NovelToon NovelToon
Milik Sang Kapten

Milik Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Menyembunyikan Identitas / Romansa
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
​Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
​"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Amarah Sang Kakak

Suasana di depan gerbang kediaman Dharmawijaya mendadak mencekam saat Andhika melihat adiknya turun dari mobil dalam kondisi yang sangat hancur. Wajah Karline pucat, bibirnya berdarah, dan ia mengenakan jaket milik Raka yang tampak terlalu besar di tubuhnya. Amarah Andhika meledak seketika, urat-urat di lehernya menegang saat melihat Dean dan satu orang asing Raka mendampingi adiknya dengan wajah penuh luka dan penyesalan.

​"Apa yang terjadi dengan adikku?!" suara Andhika menggelegar, membuat nyali siapa pun yang mendengar menciut.

Dean melangkah maju, menghalangi pandangan Andhika sejenak seolah ingin melindungi Karline dari ketegangan yang lebih besar.

​"Kak, dengarkan saya dulu," ucap Dean dengan suara parau namun tegas. "Tadi di sekolah... Karline dijebak oleh Rio, Clarissa, dan Arlan. Mereka menyeretnya ke gudang olahraga tua. Rio mencoba melecehkannya secara fisik sementara yang lain merekam. Saya dan Raka berhasil menemukan mereka tepat waktu sebelum sesuatu yang lebih jauh terjadi."

​Mendengar kata "melecehkan" dan "gudang olahraga", rahang Andhika mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Matanya memerah, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat. Keheningan sesaat yang mencekam menyelimuti halaman rumah itu sebelum akhirnya Andhika meledak.

​"Binatang!" umpat Andhika dengan suara menggelegar. Ia menunjuk ke arah Dean dan Raka yang baru ia ketahui namanya malam itu.

​"Kalian berdua! Masuk dan bawa adikku ke dalam!" bentak Andhika. "Beruntung Papa sedang di luar kota untuk berobat. Kalau beliau tahu putri bungsunya disentuh secara biadab seperti ini, nyawa kalian semua juga akan ikut terancam!"

​Dean dan Raka hanya bisa menunduk pasrah. Mereka menerima caci maki Andhika tanpa pembelaan, karena mereka pun merasa gagal. Dengan perlahan, Dean membimbing Karline masuk ke dalam rumah yang megah namun terasa dingin malam itu.

​Andhika tidak tinggal diam. Ia segera meluncur ke tempat di mana Rio, Arlan, dan Clarissa diamankan.DanTanpa membuang waktu satu detik pun, Andhika masuk ke dalam mobilnya. Ia mengemudi dengan beringas menuju kantor polisi tempat ketiga pelaku itu diamankan. Di dalam mobil, ia terus menelepon orang-orang kepercayaannya. Sesampainya di sana, Andhika tampak begitu beringas. Tidak ada lagi sosok kakak yang hangat, yang ada hanyalah seorang pria dari keluarga Dharmawijaya yang kehormatannya baru saja diinjak.

Sesampainya di kantor polisi, Andhika langsung menerjang masuk. Ia tidak memedulikan prosedur. Saat melihat Rio, Arlan, dan Clarissa duduk di dalam sel sementara dengan wajah ketakutan, Andhika menghantam jeruji besi itu dengan tangannya.

​"Tolong, Pak Andhika... anak saya hanya khilaf," isak ibu Clarissa sambil berlutut di lantai. Orang tua Rio dan Arlan pun melakukan hal yang sama, memohon belas kasihan agar anak-anak mereka tidak diproses secara hukum mati atau dihancurkan masa depannya.

​Brak!

​"Berani-beraninya kalian menyentuh adikku!" bentak Andhika. Orang tua ketiga pelaku yang ada di sana mencoba mendekat untuk memohon belas kasihan, namun Andhika justru semakin beringas. Ia membanting kursi di ruang tunggu dan menunjuk wajah mereka satu per satu. "Jangan harap ada kata damai! Aku akan pastikan anak-anak kalian mendapatkan hukuman terberat. Kalau perlu, aku sendiri yang akan memastikan mereka tidak punya masa depan lagi di dunia ini!"

​"Pastikan tidak ada pengacara yang bisa menyentuh kasus ini. Aku ingin mereka membusuk di sana," perintahnya dingin.

Sementara itu, di dalam rumah yang tenang namun penuh pilu, Raka segera menuju dapur untuk membuatkan teh hangat, mencoba membantu sebisa mungkin meskipun ia pun merasa sangat bersalah, ia juga berharap hal ini bisa sedikit menenangkan saraf gadis itu yang masih tegang.

​Di ruang tengah, Karline duduk di sofa panjang dengan tatapan kosong. Ia masih diam, tidak mengeluarkan satu kata pun sejak kejadian di gudang itu. Dean duduk di sampingnya, memegang kotak obat dengan tangan yang gemetar.

​Dengan sangat perlahan dan penuh kehati-hatian, Dean mulai mengobati luka di bibir Karline yang pecah.​"Sstt... pelan-pelan ya," bisik Dean lembut saat Karline sedikit meringis.

Setiap kali kapas yang ia pegang menyentuh luka itu, Dean harus menggertakkan giginya kuat-kuat. Amarahnya kembali membuncah setiap kali ia melihat bekas memar di pergelangan tangan Karline yang putih mulus pergelangan tempat gelang pemberiannya seharusnya melingkar.

​"Maafkan aku, Karline... Maafkan aku," bisik Dean parau. Suaranya pecah saat ia membersihkan noda darah di sudut bibir gadis itu.

​Karline tetap diam, matanya hanya menatap ke depan tanpa ekspresi. Raka datang membawa tiga cangkir teh hangat dan meletakkannya di meja dengan gerakan pelan, seolah takut suara denting cangkir akan merusak keheningan yang rapuh itu.

​"Ini tehnya, minumlah sedikit agar badanmu hangat," ucap Raka lirih.

​Dean menatap Karline dengan tatapan yang sangat dalam, penuh luka dan perlindungan. Ia bersumpah dalam hati, mulai detik ini, ia tidak akan pernah membiarkan Karline lepas dari jangkauan pandangannya. Ia tidak peduli jika Andhika akan membencinya atau mengusirnya, selama Karline aman, itulah yang utama.

​Amarah Dean pada Rio sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Bagi Dean, persahabatan mereka sudah terkubur bersama dengan setiap tetes air mata Karline yang jatuh malam ini. Ia akan menanggung semua konsekuensinya, termasuk kemarahan Andhika yang masih berkobar di luar sana.

1
Anonymous
jgn gantung dong thor 😭
jajangmyeon
Suka banget sama ceritanya! Alurnya menarik dan karakternya juga bikin penasaran. Pokoknya recommended, yang lain wajib baca! 😆✨
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentarmu yang sangat positif 💞
total 1 replies
Anonymous
loh kok beda thor?
Anonymous: oke thorr, semangat selalu 💪😎
total 2 replies
jajangmyeon
wihhhhh seru nii
brawijaya Viloid
yey cerita baru 😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!