NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10.Proses Memasak Yang Harus Sempurna

Dapur klub memasak SMA Sakura Harapan yang biasanya mengharumkan koridor dengan aroma manis kue bolu atau gurihnya tumisan sayuran, sore ini terasa seperti ruangan yang jauh berbeda. Uap panas pekat membubung dari sepuluh panci besar yang menghiasi kompor, dan suara denting pisau yang terus menyilang talenan membuat ritme yang keras namun teratur—seolah setiap irama adalah peringatan bahwa waktu tidak akan menunggu mereka.

Ren berdiri di tengah ruangan dengan apron hitam yang terikat rapat di pinggangnya, ujung lengan bajunya digulung hingga siku. Matanya yang biasanya terlihat santai bahkan sedikit malas saat di kelas, kini bersinar dengan ketajaman yang seperti mata elang mengawasi setiap gerakan di sekitarnya. Di depannya, Hana dan Yuki berdiri di masing-masing stasiun kerja, dahi mereka menetes keringat dan napas mulai menjadi pendek dan berat.

"Ulangi dari awal, Hana." Suara Ren terdengar datar dan jelas, tanpa ada sedikit pun nada lembut di dalamnya. "Potongan wortelmu masih tidak seragam—beberapa ada yang tipis tiga milimeter, yang lain tebal lima milimeter lebih."

Hana menyeka keringat yang mengalir ke lehernya dengan punggung tangan kanannya yang sudah mulai gemetar. Pisau besar di tangannya terasa semakin berat setelah satu jam lebih memotong hampir dua kilogram wortel yang sudah dicuci bersih. "Ren... aku sudah mencoba yang terbaik. Tangan ku mulai kaku tidak bisa lagi lincah seperti tadi. Ini cuma bahan untuk sup dasar kan? Kenapa harus presisi sebegitu riginya?"

Ren tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat hingga tubuhnya berada tepat di sebelah Hana, dan gadis itu bisa merasakan hawa panas dari tubuhnya yang juga sudah berkeringat akibat bekerja tanpa henti. Ren mengambil satu potongan wortel dari baskom hasil potongan Hana, lalu mengangkatnya perlahan ke arah cahaya lampu neon di langit-langit dapur. Cahaya menerobos melalui sayuran, menunjukkan betapa tidak rata ketebalannya.

"Jika ukuran potongan berbeda, maka waktu yang dibutuhkan untuk matang juga berbeda." Ren menjelaskannya dengan suara pelan namun setiap kata menusuk seperti pisau yang ia pegang. Ia menatap mata Hana yang mulai berkaca-kaca karena kelelahan dan rasa frustrasi yang membangun di dalam dirinya. "Saat dimasak bersama, bagian yang lebih kecil akan cepat hancur menjadi bubur, sementara bagian yang lebih besar masih akan terasa keras saat digigit. Ryuji Asuka menggunakan mesin pemotong laser yang bisa menghasilkan potongan sama persis hingga satu milimeter saja perbedaannya—dia mengandalkan teknologi sempurna. Jika kita yang hanya punya tangan manusia tidak bisa memberikan presisi yang lebih baik bahkan dari segi rasa, kita sudah kalah sebelum memasuki arena kompetisi."

Hana menggigit bibir bawahnya hingga hampir memerah. Ada rasa ingin marah yang muncul di dadanya—ingin melempar pisau itu dan berlari keluar dari dapur yang terasa semakin sesak. Namun saat matanya menyusuri tangan kanan Ren yang sedang memegang potongan wortel, ia melihat bekas luka kecil yang sudah mengering dan kapalan tebal di ujung jari jemari sang pemuda. Ia tahu, Ren selalu lebih keras pada dirinya sendiri daripada kepada siapapun di sekitarnya.

Di stasiun kerja sebelahnya, Yuki sedang berjuang dengan panci kaldu ikan yang berada di atas kompor kecil. Tangannya yang biasanya stabil kini sedikit gemetar saat ia mencoba memisahkan lapisan lemak yang mengapung di permukaan dengan sendok kecil berujung runcing. Setiap gerakan harus tepat agar tidak mengganggu kejernihan cairan bening di bawahnya.

"Yuki, hidungmu mulai tumpul." Ren berkata tanpa perlu melihat ke arahnya, seolah ia bisa merasakan setiap perubahan di dalam dapur itu. "Suhu kompor terlalu tinggi—protein ikan sudah mulai pecah dan mengubah struktur molekulnya. Jika kamu tidak segera menurunkan api, kaldumu akan mulai berbau amis dalam sepuluh menit lagi."

Yuki tersentak dan segera mengambil tutup kompor untuk mengecilkan nyala api. Wajahnya yang biasanya tenang dan tidak banyak bereaksi kini tampak sangat tegang, garis alisnya sedikit menyilang ke atas. "Maaf, Ren. Aku terlalu fokus pada warna kaldumu agar tetap bening seperti kristal, aku tidak memperhatikan bahwa suhu sudah mulai melampaui batas yang diizinkan."

"Fokuslah, Yuki." Ren berjalan mengitari setiap meja kerja dengan langkah yang tetap stabil, memeriksa setiap detail kecil mulai dari posisi pisau hingga tingkat kebersihan talenan. "Kamu adalah radar kita—kamu yang bisa merasakan setiap perubahan rasa yang paling kecil. Jika radar kita tidak bekerja dengan baik, kapal kita akan mudah tersesat dan menabrak karang di tengah lautan yang luas."

Sore itu, hubungan di antara mereka bertiga bukan lagi tentang kedekatan pribadi atau perasaan muda yang manis. Ini lebih seperti ikatan antara prajurit yang sedang berlatih di medan perang—ada ketegangan yang terasa di setiap sudut ruangan, sebuah bahasa tanpa kata yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang merasakan tekanan yang sama. Namun di balik kekerasan pelatihan itu, ada rasa percaya yang dalam yang mengalir di antara mereka. Hana dan Yuki tahu bahwa setiap teguran yang keluar dari mulut Ren bukan karena kebencian atau kesusahan hati—melainkan bentuk perlindungan agar mereka tidak pernah mengalami kehinaan saat harus menghadapi Ryuji dan tim elitnya nanti.

Setelah tiga jam penuh latihan tanpa jeda sedikit pun, Ren akhirnya menghela napas panjang dan mengangguk perlahan. "Cukup untuk hari ini. Bersihkan semua alat dan bahan yang belum terpakai dengan benar—jangan sampai ada yang terbuang percuma."

Hana langsung menjatuhkan pisau di talenan dengan suara "klunk" yang cukup keras, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas bangku kayu di sudut dapur. Tangannya yang masih menggenggam ujung pisau berdenyut dengan rasa nyeri yang menusuk, dan keringat sudah merendam seluruh bagian depan baju seragamnya. Tiba-tiba, sesuatu yang dingin menyentuh pipinya yang masih hangat karena panas dapur. Ia mengangkat kepala dan melihat Ren berdiri di depan dirinya, tangan kanannya menyodorkan sebotol minuman elektrolit yang masih dingin dari lemari pendingin.

"Minum ini dulu." Suara Ren sudah tidak lagi sedingin saat pelatihan berlangsung—ada sentuhan kehangatan yang tersembunyi di dalamnya. "Setelah sampai di rumah, rendam tanganmu di dalam air hangat yang dicampur garam epsom selama sekitar sepuluh menit. Itu akan membantu mengurangi nyeri dan kekakuan ototmu."

Hana menerima botol itu dengan hati-hati, dan saat jemari mereka bersentuhan sesaat, Ren tidak segera menarik tangannya kembali. Ia membiarkan sentuhan itu berlangsung sebentar, matanya menatap mata Hana dengan pandangan yang tidak berkata apa-apa namun jelas menyampaikan permintaan maaf yang tersirat.

"Kamu terlalu kejam padaku tadi, Ren." Hana mengucapkannya dengan suara pelan, namun sudut bibirnya sudah mulai sedikit terangkat membentuk senyum yang lemah.

Ren menggelengkan kepalanya perlahan. "Dunia kuliner jauh lebih kejam daripada yang kulakukan padamu sekarang, Hana. Aku hanya ingin kamu siap menghadapinya sebelum terlambat." Ia kemudian berbalik ke arah Yuki yang sedang membersihkan panci kaldu, dan memberikan selembar handuk kain bersih yang masih hangat dari mesin pengering. "Kerja bagus untuk bagian akhir tadi—kamu berhasil menyelamatkan kaldumu sebelum benar-benar rusak. Rasa ikannya sudah mulai keluar dengan sempurna."

Yuki tersenyum lemas dan menyandarkan sisi kepalanya ke dinding yang dingin. Tubuhnya merasa sangat lelah seolah telah berlari sejauh puluhan kilometer. "Aku merasa seperti baru saja melewati ujian yang bisa membuat atau menghancurkan hidupku. Tapi..." Ia mengangkat kepala dan menatap Ren dengan pandangan hangat. "...rasanya menyenangkan bisa bekerja sekeras ini bersama kamu lagi, seperti dulu saat kita masih kecil dan sering bermain di belakang dapur Ren’s Cuisine."

Hana menyaksikan interaksi antara keduanya dari tempat duduknya. Ada rasa cemburu yang muncul sebentar di dalam hatinya, namun segera digantikan oleh rasa bangga yang mendalam. Mereka adalah satu tim—mereka berbagi rasa lelah yang sama, keringat yang telah mengotori baju mereka dengan cara yang sama, dan impian yang sama besar untuk menunjukkan bahwa mereka layak bersaing.

Tiba-tiba, pintu kayu dapur terbuka perlahan tanpa ada suara yang menyertai. Bu Keiko berdiri di sana dengan beberapa lembar kertas di tangan, wajahnya tetap menunjukkan ekspresi serius namun ada kilatan bangga yang muncul sesaat di mata nya. Ia sudah berdiri di balik kaca pintu selama hampir satu jam terakhir, memperhatikan setiap langkah pelatihan mereka dengan cermat.

"Kalian masih belum pulang?" Bu Keiko masuk ke dalam dapur dan meletakkan tumpukan dokumen di atas meja kerja yang sudah mulai dibersihkan. Di sampul kertas terlihat tulisan besar: "ANALISIS MENU ANDALAN ASUKA JAYA". "Aku sudah menyusun beberapa data strategi tentang kekuatan dan kelemahan tim kita serta lawan kita untuk besok pagi. Tapi melihat kondisi kalian yang sudah berkeringat seperti ini, rasanya makanan yang bergizi lebih penting daripada analisis yang mungkin akan membuat kalian semakin lelah."

Ia berjalan lebih jauh ke dalam ruangan dan menatap Ren dengan pandangan yang dalam, seolah sedang melihat sesuatu yang jauh lebih dari sekadar seorang siswa yang sedang memimpin latihan. "Cara kamu memimpin dan mendidik teman satu timmu tadi... kamu sangat mengingatkanku pada seseorang yang pernah aku kenal—seseorang yang sangat hebat dalam memasak dan memiliki semangat yang tidak pernah padam bahkan di tengah kesulitan."

Ren hanya terdiam dan mengangguk perlahan sebagai balasan. Ada rasa penasaran yang muncul di dalam dirinya, namun ia memilih untuk tidak mengajukan pertanyaan. Instingnya memberitahu bahwa Bu Keiko tahu lebih banyak tentang masa lalu keluarganya dan Ren’s Cuisine daripada yang ia kira.

Malam semakin larut di Kota Karasu, dan suara aktivitas di sekolah sudah mulai hilang digantikan oleh kebisingan malam yang lebih tenang. Di dalam dapur yang kini mulai sejuk dan sunyi itu, empat orang dengan latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda satu sama lain mulai menyatukan visi mereka menjadi satu. Mereka tahu bahwa Ryuji Asuka dan tim Asuka Jaya mungkin memiliki segalanya—modal besar, teknologi canggih, dan reputasi yang sudah terbentuk. Tapi mereka memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang atau didapatkan dari mesin: semangat yang menyala seperti bara api, bahkan saat harus tumbuh di tengah rasa sakit dan kesulitan.

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!