Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.
Dihina. Ditolak. Dilupakan.
Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.
Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.
Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.
Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?
Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:
Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.
Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Saatnya Sekarang
“Pulangnya nanti malam tidak perlu naik angkot. Kamu bawa saja sepeda motor karyawanku nanti, biar mereka ada latihan.” Pak Hartoko berkata dengan nada perintah ke arah Dedi, yang lantas langsung melompat mengiyakan permintaan bos pelanggan yang ia tak pernah temui seperti ini sebelumnya. Pak Hartoko melirik Siman, tersenyum kecil. "Atau... bagaimana kalau sekarang saja, Man? Saya mau sekalian lihat kamu bisa pakai kendaraan apa tidak? Kalau tidak, ya sudah tidak apa-apa.”
"Nggak apa-apa, Pak!" Siman langsung menyahut dengan mata berbinar. Seakan tidak ingin menunda lagi, sebuah hasrat untuk bisa menguasai kendaraan itu tumbuh dalam dadanya. Ia tidak pernah bermimpi akan diajari bagaimana cara membawa kendaraan oleh orang-orang. Karena, untuk dapat sepeda motor saja dia mana bisa membelinya. Impian yang terasa makin nyata kini. "Sekarang saja! Aku bisa, Pak!"
Pak Hartoko terkekeh, menggelengkan kepalanya pelan. Raut wajahnya kini tampak terhibur melihat antusiasme Siman. "Bagus, bagus! Nanti coba motornya si Dedi saja, yang bebek itu. Belum terlalu rumit." Ia menoleh ke Dedi yang sejak tadi masih termangu, tak percaya mendengar tawaran Pak Hartoko. "Ded, ambilkan motor bebekmu! Ajari Siman dasar-dasarnya."
"Ha, serius, Pak?" Dedi menunjuk dirinya sendiri, matanya masih terbelalak. "Motor saya? Tapi... Siman bisa emangnya, Pak?"
"Namanya juga belajar, Dedi. Lagian saya tahu Siman cekatan. Coba dulu," Pak Hartoko berseru dengan nada memerintah, yang langsung membuat Dedi bergerak cepat. Pemuda itu buru-buru mengambil kunci dari lokernya dan mengeluarkan motor bebek yang terparkir di pojok bengkel.
Siman mendekat, tangannya gemetar memegang setang motor. Aroma bensin dan knalpot motor menguar di hidungnya. Ini pertama kalinya ia benar-benar memegang sebuah motor, bukan cuma melihatnya dari jauh. Jantungnya berdebar kencang. Akik biru laut di jarinya kembali terasa memanas, memberikan semacam gelombang energi yang menenangkan, seolah mengatakan, "Percaya dirilah, kamu pasti bisa."
"Oke, Siman. Gini. Kamu coba hidupkan dulu, starter pelan-pelan," Dedi memulai penjelasannya, wajahnya serius namun juga menyiratkan sedikit keraguan. "Habis itu... lepaskan kopling pelan-pelan sambil gas tipis. Kalau kaget, nanti langsung injak rem."
Siman mengangguk-angguk, mencoba menyerap setiap instruksi. Ia menghidupkan mesin, suara deruman motor memenuhi area bengkel. Tangan kanannya perlahan memutar tuas gas. Mesin meraung, agak terlalu kencang untuk pemula. Badannya sedikit oleng. Rasa gugup semakin menyelimuti. Namun, pandangannya tak pernah lepas dari akik biru laut itu. Denyutannya kini terasa semakin kencang, semakin menyatu dengan jantung Siman.
"Astaga, pelan-pelan, Man!" Dedi menjerit. "Nanti oleng kamu!"
"Woy, hati-hati! Jangan ngebut dulu, Man!" Ujang menimpali, ia berhenti menyusun ban dan menatap tegang ke arah Siman.
Dua kali ia mencoba, dua kali pula motor itu nyaris oleng. Siman merasakan malu menyerbu. Mata Pak Hartoko dan para kuli bengkel lainnya yang menonton seolah menatap iba padanya. Apakah akik ini juga tidak berfungsi untuk kemampuan seperti ini? Apa mungkin hanya dia yang memang bodoh untuk kemampuan berkendara?
Siman menutup matanya sejenak, mengambil napas dalam-dalam. Ia menggenggam erat akiknya, berharap ada "bantuan" lain yang datang. Ketika ia membuka mata, fokusnya terasa lebih tajam, tangannya yang tadi kaku kini lebih lentur. Ada sebuah sensasi asing, seolah dia sudah terbiasa dengan ini. Sebuah pengetahuan baru merasuki dirinya. Kali ini, ia bisa.
"Oke, Dedi. Aku coba lagi!" kata Siman penuh percaya diri, matanya memancarkan tekad. Dia tidak akan menyerah kali ini.
Ia menyalakan mesin. Dengan konsentrasi penuh, tangan Siman menarik tuas gas dengan lebih terukur, ibu jarinya perlahan melepas kopling. Motor bergerak maju perlahan, goyah sedikit, namun tidak oleng. Dedi berlari di sampingnya, matanya membelalak takjub. Siman menstabilkan lajunya. Putaran kedua. Putaran ketiga. Siman mulai menguasai motor bebek itu, bahkan mencoba belok kanan dan kiri dengan lebih percaya diri.
"Edan! Ini bocah!" seru Dedi tak percaya. "Gila! Cuma beberapa kali coba langsung bisa begini?"
Pak Jitomo, yang juga terkesima, berdecak kagum. "Sudah kubilang, dia cekatan!"
Siman menghentikan motor, lalu turun dengan senyum lebar yang tak bisa ia sembunyikan. Rasa puas membuncah di dadanya. Akiknya terasa hangat, namun kini lebih tenang, seolah ikut merasakan kebanggaan itu.
"Hebat, Siman! Kamu memang punya insting!" puji Pak Hartoko, menepuk bahu Siman dengan bangga. "Oke, sekarang kamu bisa pulang naik motor ini saja. Besok kamu sudah bisa ke sini sendiri kan? Dan kamu bisa belajar desain juga nanti kalau di tempat saya."
"Siap, Pak!" Siman menjawab dengan semangat. Dia tahu ini bukan semata insting. Ini... adalah akik biru lautnya. Kali ini dia tidak perlu menyembunyikan kebahagiaannya. Semangatnya tak terhentikan.
Sejak malam itu, hidup Siman seolah bergerak dalam tempo yang lebih cepat, bagaikan deru motor yang kini dikendarainya setiap hari. Pagi hari dihabiskan di bengkel Roda Sakti, tempat ia kini dipercaya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih kompleks, bahkan sering kali berinteraksi langsung dengan pelanggan. Siang hingga sore adalah waktunya untuk kursus komputer dan desain grafis yang sudah ia daftarkan dengan uang hasil kerja kerasnya. Malamnya, ia menjadi ‘pegawai magang’ di usaha fotokopi Pak Hartoko, tempat ia belajar mengoperasikan mesin-mesin, berinteraksi dengan pelanggan yang lebih beragam, dan sesekali diberi tugas desain sederhana yang membuat otaknya terus terpacu.
Di sela-sela kesibukan itu, tumpukan buku ujian kesetaraan selalu menemaninya. Setiap malam, setelah mengembalikan motor Dedi dan membersihkan diri, Siman akan menyalakan lampu teploknya, membuka buku-buku tebal itu. Kadang, matanya sudah terasa sangat lelah. Rasa kantuk menyerang begitu hebat, membuat kepalanya terasa seperti dihantam balok besi. Namun setiap kali rasa lelah itu mendera, tangannya refleks menggenggam akik biru lautnya. Seketika, rasa segar seolah menyergapnya, memberinya energi, membuat huruf-huruf di buku itu kembali terlihat jelas dan mudah dicerna.
"Astaga, Man! Kamu ini kayaknya otaknya encer banget, ya!" Murni seringkali berseru kaget saat menemaninya belajar. Murni memang selalu datang. Dengan setia. Gadis itu selalu duduk di bangku reyot mereka, sesekali menjelaskan rumus matematika atau istilah bahasa Indonesia yang rumit. Siman kini tahu, kalau tidak ada Murni, mungkin saja dirinya sudah menyerah. “Kayaknya cuma beberapa kali dijelaskan, kamu sudah langsung paham. Padahal kemarin aku bolak-balik belajar kayak gitu, lama banget nyambungnya.”
"Kan ada kamu, Mur," jawab Siman dengan senyum tulus. Ia tahu betul Murni adalah anugerah terbesar dalam hidupnya, melebihi keberadaan akik di jarinya. Hubungan mereka memang masih berstatus "sahabat," namun di balik tatapan dan candaan Murni, Siman merasakan ada getaran lain yang tumbuh. Getaran yang membuatnya hangat dan gugup pada saat bersamaan. Tapi, ketakutan lama selalu kembali menghantui. Takut akan penolakan, takut dianggap tidak sepadan. Bayang-bayang Dina masih terlukis jelas di dinding mentalnya, tak peduli seberapa sukses dirinya kini.
***