Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.
Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.
Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.
"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."
Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Malam di pulau pribadi itu terasa lebih panjang dari biasanya. Deburan ombak yang sebelumnya terdengar menenangkan, kini terdengar seperti detak jam raksasa yang menghitung mundur sisa umur seseorang.
Di ruang tengah vila, Anya mondar-mandir seperti harimau betina yang terkurung di dalam kandang sempit. Rambut wolf-cut-nya sudah acak-acakan karena terus-menerus ia acak frustrasi. Kuku hitamnya yang dicat oleh Milo kemarin sore, kini ia gigiti tanpa sadar.
Ini sudah lewat tengah malam. Kaelan belum juga memberikan kabar.
"Nyonya Anya, kumohon... duduklah sebentar," bujuk Ragas dari arah dapur. Pelayan tua itu terlihat lelah, kantung matanya menghitam, namun ia tetap berdiri tegak membawakan secangkir teh chamomile hangat. "Anda sudah mondar-mandir selama empat jam tanpa henti. Lantai kayu ini bisa bolong jika Anda terus menginjaknya dengan keras."
Anya berhenti mendadak, menatap tajam ke arah Ragas. "Aku tidak mau teh chamomile, Ragas! Itu minuman untuk Milo kalau dia mau tidur nyenyak! Aku butuh kopi! Kopi hitam pekat yang bisa membuat jantungku berdetak secepat motor trail tadi sore!"
Ragas menghela napas panjang dan meletakkan cangkir teh itu di atas meja kaca. "Anda sudah meminum enam cangkir kopi hitam sejak Tuan Kaelan pergi, Nyonya. Jika saya memberikan cangkir ketujuh, saya khawatir jantung Anda benar-benar akan melompat keluar dari dada Anda."
"Biar saja melompat! Setidaknya aku tahu aku masih hidup!" Anya bersungut-sungut, menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke atas sofa empuk. Ia memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya di antara kedua lengannya. "Pria bodoh itu... kenapa dia tidak menelepon? Setidaknya kirim pesan singkat! 'Aku belum mati', atau 'Paman Arthur sudah ompong', apa susahnya sih?!"
Ragas tersenyum maklum, senyuman yang penuh dengan pengertian mendalam. Ia berjalan perlahan menghampiri sofa dan berdiri tak jauh dari Anya.
"Tuan Kaelan sedang berada di tengah peperangan, Nyonya. Menggunakan alat komunikasi saat baku tembak adalah tindakan yang sangat ceroboh. Musuh bisa melacak sinyalnya," jelas Ragas dengan suara kebapakannya yang menenangkan.
Anya mengangkat kepalanya. Matanya yang biasanya memancarkan keberanian jalanan, kini terlihat berkaca-kaca, dipenuhi oleh ketakutan yang tulus. Bukan ketakutan akan keselamatan dirinya sendiri, melainkan ketakutan kehilangan pria menyebalkan yang telah mencuri ciuman pertamanya di atas tebing.
"Ragas..." suara Anya bergetar pelan. Ia tidak lagi berusaha menutupi sisi rapuhnya. "Dia... dia akan kembali, kan? Maksudku, dia itu Kaelan Obsidian. Bos mafia paling ditakuti. Dia tidak mungkin mati hanya karena kakek-kakek bau tanah seperti Paman Arthur, kan?"
Pertanyaan itu terdengar seperti racauan anak kecil yang mencari validasi.
Ragas terdiam sejenak. Ia tahu betul seberapa mematikan Paman Arthur dan seberapa besar kekuatan tempur klan mereka. Namun, Ragas juga tahu seberapa besar kekuatan cinta yang baru saja mekar di dalam dada tuannya.
"Tuan Kaelan telah bertahan hidup dari banyak hal yang jauh lebih mengerikan dari ini, Nyonya," ucap Ragas mantap. "Dan kali ini... beliau memiliki alasan yang jauh lebih kuat untuk kembali hidup-hidup. Beliau memiliki Anda."
Anya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar. Ia membenci perasaan tidak berdaya ini. Ia terbiasa melawan, meninju, dan menendang masalahnya sendiri. Menunggu dalam ketidakpastian adalah siksaan terburuk baginya.
Tiba-tiba, mata Anya membulat. Sebuah ide gila melintas di kepalanya. Sifat tomboy dan preman pasarnya mengambil alih kewarasannya.
Ia melompat berdiri dari sofa dengan gerakan sangat cepat, membuat Ragas sedikit terperanjat.
"Tidak bisa begini terus," geram Anya, mengusap kasar sisa air mata di sudut matanya. "Aku tidak akan duduk diam di sini seperti istri pejabat yang menunggu suaminya pulang membawa tas bermerek. Aku ini Nyonya Obsidian, sialan!"
Anya berbalik dan berjalan cepat menuju dapur luar ruangan.
"N-Nyonya? Apa yang Anda rencanakan?" tanya Ragas panik, mengikuti langkah gadis itu dari belakang.
Anya tidak menjawab. Ia membuka laci-laci kabinet dapur dengan kasar, mencari sesuatu. Ketika laci ketiga ditarik terbuka, matanya berbinar. Ia meraih sebuah benda logam yang berat dan memantulkan cahaya lampu.
Sebuah panci penggorengan teflon berukuran besar, tebal, dan sangat keras.
Anya menimbang-nimbang panci itu di tangan kanannya, mengayunkannya beberapa kali ke udara dengan gaya seorang pemain bisbol profesional. Suara wush terdengar saat logam berat itu membelah angin.
"Sempurna," gumam Anya dengan seringai miring yang mematikan.
Ragas membelalakkan matanya, wajah tuanya memucat ngeri. "Nyonya Anya! Demi Tuhan, apa yang akan Anda lakukan dengan panci itu?!"
"Aku akan menyusulnya, Ragas," jawab Anya mantap, menyelipkan gagang panci itu ke bagian belakang celana jeans-nya, persis seperti preman menyembunyikan parang. "Siapkan yacht, perahu karet, atau lumba-lumba peliharaan kalian—apa pun yang bisa membawaku ke kota sekarang juga!"
"Itu... itu tindakan bunuh diri, Nyonya! Tuan Kaelan telah memerintahkan saya untuk mengurung Anda di sini demi keselamatan Anda sendiri!" Ragas mencoba menghalangi jalan Anya, merentangkan kedua tangannya yang gemetar.
Anya berhenti, menatap Ragas dengan pandangan dingin yang mengingatkan pelayan tua itu pada tatapan mematikan Kaelan sendiri. Preman pasar ini benar-benar telah menyerap aura sang mafia.
"Ragas, minggir," perintah Anya rendah, nadanya tidak menerima bantahan. "Atau aku akan menggunakan panci ini untuk membuat benjol kepalamu, mengikatmu di kursi malas, dan menyetir yacht itu sendiri."
Ragas menelan ludah. Ia tahu gadis ini tidak sedang menggertak. Anya adalah wanita gila yang berani mematahkan hidung pembunuh bayaran dengan tangan kosong. Sebuah panci teflon di tangannya adalah senjata pemusnah massal.
Namun, sebelum Ragas sempat membantah lagi, atau Anya sempat memukul pelayan tua itu...
Sebuah suara deru mesin memecah keheningan malam yang pekat. Suaranya terdengar dari arah samudra, semakin lama semakin keras dan mendekat. Bukan suara yacht mewah yang pelan, melainkan suara speedboat berkecepatan tinggi yang membelah ombak dengan ganas.
Anya dan Ragas serempak menoleh ke arah jendela kaca besar yang menghadap ke laut. Di kejauhan, dua lampu sorot yang menyilaukan mata tampak membelah kegelapan, meluncur dengan kecepatan gila menuju dermaga pulau.
Jantung Anya berhenti berdetak sesaat. Tangannya perlahan meraba gagang panci di balik punggungnya, bersiap untuk kemungkinan terburuk. Apakah itu Kaelan... atau anak buah Paman Arthur yang berhasil menemukan tempat persembunyian mereka?