Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.
Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.
Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.
Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.
Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Sisa Garis Lengkung
Pasar pagi di tepi desa Qingshan sudah ramai sebelum matahari naik setinggi dua tombak.
Mu Qingxue datang dengan keranjang anyaman di lengan kirinya, rambut disanggul sederhana, pakaian abu-abu yang sudah dicuci berkali-kali tapi masih terlihat rapi. Para pedagang yang sudah mengenalnya menyapanya dari jauh, ada yang melambaikan tangan, ada yang langsung berseru sebelum dia sempat mendekat.
“Nyonya Mu! Nyonya terlihat segar sekali hari ini.” Pedagang sayur, seorang ibu-ibu bertubuh bulat dengan topi jerami lebar, mendorong sebundel daun bayam ke arahnya. “Pemuda itu tidak ikut? Biasanya kau tidak belanja sendiri.”
“Dia sedang sibuk,” jawab Mu Qingxue dengan garis lengkung ramah di bibirnya sembari memeriksa daun bayam itu.
“Sibuk apa? Berkebun lagi?” Ibu itu tertawa sendiri. “Aneh sekali pemuda segagah itu betah di kebun seharian. Aku kira pemuda seperti itu biasanya lebih suka berkeliaran di kota atau mencoba mendaftar sekte.”
Mu Qingxue tersenyum tanpa menjawab dan meletakkan kepingan uang di meja.
Adapun penjual tahu di ujung deretan adalah yang paling blak-blakan. Wanita kurus bermulut lebar itu sudah bersiap sejak melihat Mu Qingxue dari jauh.
“Nyonya Mu! Wajahmu semakin awet muda saja. Apa rahasianya? Jangan-jangan pemuda itu kekasih rahasiamu?” selorohnya sambil mencubit pipinya sendiri dengan geli.
“Dia pembantuku,” jawab Mu Qingxue tetap sabar.
“Pembantu?!” Penjual tahu mendecak. “Pembantu yang tinggal serumah, masak sekamar juga?”
“Dua bungkus tahu putih,” tandas Mu Qingxue.
Hari-harinya selalu begitu, hampir semua orang membicarakan hal yang sama tentang hubungan dirinya dengan pemuda bernama Huang Shen itu. Sampai keributan kecil terjadi di lorong antara lapak bumbu dan lapak kain.
Seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun tertangkap basah menyembunyikan sepotong singkong rebus di balik bajunya. Penjual singkong, lelaki bertubuh kekar dengan bekas luka di dagu, sudah mengangkat tangannya.
“Pencuri cilik! Mau ke mana kau?”
Anak itu tidak berlari. Kakinya seperti tertancap di tanah, matanya melihat ke atas dengan ekspresi yang sudah berhenti berharap.
“Biarkan aku yang membayar,” timpal Mu Qingxue, melangkah maju dan meletakkan dua keping tembaga di meja penjual itu. Lebih dari harga singkong. “Dan berikan dia satu lagi.”
Penjual itu menggerutu pelan tapi mengambil uangnya dan mendorong singkong kedua ke arah si anak.
Kemudian Mu Qingxue menunduk ke level anak itu sambil tersenyum. “Kau sudah sarapan?”
Anak itu pun menggeleng.
Dia merogoh keranjangnya dan mengeluarkan sebungkus kecil kue kering yang tadi dibelinya untuk camilan sore. “Ini. Pergi pulang setelah ini.”
Anak itu meraih bungkusan itu dan berlari tanpa mengucapkan terima kasih. Mungkin memang tidak diajarkan, atau mungkin terlalu lapar untuk ingat sopan santun.
Sementara Mu Qingxue berdiri dan melanjutkan langkahnya.
Di dalam dadanya ada sesuatu yang dia periksa dengan hati-hati, seperti memeriksa wadah apakah masih ada airnya. Ada rasa iba di sana. Nyata, tidak dibuat-buat, meski ia merasa lega.
Tapi ada juga kesadaran yang lebih tenang dari yang seharusnya. Tiga tahun lalu, melihat anak sekecil itu kelaparan akan membuat matanya memanas. Sekarang tangannya bergerak dan kakinya melangkah, dan matanya tetap kering.
Dia melakukan hal yang benar. Dia tahu itu.
Tapi rasa yang menyertainya terasa seperti pakaian yang ukurannya tepat tapi sudah tidak hangat lagi.
Dalam perjalanan pulang, bayangan Huang Shen datang tanpa diundang.
Bukan wajahnya yang pertama muncul. Yang pertama adalah perasaan setelah malam-malam kultivasi ganda. Tubuhnya yang terasa dipakai habis lalu ditinggalkan seperti alat yang dikembalikan ke tempat semula. Bukan sakit melainkan kosong. Seperti sesuatu diambil dan tidak ada yang diisi sebagai gantinya.
Dia juga mengingat kucing itu. Hitam, gemuk, sering duduk di atas pagar depan rumah. Suatu pagi tiga bulan lalu kucing itu tergeletak di depan pintu, sudah tidak bernapas. Mu Qingxue berdiri di sana cukup lama, menunggu. Menunggu sesuatu yang biasanya datang sendiri.
Akan tetapi tidak ada yang datang sebelum akhirnya dia memungut kucing itu dengan kain lap dan membuangnya ke belakang kebun.
Manakala dia menceritakan ini kepada dirinya sendiri di dalam hati, kata yang muncul bukan “sedih”. Kata yang muncul adalah “efisien”.
Itu yang membuatnya takut.
Bukan Huang Shen ataupun matanya yang merah serta darah yang sesekali masih tertinggal di lantai saat dia bangun pagi. Yang membuatnya takut adalah dirinya sendiri yang perlahan berhenti terkejut oleh semua itu.
Di tengah perjalanan sekaligus lamunannya itu, Nu Qingxue bertemu teman lamanya di persimpangan jalan menuju rumah.
Ning Meili, janda seorang pengrajin kayu yang meninggal dua tahun lalu. Perempuan itu melambaikan tangan dengan semangat yang kontras dengan wajahnya yang selalu terlihat khawatir.
“Qingxue! Sudah lama sekali. Kau baik-baik saja?”
“Baik. Kau?”
Ning Meili langsung menghela napas panjang dan maju setengah langkah ke arahnya. “Dengar, aku tidak mau ikut campur. Tapi orang-orang banyak yang bicara soalmu.”
“Bicara apa?”
“Soal pemuda itu.” Ning Meili merendahkan suaranya meski tidak ada siapa-siapa di sekitar mereka. “Ada yang bilang dia yang membunuh Wang Teng tiga tahun lalu. Ada yang bilang dia pembunuh bayaran. Dan ada yang bilang… eh, dia tinggal serumah denganmu, kan? Dia masih muda sekali, Qingxue. Apa tidak—”
“Dia pekerja keras,” sela Mu Qingxue, menggunakan kalimat yang sama yang sudah dipakai berkali-kali hari ini, sudah hafal sendiri bentuknya. “Dan dia menjaga rumah dengan baik.”
Ning Meili mengerutkan dahi. “Tapi usianya. Kau tiga puluh satu, dia berapa, sembilan belas? Dua puluh?”
“Sembilan belas.”
“Sembilan belas!” Ning Meili meletakkan tangannya di dada sendiri. “Qingxue, aku tidak menghakimimu. Tapi orang-orang… .”
“Biarkan orang-orang itu bicara sesukanya ,” cetus Mu Qingxue, lebih ringan dari yang dia niatkan. “Mereka akan bicara apapun yang terjadi dan mereka tidak peduli juga sebenarnya.”
Ning Meili menatapnya agak lama, lalu mengangguk pelan dengan ekspresi seseorang yang sudah memutuskan untuk menyerah sementara. “Kau terlihat… berbeda, Qingxue. Sejak tiga tahun lalu.”
“Semua orang berubah.”
“Kau bebar, tapi kau berbeda dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan.”
Mu Qingxue hanya tersenyum. Senyum yang sudah lama dia pelajari: cukup hangat untuk meyakinkan, tidak cukup besar untuk menunjukkan usaha. “Sampai jumpa, Meili.”
Rumah kayu itu terlihat dari kejauhan sudut jalan menikung.
Kendati demikian, yang terlihat lebih dulu bukan rumahnya, melainkan seseorang yang berdiri di depan pagar dengan cara yang sangat khas: leher menjulur ke depan seperti angsa, berjinjit di atas kedua ujung kaki dengan mata menyipit ke arah celah pagar kayu.
Bocah laki-laki sekitar empat belas tahun dengan rambut awut-awutan dan satu kancing baju yang salah dimasukkan.
Begitu melihat Mu Qingxue datang dari arah jalan, bocah itu turun dari ujung kakinya dan melambaikan tangan dengan riang yang tidak pada tempatnya, seperti seseorang yang baru saja ketahuan mengintip tapi memutuskan berpura-pura itu bukan masalah.
“Nyonya Mu! Selamat siang!”
“Selamat siang.” Mu Qingxue mendekatinya. “Sedang apa di depan rumahku?”
“Tidak apa-apa!” jawab bocah itu cepat, lalu bersiul kecil sambil melihat ke langit.
“Cari Kak Huang Shen?”
Bocah itu turun pandangannya kembali ke arahnya dan terkekeh. “Dia di dalam? Katanya dia bisa terbang. Aku mau lihat.”
“Dia tidak terbang di siang hari,” kata Mu Qingxue dengan wajah lurus.
Bocah itu mempertimbangkan informasi ini dengan sangat serius. “Kalau malam hari?”
“Pulang sana, makan siang dulu.”
Bocah itu cemberut, tapi akhirnya membalikkan badan dan berlari ke arah desa dengan langkah orang yang sudah punya rencana cadangan untuk esok hari.
Mu Qingxue menatap punggungnya sampai hilang di tikungan.
Senyuman di wajahnya muncul sendiri, tanpa dia hitung, tanpa dia pertimbangkan terlebih dulu.
Alhasil dia berdiri di depan pintunya sendiri sebentar, memegang keranjang belanja yang sudah bertambah berat, dan berpikir bahwa setidaknya ada satu hal yang masih bisa membuatnya tersenyum hari ini tanpa usaha apapun.
Tapi pertanyaan Ning Meili masih berputar di suatu tempat di dalam kepalanya, jauh ke dalam, seperti batu kecil yang dilempar ke sumur dan belum terdengar suara jatuhnya.
“Kau berbeda, Qingxue. Dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan.”
Dia membuka pintu dan masuk ke dalam.