NovelToon NovelToon
Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: MAFAKAT BAYANGAN

"Besok malam."

Kata-kata Mira menggantung di udara seperti pisau bermata dua. Aldric merasakan dadanya sesak—bukan karena takut, tapi karena kemarahan yang membara. Urat hitam di tangannya berdenyut cepat, hampir seperti detak jantung kedua.

"Bagaimana bisa?" Suaranya rendah, terkendali. "Pengumuman di Millbrook bilang enam hari."

"Kabar palsu." Mira menggenggam tangannya erat, seolah takut Aldric akan menghilang jika dilepas. "Darius sengaja menyebarkan informasi yang salah. Ia takut ada pihak-pihak yang akan mengganggu pernikahan—mungkin sisa-sisa pendukung ayahmu, mungkin bangsawan yang tidak setuju. Dengan memberi tanggal palsu, ia bisa mengadakan upacara secara diam-diam, hanya dihadiri orang-orang terpercaya."

Aldric mencerna informasi itu. Licik. Sangat licik. Tapi masuk akal.

"Siapa yang akan hadir?"

"Bangsawan-bangsawan dari faksi utara—mereka yang mendukung kudeta. Paman Edric, tentu saja. Beberapa anggota dewan kerajaan yang sudah disumpah setia pada Darius. Dan..." Mira ragu. "...The Shadow Council."

Nama itu lagi.

Aldric menatap Mira tajam. "Kau tahu tentang mereka?"

"Semua pelayan istana tahu, meskipun tidak boleh bicara." Mira berbisik, matanya bergerak ke pintu seolah takut ada yang menguping. "Mereka datang diam-diam, selalu malam hari, dengan jubah hitam dan topeng perak. Tidak pernah bicara, hanya diam dan mengamati. Darius sangat hormat pada mereka—lebih hormat dari pada ayahmu dulu."

"Organisasi rahasia yang mengendalikan segalanya dari bayang-bayang." Aldric mengingat kata-kata Mora. "Mereka dalang di balik kudeta."

"Bisa jadi." Mira menghela napas. "Tapi Pangeran—maaf, Aldric—apa yang ingin kau lakukan? Menyerbu istana sendirian? Melawan Darius, para bangsawan, dan The Shadow Council?"

"Aku tidak tahu." Untuk pertama kalinya, Aldric mengakui ketidakpastiannya. "Tapi aku tidak bisa membiarkan Elara menikah dengannya."

Mira menatapnya lama. Matanya yang tua—tapi tajam—seperti bisa membaca isi hatinya.

"Kau mencintainya."

Aldric diam.

"Atau kau merasa bersalah?"

"Aku—" Aldric berhenti. Pertanyaan itu menusuk tepat di sasaran. Apakah ia mencintai Elara? Atau hanya merasa bertanggung jawab karena selama ini ia mengira Elara pengkhianat, padahal ia korban? Atau mungkin campuran keduanya?

"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Tapi aku tahu satu hal: dia tidak pantas menderita. Tidak setelah semua yang ia korbankan untuk melindungiku."

Mira tersenyum—senyum sedih, penuh pengertian. "Kau baik, Aldric. Seperti ayahmu."

"Ayahku mati karena kebaikannya."

"Tapi kau berbeda. Kau sudah melewati neraka." Mira meraih wajahnya, menatap matanya yang abu-abu dengan semburat merah. "Aku bisa melihatnya di matamu. Kau sudah berubah. Tapi di dalam sana—" ia menunjuk dada Aldric, "—masih ada anak kecil yang dulu kukenali. Yang suka mencuri kue dari dapur. Yang menangis saat kudanya jatuh. Yang—"

"Cukup." Aldric memotong, tidak sanggup mendengar kenangan itu. "Kita tidak punya waktu untuk nostalgia. Besok malam pernikahan. Aku harus masuk ke kapel."

Mira menghela napas. "Baik. Aku punya ide."

Mira membuka lemari di sudut kamarnya. Di dalam, tergantung beberapa jubah—jubah pelayan, jubah tukang kebun, dan satu jubah hitam panjang dengan kerudung tebal.

"Ini jubah untuk acara berkabung," jelasnya. "Para pelayan memakainya saat upacara pemakaman keluarga kerajaan. Masih bersih, tidak pernah dipakai lagi."

Aldric mengambil jubah itu. Kainnya tebal, cukup untuk menyembunyikan wajah dan tubuhnya.

"Dengan ini, kau bisa bergerak di lorong-lorong belakang. Tapi kau harus tahu jadwal penjaga dan rute patroli."

"Aku hafal istana ini."

"Tidak. Istana sudah berubah." Mira menggeleng. "Darius memasang jebakan di banyak tempat—lorong rahasia ditutup, pintu palsu yang akan membunyikan alarm, bahkan beberapa lantai dilapisi dengan papan khusus yang akan berderit jika diinjak orang asing."

Aldric mengerutkan dahi. "Dia mempersiapkan ini semua?"

"Sejak hari pertama ia duduk di singgasana." Mira mengambil selembar kertas dan arang. "Aku akan menggambar peta baru untukmu. Tapi kau harus hafal dalam semalam."

Mira menggambar dengan cepat dan tepat. Puluhan tahun bekerja di istana membuatnya hafal setiap sudut, setiap lorong, setiap jebakan baru yang dipasang Darius. Aldric mengamati dengan konsentrasi penuh—ingatannya yang tajam menyerap setiap detail.

"Kapel ada di sini," Mira menunjuk titik di tengah peta. "Sayap timur, lantai dua. Biasanya dijaga dua belas prajurit elit—mereka adalah kepercayaan Darius, mantan tentara bayaran yang dibayar mahal untuk setia."

"Dua belas?"

"Itu di luar. Di dalam, mungkin ada lebih banyak lagi. Belum termasuk para bangsawan yang mungkin membawa pengawal pribadi." Mira menatapnya serius. "Aldric, ini bunuh diri."

"Aku tidak punya pilihan."

"Kau punya pilihan. Kau bisa lari, sembunyi, bangun kekuatan, lalu kembali nanti."

"Nanti?" Aldric hampir tertawa. "Elara akan menjadi istrinya besok malam. Setelah itu, apa pun yang terjadi, ia akan terikat selamanya. Aku tidak bisa membiarkan itu."

Mira diam. Lalu, dengan suara lirih, "Ada satu orang yang mungkin bisa membantu."

Aldric menoleh. "Siapa?"

"Sir Kaelan Vorn."

Dunia Aldric berhenti.

"Sir Kaelan? Dia—dia hidup?"

Mira mengangguk. "Selamat dari malam itu. Luka parah, tapi selamat. Ia bersembunyi di rumahku di kota bawah sejak dua hari setelah kudeta. Aku yang menyembunyikannya."

Aldric merasa dadanya menghangat—untuk pertama kalinya dalam berhari-hari. Sir Kaelan hidup. Gurunya, mentornya, satu-satunya pria yang bisa disebut ayah kedua, masih hidup.

"Di mana dia sekarang?"

"Masih di rumahku. Tapi—"

"Aku harus menemuinya."

Mira menghela napas. "Aku bisa membawamu besok pagi. Tapi kau harus berjanji—dengar dulu apa katanya sebelum bertindak bodoh."

"Aku janji."

Mira memberinya tempat tidur darurat di lantai—sekedar selimut tipis dan bantal usang. Aldric tidak bisa tidur. Pikirannya terlalu sibuk memproses semua informasi.

Sir Kaelan hidup. Itu berarti ia punya sekutu. Seseorang yang bisa dipercaya, seseorang yang tahu cara bertarung, seseorang yang mungkin punya akses ke jaringan bawah tanah.

Tapi mampukah Sir Kaelan bertarung? Lukanya parah, kata Mira. Mungkin ia sudah tua, sudah lemah.

Aldric menatap langit-langit kamar Mira yang retak-retak. Di luar, samar-samar terdengar suara kota malam—gemuruh kendaraan, tawa mabuk dari kedai, sesekali lolongan anjing.

Dunia atas. Rumahnya. Tapi terasa asing.

Elara, pikirnya. Bertahanlah. Aku datang.

Pagi datang dengan cepat.

Mira membangunkannya saat langit masih gelap—waktu terbaik untuk bergerak tanpa diketahui. Ia memberi Aldric sarapan sederhana: roti basi dan air putih. Tidak mewah, tapi cukup untuk mengisi perut.

"Ayo," bisiknya. "Ikuti aku. Jaga jarak sepuluh langkah. Jika ada yang bertanya, kau pelayan baru dari dapur."

Aldric mengenakan jubah hitam itu, menutup kerudung hingga hampir menutupi seluruh wajah. Mereka keluar dari kamar Mira, menyusuri lorong-lorong belakang yang sepi.

Istana terasa berbeda di pagi buta. Sepi, dingin, hanya suara langkah kaki mereka yang bergema. Sesekali mereka berpapasan dengan pelayan lain—Mira mengangguk, mereka mengangguk balik, tidak ada yang bertanya.

Sistem yang efisien, pikir Aldric. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing, tidak peduli pada orang lain.

Mereka keluar melalui pintu belakang—pintu yang sama dengan masuknya Aldric semalam. Gerobak roti sudah parkir, siap mengantar kiriman. Pria tua yang sama duduk di atasnya, mengantuk.

Mira berbisik sebentar padanya, menyelipkan beberapa koin. Pria itu mengangguk, memberi isyarat pada Aldric untuk naik ke gerobak.

Aldric bersembunyi di antara tumpukan roti, bau gandum memenuhi indranya. Gerobak bergerak, melewati gerbang istana, melewati pemeriksaan penjaga—mereka hanya melirik sekilas, melihat pria tua yang sudah mereka kenal puluhan tahun.

Selamat.

Rumah Mira terletak di kawasan kota bawah—daerah kumuh di pinggiran Nivalen, tempat para buruh dan gelandangan tinggal. Rumah-rumah reyot berjejer, jalanan becek oleh lumpur, bau sampah menyengat di mana-mana.

Tapi bagi Aldric, ini adalah tempat perlindungan.

Mira membukakan pintu rumahnya—sebuah gubuk kecil dari kayu lapuk, dengan satu kamar tidur, dapur sempit, dan ruang tamu yang juga berfungsi sebagai gudang.

Di sudut ruangan, di atas dipan tipis, terbaring seorang pria.

Sir Kaelan Vorn.

Guru tua itu tampak jauh berbeda dari kenangan Aldric. Tubuhnya yang dulu kekar sekarang kurus kering. Luka bakar di lehernya—warisan naga api—tampak lebih mengerikan, menjalar hingga ke dada. Kaki kirinya terbungkus perban kotor, bernanah.

Tapi matanya—mata itu masih sama. Tajam, waspada, penuh semangat juang.

Dan ketika mata itu menatap Aldric, untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, Sir Kaelan menangis.

"Anakku..." Suaranya serak, hampir tidak terdengar. "Kau... kau hidup..."

Aldric berlutut di samping dipan, meraih tangan guru itu. Tangannya kasar, penuh kapalan—tangan prajurit sejati.

"Aku hidup, Kan. Berkatmu."

"Berkatku?" Sir Kaelan tertawa—tawa yang berakhir dengan batuk-batuk. "Aku gagal melindungi keluargamu. Aku gagal melindungimu. Aku—"

"Kau menyelamatkan Lyanna."

Sir Kaelan terdiam.

"Lyanna hidup," lanjut Aldric. "Aku bertemu dengannya di dunia bawah. Ia selamat karena kau."

Untuk beberapa saat, Sir Kaelan hanya menatapnya, tidak percaya. Lalu, untuk kedua kalinya, ia menangis—tangis lega, tangis bahagia.

"Dia hidup... Syukurlah... Syukurlah..."

Mira menyediakan kursi untuk Aldric. Mereka bertiga duduk di ruangan sempit itu—Aldric, Sir Kaelan, dan Mira—membahas apa yang terjadi.

Aldric bercerita tentang dunia bawah, tentang Varyn, tentang transformasinya, tentang Mora, tentang Labirin Echo. Sir Kaelan mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk, sesekali menghela napas.

"Jadi kau sekarang setengah iblis," gumamnya. "Itu menjelaskan banyak hal."

"Menjelaskan apa?"

"Matamu." Sir Kaelan menunjuk. "Ada merah di sana. Dan aurarmu—aku bisa merasakannya meskipun sekarat. Seperti api dingin."

Aldric tidak menjawab. Ia langsung ke pokok masalah.

"Aku harus menyelamatkan Elara. Pernikahan besok malam."

Sir Kaelan menghela napas panjang. "Aku tahu. Mira sudah cerita."

"Kau bisa bantu?"

"Aku?" Sir Kaelan tertawa getir. "Lihat aku, Nak. Kaki ini hampir busuk. Aku bahkan tidak bisa berdiri, apalagi bertarung."

"Bukan fisikmu. Pikiranmu. Pengalamanmu." Aldric menatapnya tajam. "Kau pernah jadi jenderal. Kau tahu cara menyusup, cara mengalihkan perhatian, cara mengalahkan musuh yang lebih kuat. Aku butuh itu."

Sir Kaelan diam, merenung. Lalu perlahan, senyum muncul di wajahnya—senyum yang sama seperti dulu, saat ia mengajari Aldric berpedang.

"Kau benar," katanya. "Aku mungkin sudah tua dan sekarat, tapi otak ini masih berfungsi." Ia mencoba duduk, meskipun kesakitan. "Beri aku peta."

Mira mengeluarkan peta yang ia gambar semalam. Sir Kaelan mengamatinya lama, matanya bergerak cepat, menganalisis.

"Kapel di sini," gumamnya. "Dua belas penjaga di luar, mungkin dua puluh di dalam. The Shadow Council hadir—mereka pasti membawa pengawal pribadi. Ini bukan pertarungan, ini pembantaian."

"Aku tahu."

"Tapi..." Sir Kaelan menunjuk satu titik di peta. "...ada satu kelemahan."

Aldric mencondongkan tubuh. "Apa?"

"Upacara pernikahan di dunia atas selalu butuh saksi. Saksi utama biasanya adalah pemuka agama. Tapi untuk pernikahan kilat seperti ini, mereka mungkin pakai saksi dari kalangan bangsawan." Sir Kaelan menatap Aldric. "Dan saksi itu harus menandatangani dokumen pernikahan. Di depan semua orang."

"Aku tidak mengikuti."

"Dokumen itu akan disimpan di ruang arsip kapel. Di sini." Ia menunjuk titik di samping kapel. "Ruang kecil, hanya dijaga satu atau dua orang. Jika kau bisa masuk ke sana, kau bisa—"

"Mengganti dokumen?" Aldric mengerutkan dahi. "Dengan apa?"

"Bukan mengganti. Menghancurkan." Sir Kaelan tersenyum licik. "Tanpa dokumen sah, pernikahan tidak diakui secara hukum. Mereka bisa tetap mengadakan upacara, tapi secara resmi, Elara bukan istrinya."

Aldric memikirkannya. Itu ide brilian. Tidak perlu pertarungan frontal, tidak perlu membunuh semua orang. Cukup hancurkan dokumen, lalu kabur bawa Elara.

"Tapi bagaimana aku masuk ke ruang arsip?"

"Di situlah butuh pengalihan." Sir Kaelan menatap Mira. "Kau kenal beberapa pelayan yang bisa dipercaya?"

Mira mengangguk. "Beberapa. Mereka benci Darius, tapi takut."

"Suruh mereka buat keributan. Api kecil di dapur, atau suara aneh di lorong. Sesuatu yang cukup untuk menarik penjaga keluar dari posisi mereka."

"Aku bisa lakukan itu," kata Mira mantap.

Sir Kaelan menatap Aldric lagi. "Sementara itu, kau masuk lewat jendela belakang kapel. Ada pohon tua di sana—dulu kau sering memanjatnya saat kecil. Ingat?"

Aldric ingat. Pohon ek raksasa di halaman belakang kapel. Dulu ia dan Darius—Darius yang masih saudara, belum pengkhianat—sering memanjatnya untuk melihat ke dalam jendela kapel.

"Ingat."

"Bagus. Dari pohon itu, kau bisa masuk lewat jendela loteng. Loteng kapel punya pintu kecil ke ruang arsip. Hanya pelayan yang tahu." Sir Kaelan tersenyum. "Aku salah satunya."

Aldric menatap gurunya dengan kekaguman baru. Meskipun terbaring sekarat, pikirannya masih setajam dulu.

"Setelah dokumen hancur, bagaimana aku bawa Elara keluar?"

"Itu bagian tersulit." Sir Kaelan menghela napas. "Elara mungkin dijaga ketat. Mungkin dirantai, mungkin dikurung. Kau harus temui dia sebelum upacara."

"Sebelum upacara?"

"Iya. Saat ia bersiap-siap di kamar pengantin. Biasanya, satu jam sebelum upacara, pengantin wanita ditinggal sendiri untuk berdoa. Hanya ditemani satu atau dua pelayan." Sir Kaelan menatap Mira. "Kau bisa atur agar pelayan itu—"

"Mira?" Aldric menatap wanita itu.

Mira tersenyum. "Aku sudah melayani di istana empat puluh tahun. Aku kenal semua pelayan, semua jadwal, semua kamar." Ia menggenggam tangan Aldric. "Aku bisa membawamu ke kamar Elara. Tapi setelah itu, kau sendiri."

Aldric mengangguk. "Cukup."

Mereka menghabiskan sisa pagi itu merencanakan setiap detail. Waktu, rute, kode, sinyal, rencana cadangan. Sir Kaelan seperti jenderal di masa perang—memerintah, mengkritik, menyempurnakan.

Menjelang siang, rencana sudah matang.

"Kau harus istirahat," kata Sir Kaelan pada Aldric. "Malam ini kau butuh semua energi."

Aldric mengangguk. Ia merebahkan diri di lantai—tidak ada tempat tidur tambahan—dan memejamkan mata.

Tapi sebelum tidur, ia menatap Sir Kaelan.

"Kan."

"Iya?"

"Terima kasih."

Sir Kaelan tersenyum—senyum hangat yang mengingatkan Aldric pada masa kecil.

"Untuk apa? Aku belum melakukan apa-apa."

"Untuk percaya padaku. Untuk tetap hidup." Aldric menatapnya. "Kau satu-satunya keluarga yang tersisa."

Sir Kaelan diam. Matanya berkaca-kaca.

"Pulangkan dia, Nak. Pulangkan Elara. Dan bunuh mereka semua."

Aldric tersenyum—senyum pertama yang benar-benar tulus sejak jatuh ke jurang.

"Aku akan coba."

Malam turun perlahan di atas Nivalen.

Di rumah reyot Mira, Aldric bersiap. Ia memakai pakaian hitam ketat di bawah jubah—pakaian yang memudahkan gerakan. Belati Varyn sudah hancur, tapi Sir Kaelan memberinya belati cadangan—bukan belati iblis, tapi besi biasa, cukup untuk membunuh manusia.

"Jangan ragu," pesan Sir Kaelan. "Jika harus membunuh, bunuh. Mereka tidak akan ragu membunuhmu."

Aldric mengangguk. Ia meraba belati itu, merasakan dinginnya besi.

Mira berdiri di pintu, siap pergi duluan ke istana. Ia akan menyebarkan berita ke pelayan-pelayan yang bisa dipercaya, menyiapkan pengalihan.

"Aku akan menunggumu di kamar Elara," bisiknya. "Jangan terlambat."

"Aku tidak akan."

Mira pergi. Aldric duduk di samping Sir Kaelan, menunggu waktu yang tepat.

"Apa kau takut?" tanya Sir Kaelan tiba-tiba.

Aldric memikirkan pertanyaan itu. Takut? Ia sudah mati, sudah bangkit, sudah melewati neraka. Apa yang masih bisa ditakuti?

"Tidak," jawabnya. "Yang aku takuti hanya satu: gagal."

"Kau tidak akan gagal." Sir Kaelan meraih tangannya. "Kau darah Veynheart. Kau sudah bertahan di tempat yang bahkan iblis pun takut. Kau akan berhasil."

Aldric menatap gurunya. Lalu, untuk pertama kalinya, ia bertanya, "Kan... apa kau pikir ayahku bangga padaku?"

Sir Kaelan tersenyum lembut. "Dia selalu bangga padamu, Nak. Bahkan sebelum kau lahir."

"Itu jawaban diplomatis."

"Tidak." Sir Kaelan menggeleng. "Itu kebenaran. Aku tahu, karena aku ada di sampingnya saat kau lahir. Aku melihat matanya—matanya bersinar, Nak. Seperti melihat keajaiban."

Aldric diam, menyerap kata-kata itu.

"Dan sekarang, dengan apa yang kau lakukan—mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan orang yang kau cintai—aku yakin ia akan lebih bangga lagi."

Di luar, langit mulai gelap. Bulan purnama naik perlahan.

Waktunya tiba.

Aldric bangkit. Ia menatap Sir Kaelan untuk terakhir kalinya.

"Aku akan kembali."

"Aku tunggu."

Aldric melangkah keluar, meninggalkan gubuk reyot, menuju istana.

Di belakangnya, Sir Kaelan berbisik pelan, "Pulanglah, Nak. Bawa dia pulang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!