sikap dingin suaminya.

Sementara itu, Amerda kembali tersenyum. “Tidak apa-apa, Ma. Aku mengerti. Papa mungkin sedang sibuk dengan pekerjaannya.”

“Lihatlah, dia bahkan lebih pengertian daripada dirimu,” ujar Fantika kepada suaminya.

Sagara tidak menanggapi. Ia kembali membuka dokumennya, tetapi kali ini tatapannya tidak benar-benar tertuju pada tulisan di atas kertas. Diam-diam, ia sedang mengamati Amerda.

Perempuan itu memang pandai membawa diri. Senyumnya terukur, tutur katanya sopan, dan sikapnya selalu menunjukkan bahwa ia memahami cara menghormati keluarga suaminya. Bagi orang yang tidak mengenalnya lebih jauh, Amerda mungkin terlihat seperti menantu ideal. Namun, Sagara bukan orang yang mudah terpesona oleh penampilan luar.

Sebagai pengusaha berpengaruh yang namanya mulai diperhitungkan dalam lingkaran politik, ia telah bertemu dengan terlalu banyak orang yang menyembunyikan kepentingan di balik senyuman. Ia tahu bahwa keramahan bisa menjadi ketulusan, tetapi bisa pula menjadi alat untuk mendapatkan sesuatu. Oleh karena itu, ia tidak pernah membiarkan dirinya menaruh kepercayaan penuh kepada seseorang hanya karena orang itu pandai bersikap manis. Terlebih kepada perempuan yang pernikahannya dengan Ricardo terjadi dalam keadaan begitu mendadak.

Sagara masih mengingat dengan jelas bagaimana keluarga Conti datang membawa kabar bahwa Gia tidak bisa melanjutkan pernikahan. Dalam situasi yang berpotensi menghancurkan nama baik kedua keluarga, Amerda muncul sebagai pengganti.

Secara terbuka, keluarga Dominic menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan kehormatan yang terancam. Tidak mungkin seorang Sagara Dominic membiarkan kabar bahwa putranya ditinggalkan calon pengantin pada hari pernikahan menjadi bahan pembicaraan masyarakat, apalagi ketika namanya sedang diperhitungkan sebagai calon perdana menteri. Satu skandal saja bisa dimanfaatkan lawan politik untuk menjatuhkannya. Karena itulah, ia memilih jalan yang menurutnya paling aman, menerima Amerda sebagai istri Ricardo dan memastikan pernikahan itu tetap berlangsung. Namun, keputusan tersebut bukan berarti ia memercayai Amerda.

Sagara hanya menyelamatkan reputasi keluarganya. Soal siapa yang sebenarnya berada di balik kekacauan itu, ia belum memiliki jawaban yang memuaskan.

“Amerda,” panggil Sagara tiba-tiba.

Amerda segera mengangkat wajah. “Ya, Papa?”

Bagaimana keadaanmu setelah menjadi bagian dari keluarga ini?”

Pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi nada suaranya membuat Amerda berhenti mengunyah.

“Baik, Pa. Aku merasa nyaman di sini. Mama juga sangat baik kepadaku.”

“Bagus.” Sagara mengambil cangkir kopinya, menyesap sedikit, kemudian meletakkannya kembali.

“Kalau begitu, tentu kamu tidak keberatan jika kami mengharapkan kejujuran darimu dalam segala hal.”

Jari Amerda yang memegang garpu berhenti bergerak. Fantika menoleh kepada suaminya dengan sedikit kebingungan.

“Mas, apa maksudmu? Tentu saja Amerda harus jujur, dia menantu kita.”

“Aku hanya mengatakan bahwa kejujuran penting dalam keluarga.”

Sagara kembali menatap Amerda.

“Terutama ketika sebuah pernikahan berlangsung di tengah persoalan yang belum sepenuhnya jelas.”

Senyum Amerda hampir menghilang. Ia tahu apa yang sedang dibicarakan Sagara. Kunjungan Marco ke rumah keluarga Conti kemarin bukanlah kabar kecil. Ayahnya sendiri telah memberitahukan bahwa anak buah Adam Lorenzo Maxnore datang mencarinya Lorenzo Maxnore datang mencarinya karena sebuah anting ditemukan di lokasi kecelakaan yang menewaskan Veronika.

'Apakah Tuan Sagara sudah mengetahui sesuatu?' Amerda buru-buru menundukkan wajah, berpura-pura sibuk memotong roti di piringnya.

“Aku memahami maksud Papa,” jawabnya hati-hati. “Aku juga ingin pernikahan ini berjalan baik. Aku tidak ingin ada persoalan yang merusak hubungan kedua keluarga.”

“Semoga saja begitu.” Sagara mengatakannya tanpa ekspresi.

Fantika, yang tidak menyadari ketegangan di antara mereka, kembali menyela dengan suara ceria.

“Sudahlah, jangan membicarakan hal-hal berat saat sarapan. Amerda, nanti setelah makan, ikut Mama ke butik. Mama ingin membelikan beberapa pakaian untukmu. Ada banyak acara keluarga yang harus kita hadiri bulan ini.”

Amerda segera mengangkat wajah dan tersenyum.

“Tentu, Ma. Aku senang sekali.”

“Bagus, kita bisa makan siang di luar setelahnya.”

“Terima kasih, Ma.”

Fantika tampak puas mendengar jawaban itu. Ia kembali menyendokkan makanan ke piringnya, sementara Sagara hanya menggeleng tipis melihat antusiasme istrinya. Bagi Fantika, Amerda adalah menantu yang harus dirangkul dan dilindungi. Bagi Sagara, Amerda masih merupakan teka-teki yang belum layak dipercaya.

Ia kembali mengambil dokumennya, tetapi sebelum melanjutkan membaca, ia memberikan satu tatapan terakhir kepada menantunya.

'Jangan mengira karena aku menerimamu sebagai menantu, berarti aku akan membiarkanmu melakukan apa pun di rumah ini. Jangan harap kamu bisa mengacaukan aku sebagai calon Perdana Mentri,'

Sagara Dominic bukan pria yang akan mempertaruhkan masa depannya hanya demi mempertahankan sebuah kebohongan. Ia bersedia menerima Amerda demi menjaga nama baik keluarga. Namun, jika suatu hari perempuan itu terbukti menjadi ancaman bagi kepentingannya, ia tidak akan ragu mengubah sikapnya.

"Aku pergi dulu," kata Sagara dan bangkit dari kursinya. Fantika hanya tersenyum dan mengangguk pelan.

"Hati-hati, Pa." Ucap Amerda penuh perhatian, Sagara hanya membalas dengan sebuah anggukan. Amerda, menatap Sagara dengan tatapan was-was. Amerda, mengerti apa yang harus dia lakukan untuk mengahadapi semua orang.

1
Ass Yfa
Gia yg keras kepala,,,jangan bilang Gia hamil..
Al Fatih
Emak online : mas Adam tunjukkan taringmu....,,
Tuan Adam : Mak,, kau kira AQ Edward Cullen 🤣.
Emak online : Ups,, maksudnya tunjukkan kuasamu,, jagomu,, kejammu....,, jangan sama Gia saja kau tebar pesona jahatmy itu..
Tuan Adam : siap Mak,, mohon doanya yaa
Emak online : nih Salim,, ga usah sungkem belum lebaran....,, jangan lupa duit sangu yaa🤣🤣🤣
Tuan Adam : 🤫
Aisyah Alfatih: 😩😩😩😩 kak please 🤣
total 1 replies
Naufal Affiq
lanjut kak
Ariany Sudjana
semoga gia bisa mendapatkan pertolongan yang terbaik
aimelllaaaaa
semoga gia hamil
Aisyah Alfatih: cepat banget kak 😩
total 1 replies
Naufal Affiq
jangan tidur aja sadam,buka matamu,kau itu orang susah yang nikah sama anak orang kaya,jadi kau harus ingat itu
Naufal Affiq
kebongkar juga kan aib mu sadam,jadi gak perlu kau simpan aib mu kalau qmerda adalah anak kandung mu
dyah EkaPratiwi
semangat gia mama💪
Mineaa
ku harap ada keajaiban gia hamidun..... 🤲
Al Fatih: sepertinya gitu sih kak🤭
total 1 replies
Nda
up yg banyak thor😍
Ass Yfa
kembali ke Adam...balas semua perlakuan Sadam thdmu dan mamamu...lbh kejam
Ass Yfa
Sadam cuma orang yg diangkat derajatnya sama keluarga Conti..berani sekali mengusir Gia dan mamya..
Ita rahmawati
bener bener ya ya si setan,, SM Maudy masih bisa lah dimaklumi bersikap begitu tp SM gia ? setelah apa yg terjadi akan seru kalo ternyata Maudy bukan anaknya si setan 🤣
Ita rahmawati: eh amerda maksudnya,, saking emosinya jd salah 🤣
total 1 replies
Ita rahmawati
lah kalo begitu kenapa Sadam seangkuh itu ya,, apa jgn jgn semua udah di rampas SM dia tanpa sepengetahua Bu Maudy,, kalo belum lgsg aja Bu ceraikan dn usir sekalian bongkar rahasia anak diluar nikah nya si amerda yg sombong itu ke keluarga mertuanya biar nyengir tuh berdua bapak SM anak gila 🤣
Lianty Itha Olivia
sungguh kau suami yg kejam dan tak berperasaan, knp lakukan layaknya istri spt hewan..lepaskan aku lepaskan ( cocok dg syairnya lagu dangdut ) 😄😄
erviana erastus
pake akal sehat kalian ibu dan anak inilah knp adam melindungi kau gia ckckck udah lah biarin mereka berdua jadi gembel,cm heran aza dinovel ini kok mafia kalah sama pejabat pemerintah 🤣
erviana erastus
mampus kau ibu dan ank 🤣🤣🤣🤣
erviana erastus
good harus tegas kau maudi jgn lembek kasihan gia anakmu
erviana erastus
gia tolol banget udahlah biarin mau apa aza dia moga nggak mampus ditangan bapakx
erviana erastus
gia apaan sih kamu ngebela orang yg salah 🤬🤬🤬🤬
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!