Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Liana melangkah keluar ke teras dengan rambut yang masih basah terbalut handuk kecil.
Ia sudah mengenakan daster batik kesayangannya, berusaha tampil sealami mungkin di depan Erwin. Namun, saat sepasang mata mereka bertemu, pertahanan yang ia bangun sekuat tenaga sejak di stasiun tadi seketika runtuh.
Erwin berdiri dari kursi rotannya, senyum lebarnya mendadak surut.
Sebagai pria yang tumbuh besar bersama Liana, ia hafal setiap gurat di wajah gadis itu.
Ia melihat mata Liana yang merah dan bengkak, serta binar yang biasanya penuh semangat kini redup dan kosong.
"Liana..." bisik Erwin pelan, langkahnya maju satu tindak.
"Ada apa, Ndhuk? Kamu kenapa?"
Liana hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia mencoba tersenyum, namun bibirnya justru bergetar hebat.
Ia ingin bicara bahwa ia hanya kelelahan, tapi air matanya justru mengalir deras tanpa permisi, membasahi pipinya yang pucat.
Isakan kecil yang sedari tadi ia tahan di tenggorokan mulai pecah.
"Liana, cerita sama aku. Siapa yang buat kamu begini di Jakarta?" tanya Erwin lagi, suaranya mulai terdengar tegas dan penuh proteksi.
Liana melirik ke arah pintu dapur, takut Mamanya mendengar tangisannya. I
a tidak ingin kebahagiaan Mamanya menyambut kepulangannya hancur karena melihat putri tunggalnya merana.
Melihat kepanikan di mata Liana, Erwin segera tanggap. Ia meraih jemari Liana yang dingin dan gemetar.
"Ayo, ikut aku sebentar. Kita ke gumuk belakang desa, tempat biasa kita melihat matahari terbenam," bisik Erwin rendah agar tidak terdengar sampai ke dalam rumah.
"Jangan di sini, nanti Ibu curiga. Ayo, pakai sandalmu."
Liana menurut seperti anak kecil yang kehilangan arah.
Ia mengikuti Erwin berjalan keluar pagar, menyusuri jalan setapak di antara pematang sawah menuju perbukitan kecil di belakang desa mereka.
Di sana, suasana jauh lebih sepi, hanya ada semilir angin sore yang mengusap batang-batang padi.
Sesampainya di bawah pohon beringin besar yang menghadap lembah, Erwin berhenti.
Ia membalikkan tubuh Liana agar menghadapnya.
"Sekarang tumpahkan semuanya, Li. Jangan dipendam sendiri," ucap Erwin lembut namun dalam.
Liana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang hebat. Di tempat sunyi itu, di depan sahabat yang paling mengenalnya, Liana akhirnya tumpah.
Ia menceritakan segalanya—tentang tarian yang ia kira cinta, tentang cincin yang ternyata sandiwara, dan tentang Arum yang menghancurkan seluruh harga dirinya sebagai wanita.
Erwin mendengarkan dalam diam, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Amarah membakar dadanya mendengar nama Adrian, pria kota yang berani menyentuh dan menyakiti Liana-nya.
"Dia bukan manusia, Li. Dia iblis yang memakai topeng produser," desis Erwin tajam, matanya menatap tajam ke arah cakrawala.
"Kamu aman di sini sekarang. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk si Adrian itu, menginjakkan kaki di tanah ini untuk menyakitimu lagi."
Angin sore berembus lebih kencang, menerbangkan helai rambut Liana yang masih lembap.
Di atas bukit ini, di bawah naungan pohon beringin tua yang menjadi saksi bisu masa kecil mereka, kesunyian terasa begitu menyesakkan.
Erwin masih setia berdiri di sampingnya, membiarkan Liana menuntaskan tangisnya hingga napas gadis itu mulai beraturan.
Erwin menyerahkan sapu tangan kusam namun bersih dari saku celananya.
"Hapus air matamu, Li. Nanti kalau pulang dan matamu bengkak begitu, Ibu pasti tahu kamu tidak sedang 'kelilipan debu stasiun'."
Liana menerima sapu tangan itu, mengusap pipinya yang perih.
"Aku merasa bodoh, Win. Aku merasa seperti barang pajangan yang hanya dipakai untuk mempercantik filmnya, lalu dibuang saat pemilik aslinya datang."
"Kamu bukan barang, Liana. Kamu itu manusia, punya hati," potong Erwin tegas.
Ia menatap lurus ke arah hamparan sawah di bawah mereka.
"Sejak awal aku sudah tidak tenang waktu kamu bilang mau ke Jakarta sendirian. Orang-orang di sana, mereka punya cara bicara yang manis, tapi hatinya seringkali penuh duri."
Liana menunduk, menatap jemarinya yang kini terasa kosong tanpa cincin berlian itu.
"Dia memberiku cincin, Win. Dia bilang itu tanda tanggung jawab. Dia membawaku ke Puncak, mengajakku menari seolah-olah dunia hanya milik kami berdua. Bagaimana bisa seseorang berakting sejahat itu? Bahkan saat kamera sudah mati?"
Erwin menghela napas panjang, tangannya meremas dahan pohon di sampingnya.
"Karena bagi orang seperti dia, segalanya adalah panggung sandiwara. Dia terbiasa mengatur skenario, jadi dia pikir dia bisa mengatur hidupmu juga. Dia tidak tahu kalau di sini, di Jogja, cinta itu bukan soal kontrak atau dekorasi mewah. Cinta itu soal kejujuran."
Erwin terdiam sejenak, lalu menoleh menatap Liana dengan tatapan yang lebih dalam.
"Apa kamu masih mencintainya?"
Pertanyaan itu menghujam jantung Liana. Ia terdiam cukup lama, membiarkan suara gesekan daun beringin menjawab kegelisahannya.
"Aku membencinya, Win. Aku sangat membencinya karena dia membuatku merasa sangat berharga, lalu menghancurkanku hingga aku merasa tidak punya harga diri lagi di depan wanita itu."
"Kalau begitu, lupakan Jakarta," ucap Erwin mantap. Ia melangkah satu tindak lebih dekat.
"Anggap saja itu mimpi buruk yang sudah selesai saat kamu turun dari kereta tadi pagi. Di sini ada aku, ada Ibu, ada rumahmu. Tidak akan ada yang berani menyebutmu 'wanita kumuh' di sini. Aku yang akan jadi pagar paling depan kalau si Adrian itu berani muncul di depan mataku."
Liana menatap Erwin, melihat ketulusan yang murni di mata sahabatnya itu.
Rasa hangat yang berbeda mulai merayap di hatinya, rasa aman yang tidak pernah ia dapatkan selama di apartemen mewah Jakarta.
"Terima kasih, Win. Aku tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada kamu," bisik Liana tulus.
Erwin tersenyum tipis, senyum yang membawa ketenangan.
"Sudah sore, ayo pulang. Soto buatan Ibu pasti sudah dingin. Kita harus terlihat biasa saja di depan Ibu, oke?"
Liana mengangguk, mencoba menegakkan punggungnya. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa melupakan Adrian tidak akan semudah membalikkan telapak tangan, terutama saat bayangan ciuman di studio utama itu masih menghantui setiap embusan napasnya.
Di sebuah penthouse mewah yang biasanya rapi dan berkelas, kini suasana terasa pengap dan berantakan.
Botol-botol minuman keras berserakan di atas meja kaca, beberapa di antaranya sudah kosong.
Adrian duduk merosot di lantai marmer yang dingin, dasinya sudah terlepas entah ke mana, dan kemeja putih mahalnya kini penuh dengan noda minuman.
Matanya merah, bukan hanya karena alkohol, tapi karena penyesalan yang membakar kewarasannya.
Di tangannya, ia masih menggenggam erat cincin berlian yang ditinggalkan Liana di meja rias.
Brak!
Pintu apartemen terbuka kasar. Rina melangkah masuk dengan wajah penuh kemarahan sekaligus keprihatinan.
Ia tertegun sejenak melihat bosnya yang biasanya sangat berwibawa kini tampak seperti pria yang kehilangan arah hidup.
"Lihat dirimu sendiri, Adrian! Kamu mau mati pelan-pelan karena alkohol?" bentak Rina sambil merebut botol dari tangan Adrian dan mengempaskannya ke meja.
Adrian hanya tertawa hambar, suara tawanya terdengar serak dan menyedihkan.
"Dia pergi, Rina. Liana pergi. Dia bilang aku jahat. Dia bilang aku mempermainkan hatinya."
"Memang kamu jahat! Kamu pengecut karena tidak menyelesaikan urusanmu dengan Arum lebih awal!" Rina berdiri di depan Adrian, berkacak pinggang dengan mata yang berkilat.
"Tapi duduk di sini dan mabuk-mabukan tidak akan membawa Liana kembali. Kamu pikir dengan botol-botol ini Liana akan tahu kalau kamu benar-benar mencintainya?"
Adrian terdiam, kepalanya tertunduk lesu. "Arum menghinanya, Rina. Dia menyebutnya wanita kumuh. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa saat itu."
Rina berjongkok di depan Adrian, memegang bahu pria itu dengan tegas agar ia menatapnya.
"Kalau kamu memang mencintai Liana, bukan hanya sebagai pemeran di filmmu tapi sebagai wanita di hidupmu, maka jemput lah dia! Pergi ke Yogyakarta sekarang juga. Temui dia di tanah kelahirannya, minta maaf secara jantan, dan buktikan bahwa dia lebih berharga dari segalanya—termasuk dari Arum dan kariermu."
Adrian mendongak, matanya mulai menatap Rina dengan secercah kesadaran.
"Dia tidak akan mau melihatku, Rina," bisik Adrian ragu.
"Mungkin tidak sekarang. Tapi kalau kamu hanya diam di sini, kamu akan kehilangan dia selamanya. Apa kamu mau melihat dia menikah dengan sahabat kecilnya itu?" tanya Rina memprovokasi.
Mendengar kata "menikah dengan sahabatnya", Adrian seolah tersengat listrik.
Bayangan Liana bersama Erwin membakar rasa posesifnya yang paling dalam.
Ia mencengkeram cincin di tangannya kuat-kuat, lalu berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
"Ambilkan kunci mobilku, Rina. Dan siapkan tiket atau apa pun. Aku akan ke Jogja sekarang," ucap Adrian dengan nada yang kembali tegas, meski napasnya masih beraroma alkohol.
"Bagus. Itu baru produser yang aku kenal," sahut Rina lega.
"Tapi mandi dulu, Adrian. Jangan temui dia dengan bau seperti ini kalau kamu tidak ingin diusir oleh ibunya."
Adrian mengangguk mantap. Ia akan mengejar Liana.
Ia akan mempertaruhkan segalanya untuk mendapatkan pengampunan dari gadis yang hidupnya telah ia hancurkan demi sebuah ego dan sandiwara.
ditunggu crazy upnya