Di dunia fantasi yang kejam, di mana hierarki ditentukan oleh kekuatan dan kemurnian garis keturunan, terlahir sebagai seekor Goblin adalah sebuah kutukan. Mereka adalah ras terendah-lemah, kotor, diburu sebagai ajang latihan para petualang amatir, dan dibantai tanpa ampun oleh umat manusia.
Namun, dari kedalaman keputusasaan ras yang nyaris punah di Hutan Misti, lahirlah sebuah anomali.
Bukan dengan kulit hijau menjijikkan atau tubuh bungkuk yang menyedihkan, melainkan dengan paras rupawan bagai seorang High Elf yang agung. Berambut pirang keemasan, bertelinga runcing yang elegan, dan dianugerahi ingatan serta kecerdasan dari dunia modern, ia adalah Altair-Sang Goblin Emperor pertama.
menyadari ras nya di ambang kepunahan altair pun bertekad membangkitkan kembali ras goblin yang hina, menjadi penguasa dunia dengan bantuan sistem manipulasi genetik dan kekuatan reproduksi nya sebagai sang kaisar goblin. bisakah dia menghadapi segala rintangan di depan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Kebuntuan yang Menyesakkan
Satu bulan telah berlalu sejak penemuan kota tempa purba di perut Pegunungan Berkanopi.
Dari luar, tepat di balik tirai air terjun raksasa, sarang baru Kekaisaran Goblin itu terlihat tidak lebih dari lubang kotor dan menjijikkan yang biasa dihuni oleh monster rendahan. Altair sengaja merancangnya demikian. Fasad luar gua dipenuhi dengan tulang belulang hewan buas, pagar kayu kasar yang ditancapkan asal-asalan, serta jebakan lumpur beracun. Jika ada penjelajah manusia yang kebetulan tersesat hingga ke dasar Hutan Selatan, mereka hanya akan melihat sarang goblin primitif yang tidak berharga untuk diselidiki.
Namun, ilusi itu berakhir begitu seseorang melangkah lebih dalam.
Di balik dinding kamuflase tersebut, terbentang jaringan lorong labirin yang sangat rumit dan rahasia. Jalur-jalur ini dirancang dengan presisi militer untuk menyesatkan siapa pun yang berani menyusup. Ada lorong buntu yang dipenuhi gas beracun alami dari akar membusuk, serta lubang-lubang jebakan tak kasat mata yang dijaga ketat oleh para Hobgoblin.
Jauh di ujung labirin mematikan itulah, fasilitas sebenarnya berada. Ruang-ruang khusus telah dipahat dengan rapi dan bersih. Altair bahkan telah memerintahkan pembangunan area khusus yang tertutup dan dijaga ketat—kamar-kamar yang dirancang khusus untuk para indukan haremnya di masa depan. Saat ini, fasilitas itu ditempati oleh Lyra dan Cassvia yang tengah menjalani hari-hari terakhir masa istirahat pasca-persalinan mereka.
Semua penataan infrastruktur dan pertahanan berjalan dengan sangat sempurna. Namun, di pusat kota tempa purba, atmosfer yang berhembus justru terasa sangat menyesakkan.
Di dalam aula raksasa Forge of the Deep, tungku-tungku lebur purba telah berhasil dinyalakan. Api jingga kemerahan berkobar dengan buas, memancarkan hawa panas yang sanggup melelehkan batu biasa. Kerja keras ratusan pekerja goblin yang memompa udara dan sihir api Zyrus yang dipertahankan siang dan malam akhirnya membangkitkan jantung bengkel tersebut.
Tetapi, api yang menyala tidak menjamin terciptanya sebuah mahakarya.
KLAAANG!!
Suara logam yang pecah bergema keras di seluruh penjuru aula. Sebuah palu besi raksasa terbelah menjadi dua, terlempar menghantam dinding batu.
Di depan paron baja purba, seorang Hobgoblin pekerja berotot besar menatap tangannya yang gemetar dengan keputusasaan. Di atas paron tersebut, batangan Black Iron yang baru saja dipanaskan tidak berbentuk seperti pedang atau zirah, melainkan hancur menjadi gumpalan cacat yang retak di berbagai sisi.
Altair berdiri tak jauh dari sana, matanya yang merah menyala menatap tumpukan logam gagal yang berserakan di lantai. Di sampingnya, Anrus menundukkan kepala dalam-dalam, tak berani menatap wajah sang Kaisar.
"Ini sudah percobaan ke-tiga ratus, Yang Mulia," lapor Anrus dengan suara bergetar. "Tungku telah menyala dengan sempurna. Bijih logam kuno berhasil dilelehkan. Tetapi... saat para Hobgoblin kita mencoba menempanya, logam itu kehilangan strukturnya. Mereka memukul terlalu keras, atau merusak alur mana di dalam logam tersebut saat proses pendinginan."
Pikiran analitis sang Kaisar memproses kegagalan beruntun ini dengan dingin. Ia melangkah maju, memungut salah satu batangan logam cacat yang masih menyalurkan hawa panas.
Kekuatan fisik murni dan stat yang tinggi ternyata tidak ada artinya di depan seni tempa tingkat tinggi. Para Hobgoblin miliknya memiliki tenaga untuk menghancurkan gunung, tetapi mereka tidak memiliki kehalusan dan insting yang dibutuhkan untuk menundukkan logam purba. Mereka hanyalah monster penghancur, bukan pencipta.
"Alat yang sempurna tidak akan menghasilkan apa pun di tangan orang bodoh," gumam Altair, melempar logam cacat itu kembali ke dalam tungku.
Ini adalah kebuntuan yang fatal. Altair memiliki pabrik senjata paling mematikan di seluruh benua tepat di bawah kakinya, namun pasukannya tidak memiliki kemampuan untuk memanfaatkannya. Selama mereka tidak bisa memproduksi zirah dan senjata penangkal petir, Kekaisaran Goblin akan terus terkunci di dasar hutan, hidup di bawah bayang-bayang ketakutan terhadap sang Griffin.
Zyrus berjalan mendekat dari arah saluran lahar, wajah remajanya dipenuhi peluh akibat terus-menerus mengalirkan sihir apinya.
"Ayahanda," panggil Zyrus, suaranya terdengar frustrasi. "Logam-logam ini menolak dibentuk oleh tangan kita. Mereka membutuhkan afinitas khusus. Sihirku tidak cukup untuk menyatukan inti materialnya. Kita butuh seseorang yang benar-benar memahami bahasa logam ini."
Altair menatap Zyrus, lalu beralih menatap deretan tungku raksasa yang menyala sia-sia. Sebuah kesimpulan logis dan mengerikan perlahan terbentuk di kepalanya.
Jika pasukannya tidak memiliki bakat penempa, maka ia tidak perlu membuang waktu mengajari mereka. Ia hanya perlu melahirkan ras baru yang memiliki bakat itu sejak dalam kandungan. Ia membutuhkan darah yang telah diberkati oleh para dewa dengan keahlian tempa mutlak.
"Anrus," panggil Altair, suaranya kini terdengar sangat pelan namun memancarkan otoritas gelap yang membuat seluruh ruangan terdiam. "Suku Dwarf modern di luar sana... apakah mereka masih mewarisi insting tempa leluhur mereka?"
"T-Tentu saja, Yang Mulia," jawab Anrus terkejut. "Meski mereka telah kehilangan banyak rahasia purba, darah seorang Dwarf secara alami memiliki afinitas tertinggi terhadap logam dan api. Bahkan seorang anak Dwarf bisa menempa pedang besi yang lebih baik dari pandai besi manusia dewasa."
Seringai buas yang sempat hilang selama satu bulan terakhir kini kembali menghiasi wajah sang Kaisar Emas. Matanya memancarkan nafsu penaklukan yang baru.
"Kalau begitu," ucap Altair, membalikkan badannya membelakangi tungku yang menyala, "sudah saatnya kita berhenti memukul besi tua, dan mulai merencanakan sebuah perburuan."