Sekuel dari Novel Arjuna Bopo Istimewa.
Di sini kita akan di suguhkan dengan perjalanan cinta antara Arjuna dan Meshwa.
Perjalanan rumah tangga dan kehidupan dari Bopo Istimewa ini, ternyata banyak sekali ujiannya.
Apakah Meshwa yang berstatus sebagai istri sanggup menemani perjalanan Arjuna? ataukah dia akan menyerah?
Di Novel ini juga akan ada kelanjutan kisah cinta Nala dan Mifta. Lalu, bagaimana dengan Dipta? Apakah dia akan menemukan tambatan hati?
simak kelanjutan cerita dari Keluarga Bopo Desa Banyu Alas di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Tersangka
"Sayang, baik - baik di rumah, ya." Kata Arjuna sambil mengecup dahi istrinya
"Iya, Mas tenang aja. Lagian aku gak sendiri, ada Mbak Aci, Shima sama Ara." Jawab Meshwa.
"Ganteng banget Suami aku pake baju kayak gini." Puji Meshwa sambil memandangi Arjuna yang tampak mempesona saat memakai baju khas Bopo.
"Emang kalo gak pake baju ini, Mas gak ganteng?" Tanya Arjuna.
"Ganteng. Tapi ini tuh damagenya berkali - kali lipat gitu." Kekeh Meshwa.
"Mudah - mudahan, kamu juga bisa cepet nemenin Mas ritual ya, Sayang. Gak enak banget tiap ritual kok sendirian." Kata Arjuna sambil memeluk istrinya.
Walaupun sudah menikah dan terhitung sudah menjadi seorang Biyung, namun Meshwa belum bisa mengikuti prosesi ritual lain karena masih di anggap belum sah. Meshwa baru bisa mengikuti ritual lain setelah menjalani ritual Bopo dan Biyung.
"Iya, Mas. In Syaa Allah." Jawab Meshwa.
"Ayo, kayaknya yang lain udah di rumah Ayah." Ajak Meshwa kemudian.
"Mudah - mudahan bisa cepat ikut ritual ya, Nduk." Kata Abimanyu sambil mengusap kepala Meshwa.
"Iya, Kung. Aamiin." Jawab Meshwa yang juga di aminkan oleh yang lain.
"Hati - hati di rumah, ya. Diam di dalam rumah saja, gak usah keluar - keluar dulu ya, Nduk, Nok." Pesan Arunika pada Sashi, Meshwa dan Shima.
"Iya, Yang Ti." Jawab Meshwa dan Sashi hampir bersamaan.
Setelah berkumpul di rumah Arsha dan memastikan semua perlengkapan siap, mereka semua segera berangkat menuju Danau Gondo Mayit.
Sesampainya di pintu masuk, mereka masih harus berjalan mendaki bukit yang menyembunyikan Danau Gondo Mayit.
"Yang Ti kuat? Mau Juna gendong?" Tawar Arjuna saat Yang Tinya mulai terengah - engah.
"Yang Ti kuat kok, Nang. Cuma sedikit sedih aja karena teringat dengan almarhum Pakdemu." Jawab Arunika yang berjalan di apit oleh Suami dan Cucunya.
Ya, ini adalah kali pertama Arunika kembali menginjakkan kaki di Danau Gondo Mayit setelah puluhan tau lalu ia dan Abimanyu datang ke sini.
Masih segar di ingatannya, tiap langkah yang ia tapaki ketika menuju Danau Gondo Mayit dulu. Dengan membawa duka yang menyesakkan dada, ia berjalan mendaki bukit kecil ini.
"Percayalah, ritual duka itu bukan untuk menambah duka. Tetapi untuk menghilangkan duka saat kehilangan anak kita. Di tempat ini, duka itu seperti di angkat. Walaupun tak serta merta menyembuhkan, tetapi setidaknya sesak di dada jauh berkurang." Ujar Arunika.
"Tetapi, warga sangat takut datang ke sini." Kata Arjuna.
"Yang mereka takutkan pasti bukan karena tempat ini. Tetapi kehilangan bayi yang membuat mereka harus ke sini." Sahut Arsha.
"Apa mungkin karena energi negatif dari duka yang terkumpul di sini, makanya Danau Gondo Mayit menjadi menyeramkan?" Tanya Saira.
"Bisa jadi. Hawa di sini sangat berbeda. Dingin, sunyi dan sedikit mencekam." Kata Raina yang di jawab anggukan setuju oleh yang lainnya.
Seperti biasa, saat sampai di tempat ritual, mereka akan mengucapkan salam terlebih dahulu, sebelum memasuki area ritual.
Dan salah satu ciri khas Danau Gondo Mayit adalah, datangnya angin yang membawa aroma busuk untuk menyambut 'tamu' yang datang kesana.
"Silahkan di pimpin, Pak Kades." Kata Arsha.
"Njenengan yang lebih tua, Mas. Aku menghormati yang lebih tua." Jawab Aksa.
"Romo berarti, yang paling tua." Sergah Arsha.
"Halah! Kok tuman. Ben ritual kok yo ape uncal - uncalan ngono kuwi. (Halah! Kok kebiasaan. Setiap ritual kok ya mau lempar - lemparan kayak gitu.)" Omel Abimanyu.
"Ayo di pimpin, Nang. Yang paling muda, harus sering memimpin ritual, biar terbiasa." Kata Abimanyu kemudian yang membuat Arsha, Aksa, Runi, Saira dan Raina terkekeh.
"Kirain Romo ngomel gitu tadi, terus mau mimpin." Kekeh Arsha.
"Taunya, tetep aja di lemparin ke Arjuna." Timpal Aksa.
"Dan aku yang selalu jadi tumbal." Sahut Arjuna yang kembali membuat mereka terkikik.
Raina dan Saira meletakkan sesaji yang mereka bawa di atas sebuah batu besar yang ada di sana. Kemudian kembali berdiri di sebelah suami mereka.
Arjuna pun mengambil tempat sedikit di depan dari Para Bopo dan Biyung lain. Ia kemudian mulai memejamkan mata dan merapalkan bacaan sembari bersidekap dada.
Arjuna menghentakkan kakinya kanannya sebanyak tiga kali, sebelum kembali membuka matanya.
Tak ada angin yang berhembus ketika Arjuna menyelesaikan bacaannya. Tak ada sesuatu yang aneh, seolah alam tak bereaksi dan tak menerima kedatangan mereka.
Meski mereka semua kebingungan, namun mereka tetap melanjutkan ritual hingga ritual ruwat itu selesai.
"Larung sesajinya ke Danau." Titah Abimanyu.
Arjuna, Arsha dan Aksa pun membawa masing - masing satu nampan dan berjalan menuju ke Danau Gondo Mayit.
Ketika mulai mendekati Danau inilah mereka mulai merasakan 'sambutan'. Oksigen seolah perlahan menghilang dari sana. Mereka kesulitan bernafas hingga terasa begitu sesak. Mereka bak seekor ikan di daratan yang sedang berjuang kembali ke air.
"Astaghfirullah!"
"Allahhu Akbar!"
Takbir, tahlil dan tahmid semua keluar dari mulut mereka. Dengan susah payah, Arjuna, Arsha dan Aksa pun berjalan menuju tepi Danau yang seolah menjauh ketika mereka berusaha mendekat.
"Lebih, cepat. Cepat larung sesajinya." Kata Abimanyu dengan suara yang sedikit tercekat. Mereka berusaha menghirup oksigen banyak - banyak sambil terus merapalkan bacaan.
Setelah berjuang keras, ketiga Bopo itu akhirnya berhasil sampai di tepi Danau. Mereka langsung melarung sesaji itu.
Perlahan, sesaji mulai terbawa ke tengah, kemudian berangsur - angsur tenggelam. Saat itulah, kondisi kembali normal. Udara segar dan dingin kembali terasa. Mereka semua bisa kembali bernafas dengan mudah.
Arjuna sampai merebahkan badannya di atas rerumputan karena merasa lega bisa kembali bernafas. Sementara yang lain pun terduduk lemas di atas rerumputan.
Ketiga Biyung bahkan menangis, meminta maaf mewakilkan 'anak - anak' mereka yang telah berbuat salah, walaupun mereka belum tau siapa orangnya.
Setelah selesai berurusan dengan Danau Gondo Mayit, mereka pun segera kembali dan langsung mengumpulkan dua keluarga besar yang sedang di rundung duka itu.
Dua keluarga itu, tentu tak mengerti mengapa mereka di kumpulkan. Sedangkan mereka masih dalam kondisi berduka karena anggota keluarga mereka yang meninggal beruntun dalam empat hari ini.
Masih dengan memakai baju Bopo dan Biyung, mereka berkumpul di Balai Pertemuan sore itu. Abimanyu pun menyampaikan tujuan mereka, sebelum Aksa dan Arjuna melanjutkan dengan introgasi.
Sementara Arsha, hanya terdiam sambil mengamati setiap reaksi dan mimik wajah mereka. Arsha memang paling pandai membaca ekspresi hingga tak mudah di bohongi.
"Dimana Rustam dan Wiwit?" Tanya Aksa yang di jawab gelengan oleh semua anggota keluarga.
"Kami baru sadar, kalau mereka berdua tidak ada, Pak Kades." Jawab salah satu keluarga.
"Kalau begitu, mereka berdua lah pelakunya." Kata Arsha yang menyimpulkan. Karena hanya dua orang itulah yang tak ada dan keduanya memang sedang berpacaran.
Tak hanya Para Bopo dan Biyung yang geram. Kini, keluarga mereka pun merasa geram karena ulah dua orang itu, membuat mereka kehilangan anggota keluarga yang lain.
"Kita cari mereka. Jangan ada yang menyembunyikan Rustam dan Wiwit jika tak ingin mendapat sanksi adat." Kata Arjuna yang memperingatkan dengan tegas.