Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Jati menahan tangan Lintang saat istrinya itu hendak membereskan kotak bekal dan berpamitan pulang.
Tatapannya lembut namun penuh damba, seolah tak ingin kehilangan sedetik pun waktu bersama wanita yang telah mengembalikan semangat hidupnya itu.
"Jangan pulang dulu, Sayang," cegah Jati pelan. Ia menuntun Lintang menuju sofa kulit besar yang empuk di sudut ruang kerjanya.
"Duduklah di sini sebentar. Mas ada meeting koordinasi singkat dengan tim legal sekitar tiga puluh menit."
Lintang mendudukkan dirinya dengan patuh, wajahnya merona mendengar perhatian Jati yang begitu posesif namun manis.
"Setelah itu, kita pergi belanja ya?" lanjut Jati sambil mengusap kepala Lintang.
"Mas ingin membelikanmu beberapa pakaian baru, sepatu, dan apa pun yang kamu butuhkan. Kamu sekarang Nyonya Jati Pratama, penampilanmu harus secantik hatimu."
Lintang menganggukkan kepalanya dengan senyum simpul.
"Iya, Mas. Saya tunggu di sini. Selamat bekerja ya, Mas."
Jati mengecup kening Lintang sekilas sebelum melangkah menuju meja kerjanya untuk memulai panggilan video konferensi.
Selama Jati berbicara dengan nada tegas dan penuh wibawa kepada lawan bicaranya di layar, Lintang memperhatikan suaminya dari sofa.
Ia merasa takjub melihat perubahan Jati; pria yang dulu hanya bisa menunduk lesu di kursi roda, kini memimpin perusahaan dengan kepala tegak dan sorot mata yang tajam.
Di sela-sela rapat, sesekali Jati melirik ke arah sofa, memastikan Lintang masih di sana.
Melihat istrinya yang duduk tenang sambil membaca majalah, Jati merasa energinya pulih berkali-kali lipat.
Ia ingin segera menyelesaikan urusan kantor ini dan menghabiskan sore yang indah dengan memanjakan wanita yang sangat ia cintai itu.
Layar laptop akhirnya tertutup, menandai berakhirnya rapat koordinasi sore itu.
Jati segera bangkit, merapikan jasnya, dan melangkah menghampiri Lintang yang setia menunggu di sofa.
Senyumnya mengembang, sebuah binar kebahagiaan yang kini selalu hadir setiap kali ia menatap istrinya.
"Ayo, Sayang. Tugas Mas selesai, sekarang waktunya memanjakan ratu Mas," ucap Jati sambil mengulurkan tangan.
Mereka pun menuju salah satu mal paling elit di jantung kota Jakarta. Begitu melangkah masuk, Lintang merasa seolah memasuki dunia yang berbeda.
Lantai marmer yang berkilau, aroma parfum mahal yang menyeruak, dan deretan gerai brand internasional membuatnya sedikit gugup.
Ia mengeratkan pegangannya pada lengan Jati.
Jati membawa Lintang masuk ke sebuah butik pakaian dalam kelas atas yang sangat privat.
Pelayan menyambut mereka dengan tundukan hormat yang sangat sopan.
"Mas, tempat ini sepertinya sangat mahal," bisik Lintang canggung saat melihat label harga di salah satu gantungan.
Jati hanya terkekeh pelan. Ia menarik sebuah gantungan yang memamerkan lingerie sutra berwarna hitam pekat dengan detail renda yang sangat halus dan transparan di bagian pinggang.
Potongannya begitu berani namun tetap terlihat sangat berkelas.
"Sayang, beli ini ya?" bisik Jati di telinga Lintang, suaranya rendah dan penuh godaan.
"Hitam akan terlihat sangat kontras dan menggoda di kulitmu yang cantik. Mas ingin melihatmu memakainya malam ini."
Wajah Lintang seketika memerah padam. Ia menunduk, tidak berani menatap mata nakal suaminya.
"Mas Jati... ini terlalu... ah, terserah Mas saja," jawabnya lirih, membuat Jati tertawa puas dan segera meminta pelayan untuk membungkusnya beserta beberapa set lainnya tanpa melihat harga sedikit pun.
Saat mereka keluar dari butik tersebut sambil menjinjing beberapa tas belanjaan, langkah mereka terhenti di area atrium mal.
Dari arah berlawanan, segerombolan wanita dengan pakaian serba bermerek dan tas puluhan juta rupiah berjalan mendekat. Mereka adalah teman-teman sosialita Mila.
"Lho? Bukankah itu, Jati?" salah satu dari mereka, Siska, memekik tertahan sambil mengerjap tidak percaya.
Rombongan itu berhenti mendadak. Mata mereka membelalak melihat Jati yang berdiri tegap, gagah, dan berjalan dengan sangat tegap tanpa bantuan apa pun.
Tidak ada lagi sisa-sisa kelumpuhan yang dulu sering mereka jadikan bahan gosip di meja arisan.
"Jati! Kamu sudah sembuh total?" tanya teman Mila lainnya dengan nada bicara yang berubah manis, mencoba mencari perhatian.
Namun, perhatian mereka segera beralih pada wanita yang digandeng erat oleh Jati.
Lintang berdiri dengan anggun, mengenakan pakaian pilihan Jati yang sangat pas di tubuhnya.
Wajahnya yang polos tanpa riasan berlebih justru memancarkan kecantikan alami yang jauh lebih berkelas dibandingkan wajah-wajah penuh riasan tebal di depan mereka.
"Kenalkan, ini Lintang. Istriku," ucap Jati dengan nada dingin namun penuh kebanggaan.
Ia sengaja menekankan kata 'istri' untuk membungkam spekulasi mereka.
Teman-teman Mila saling pandang dengan wajah pucat.
Mereka terkejut melihat Jati tidak hanya sembuh, tapi juga memiliki pendamping yang jauh lebih cantik, lembut, dan terlihat sangat tulus—berbanding terbalik dengan Mila yang selalu penuh drama.
"Kami permisi dulu. Masih banyak yang harus dibeli untuk istriku," pungkas Jati tanpa memberi kesempatan bagi mereka untuk bertanya lebih lanjut.
Ia membimbing Lintang menjauh, meninggalkan kerumunan sosialita itu yang mulai sibuk mengeluarkan ponsel mereka, siap menyebarkan berita besar ini ke seluruh grup WhatsApp, termasuk kepada Mila.
Setelah melewati butik-butik mewah yang penuh dengan barang bermerek, Lintang menarik pelan ujung jas Jati.
Matanya berbinar saat melihat area food court yang menyajikan berbagai aroma menggoda, jauh berbeda dengan suasana kaku di toko-toko sebelumnya.
"Mas, boleh tidak kalau kita makan itu?" tanya Lintang sambil menunjuk sebuah kedai yang ramai pengunjung.
"Saya ingin es krim dan Mie Singapore. Baunya enak sekali, Mas."
Jati tertawa kecil. Ia merasa gemas melihat istrinya yang tetap sederhana meski baru saja ia belikan barang-barang seharga ratusan juta rupiah.
Bagi Lintang, kebahagiaan ternyata sesederhana semangkuk mie dan es krim.
"Tentu saja boleh, Sayang. Apapun yang kamu mau," jawab Jati lembut.
Mereka pun duduk di salah satu sudut meja yang agak tenang.
Jati memesankan Mie Singapore dengan bumbu kari yang kental dan aroma rempah yang kuat, serta dua cup besar es krim vanila dengan taburan cokelat.
"Pelan-pelan makannya," ucap Jati sambil memperhatikan Lintang yang tampak sangat menikmati suapan pertamanya.
"Enak?"
"Enak sekali, Mas! Mas harus coba kuahnya," Lintang menyodorkan sesendok kuah mie ke arah bibir Jati.
Jati menerimanya dengan senang hati. Di tengah mal mewah itu, di hadapan banyak orang yang mungkin masih memperhatikannya, Jati merasa sangat lengkap.
Ia tidak peduli lagi dengan tatapan sinis teman-teman Mila tadi.
Baginya, melihat Lintang tersenyum puas karena semangkuk mie jauh lebih berharga daripada semua pujian sosialita di luar sana.
Sambil menikmati es krim sebagai pencuci mulut, Lintang menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Jati.
"Terima kasih untuk hari ini ya, Mas. Saya merasa seperti di dalam mimpi," bisik Lintang tulus.
Jati merangkul bahu istrinya erat, mencium puncak kepalanya dengan sayang.
"Ini bukan mimpi, Lintang. Ini adalah hidup baru kita. Dan ini baru permulaan."