Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.
Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.
Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.
Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Aroma Ubi dan Intrik di Balik Debu Majapatih
Pagi itu, perbatasan luar wilayah Majapatih tidak lagi seindah yang diingat Wira tujuh tahun lalu.
Langitnya tampak keruh, bukan karena mendung, melainkan karena kabut tipis berwarna keunguan yang menggantung rendah, sebuah pertanda bahwa energi kehidupan di tanah ini sedang diisap secara perlahan.
Di jalanan setapak yang berdebu menuju kota Kertawana, terlihat sebuah gerobak kayu reyot yang ditarik oleh seekor sapi tua yang tampak mengantuk.
Di atas gerobak itu, tumpukan ubi jalar bermacam warna menumpuk tinggi. Seorang pemuda dengan caping bambu yang sangat lebar duduk santai di depan, sesekali mencambuk angin dengan ranting pohon kecil.
"Ubi... ubi manis! Lebih manis dari janji palsu, lebih hangat dari pelukan kawan! Ayo, ubi!" teriak Wira dengan suara yang sengaja dibuat cempreng dan medok.
Di sampingnya, seorang wanita cantik yang wajahnya sengaja dicorengi jelaga hitam agar tidak terlalu mencolok, mendelik tajam.
Sekar mengenakan kain lurik lusuh, duduk di tumpukan ubi sambil memegang timbangan kayu.
"Wira, bisa tidak teriakannya biasa saja? Kau membuat telingaku sakit," bisik Sekar ketus.
"Hehehe, Sekar... kita ini sedang menyamar. Kalau pedagang ubi diam saja seperti patung di candi, mana ada yang mau beli? Lagipula, Guntur bilang intelijen Kalingga itu tajamnya melebihi pisau. Kita harus benar-benar terlihat seperti rakyat jelata yang malang," jawab Wira sambil nyengir, menampakkan giginya yang putih bersih.
Guntur sendiri berada di belakang gerobak, berpura-pura menjadi kuli angkut yang bisu dengan handuk kecil melilit lehernya.
Ia hanya mengangguk pelan, matanya yang tajam terus menyapu sekeliling, memantau setiap gerak-gerik prajurit Majapatih yang berjaga di pos depan.
"Bocah, peragaanmu terlalu berlebihan. Kau terlihat seperti orang gila daripada pedagang ubi," suara ejekan Siwa bergema di batin Wira.
"Diam kau, tongkat jelek. Namanya juga sepenuh hati. Kalau aku tidak begini, mereka akan curiga kenapa ada pemuda tampan membawa tongkat kayu jelek sepertimu," balas Wira dalam hati.
"Tunggu, kau bilang apa?" gerutu Siwa.
"Maksudku, tongkat kayu yang butuh dicat ulang karena jelek sekali," canda Wira lagi.
"Sialan. Bocah brengsek" maki Siwa kesal.
Gerobak mereka akhirnya sampai di gerbang pemeriksaan Kertawana.
Dua orang prajurit dengan seragam hitam berlambang surga yang gelap, itu adalah ciri khas pasukan bentukan Kalingga kini menghadang jalan mereka.
Salah satu dari mereka memegang tongkat pemindai energi yang berpendar ungu.
"Berhenti! Apa isi gerobak ini?" bentak prajurit itu.
Wira langsung melompat turun dari gerobak dengan gerakan yang sengaja dibuat kikuk, hingga ia hampir terjatuh ke dalam parit di samping.
"A-aahh, aduh, Gusti Prajurit! Ampun! Ini cuma ubi, Gusti. Ubi hasil kebun sendiri di pinggiran hutan Majapatih. Segar-segar, Gusti! Mau coba satu? Gratis untuk pahlawan bangsa!" ucap Wira menghayati perannya.
Wira menyodorkan sebuah ubi jalar yang besar tepat ke depan hidung sang prajurit. Prajurit itu mengibaskan tangannya dengan jijik, lalu mengarahkan tongkat pemindainya ke arah Wira.
Ting.
Tongkat itu tidak bereaksi. Wira telah menggunakan teknik Nol Sukma yang diajarkan Siwa, di mana ia menyembunyikan seluruh energinya di dalam sumsum tulang yang paling dalam, membuatnya terdeteksi sebagai manusia biasa yang bahkan tidak memiliki tenaga dalam.
"Hmmm, cuma rakyat jelata lemah. Masuk sana! Dan ingat, besok malam ada ritual doa bersama di alun-alun. Semua pedagang wajib hadir dan menyumbangkan sedekah energi pada altar utama. Kalau tidak, gerobakmu akan kami bakar," ancam prajurit itu.
"Siap, Gusti! Jangankan energi, ubi saya pun siap disedekahkan kalau Gusti lapar!" Wira membungkuk-bungkuk, lalu segera memacu sapinya masuk ke dalam kota.
Begitu mereka menjauh dari gerbang dan memasuki pasar yang kumuh, raut wajah Wira berubah menjadi dingin sejenak.
"Kalian dengar itu? Sedekah energi, Kalingga benar-benar sudah terang-terangan mengisap nyawa rakyat ini." gumam Wira lirih.
"Ritual itu pasti cara mereka mengisi ulang kekuatan pasukan Wungkul," sahut Guntur pelan sambil menurunkan tumpukan ubi di sebuah pojok pasar yang sudah mereka sewa.
"Kita harus mencari tahu di mana mereka menyimpan cadangan energi itu sebelum ritual dimulai." lanjutnya.
Sekar mulai menata ubi-ubi itu, namun tangannya bergetar sedikit saat melihat kondisi orang-orang di pasar. Mereka tampak pucat, mata mereka cekung, dan gerakan mereka lambat seolah-olah roh mereka sudah setengah keluar dari raga.
"Ini mengerikan, Wira. Mereka tidak sadar bahwa mereka sedang dibunuh perlahan," bisik Sekar dengan hati yang khawatir dan kasihan.
Wira mendekati seorang nenek tua yang sedang duduk lemas di dekat lapak mereka. Tanpa suara, ia menyerahkan sebuah ubi yang sudah ia aliri sedikit energi kehidupan secara diam-diam melalui telapak tangannya.
"Nek, makan ini. Ini ubi istimewa, bisa membuat tidur Nenek lebih nyenyak," ucap Wira lembut.
Begitu si nenek memakan ubi itu, warna kulitnya yang pucat perlahan memudar, digantikan oleh sedikit rona merah.
Si nenek pun menatap Wira dengan bingung. "Nak... ubi ini... rasanya sangat lezat."
Wira hanya tersenyum dan memberikan isyarat agar si nenek diam.
Malam harinya, di bawah naungan rembulan yang tertutup kabut ungu, Wira duduk di atap penginapan mereka yang reyot. Di kantong bajunya, jimat melati pemberian putri Ratnawati memancarkan aroma tipis yang menenangkannya dari amarah yang meluap.
"Siwa," panggil Wira.
"Aku tahu apa yang kau rasakan, Wira. Kau ingin menghancurkan altar itu sekarang juga, kan?" jawab Siwa cepat.
"Ya. Tapi aku tahu itu akan memicu alarm para dewa hitam di atas sana. Kita harus bermain hati-hati," jawab Wira serius.
Tiba-tiba, Siwa memberikan peringatan. "Bocah! Ada pergerakan energi yang sangat liar di arah utara pasar. Bukan iblis, bukan dewa... tapi sesuatu yang sangat haus darah."
Wira berdiri, matanya menatap tajam ke arah kegelapan.
Dan benar saja, dari balik bayang-bayang rumah warga, muncul beberapa sosok manusia yang bergerak patah-patah.
Mereka mengenakan zirah Majapatih, namun wajah mereka tertutup topeng besi yang hanya menyisakan lubang untuk mata yang berpendar merah.
"Pasukan Wungkul," desis Wira.
Salah satu dari mereka tampak sedang menyeret seorang pemuda desa yang meronta-ronta menuju ke arah istana gubernur kota. Wira tidak bisa tinggal diam. Ia menoleh ke arah jendela bawah, memberikan kode pada Sekar dan Guntur yang juga sudah waspada.
"Sekar, Guntur, kalian urus evakuasi warga jika terjadi kekacauan. Aku akan membuntuti mereka," perintah Wira.
Wira melompat dari atap dengan sangat ringan, nyaris tanpa suara lalu mengikuti pasukan Wungkul itu menembus gang-gang sempit.
Di tangannya, Siwa mulai berdenyut, seolah-olah ia bisa merasakan orang yang telah tercemar.
Langkah kaki pasukan itu berhenti di depan sebuah kuil tua yang telah diubah menjadi tempat pemujaan yang mengerikan.
Di tengah kuil itu, terdapat sebuah bola kristal besar yang berpendar ungu gelap, menampung energi-energi yang telah diisap dari rakyat.
Di sana, berdiri salah satu dari Tujuh Pendekar Langit baru Majapatih. Ia bertubuh raksasa, dengan kulit pucat kebiruan dan sebilah kapak besar di punggungnya.
"Tuangkan energinya ke dalam wadah ini. Tuan Kalingga membutuhkan persembahan lebih banyak untuk membuka gerbang dimensi bawah sepenuhnya," ucap pendekar raksasa itu dengan suara yang berat.
Wira yang bersembunyi di balik pilar kuil mengepalkan tangannya.
"Dimensi bawah? Jadi itu rencana mereka sebenarnya... bukan hanya menguasai bumi, tapi menyatukan bumi dengan neraka."
"Wira, hati-hati. Dia merasakarmu!" teriak Siwa.
Pendekar raksasa itu tiba-tiba menoleh ke arah pilar tempat Wira bersembunyi.
"Siapa di sana? Tikus pasar mana yang berani mengintip ritual suci?"
Wira menyadari penyamarannya sudah tidak berguna lagi. Ia melangkah keluar dari bayang-bayang, menurunkan capingnya hingga menutupi matanya, lalu mengangkat tongkat kayu lusuhnya.
"Aduh, Paman... saya cuma pedagang ubi yang tersesat mencari toilet. Tempat ini toiletnya bagus sekali ya, ada lampu ungu besar segala," ucap Wira kembali ke gaya konyolnya.
"Pedagang ubi?" Pendekar itu menyeringai, menampakkan taringnya yang tajam.
"Daging pedagang ubi biasanya hambat, tapi jiwamu... jiwamu terasa sangat lezat. Kau bukan manusia biasa!"
"Yah, Paman benar. Aku memang bukan manusia biasa. Aku adalah manusia yang sangat mencintai ubi dan sangat membenci orang-orang yang merusak selera makanku," jawab Wira seketika berubag nada.
Tiba-tiba, aura biru langit meledak dari tubuh Wira, menyapu kabut ungu di dalam kuil tersebut.
Siwa bergetar hebat, memancarkan wibawa yang membuat pasukan Wungkul di sekitarnya gemetar ketakutan.
"Namaku Wira. Dan aku di sini untuk menutup sedekah energi ini secara permanen!" ucapnya melontarkan niatnya dengan terang-terangan.
Pertempuran di Kertawana pun pecah di tengah malam yang sunyi.
Wira bergerak seperti kilat, Siwa menghantam zirah-zirah besi pasukan Wungkul dengan kekuatan yang menghancurkan energi hitam di dalamnya.
Sementara itu, di kejauhan, Sekar dan Guntur mulai bergerak menuju pusat logistik musuh.
Namun, saat Wira sedang bertarung, sebuah bayangan hitam melesat dari langit, menghantam tanah tepat di tengah kuil. Sosok itu mengenakan jubah kebesaran yang sangat familiar.
"Lama tidak jumpa, Bocah Pencuri Ubi," ucap sosok itu.
Mata Wira menyipit. Itu adalah Mahesa. Namun kini, Mahesa tidak lagi memiliki rupa manusia.
Tubuhnya diselimuti oleh sisik hitam, dan di tangannya ia memegang pedang yang memancarkan api hitam neraka.
"Mahesa... jadi kau masih menjadi anjing setia Kalingga?" tanya Wira dingin.
"Aku bukan lagi Mahesa yang kau kalahkan di Galuhwati. Aku adalah perwujudan dari kemarahan langit dan bumi yang kau khianati!" Mahesa melesat maju, pedang api hitamnya beradu dengan Siwa.
Clang!
Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan atap kuil. Wira terdorong mundur, namun ia segera menyeimbangkan diri.
Di tengah pertempuran itu, Wira tiba-tiba saja teringat akan jimat dari Ratnawati. Ia menyadari bahwa ia tidak boleh kalah di sini. Ada janji kedamaian yang harus ia tepati.
"Mari kita selesaikan ini, Mahesa. Sekali dan untuk selamanya!"
......................
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁