Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Saat jam pelajaran sejarah dimulai, suasana kelas terasa mencekam. Julian duduk di kursi paling belakang, benar-benar menutup diri. Ia tidak lagi melirik ke arah Kenzie. Matanya lurus menatap papan tulis dengan tatapan kosong, tangannya terus bergerak memainkan pulpen, namun pikirannya berada di tempat lain.
Kenzie duduk beberapa baris di depannya. Ia bisa merasakan tatapan dingin Julian yang tertuju pada punggungnya, meskipun laki-laki itu berusaha menyembunyikannya. Kenzie sendiri memilih untuk tetap pada perannya, siswi pendiam yang acuh.
Namun, di sela-sela Ujian tentang bab Kerajaan Romawi, Julian mendadak berdiri.
"Permisi, Sir. Saya telah menyelesaikan Ujiannya. Dan saya kurang enak badan, saya izin ke UKS." ucap Julian dengan suara robotik.
Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah keluar kelas setelah menyerahkan lembar ujiannya. Kenzie memperhatikan gerak-gerik itu. Ia tahu Julian tidak sakit. Julian sedang berjuang melawan badai di dalam dadanya, campuran antara rasa bersalah pada Elena, kecemburuan pada Hallen dan ketertarikan yang tak terhindarkan pada dirinya.
Julian berjalan menyusuri koridor yang sepi, tangannya mengepal kuat. Ia harus menetralkan emosinya. Julian harus kembali menjadi Julian yang dulu, pria yang hanya hidup untuk Elena dan Clara yang berada di rumah. Namun, bayangan wajah Kenzie di bawah pohon pinus kemarin terus menghantuinya.
Kau pengecut, Julian. Kau menginginkan sang The Constant, tapi kau terlalu takut untuk mengakui bahwa istrimu yang fana tak lagi cukup bagimu, bisik suara di dalam kepalanya.
"Diam!" geram Julian pada dirinya sendiri di koridor yang kosong.
Julian melangkah menyusuri lorong kelas yang sepi dengan deru napas yang tertahan. Setiap langkahnya terasa seperti gema dari kegagalan emosional yang ia rasakan kemarin. Julian tidak menuju UKS, ia justru berbelok ke arah tangga menuju atap sekolah, mencari tempat di mana angin bisa menyapu sisa-sisa aroma Kenzie yang seolah masih melekat di indra penciumannya.
Namun, belum sempat ia membuka pintu besi menuju atap, suara langkah kaki yang terburu-buru menghentikannya.
"Julian! Tunggu!"
Julian berhenti, namun tidak berbalik. Ia mengenali suara itu. Suara laki-laki yang kemarin sempat membuatnya ingin menghancurkan seisi perpustakaan. Hallen berdiri beberapa anak tangga di bawahnya, napasnya tersengal, wajahnya yang biasanya santai kini tampak tegang dan penuh determinasi. Entah bagaimana caranya laki-laki itu bisa keluar dari Ujian dan menyusulnya. Julian tidak ingin penasaran dengan itu.
Julian perlahan berbalik. Wajahnya kembali ke setelan awal, dingin, angkuh dan tak tersentuh. "Ada apa? Aku tidak punya waktu untuk omong kosongmu."
Hallen melangkah maju satu anak tangga lagi, mensejajarkan pandangannya. "Aku sudah minta maaf tadi pagi, tapi kau masih bersikap seolah kau ingin membunuhku. Apa masalahmu sebenarnya? Soal kejadian di rak buku itu? Itu murni kecelakaan, Julian."
Julian menyipitkan mata. Kilatan biru di iris matanya menajam, sebuah tanda peringatan yang tidak disadari Hallen. "Masalahnya bukan pada kecelakaannya, Hallen. Tapi pada caramu bertindak seolah-olah kau punya hak untuk berada di dekatnya."
Hallen tertawa getir, ia merasa tertantang oleh arogansi teman sekelasnya ini. "Hak? Memangnya kau siapa? Kau bukan pacarnya, bukan juga keluarganya. Kita ini seumuran, Julian. Kita sama-sama murid di sini. Jadi berhenti bersikap seolah kau adalah pemilik Kenzie."
Julian mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Bagi Julian, kata-kata 'kita seumuran' adalah lelucon terpahit yang pernah ia dengar. Di hadapannya berdiri seorang remaja yang baru hidup belasan tahun, sementara ia sendiri telah memikul beban berabad-abad. Namun, ia harus tetap pada perannya sebagai remaja biasa.
"Kau menyukainya, kan?" tanya Hallen langsung, menusuk tepat di pusat kegelisahan Julian. "Aku bisa melihat caramu menatapnya. Selama dua tahun berada di kelas yang sama denganmu, baru kali ini aku melihatmu tertarik dengan seseorang. Apakah akhirnya kau menemukan tipe mu dalam diri Kenzie? Tapi kenapa kau malah berpura-pura bersikap dingin dan menjauh? Jika kau memang suka padanya, bersainglah secara jantan. Jangan gunakan intimidasi fisik untuk menjauhkan orang lain darinya."
"Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan, Hallen." desis Julian, suaranya rendah dan mengancam. "Kau hanya anak kecil yang sedang bermain cinta-cintaan. Kenzie bukan gadis yang bisa kau tangani."
"Aku tidak peduli sesulit apa dia!" seru Hallen. "Aku menyukainya. Dan aku tidak akan mundur hanya karena kau merasa cemburu tanpa alasan yang jelas. Kau pikir kau hebat karena kau merasa lebih tampan dariku? Di mataku, kau hanya pengecut yang tidak berani mendekatinya tapi tidak rela orang lain melakukannya."
BUGH!
Dalam gerakan yang sangat cepat, Julian sudah berada di depannya, mencengkeram kerah seragam Hallen dan menekannya ke dinding tangga. Julian menahan kekuatannya sekuat tenaga agar tidak mematahkan leher laki-laki itu, namun dinding di belakang punggung Hallen bergetar pelan.
"Jangan pernah berani menceramahiku tentang keberanian!" bisik Julian tepat di depan wajah Hallen. "Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang aku pertaruhkan setiap kali aku menatapnya."
Hallen meringis kesakitan, namun matanya tetap menantang. Sebagai remaja yang sedang dimabuk asmara, rasa takutnya terkalahkan oleh ego. "Jika kau tidak merasa punya perasaan padanya, kenapa kau begitu marah? Lepaskan aku!"
Julian melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Hallen terhuyung. Ia menyadari bahwa ia baru saja membenarkan semua kecurigaan Hallen melalui reaksinya sendiri. Julian memalingkan wajah, berusaha menetralkan emosinya yang kembali meledak.
"Jauhi dia, Hallen." ucap Julian pelan, kali ini tanpa amarah, melainkan dengan nada peringatan yang sarat akan beban yang tak terlihat. "Ini bukan tentang persaingan antara aku dan kau. Ini tentang keselamatannya dan keselamatanmu. Ada hal-hal yang tidak akan pernah kau pahami."
Julian berbalik dan menaiki tangga dengan cepat menuju atap, meninggalkan Hallen yang masih memegangi dadanya yang sesak. Di atas atap, Julian berdiri di tepian, menatap hamparan lapangan SMA Arcandale. Julian merasa sangat tidak enak. Ia baru saja dihakimi oleh seorang remaja tentang perasaannya pada Kenzie, sementara di rumah, istrinya sedang berjuang melawan maut.
Julian memejamkan mata, membiarkan angin menghapus jejak emosinya. Ia harus memilih, tetap pada topeng dinginnya atau membiarkan dunia manusia ini menariknya semakin dalam ke dalam kehancuran.
...•••...
Pertengkaran di lorong tangga itu meninggalkan sisa-sisa amarah yang bergetar di udara. Julian telah menghilang di balik pintu atap, sementara Hallen masih berdiri mematung, merapikan kerah seragamnya yang kusut dengan tangan gemetar. Hallen tidak habis pikir mengapa Julian yang notabenenya tenang dan acuh itu bisa berubah menjadi predator yang mengerikan hanya karena satu kalimat tentang Kenzie.
Namun, Hallen tidak menyadari bahwa ia tidak sendirian di sana. Saat ia berjalan menuruni tangga untuk kembali menuju kelasnya, Lyana tampak berdiri sembari menyenderkan tubuhnya ke dinding belokan di ujung lorong. Lyana melipat tangannya di dada, matanya yang biru berkilat jenaka namun dingin. Ia telah mendengar setiap kata, setiap ancaman dan setiap detak jantung Hallen yang ketakutan.
"Wah, wah... sepertinya sang kutu buku di kelas kita baru saja menunjukkan taringnya, ya?" suara Lyana yang merdu memecah keheningan.
Hallen tersentak dan menoleh. "Lyana? Sejak kapan kau di situ?"
"Cukup lama untuk melihatmu hampir dijadikan hiasan dinding oleh Julian." Lyana tertawa kecil, melangkah mendekati Hallen. Ia menatap bekas kemerahan di leher Hallen dengan tatapan prihatin yang dibuat-buat. "Kasihan sekali. Kau hanya ingin bersaing secara sehat, tapi Julian bersikap seolah dia punya kekuatan monster."
Hallen mendengus, mencoba memulihkan harga dirinya. "Dia pikir dia bisa mengintimidasi ku. Dia pikir dia hebat hanya karena dia murid yang paling pintar dan teladan."
"Dia sepertinya memang punya masalah mengontrol emosi, Hallen. Terutama jika menyangkut Kenzie." Lyana memiringkan kepalanya, rambut pirangnya jatuh di bahu. "Kau tahu? Aku juga tidak suka melihat Julian memperlakukan Kenzie seperti itu. Kenzie berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik. Seseorang yang hangat seperti kau, bukan temperamen yang penuh rahasia seperti Julian."
Hallen menatap Lyana dengan ragu. "Maksudmu?"
"Aku ingin membantumu, Hallen." bisik Lyana, suaranya kini terdengar sangat manis namun menghipnotis. "Aku tahu cara membuat Julian menjauh dari Kenzie. Dan jika Julian menjauh, kau punya kesempatan penuh untuk mendekati Kenzie tanpa gangguan. Bagaimana? Kau mau bekerja sama denganku?"
Hallen terdiam. Keinginannya untuk mendapatkan Kenzie mulai berperang dengan rasa takutnya pada Julian. Namun, rasa sakit di lehernya dan ego remajanya yang terluka membuatnya mengangguk pelan. "Apa yang harus kulakukan?"
Lyana tersenyum lebar. "Mudah saja. Kita hanya perlu membuat Kenzie percaya bahwa Julian tidak sekeren yang dia bayangkan. Sisanya, serahkan padaku."
...•••...