NovelToon NovelToon
THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Nia Rmdhn

Rian, cowok populer ber-skill indigo, effort banget ngejagain Arini yang amat dicintainya lewat penglihatan masa depan yang nggak pernah fail.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KIRIMAN MISTERIUS DAN PENGAWASAN JARAK JAUH

Sebelum Arini sempat menjejakkan kaki di atas step motor Ninja hitam yang gahar itu, Rian tiba-tiba berbalik dan menyodorkan ponselnya yang layarnya masih menyala.

"Nih," ucap Rian singkat.

Arini menaikkan dahi, bingung dengan maksud cowok di depannya. "Kenapa?"

"Catat nomor kamu di sini. Jadi kalau kamu kangen, kamu bisa hubungi aku," goda Rian sambil mengedipkan sebelah mata, vibe-nya bener-bener main character yang percaya diri tingkat dewa.

Arini tersenyum tipis, berusaha keras menyembunyikan rasa senangnya yang mulai overflow. "Idih, pede banget! Enggak mau, ah!"

Rian menarik kembali ponselnya dengan gaya santai, seolah penolakan Arini nggak berpengaruh apa-apa. "Ya sudah, kalau kamu nggak mau kasih. Aku bisa menerawang sendiri nomormu pakai kekuatan superku."

Tawa Arini pecah seketika. Rasanya konyol mendengar cowok sekeren Rian bicara soal kekuatan super di tengah parkiran. "Emang bisa?"

"Apapun tentang kamu, pasti bisa aku terawang. Jangankan nomor HP, apa yang lagi kamu pikirkan sekarang pun aku tahu," balas Rian penuh percaya diri, matanya menatap lekat ke manik mata Arini.

"Ih, Rian mulai deh halu-nya! Sudah, ayo jalan, keburu sore tahu!" Arini menepuk bahu Rian pelan, menyuruhnya segera menyalakan mesin yang menderu halus itu.

Sesampainya di depan pagar rumah Arini, suasana yang tadinya santai mendadak berubah jadi agak awkward. Di teras rumah, tampak Bapak dan Ibu Arini sedang duduk bersantai sambil menikmati teh sore. Mereka langsung pasang mode "intel" saat melihat motor besar berhenti di depan pagar.

"Arini sama siapa itu, Yah? Kok motornya gede banget, kayak pemain sinetron," bisik Ibu Arini kepo maksimal.

Bapak Arini mengecilkan matanya, mencoba fokus. "Oh, sepertinya itu anak yang kemarin ke sini bawa jadwal tambahan, yang namanya Rian itu."

Arini turun dari motor dan menoleh ke arah Rian yang masih memakai helm. "Ada orang tuaku di teras. Mau mampir dulu?"

Rian mengangguk sopan, langsung menunjukkan sisi gentleman-nya. "Boleh, tapi aku cuma pamit saja ya, sudah sore. Nggak enak kalau bertamu kemalaman."

Keduanya berjalan masuk ke halaman. Melihat ada tamu, orang tua Arini serentak berdiri. Rian dengan sigap menyalami tangan Bapak dan Ibu Arini dengan gerakan yang sangat takzim.

"Assalamualaikum, Pak, Bu," sapa Rian dengan suara berat yang sopan.

"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.

Ibu Arini langsung mendekat dengan wajah berseri-seri, tipikal ibu-ibu yang nemu topik seru. "Oh, jadi ini Rian yang katanya bisa meramal itu ya? Kemarin kamu tebak makanan kesukaan Ayahnya Arini bener semua. Ibu mau dong diterawang juga! Masa Ayahnya aja yang kebagian," Ibu Arini tertawa menggoda.

"Ih, Ibu apa sih! Masa percaya saja sama ramalan, itu kan cuma iseng," potong Arini, wajahnya mulai panas karena tingkah ibunya yang hyper banget.

"Ayo Rian, cepat terawang Ibu! Ibu lagi pengen tau sesuatu nih," paksa sang Ibu makin penasaran.

Rian tersenyum misterius. Ia seolah-olah memejamkan mata sejenak, memasang tampang serius seolah sedang berkomunikasi dengan alam semesta. Padahal, diam-diam ia sedang menajamkan penciumannya ke arah dapur yang aromanya samar-samar sampai ke teras.

"Ibu... pasti suka sekali opor ayam, ya? Apalagi yang kuahnya kuning kental," ucap Rian perlahan.

Mata Ibu Arini membelalak hebat, hampir saja ia lompat kegirangan. "Ah! Benar banget! Ibu memang fans berat opor ayam! Hebat ya, anak SMA Tunas Bangsa sekarang pinter-pinter nerawang! Kok bisa tau sih?" seru Ibu Arini sambil tertawa puas.

Arini hanya bisa terheran-heran di samping mereka. Ia yakin Rian cuma beruntung atau mungkin punya insting detektif, tapi entah kenapa tebakan cowok itu selalu goal.

"Kalau begitu, aku pamit dulu ya Pak, Bu. Takut kemalaman di jalan," ujar Rian berpamitan.

"Iya, hati-hati ya Rian. Jangan kapok main ke sini! Sering-sering ya!" seru Ibu Arini sambil melambaikan tangan saat Rian mulai menjauh dengan deru motornya.

Begitu Rian hilang dari pandangan, Ibu Arini langsung menyenggol lengan Arini dengan gaya bestie. "Rian ganteng banget ya, Rin. Sopan, vibes-nya positif, pinter meramal lagi. Paket lengkap itu mah!"

"Biasa saja, Bu. Jangan berlebihan deh," jawab Arini ketus, padahal pipinya sudah blushing parah.

"Tadi angkot yang aku naikin remnya blong, Yah. Terus Rian nolongin aku pas kejadian, makanya aku pulang bareng dia," Arini menjelaskan ke Ayahnya biar nggak salah paham.

Wajah Ibu Arini langsung panik. "Ya ampun! Tapi kamu nggak apa-apa kan, Nak? Ada yang luka nggak?"

"Enggak apa-apa, Bu. Aman kok, Rian jagain aku tadi."

Ayah Arini malah tertawa kecil, seolah sudah dapet feeling. "Kalau begitu, suruh Rian saja yang sering-sering antar jemput kamu. Lebih safety daripada angkot yang remnya nggak jelas, kan?"

"Ih, apa sih Ayah!" Arini langsung berlari masuk ke dalam rumah, menghindari godaan kedua orang tuanya yang terus tertawa puas di teras.

Malam itu, Arini bener-bener nggak bisa tidur. Pikirannya overthinking parah. Bayangan angkot yang meluncur tak terkendali dan suara raungan motor Rian yang datang menyelamatkannya terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

Ia bangkit dari tempat tidur, melangkah menuju jendela kamarnya yang menghadap langsung ke jalanan komplek yang sunyi. "Kenapa dia selalu tahu ya?" bisik Arini pada dirinya sendiri.

Pikiran Arini melayang pada momen di taman sore tadi. Cara Rian menatapnya, cara cowok itu memberikan es krim buat nenangin traumanya, dan yang paling misterius: gimana Rian bisa memprediksi kecelakaan itu dengan sangat akurat.

Seolah-olah waktu berjalan lebih lambat bagi cowok itu, atau mungkin dia emang beneran punya "akses" ke masa depan.

Pagi harinya, Arini terbangun dengan perasaan yang jauh lebih segar, meskipun ada sedikit rasa rindu yang random. Ia bersiap berangkat sekolah meskipun hatinya agak sepi karena tahu Rian nggak akan ada di sana hari ini gara-gara skorsing.

Ia turun ke bawah dan mendapati Ayahnya sedang sibuk di halaman depan, tampak bingung melihat sesuatu yang nangkring di atas pagar. "Rini, sini sebentar. Kamu kenal nggak siapa yang naruh ini? Tiba-tiba ada di sini pas Ayah buka pintu."

Ayah Arini menunjukkan sebuah kotak kecil berisi berbagai macam buah segar yang kualitasnya premium, lengkap dengan selembar kartu ucapan simpel.

Arini membaca kartu itu:

"Untuk pemulihan trauma. Buah-buahan ini mengandung vitamin yang bisa mengusir rasa takut. Salam dari Peramal."

Ayahnya tertawa keras, sepertinya sudah mulai jadi fanboy Rian. "Lagi-lagi si Rian ya? Wah, Ayah bener-bener harus berguru sama dia soal cara ngambil hati orang."

Arini hanya tersenyum simpul, menyembunyikan rasa herannya yang makin dalam. "Rian, kamu benar-benar misterius," batinnya sambil memandangi kotak buah itu.

Siang hari setelah pulang sekolah, ponsel Arini berdering. Ada panggilan masuk dari Yusa.

"Rin, hari ini ada kerja kelompok buat tugas sekretaris di rumah Siska. Kamu bisa datang kan? Aku jemput ya biar bareng?" suara Yusa terdengar sangat berharap, tipikal ketua kelas yang ambisius sekaligus perhatian.

Arini bimbang. Ia teringat tatapan "penerawangan" Rian yang tajam dan dingin saat melihat Yusa kemarin di kantin. Tapi, ini urusan organisasi kelas. "Iya Yus, aku ikut. Tapi nggak usah jemput ya, aku berangkat sendiri saja pakai ojek online."

"Nggak apa-apa, Rin. Aku sudah di jalan dekat rumahmu, sekalian lewat kok," potong Yusa cepat, nggak ngasih ruang buat Arini menolak.

Sore itu, di tempat lain, Rian memacu motornya menuju rumah Gery. Namun, saat melewati sebuah rumah yang asri dengan banyak tanaman, ia refleks memperlambat laju motornya. Itu rumah Siska. Instingnya bilang ada Arini di sana.

Di teras rumah tersebut, terlihat Arini, Yusa, dan Siska sedang duduk melingkar. Mereka tampak asyik mengobrol sambil sesekali tertawa lepas membahas tugas. Rian hanya berhenti di kejauhan, mematikan mesin motornya, dan memperhatikan sosok Arini dari balik helm gelapnya.

Ada rasa hangat melihat Arini baik-baik saja, tapi sekaligus sesak karena cewek itu tertawa tanpa dirinya di sana.

Puk! Sebuah tepukan keras mendarat di bahu Rian, membuatnya hampir melonjak dari jok motor.

"Kenapa lo, Yan? Jadi pengintai kelas kakap?" goda Gery yang tiba-tiba muncul dari arah warung depan, membawa bungkusan cemilan.

Rian berdeham, mencoba stay cool. "Mereka lagi ngapain? Urusan kelas ya?"

Gery melirik ke arah teras Siska. "Gak tahu ya, kayaknya sih lagi bahas proker sekretaris. Mereka kan pengurus inti. Lu sendiri ngapain bengong di sini? Oh iya, gimana rasanya di-skors sehari? Enak bisa rebahan?"

Rian turun dari motornya, melepas helm. "Biasa aja. Tapi jujur... gue kangen Arini. Tadi pagi gue sempat ke rumahnya, bawain buah-buahan biar dia nggak trauma lagi."

Mata Gery membelalak, bener-bener kagum sama effort sahabatnya. "Beh! Gokil! Gercep banget lu ya kalau urusan 'bidadari' Levis itu." Gery kemudian menghela napas panjang sambil merangkul pundak Rian. "Tapi jujur, gue bener-bener kesepian nggak ada lu di sekolah, Yan. Lapangan basket jadi sepi kalau nggak ada kaptennya yang hobi ngeramal."

Rian terdiam sebentar, matanya masih fokus melihat Arini yang sedang tertawa di kejauhan sana. Perasaannya campur aduk, antara ingin menghampiri tapi teringat statusnya yang sedang "dibuang" sekolah untuk sementara.

"Eh, mending sekarang kita masuk rumah gue aja. Gue punya game baru yang lagi trending. Daripada lu di sini cuma bisa mandangin Arini dari jauh kayak stalker galau," ejek Gery sambil menarik Rian masuk ke halaman rumahnya. Rian hanya pasrah, tapi dalam hati, ia tetap "menerawang" keselamatan Arini dari jauh.

1
Jade Meamoure
mampir thor ☺️
Nurdin Hamzah
mantap thor
Nurdin Hamzah
semangat thor 😄 suka banget sama drama percintaan nya🤣
Niarmdhn: tengcu
total 1 replies
saniscara patriawuha.
saya lebih seneng dimsum mentai....
Niarmdhn: boleeee
total 1 replies
saniscara patriawuha.
lanjottttt deuiiii.....
Niarmdhn: gassss
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll mbokk minnn
Niarmdhn: maaciw ganteng 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!