Seorang anak lelaki, yang harus menyaksikan kematian ibunya di ulang tahunnya yang ke 9. Tumbuh dengan hati yang dingin, seolah tak tersentuh. Tetapi ia sudah terbiasa, dengan sahabatnya. Petualangan bersama para roh, kuy kita baca🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita Kematian Tiga Arwah
Tak lama setelah angin itu bertiup, menerpa wajah Ghaffar. Kini Ghaffar sudah berpindah tempat, lebih tepatnya jiwa ia yang kini berada di masa lalu. Ini bukan yang pertama kalinya, ia tentu pernah melakukan hal ini. Di kasus-kasus sebelumnya, Ghaffar melihat ke sekeliling.
'Sebuah sekolah? Ini sekolah Theresia kah?' Ghaffar melihat lingkungan sekolah elit, ia berdiri di tengah-tengah lapangan basket. Ini merupakan Internasional School besar, yang ada di kota. Sekolah ini memiliki fasilitas lengkap, di mulai dari TK sampai ke SMA. Saat Ghaffar tengah fokus memperhatikan sekitar, tiba-tiba ia mendengar suara tak jauh darinya. Ghaffar berbalik, ia melihat ada seorang wanita yang sudah tak muda lagi. Bahkan terlihat usia lanjut, mungkin sekitar 60 tahun ke atas.
'Apa yang dia bawa, seperti... peti buah' karena penasaran, Ghaffar mengikuti wanita tersebut. Wanita itu menggumamkan sesuatu, tetapi Ghaffar tak bisa mendengarnya. Ia pun mendekat, karena penasaran dengan apa yang di ucapkan wanita tersebut.
"Anak baik tidak boleh lama-lama hidup, aku akan membantu kalian terbebas dari penderitaan yang kalian alami. Kalian hanya diam saja, saat kalian di perlakukan tidak adil oleh teman-teman kalian. Bahkan, kalian juga tidak mengadukan hal ini pada orang tuanya. Jadi... aku akan membantu kalian, seperti aku membantu anakku bertemu dengan Tuhan lebih cepat." Ghaffar membulatkan kedua bola matanya
'Jadi... dia bukan hanya membunuh anak orang lain, bahkan anaknya pun ia habisi? Astaghfirullah' Ghaffar masih mengikuti wanita tua tersebut
Bila di lihat dari pakaiannya, wanita itu bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sekolah ini. Mereka semakin masuk ke dalam sekolah, Ghaffar mengerutkan dahinya, saat ia melewati sebuah lubang di dinding penghalang. Yang di tutupi oleh tumpukan meja dan kursi, cara dia memanipulasi pintu tersebut.
Lubang yang,,, tidak terlalu kecil, tapi juga tak besar. Cukup untuk satu orang, wanita itu berjongkok dan masuk ke dalam lubang tersebut. Setelah sebelumnya, ia memasukkan terlebih dahulu peti buah yang ia bawa-bawa. Ghaffar ikut masuk, saat ia keluar dari lubang tersebut. Lagi-lagi Ghaffar di kejutkan, dengan apa yang ada di depannya.
Di depannya kini, menjulang bangunan besar tak terurus. Wanita itu terus melangkahkan kakinya, melewati sebuah taman yang terbengkalai. Rumput liar, terlihat tumbuh begitu tinggi. ILALANG...
Sampai mereka kini berada di depan sebuah pintu..
KRIEEETTT
Suara pintu, yang sudah lama tidak mendapatkan perawatan. Begitu terbuka, bau lembab dan anyir menguar keluar. Ghaffar sempat tahan nafas, karena bau yang begitu menusuk hidungnya. Kembali melangkahkan kakinya, untuk masuk ke dalam rumah. Semakin ke dalam, baunya semakin jelas.
"Kamu yang tenang ya, ibu akan bantu kamu meringankan rasa sakitnya. Orang tua mu tak peduli, biar ibu yang peduli. Ini hanya sakit sebentar, setelahnya kamu akan bertemu dengan Tuhan mu." ucap wanita itu, Ghaffar mendengar suara jeritan tertahan. Ia pun mendekat, kedua matanya kembali membulat sempurna.
'THERESIA'
"MMMMPPPHHH.... MMMPPPHHH...." Theresia menangis, seraya menggelengkan kepalanya. Ia takut, sangat takut.
"Ssssttt... tenang sayang, sebentar... hanya sebentar saja... Nanti kamu akan bertemu dengan anak ibu, dia sudah lebih dulu di sana. Sampaikan salam ibu padanya, ya?" wanita itu ke berjalan ke samping, Ghaffar ingin sekali menolong. Tapi tak bisa, kejadian di depannya saat ini adalah masa lalu.
'BRENGSEK, APA YANG AKAN KAMU LAKUKAN?' Ghaffar berteriak, bahkan sampai mengumpat. Karena melihat wanita itu, ternyata mengambil sebuah palu besar. Ia menyeretnya, karena ukuran palu itu memang besar. PALU MARTIL
SREEETTTT!!! SREEETTT!!!
"MMMHHHH... MMMHHH..." Theresia kembali menggelengkan kepalanya, kedua tangan dan kakinya terikat. Ia menghentakkan kedua kakinya ke lantai, bahkan ia menghentakkan kepalanya ke belakang. Saking takutnya, ia benar-benar takut.
'TOOOLLLOOONG!!!!' jeritnya dalam hati, mulutnya yang di sumpal gumpalan kain. Membuatnya tak bisa berteriak, air matanya semakin tak terkendali.
"MMMMHHH... EEGGGHHH... EGGHHHH... MMMHHHH" hati Ghaffar begitu sakit melihatnya, seolah ia melihat kembali kejadian saat ibunya meninggal
'JANGAAANN... JANGAAANN BRENGSEK!!!' teriak Ghaffar lagi
'TOOOLLOONG... WAAAAAA..... PAPAAA... MAMAAA.... HWAAAAAA...' kembali Theresia menjerit di dalam hati, berharap ada yang datang menolongnya. Ghaffar bahkan tak sadar, bila dirinya kini tengah menangis.
"ssssttt.... sabar ya, hanya sebentar saja.." wanita itu mengangkat palu martil, menggunakan kedua tangannya. Ia mengayunkan benda itu ke arah kepala Theresia dan..
BUAGH!!!
KREEEKK
'BRENGSEEEEKKK... HWAAAA...' Ghaffar menangis kencang
Ini kejam, terlalu kejam.
Sekali pukul, tentu membuat Theresia yang masih kecil langsung tak bernyawa.
"Tuh kan... sakitnya cuma sebentar, sekarang udah ga sakit lagi." ucap wanita itu, wajahnya terlihat biasa saja.
Kejadian itu terulang pada Diki dan Arkana, sama persis. Dan jenazah mereka di masukkan ke dalam gentong besar, ternyata bukan ada 3 gentong di sana. Melainkan banyak, itu artinya korban bukan hanya Theresia, Diki dan Arkana.
.
"GHAFF... GHAFFAR!!!" teriak Akbar
Akbar terpaksa masuk, saat ia mendengar suara teriakan dan tangisan Ghaffar. Akbar memang tak pulang, ia memilih menunggu di depan kamar Ghaffar. Mendengar suara teriakan Akbar, Ghaffar pun terbangun. Ghaffar memeluk Akbar, Akbar yang tak tau kenapa. Ia pun ikut menangis, mendengar tangisan Ghaffar yang begitu menyakitkan.
"IBU..... HUHU..."
Selama bertahun-tahun, ia tak pernah melihat atau mendengar sahabatnya menangis. Bahkan saat mengantarkan kedua orang tua nya ke liang lahat pun, Ghaffar hanya menatap kosong. Tak ada air mata, atau pun ekspresi lain selain datar. Tapi sekarang... ia melihat sahabatnya begitu rapuh, sahabatnya yang terlihat tegar, bahkan terkesan angkuh. Dingin, tak tersentuh. Kini tengah menangis meraung, di dalam dekapannya.
Akbar hanya diam, ia menepuk pelan punggung Ghaffar. Ia tak tau, apa yang harus ia ucapkan. Ia tak tau, apa yang sebenarnya di rasakan oleh Ghaffar.
Setelah beberapa saat, tangisan Ghaffar pun berhenti.
"Sorry Bar" ucap Ghaffar, dengan suara seraknya
"Ga masalah, kamu teh memang seharusnya seperti ini Ghaf. Kalo memang sedih, nangis. Kalo bahagia, ketawa. Kalo kesel, ya marah. Luapin aja semuanya perasaan kamu, jangan di pendem sendiri. Aku emang ga tau, sebesar apa rasa sakit kamu. Tapi seenggaknya, aku bisa jadi tempat kamu berkeluh kesah. Sampe nanti, jodoh kamu datang." jawab Akbar, membuat Ghaffar memukul pelan lengan atasnya.
Akbar terkekeh, ia tak ingin bertanya sekarang. Kalo memang mau, Ghaffar pasti akan cerita sendiri nanti.
"Udah tenang sekarang?" tanya Akbar, Ghaffar mengangguk
"Aku ke kamar mandi dulu ya" Akbar mengiyakan, ia melihat waktu di dinding kamar Ghaffar. Waktu sudah menunjukkan 17.50, sebentar lagi adzan Maghrib. Ia pun memilih keluar, bersiap untuk shalat.
.
.
Semua orang tua ketiga arwah sudah datang kembali ke kafe, bahkan kini bukan hanya mereka. Orang tua Arkana dan Diki, membawa anak-anaknya yang lain. Arkana memiliki dua kakak, laki-laki dan perempuan. Sedangkan Diki, memiliki satu kakak lelaki.
"Apa nak Ghaffar sudah menemukan, keberadaan jenazah anak-anak kami?" tanya om Bagus
"Ya....
...****************...
Jangan lupa like, komen, gift dan vote nyaaaa.....🥰
☕️nya emak😘