Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENAWARAN PERTAMA
Roti lapis itu terasa seperti kardus basah di dalam mulut Leo, tapi ia tetap mengunyah dan menelannya paksa. Tubuhnya butuh kalori, dan saat ini ia tidak punya kemewahan untuk menjadi pangeran mafia yang rewel soal makanan. Ia menenggak air mineral untuk mendorong makanan itu turun, lalu menelan dua butir antibiotik spektrum luas yang disodorkan Elena. Rasa pahit obat itu tertinggal di pangkal lidahnya, menambah daftar hal tidak menyenangkan yang harus ia telan pagi ini.
Di depannya, layar monitor masih memancarkan warna merah terang dari angka sepuluh juta dolar. Harga untuk kepalanya.
"Kau bilang kita butuh modal yang sangat besar," Leo membuka percakapan sambil menyeka sisa air di dagunya dengan punggung tangan kiri. "Berapa tepatnya yang kau butuhkan untuk memulai perang ini?"
Elena memutar kursinya kembali menghadap meja utama. Ia meraih sebuah tablet hitam dari tumpukan kabel dan mulai mengetuk layarnya dengan cepat.
"Menghancurkan klan mafia terbesar di kota ini bukan seperti merampok toko kelontong, Leo," jawab Elena dengan nada meremehkan yang khas. "Marco sekarang menguasai pasukan, kepolisian, dan jalur distribusi. Kalau kita mau memotong sumber uangnya, kita butuh perangkat keras tingkat militer. Serverku di sini cukup untuk meretas dan memantau, tapi untuk turun ke lapangan? Kau butuh senjata taktis, bahan peledak C4, kendaraan yang tidak bisa dilacak, pelindung tubuh, dan amunisi mumpuni."
"Aku tahu harga barang-barang itu di pasar gelap," Leo memotong pelan, matanya menatap tajam gadis itu.
"Bagus kalau kau tahu," Elena meletakkan tabletnya di meja, mendorongnya sedikit ke arah Leo. "Selain itu, kita butuh dana untuk menyuap informan jalanan. Kesetiaan di kota ini dibeli dengan uang tunai. Aku juga harus memalsukan identitas baru untukmu. Sidik jari, paspor biometrik, retina... semuanya. Tanpa itu, kau cuma butuh waktu setengah jam di jalanan sebelum kamera pengawas kota mengenali wajahmu dan mengirim algojo Marco ke lokasimu."
Elena bersandar santai, menyilangkan lengannya di depan dada.
"Masalahnya, tabunganku dari hasil menjual informasi selama ini lumayan, tapi tidak cukup untuk membiayai perang skala penuh melawan konsorsium sekelas Valenti. Dan uangmu... yah, seperti yang kubilang tadi, Marco pasti sudah menelan habis semua aset digitalmu."
Leo terdiam sejenak. Ia memandangi lantai beton yang lembap, mengingat kembali pembicaraan terakhirnya dengan sang ayah, beberapa bulan sebelum malam nahas itu terjadi. Don Antonio adalah pria yang lahir dari jalanan, besar di era di mana uang tunai adalah raja dan bank adalah tempat di mana orang kaya dirampok secara legal oleh negara. Ayahnya tidak pernah sepenuhnya percaya pada angka-angka di layar komputer.
"Marco mungkin pintar," ucap Leo pelan, suaranya terdengar serak namun dipenuhi keyakinan. "Dia mungkin punya sandi untuk semua rekening perusahaan cangkang di Swiss. Dia mungkin sudah menguasai brankas utama di mansion. Tapi dia meremehkan satu hal."
"Apa itu?" Elena menaikkan sebelah alisnya, tampak sedikit tertarik.
"Ayahku adalah pria tua yang kolot dan paranoid," Leo mengulas senyum tipis, meski matanya memancarkan kesedihan yang getir. "Dia selalu bilang, saat badai terburuk datang dan semua orang berpaling darimu, kau tidak bisa menyuap malaikat maut dengan kartu kredit."
Elena mendengus pelan, menahan tawa sinisnya.
"Sangat puitis untuk ukuran seorang bos mafia," sindir Elena sambil memutar-mutar pena stylus di sela jarinya. "Lalu? Jangan bilang ayahmu mengubur peti harta karun di halaman belakang rumah seperti bajak laut."
"Lebih baik dari itu," Leo mencondongkan tubuhnya ke depan, menahan ringisan saat jahitan di pundaknya sedikit tertarik. "Tiga tahun lalu, ayahku diam-diam membeli sebuah fasilitas penyimpanan bawah tanah di distrik industri lama. Pembeliannya tidak menggunakan nama klan, bukan juga lewat perusahaan cangkang kita. Dia menggunakan identitas seorang imigran yang sudah mati puluhan tahun lalu."
Perhatian Elena kini sepenuhnya tertuju pada Leo. Gerakan penanya berhenti.
"Di fasilitas itu," lanjut Leo, suaranya memelan seolah takut dinding beton di sekitar mereka bisa mendengar, "ada sebuah brankas baja yang tidak terhubung ke jaringan internet mana pun. Sepenuhnya mekanis dan manual. Marco tidak tahu tempat itu ada, karena ayahku sendiri yang mengurusnya langsung bersamaku, tanpa melibatkan pembukuan klan."
"Berapa isinya?" Elena langsung bertanya pada intinya, insting peretas dan makelarnya mengambil alih.
"Lima belas juta dolar dalam bentuk uang tunai murni, lembaran seratus dolar yang tidak bisa dilacak," Leo menatap mata Elena dalam-dalam, memastikan gadis itu memahami besarnya nilai yang ia tawarkan. "Ditambah emas batangan senilai sekitar lima juta, dan beberapa obligasi tanpa nama. Totalnya sekitar dua puluh juta dolar."
Keheningan menyelimuti ruang bawah tanah itu selama beberapa detik. Hanya suara kipas server yang terus berdengung monoton. Elena menatap Leo dengan pandangan menilai, mencoba mencari celah kebohongan di wajah pria yang sedang terluka parah itu.
"Dua puluh juta dolar uang tak terlacak," gumam Elena perlahan. "Itu bukan cuma cukup untuk membiayai perang. Itu cukup untuk membeli pasukan bayaran kecil dari Eropa Timur."
"Ini penawaranku, Phantom," Leo menegakkan tubuhnya, kembali memanggil gadis itu dengan nama aliasnya untuk menegaskan bahwa ini adalah negosiasi bisnis. "Kau butuh modal untuk menghancurkan sistem Marco, dan kau butuh seseorang yang bisa mengeksekusi rencanamu di lapangan. Aku butuh akses informasi, perlindungan teknis, dan tempat bersembunyi. Kalau kau membantuku membalas dendam dan menghancurkan Marco... setengah dari isi brankas itu milikmu."
Mata Elena sedikit melebar, meski ia berusaha keras menyembunyikan keterkejutannya. Sepuluh juta dolar bersih. Itu adalah angka yang sangat fantastis, setara dengan nilai sayembara nyawa Leo saat ini. Dengan uang sebanyak itu, Elena tidak hanya bisa menyelesaikan misi balas dendam pribadinya, tapi juga membangun jaringan sistem yang tak tertembus di mana pun ia mau.
"Sepuluh juta untukku," Elena membeo, matanya menyipit penuh selidik. "Itu tawaran yang sangat murah hati untuk ukuran seorang Valenti. Biasanya keluargamu lebih suka menodongkan pistol ke kepala orang daripada berbagi keuntungan."
"Aku bukan ayahku, dan situasi ini tidak biasa," balas Leo tegas. "Nyawaku dihargai sepuluh juta di jalanan saat ini. Anggap saja aku membayar harga kepalaku sendiri kepadamu agar kau tidak menyerahkanku pada Marco."
Elena terdiam, mengetuk-ngetukkan ujung stylus ke meja logam. Otaknya berputar cepat menghitung segala probabilitas. Bekerja sama dengan pangeran mafia ini adalah risiko yang luar biasa besar. Jika Marco atau petinggi Ares Group tahu, ia akan diburu tanpa ampun. Tapi hadiahnya... sepuluh juta dolar dan kesempatan untuk membakar kerajaan mafia kota ini dari dalam, sungguh godaan yang mustahil untuk ditolak.
"Di mana fasilitas penyimpanan itu?" Elena akhirnya bertanya, nada suaranya berubah dingin dan sangat profesional.
"Kau pikir aku bodoh?" Leo terkekeh pelan, meski tawanya terdengar kering. "Kalau aku memberitahumu lokasinya sekarang, kau bisa saja membiusku lagi, mengambil uangnya sendiri, lalu menelepon algojo Marco untuk mengambil sisa sayembara kepalaku. Aku dapat nol, kau dapat dua puluh juta."
"Aku tidak sepicik itu, Leo," elak Elena dengan raut wajah datar.
"Mungkin tidak," balas Leo santai, "tapi aku tidak akan mengambil risiko. Aku satu-satunya yang tahu kombinasi mekanis brankas itu dan lokasi tepatnya. Kalau kau mau uangnya, kau harus memastikan aku tetap hidup, menyembuhkan lukaku, dan membawaku ke sana saat aku sudah bisa berjalan tanpa terlihat seperti mayat hidup."
Elena mendengus kasar. Pria ini memang keturunan Valenti sejati. Bahkan dalam kondisi nyaris mati, Leo masih tahu cara memegang kartu truf dan mengendalikan meja perundingan.
"Kau benar-benar brengsek yang beruntung," desis Elena seraya melemparkan stylus-nya ke atas meja. "Baiklah. Kita punya kesepakatan. Aku akan menjadi mata dan telingamu, dan kau akan menjadi tanganku di jalanan. Tapi dengarkan aku baik-baik, Pangeran."
Elena mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam tepat di depan wajah Leo. Aura intimidasi gadis itu terasa begitu pekat, membuat Leo sadar bahwa Elena sama berbahayanya dengan pembunuh bayaran mana pun yang pernah ia temui.
"Kalau sampai kau berbohong soal uang itu," ancam Elena dengan suara pelan yang mematikan, "atau kalau kau mencoba mengkhianatiku di tengah jalan, aku tidak akan repot-repot menelepon Marco. Aku sendiri yang akan membedahmu hidup-hidup di atas meja ini, dan kali ini, aku akan memastikan kau merasakan setiap sayatan pisaunya. Kau mengerti?"
Leo menatap sepasang mata cokelat gelap yang menyala penuh ancaman itu tanpa berkedip. Bukannya takut, seulas senyum justru terbentuk di sudut bibirnya. Untuk pertama kalinya sejak rentetan pengkhianatan semalam, Leo merasa ia menemukan sekutu yang tepat. Seseorang yang sama gilanya dengan dirinya.
"Aku mengerti," jawab Leo mantap. "Dan aku tidak pernah mengingkari janji darah."
"Bagus," Elena menarik tubuhnya mundur dan kembali menghadap monitor. "Kalau begitu, agenda pertama kita adalah memastikan kau tidak mati konyol karena infeksi luka. Kita tidak bisa ke rumah sakit, jadi aku harus mencari peralatan medis dan darah pengganti di pasar gelap."
"Berapa lama aku harus bersembunyi di lubang tikus ini?" tanya Leo sambil menyentuh perban di bahunya.
"Sampai kau bisa memegang senapan tanpa menangis seperti bayi," jawab Elena asal sambil mulai mengetik dengan kecepatan tinggi. "Duduk, diam, dan biarkan aku bekerja. Perang kita baru saja dimulai."