NovelToon NovelToon
Cinta Tak Selamanya Pahit, Marco!

Cinta Tak Selamanya Pahit, Marco!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Ruang kerja CEO Wiliam Group yang berada di lantai teratas gedung pencakar langit itu memancarkan aura kemewahan absolut. Jendela kaca setinggi langit-langit menampilkan pemandangan kota metropolitan. Karpet tebal impor dari Persia menutupi lantai, sementara perabotan kayu mahoni berjejer rapi.

Namun, pemandangan di tengah ruangan itu sama sekali tidak mencerminkan wibawa seorang eksekutif kelas atas.

"Ayo, sayang... sedikit lagi... masuklah ke lubangmu..."

Marco Maverick, dengan jas yang sudah dilempar sembarangan ke atas sofa dan lengan kemeja digulung hingga siku, sedang berjongkok di atas karpet. Ia memegang sebuah tongkat golf putter di tangan kanannya, matanya menyipit fokus ke arah bola golf putih, dan lidahnya sedikit menjulur keluar berkonsentrasi.

Tepat saat ia mengayunkan tongkatnya perlahan...

TOK! TOK! TOK!

Pintu ruangan ganda itu diketuk dengan sangat keras dan cepat, disusul decitan engsel pintu yang didorong paksa.

Puk. Ayunan tangan Marco meleset. Bola golfnya menggelinding jauh menabrak kaki meja.

"Astaga naga!" Marco mengerang dramatis, menjatuhkan tongkat golfnya ke karpet. Ia mendongak dengan wajah merengut, menatap sosok Nyonya Brenda yang baru saja masuk.

"Nyonya Brenda! Kau baru saja menghancurkan konsentrasi tingkat tinggiku! Aku sedang melatih strategi otak kiriku untuk mengambil keputusan bisnis bernilai triliunan rupiah, tahu?!"

"Anda sedang bermain golf mini di jam kerja, Tuan Maverick," balas Nyonya Brenda dengan nada datar andalannya. Wanita paruh baya itu berdiri tegak di ambang pintu, memegang sebuah map. "Dan saya tidak peduli dengan strategi otak kiri Anda. Saya membawa sesuatu yang jauh lebih penting."

Marco mendengus, bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk celana bahannya. "Apa? Laporan kebangkrutan kompetitor? Atau kau akhirnya berubah pikiran dan tidak jadi pensiun?"

"Bukan keduanya," potong Nyonya Brenda tegas. Ia lalu melangkah menyamping dan menoleh ke arah koridor di luar ruangan. "Masuklah."

Marco menyilangkan tangannya di depan dada, memasang wajah skeptis. Ia sudah bersiap untuk mengomel jika wanita tua ini membawa wanita cantik berdada besar dengan lipstik merah menyala yang akan membuatnya mual.

Namun, sedetik kemudian, pemandangan yang muncul dari balik pintu sukses membuat rahang Marco nyaris jatuh menyentuh lantai.

Seorang gadis melangkah masuk dengan sangat lambat, kepalanya tertunduk dalam-dalam seolah karpet Persia di bawahnya adalah benda paling menarik di dunia.

Gadis itu memakai kemeja kerah putih yang kancingnya ditutup hingga mencekik leher, dilapisi blazer cokelat pudar yang ukurannya dua kali lipat lebih besar dari tubuhnya. Celana kain hitamnya panjang hingga menyapu lantai. Rambutnya dikeriting kaku, kaku sekali hingga terlihat seperti mi instan yang belum direbus, dan diikat asal-asalan di tengkuk.

Saat gadis itu akhirnya mendongak dengan takut-takut, Marco disuguhi pemandangan kulit wajah yang kusam, bibir pucat tanpa riasan, dan... sebuah kacamata baca berbingkai bundar yang sangat tebal, membuat mata gadis itu terlihat membesar secara canggung.

Ruangan itu hening selama sepuluh detik penuh.

Isabel—yang kini sepenuhnya berada dalam wujud Lia—menelan ludah dengan susah payah.

Jantungnya berdebar kencang. Ia mengenali pria ini. Pria arogan bersuara bariton yang menghajarnya dengan kata-kata tajam di lorong kelab malam. Namun sekarang, pria itu menatapnya seolah ia adalah alien dari galaksi lain.

Apakah penyamaranku ketahuan? batin Lia panik.

"Nyonya Brenda..." panggil Marco, suaranya terdengar pelan dan tertahan. Ia mengangkat telunjuknya, menunjuk tepat ke wajah Lia. "Benda... makhluk apa ini?"

"Jaga ucapan Anda, Tuan Maverick. Dia bukan benda," tegur Nyonya Brenda tajam, memelototi bosnya. "Namanya Magnolia. Panggil saja Lia. Dia adalah kandidat sekretaris baru yang akan menggantikan saya."

Marco tidak menjawab. Ia melangkah mendekati Lia dengan gerakan lambat, matanya memindai gadis itu dari ujung rambut hingga ujung sepatu pantofel hitam bututnya. Lia refleks memundurkan bahunya, berpura-pura gemetar ketakutan.

Marco berjalan memutari Lia, persis seperti calon pembeli sapi di pasar hewan. Ia mengendus udara di sekitar gadis itu.

"Tidak ada parfum," gumam Marco, matanya berbinar aneh. Ia kembali berdiri di depan Lia, menunduk sedikit untuk mensejajarkan wajahnya.

"Hei, Gadis Kacamata. Apa kau tahu cara memoles lipstik?"

Lia menundukkan kepalanya lagi, tangannya meremas ujung blazernya kuat-kuat. "T-tidak, T-tuan," cicitnya dengan suara dibuat serak dan gemetar.

"S-saya alergi... k-kosmetik."

Mendengar jawaban itu, senyum lebar perlahan mereka di wajah Marco. Bukan senyum sinis, melainkan cengiran konyol yang sangat lebar hingga matanya menyipit.

Marco berbalik menatap Nyonya Brenda, lalu tiba-tiba bertepuk tangan dengan sangat keras.

"Nyonya Brenda! Kau memang jenius! Kau malaikatku!" seru Marco heboh, nyaris melompat kegirangan. "Dari mana kau menemukan harta karun ini?! Dia terlihat seperti figuran hantu di sinetron tahun 90-an! Atau... atau seperti ensiklopedia berjalan yang baru saja kehujanan! Ini sempurna!"

Lia mengumpat kasar di dalam hatinya. Ensiklopedia basah?! Hantu sinetron?! Dasar pria sinting! Kalau saja aku tidak sedang butuh tempat sembunyi, sudah kulempar tongkat golf itu ke kepalanya!

Namun di luar, Lia hanya menunduk semakin dalam, seolah-olah pujian absurd itu melukai perasaannya.

Nyonya Brenda memijat pangkal hidungnya, pusing melihat tingkah bosnya. "Tuan Maverick, tolong jangan menghina fisiknya. Magnolia ini lulusan terbaik. Kecepatan mengetiknya 120 kata per menit. Dia sangat rapi, sistematis, dan yang paling penting, dia memenuhi kualifikasi utama Anda: dia tidak akan pernah mencoba menggoda Anda."

"Oh, aku tahu itu. Melihat bajunya saja aku sudah yakin dia lebih suka menggoda kalkulator daripada pria," sahut Marco santai. Ia kembali menatap Lia, berkacak pinggang. "Hei, Lia. Kau dengar aku?"

Lia mengangguk pelan. "I-iya, Tuan Bos."

"Bagus. Karena Nyonya Brenda yang merekomendasikanmu, kau langsung diterima tanpa masa percobaan," ucap Marco, membuat Lia diam-diam menghembuskan napas lega yang luar biasa.

"Tapi," suara Marco tiba-tiba berubah sedikit lebih rendah dan serius, membuat bulu kuduk Lia berdiri, "aku punya tiga aturan mutlak di ruangan ini."

Lia memberanikan diri mendongak sedikit, menatap kacamata tebalnya ke arah wajah Marco. "A-apa itu, Tuan?"

"Pertama," Marco mengangkat satu jarinya. "Jangan pernah memakai parfum, cologne, atau minyak wangi apa pun. Kalau kau sampai bau bunga-bungaan atau bau alkohol, aku akan melemparmu dari jendela lantai lima puluh ini. Kau paham?"

Lia mengangguk cepat. "S-saya hanya pakai sabun bayi, Tuan."

"Bagus. Sabun bayi masih bisa kutoleransi." Marco mengangkat dua jarinya. "Kedua. Kalau pintuku tertutup dan terdengar suara musik dangdut atau suara perempuan yang sedang berteriak 'Terima kasih paus dan singanya, Kakak!', itu artinya aku sedang sibuk rapat penting dengan ponselku. Jangan pernah masuk kecuali gedung ini kebakaran atau harga saham kita anjlok lima puluh persen."

Lia mengerjap. Ia teringat laporan Sam tentang hobi pria ini menonton live TikTok. Ternyata pria ini secara terang-terangan mengakuinya di depan sekretarisnya. "B-baik, Tuan."

"Ketiga," Marco menunjuk wajah Lia dengan raut mengancam, "jika nanti ada anak kecil berusia tiga tahun berlarian ke ruangan ini, kau wajib mengajaknya main balok Lego. Kalau dia sampai menangis, gajimu kupotong setengah."

"H-hanya itu, Tuan?" Lia bertanya ragu, tak percaya aturan bos perusahaan raksasa terdengar seperti aturan penitipan anak.

Nyonya Brenda berdeham keras. "Abaikan aturan nomor dua dan tiganya, Magnolia. Aturan pertamamu adalah mengatur seluruh jadwalnya, mengingatkannya untuk membaca draf sebelum tanda tangan, dan menyeretnya ke ruang rapat jika dia mencoba kabur lewat tangga darurat."

"Kau kejam sekali, Nyonya," gerutu Marco memanyunkan bibirnya.

"Saya akan mengambil berkas kontrakmu di ruang HRD, Magnolia. Tunggu di sini, dan jangan biarkan Tuan Maverick mengintimidasimu," pesan Nyonya Brenda. Wanita paruh baya itu memberi isyarat mata pada Lia, sebuah tatapan menenangkan yang mengingatkan Lia pada kasih sayang seorang ibu, sebelum akhirnya melangkah keluar dan menutup pintu ruangan.

Kini, hanya tinggal mereka berdua di dalam ruangan besar itu.

Lia berdiri kaku di dekat meja. Jantungnya kembali berpacu. Tanpa Nyonya Brenda, aura ruangan ini tiba-tiba terasa berbeda.

Marco tidak lagi tersenyum konyol. Pria itu berjalan perlahan mendekati meja kerjanya, mengambil sebotol air mineral, dan meneguknya. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Lia dari atas botolnya.

Keheningan yang mencekik berlangsung selama beberapa detik, sebelum akhirnya Marco meletakkan botol itu ke meja dengan bunyi ketukan yang pelan namun mengagetkan.

Marco berjalan memutari meja kerjanya, berhenti tepat dua langkah di depan Lia. Ia melipat tangannya di dada. Wajah tampannya menunduk, menatap lekat-lekat kacamata tebal yang membingkai wajah kusam Lia.

"Kacamatamu tebal sekali, Ensiklopedia Basah," ucap Marco pelan, nada suaranya berubah menjadi bariton yang dalam dan menuntut. Sama sekali tidak ada kesan bodoh di dalamnya.

"M-minus saya sangat tinggi, Tuan," dusta Lia, menundukkan kepalanya mencoba menghindari tatapan mengintimidasi itu.

Marco tiba-tiba sedikit membungkuk, wajahnya berada terlalu dekat hingga Lia bisa mencium aroma mint dari napas pria itu.

"Minus tinggi, ya?" bisik Marco, sudut bibirnya berkedut membentuk senyuman miring yang sangat berbahaya. "Aneh. Kalau minusmu setinggi tebal kacamata itu, seharusnya pantulan cahaya di lensamu mengalami distorsi ke arah dalam. Tapi ini datar."

Lia membeku. Tubuhnya mendadak sedingin es. Pria ini... pria gila ini menyadarinya hanya dalam hitungan menit?

Marco menegakkan tubuhnya kembali, memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Ia memiringkan kepalanya, menatap Lia yang masih gemetar di tempatnya.

"Kacamata itu tidak ada minusnya sama sekali. Itu hanya kacamata pelindung radiasi biasa, kan?" tuduh Marco dengan sangat santai, namun menghujam tepat sasaran.

Napas Lia tercekat di tenggorokan. Penyamarannya yang sudah ia susun mati-matian, hancur berkeping-keping di menit kelima wawancara pertamanya. Pewaris utama keluarga Ramsey itu, untuk pertama kalinya, tidak tahu harus menjawab apa.

1
ryuka
🤣🤣😍🤣🤣 bagussss marco pecat aja itu ceewe parasittt itu
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
Muft Smoker
mau jdi kutu rambut di hidup Marco yx Alana ,,
oooh tdk bisaaa ,, anda gx liat tuh calon pawang ny udh ngeluarin tanduk dari kening ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣
ryuka
lanjuuutttt thoooooerr
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
ryuka
eeeaaaa.. eeaaaaa...
Dew666
🩵
Muft Smoker
dag dig dug nyeesss yx kalian 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Sastri Dalila
😅😅😅
ryuka
ayooo semangattt marco & liiaaaaaa 🔥🔥🔥🔥🔥
Muft Smoker
si Marco mau di tinggal Mak kedua ny ,,
semangat Marco ,,
semangat liaa or Isabella ,,
Sastri Dalila
😅💪💪
Sastri Dalila
🥺🥺🥺
Sastri Dalila
😅😅🤣🤣
Sastri Dalila
🤭💪💪👍👍🤗😅
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣 siapa yg kalah duluan ya tjoorrr
aisyah
se trauma itu ya Mar😔
kejam banget sih itu memang cewek 😡
Muft Smoker
🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣pelayan d resto sebelah konon🤭🤭 ,,

jgn bermimpi bisa dapetin Marco Alana ,, pawang skarang ganas meski belum resmii ,, tp ttap hati2 ,,
Sastri Dalila
👍👍👍👍👍 bagusssssss
ryuka
duuhhhh semangat marcoooo 👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!