NovelToon NovelToon
Iman Yang Tak Terbeli

Iman Yang Tak Terbeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12: Singa yang Belajar Bersujud

Pagi 16 Maret 2026, udara di sekitar gedung Mahesa Group terasa lebih berat dari biasanya. Shafira terbangun saat fajar masih berupa garis tipis di ufuk timur. Di atas sajadah lusuhnya, ia bersujud lebih lama. Ia tidak meminta agar jabatan atau pekerjaannya selamat, ia hanya meminta agar kebenaran tidak ditumbangkan oleh keserakahan.

"Nduk, mukamu pucat sekali," tegur Pak Rahman saat mereka sarapan nasi uduk di dapur kecil mereka. "Apa Tuan Muda Dave dalam masalah besar?"

Shafira mengangguk pelan. "Ada badai di kantor, Pak. Shafira mohon doanya agar semuanya dilancarkan."

Pak Rahman mengusap tangan putrinya. "Doa bapak selalu menyertaimu, Nak. Ingat, singa yang paling kuat bukan yang paling keras aumannya, tapi yang paling tenang saat dikepung."

Di kantor, suasana mencekam. Lantai eksekutif telah disterilkan. Para pemegang saham dan dewan komisaris, pria-pria tua berjas mahal dengan raut wajah kaku, sudah berkumpul di ruang rapat utama. Bu Sarah duduk di kursi kehormatan, wajahnya tampak menang, seolah-olah ia sudah memegang surat pemecatan putranya sendiri.

Shafira berjalan menuju ruangannya dengan langkah mantap, namun langkahnya terhenti di depan lift. Clara berdiri di sana, menghalangi jalan dengan senyum miring yang penuh kemenangan.

"Masih berani menampakkan muka di sini?" desis Clara. "Aku sudah menyiapkan laporan untuk polisi. Pencurian data perusahaan adalah tindak kriminal, Shafira. Dan kau, gadis kampung yang tidak tahu diri, akan membusuk di penjara hari ini."

Shafira menatap Clara dengan tenang. "Jika kejujuran dianggap pencurian, maka dunia ini memang sudah terbalik, Mbak Clara. Tapi saya percaya, cahaya tidak bisa ditutup hanya dengan telapak tangan."

"Cukup dengan omong kosong agamamu itu!" Clara mendekat, suaranya merendah. "Dave akan jatuh hari ini, dan kau akan jatuh bersamanya. Kalian berdua hanyalah debu di bawah sepatu keluarga Mahesa."

Rapat dimulai. Dave masuk ke ruangan dengan langkah tegap, namun ada lingkaran hitam di bawah matanya. Di tangannya, ia memegang tas kerja yang berisi flashdisk hasil kerja keras Shafira semalam.

"Dave," buka Pak Devan, yang duduk di ujung meja dengan raut wajah kecewa. "Mama dan para komisaris membawa laporan serius. Ada ketidaksesuaian dana di London saat kau memimpin. Kami butuh penjelasan, atau kami terpaksa mencopot posisimu untuk menjaga stabilitas saham."

Bu Sarah berdehem, suaranya dibuat selembut mungkin namun penuh bisa. "Dave, sayang... Mama sedih harus melakukan ini. Tapi integritas perusahaan di atas segalanya. Kau terlalu muda dan mungkin... terpengaruh oleh orang-orang yang salah di sekitarmu."

Dave menatap ibunya. Ia melihat wanita yang melahirkannya, namun ia tidak melihat kasih sayang di sana. Ia hanya melihat ambisi dan ketakutan akan kehilangan kendali. Dave teringat kata-kata Shafira semalam: Jangan gunakan untuk membalas dendam. Gunakan untuk meluruskan apa yang salah.

"Terima kasih, Ma," ujar Dave tenang. Suaranya yang rendah membuat ruangan itu seketika sunyi. "Saya juga menjunjung tinggi integritas. Itulah sebabnya, saya meminta staf keuangan saya, Shafira Azzahra, untuk mengaudit ulang data tersebut."

"Staf rendahan itu?" salah satu komisaris mencemooh. "Apa yang dia tahu tentang audit global?"

"Dia tahu satu hal yang mungkin kalian lupakan di meja ini: Kejujuran," jawab Dave tegas. Ia memberi isyarat kepada Andre untuk memanggil Shafira masuk.

Shafira masuk ke ruangan itu. Di bawah tatapan belasan pasang mata yang mengintimidasi, ia merasa seperti masuk ke kandang serigala. Namun, saat matanya bertemu dengan mata Dave, ia melihat sebuah dukungan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Silakan, Nona Shafira," ujar Dave.

Shafira membuka laptopnya, menyambungkannya ke proyektor besar. Angka-angka yang ia temukan semalam terpampang nyata. Ia menjelaskan dengan bahasa yang sangat profesional, runtut, dan tidak terbantahkan. Ia menunjukkan bagaimana dana tersebut dialirkan, bagaimana tanda tangan digital dimanipulasi, dan yang paling mengejutkan—ia menunjukkan bukti komunikasi antara sekretaris London dengan asisten pribadi Bu Sarah dan pihak keluarga Clara.

Wajah Bu Sarah memucat. Clara, yang mengintip dari balik pintu kaca yang tidak tertutup rapat, merasa kakinya lemas.

"Ini... ini fitnah! Data ini pasti sudah dimanipulasi oleh gadis ini!" teriak Bu Sarah, kehilangan ketenangannya.

"Ma," potong Dave pelan namun tajam. "Data ini berasal dari server pusat yang enkripsinya tidak bisa ditembus kecuali dengan kunci audit tingkat tinggi. Saya sudah memverifikasinya. Mengapa Mama melakukan ini? Mengapa Mama ingin menjatuhkan anak kandung Mama sendiri hanya untuk memberikan celah bagi keluarga Clara masuk ke Mahesa Group?"

Pak Devan memukul meja. Wajahnya merah padam. "Sarah! Apa benar semua ini?"

Keheningan yang menyakitkan menyelimuti ruangan. Bu Sarah tidak bisa menjawab. Bukti yang disodorkan Shafira terlalu presisi. Shafira tidak hanya menyajikan angka, ia menyajikan kebenaran yang telanjang.

"Saya tidak akan menuntut secara hukum," ujar Dave tiba-tiba, membuat semua orang terkesiap. "Mama adalah orang tua saya. Dan Mbak Clara... saya harap ini menjadi pelajaran. Tapi, saya meminta restu dewan komisaris untuk melakukan pembersihan total di jajaran manajemen yang terlibat. Dan saya ingin memberikan apresiasi tertinggi kepada Shafira Azzahra."

Dave berdiri, berjalan mendekati Shafira yang masih berdiri di samping proyektor.

"Di dunia yang penuh dengan kepalsuan ini," Dave berkata dengan suara yang cukup keras agar didengar semua orang, "Saya menemukan bahwa mahkota yang paling berharga bukanlah kekuasaan, melainkan karakter. Shafira telah menyelamatkan perusahaan ini—dan menyelamatkan saya dari kesalahan yang tidak saya perbuat."

Rapat itu ditutup dengan kemenangan telak bagi Dave. Namun, saat para komisaris keluar dengan wajah lesu, Dave tetap di ruangan bersama Shafira.

"Kamu hebat, Shafira," bisik Dave. "Kamu benar-benar melakukannya."

Shafira menunduk, mencoba mengatur napasnya yang tadi tertahan. "Semua karena pertolongan Allah, Pak. Saya hanya perantara."

Dave tersenyum—senyum tulus yang pertama kali ia berikan di kantor itu. "Tadi... saat aku melihatmu bicara di depan mereka, aku merasa sangat kecil. Semua uangku, jabatanku, tidak ada artinya dibanding keberanianmu."

Namun, kebahagiaan itu terusik saat Andre berlari masuk dengan wajah panik.

"Pak Dave! Nona Shafira! Pak Rahman... Ayah Anda, Nona..."

Jantung Shafira seolah berhenti. "Ada apa dengan Ayah?"

"Clara... dia sangat marah saat keluar dari gedung. Dia tidak sengaja—atau mungkin sengaja—menabrak Pak Rahman di area parkir saat dia memacu mobilnya dengan membabi buta."

Dunia Shafira seketika gelap. Tasnya jatuh ke lantai. Tanpa pikir panjang, ia berlari keluar menuju lobi, air mata mulai menderas. Dave mengejarnya di belakang, hatinya juga ikut hancur. Ia menyadari bahwa kemenangan di ruang rapat tadi mungkin harus dibayar dengan harga yang sangat mahal.

1
Siti Naimah
gila si Dave..masak memanggil orang tua cuman sebut nama .moga aja segera bertobat tidak songong lagi
Novita Sari
saudara kembar bersatu....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
semangat thor, tambah seru..
.
Meghawati: menegangkan
total 1 replies
Novita Sari
Alhamdulillah thor update banyak terimakasih thor n semangat 💪💪💪
Meghawati: selalu semangat
total 1 replies
Novita Sari
dave ada saudara, lanjut thor....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
lanjut thor...
Meghawati: lanjuuut
total 1 replies
Novita Sari
astaghfirullah bu sarah udah mau mati gak sadar sadar..
Meghawati: hahaha belum dapat hidayah
total 1 replies
Novita Sari
jangan liat dari masa lalu safira 😭😭😭😭 Alhamdulillah update banyak terimakasih thor, semangat 💪💪💪💪
Meghawati: terimakasih supportnya
total 2 replies
Novita Sari
semangat dave safira
Meghawati: terimakasih
total 1 replies
Siti Naimah
keren Shafira 👍
Meghawati: matap
total 1 replies
Novita Sari
jangan jangan dave bukan anak kandung bu sarah
Meghawati: jahat banget
total 1 replies
Novita Sari
terus berjuang di jalan Allah Safira..
Meghawati: aamiin
total 1 replies
Novita Sari
tambah seru, ditunggu kebucinan dave sama safira thor
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
terus berkarya thor, cerita nya bagus..
Novita Sari
cerita bagus,..
Meghawati: makasih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!