NovelToon NovelToon
SHADOW OF DEATH

SHADOW OF DEATH

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death

(update setiap hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 — CINTA TERLARANG

Tiga minggu kemudian.

Xiu Zhu sudah bisa berjalan. Sudah bisa berlari. Sudah bisa bertarung lagi.

Pemulihannya cepat. Terlalu cepat untuk orang biasa.

Tapi dia memang bukan orang biasa. Dia Komandan The Eagle.

Dan malam ini, dia ada di kamar Kenzo. Sendirian.

Kenzo belum pulang. Masih rapat dengan Zhao Bowen, Lu Tong, dan Tong Feng.

Xiu Zhu menunggu di sofa. Jantungnya berdebar. Bukan karena takut.

Karena gairah.

Pikirannya kembali ke malam di Bai Ma. Sentuhan tangan itu. Cara Kenzo menyentuhnya. Tubuh yang terbakar, tapi tidak pernah benar-benar selesai.

Kenzo menolaknya waktu itu. Karena Xian Mei.

Tapi sekarang… Xiu Zhu sudah tidak mau menahan diri lagi.

Dia ingin. Dia butuh.

Dia lelah berpura-pura tidak menginginkannya.

Pintu terbuka.

Kenzo masuk. Wajahnya letih. Jasnya dilepas dan dilempar ke kursi begitu saja.

Tatapannya berhenti ketika melihat Xiu Zhu di sofa.

“Kau?” tanyanya pelan.

“Aku tunggu kau,” jawab Xiu Zhu.

“Untuk apa?”

Xiu Zhu berdiri. Melangkah mendekat. Pelan. Tenang. Seperti kucing yang sudah yakin dengan buruannya.

“Kau tahu,” bisiknya.

“Kau selalu tahu.”

Kenzo terdiam. Tatapannya bertemu dengan mata Xiu Zhu yang panas dan lapar.

“Xiu Zhu…”

“Jangan,” potongnya lembut.

Dia berdiri sangat dekat sekarang. Aroma parfumnya bercampur dengan hangat tubuhnya.

“Jangan tolak aku lagi.”

“Dan jangan bilang kau cinta Xian Mei.”

“Aku tahu kau cinta dia.”

“Tapi malam ini dia tidak ada di sini.”

“Aku yang ada.”

Tangannya menyentuh dada Kenzo. Merasakan detak jantungnya di balik kemeja.

“Kau manusia,” bisiknya.

“Bukan monster. Bukan bayangan.”

“Kau pria. Dan kau punya kebutuhan.”

Kenzo menangkap pergelangan tangan Xiu Zhu. Genggamannya kuat, tapi dia tidak mendorongnya menjauh.

“Kau tidak tahu apa yang kau minta,” katanya pelan.

“Aku tahu,” jawab Xiu Zhu tanpa ragu.

“Aku cuma minta malam ini. Satu malam saja.”

“Besok kau boleh melupakannya. Boleh membenciku. Terserah.”

“Tapi malam ini… aku mau kau.”

Kenzo menatapnya lama.

Dia lelah. Terlalu lelah. Dan terlalu lama sendirian.

Akhirnya dia menarik Xiu Zhu ke dalam pelukannya. Kuat. Hampir menyakitkan.

Xiu Zhu tidak melawan. Dia justru memeluk balik. Seolah sudah lama menunggu momen itu.

Kenzo mengangkatnya dan membawanya ke kamar.

Dia menurunkannya ke ranjang dengan hati-hati. Lembut. Seolah takut dia akan pecah.

Xiu Zhu berbaring, menatapnya. Ruangan terasa sunyi. Tegang. Napas mereka terdengar jelas.

Kenzo berdiri di samping ranjang. Diam.

“Kenapa berhenti?” tanya Xiu Zhu lirih.

Kenzo hanya memandanginya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Seolah mencoba menghafalnya.

Xiu Zhu bangkit, duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih tangan Kenzo.

“Kau takut,” bisiknya.

“Aku tidak takut,” jawab Kenzo.

“Kau takut jadi manusia.”

Kalimat itu membuat Kenzo terdiam.

Xiu Zhu berdiri di hadapannya. Sangat dekat. Napas mereka bercampur.

Tangannya mulai membuka kancing kemeja Kenzo. Satu demi satu. Pelan. Tanpa tergesa.

Kenzo membiarkannya.

Ketika dadanya terbuka, Xiu Zhu melihat bekas-bekas luka. Lama dan baru. Ada yang masih kemerahan.

“Aku juga punya,” katanya pelan.

Dia melepaskan kemejanya sendiri. Punggungnya penuh bekas luka dari siksaan dan pertarungan.

Tatapan Kenzo berubah. Lebih gelap. Bukan gelap yang menyeramkan. Tapi gelap yang dalam. Emosional.

Tangannya terangkat, menyentuh bekas luka di punggung Xiu Zhu. Jari-jarinya menyusuri perlahan.

Tubuh Xiu Zhu bergetar.

“Kenzo…” bisiknya.

Satu kata. Tapi cukup.

Kenzo menariknya ke pelukan lagi. Kali ini berbeda. Bukan untuk menahan. Bukan untuk menolak.

Mereka jatuh ke ranjang bersama.

Ciuman pertama terasa kasar dan tidak sabar. Bibir bertabrakan. Napas memburu.

"Ehmmmm... ehmmm..."

Xiu Zhu mencengkeram rambut Kenzo. Kenzo membalas dengan ciuman yang lebih dalam, lebih menuntut.

"Ken...ehmmm... Kenzo..."

Nama Kenzo terucap berulang-ulang dari bibir Xiu Zhu. Seperti doa yang putus-putus.

Kenzo berhenti sejenak, menatapnya.

“Kau yakin?” tanyanya serak.

Xiu Zhu tidak menjawab dengan kata-kata. Dia menariknya kembali.

Xiu Zhu melepaskan celana jeans Kenzo dan boxer hitam miliknya, lalu melumat kejantanannya.

"Ouhhhh.... Xiu.... ahhhhhh..."

Jawabannya jelas.

Dinding yang Kenzo bangun selama bertahun-tahun runtuh malam itu. Bukan dengan suara keras. Tapi dengan rasa.

Xiu Zhu dengan ganas melumat dan menjilati tongkat Kenzo dan menggerakkan tangannya naik turun.

"Ahhhhhhh... ssssst.... ouhhhhhh..."

Sentuhan berubah menjadi kebutuhan. Gerakan berubah menjadi irama yang hanya mereka pahami.

Xiu Zhu melepaskan lumatannya lalu duduk di atas pinggul Kenzo dan mengarahkan kejantanannya ke arah lubang kenikmatan Xiu Zhu membuatnya melenguh panjang.

"Ahhhhh...keeeen...ohhhhh..."

Xiu Zhu mengerang pelan, menggigit bahu Kenzo. Kenzo membalas dengan gerakan yang semakin dalam, semakin pasti.

Keringat bercampur. Tubuh saling mencari.

Xiu Zhu mencakar punggung Kenzo, meninggalkan garis merah. Kenzo tidak menghindar. Dia justru menekan lebih dekat, seolah ingin memastikan ini nyata.

“Lebih cepat,” bisik Xiu Zhu.

Kenzo sengaja memperlambat. Menikmati setiap detik. Membalas semua penolakan dan penantian yang tertahan sejak Bai Ma.

Memainkan kedua dadanya, meremas remas dan memainkan ujung bukit kembar Xiu Zhu.

"Ehmmm...ken...ohhhhh... Ken..."

Xiu Zhu menggeliat, frustrasi sekaligus tenggelam dalam sensasi.

"Ahhhhh...Ken... terus...sayang"

“Kenzo, sialan,” gumamnya.

Kenzo tertawa pelan. Lalu akhirnya mengikuti ritme yang mereka bangun bersama.

"Keeeeeeen.... ahhhhhhhhh..."

Xiu Zhu menggerakkan pinggulnya mengikuti arah jarum jam sambil mencengkeram dada Kenzo.

"Ahhhhhhhh... ssssst... ahhhhhh..."

Kenzo meraih gunung kembar Xiu Zhu dan meremas-remasnya serta tangan kirinya memainkan ujung gunung Xiu Zhu.

Xiu Zhu mempercepat gerakannya.

"Ahhhhhh.... Keeeeeeen... ouhhhhhhh..."

"Keeeeen... kau milikku..."

Mereka bergerak semakin selaras. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi jarak.

Ketika akhirnya Xiu Zhu gemetar dalam pelukannya, Kenzo menahannya erat. Membiarkannya merasakan semuanya sampai habis.

“Kenzo…” bisiknya setelah napasnya kembali teratur.

“Apa?”

“Kau masih di sini.”

“Aku tidak ke mana-mana.”

Xiu Zhu tertawa kecil. Lelah tapi puas.

Mereka berbaring berdampingan. Diam. Hanya suara napas dan detak jantung.

Xiu Zhu tertidur lebih dulu.

Kenzo tetap terjaga.

Pikirannya melayang ke Xian Mei. Ke janji-janji yang belum selesai. Ke cinta yang seharusnya tidak terbagi.

Malam ini dia sudah membagikan sesuatu. Mungkin bukan cinta. Tapi sesuatu yang nyata.

Dia menatap wajah Xiu Zhu yang tertidur. Tanpa ekspresi tegas Komandan. Hanya seorang wanita yang akhirnya bisa beristirahat.

Kenzo memejamkan mata. Tidak benar-benar tidur. Hanya mencoba berhenti berpikir.

Pagi datang perlahan.

Xiu Zhu bangun lebih dulu. Melihat Kenzo yang masih terjaga.

“Kau tidak tidur,” katanya.

“Tidur sebentar,” jawab Kenzo singkat.

Xiu Zhu tidak memaksa. Dia tahu malam ini tidak menjanjikan apa-apa.

Dia bangkit, mengenakan kembali kemejanya yang tergeletak di lantai.

Di ambang pintu, dia berhenti.

“Kenzo.”

“Apa?”

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Untuk malam ini.”

Dia tersenyum tipis.

“Luka di punggungku masih ada. Tapi rasanya tidak sakit lagi.”

Dia pergi tanpa menoleh.

Kenzo duduk sendirian di ranjang.

Tangannya terdiam di udara, mengingat sentuhan semalam.

Lalu dia bangkit. Mandi. Bersiap menghadapi hari.

Sebelum keluar kamar, dia melihat ponselnya. Ada pesan dari Xian Mei.

“Kau baik-baik saja?”

Kenzo mengetik jawaban. Menghapusnya. Mengetik lagi.

Akhirnya dia kirim satu kalimat.

“Ya. Aku baik.”

Dia meletakkan ponsel itu dan tidak menunggu balasan.

Belum sanggup.

...$ BERSAMBUNG $...

1
Aisyah Suyuti
seru
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
tak kira saya xinmei gak ketolong
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Cry/ "aku nggak bisa bayangin gimana perasaan nya yang campur aduk begitu"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Whimper/ "kok tiba-tiba jadi genre horor begini Thor"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hammer/ "khodam nya keluar ya Thor"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Determined/ "wahhh! laki-laki sejati, aku salut padamu sobat!"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Applaud/ "bisa di spill alasannya, kok bisa keluar tanpa bersyarat?"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Proud/ "santai bener ya, hidupnya Kenzo"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Scare/ "hah? napi? beneran nih!"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Panic/ "ehh? siapa ya?"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sneer/ "jualan nasi kucing aja kak, pasti laris"
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Lin dong yang mengawali, Kenzo yg mengakhiri.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
semoga Kenzo hanya kehilangan empati bukan kehilangan cinta.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
sumpah terganggu sama tanda titik di setiap katanya.
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦≛⃝⃕|ℙ$ Avi🦐ˢ⍣⃟ₛ
baguss weh😍😍😍 saya suka saya suka
Capt Blacksheep TUAN PERAMAL🐑
👍
Capt Blacksheep TUAN PERAMAL🐑: awkk awok
total 4 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
nama perempuan nya Kenzo juga belum hapal sekarang tambah lagi nama anak buahnya Kenzo yg namanya susah diingat.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
nah loh sapa tuh Kenz, kira-kira mau dibeli baik-baik Xiu nya atau diambil cara paksa?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Kenzo partner Kamu diculik tuh
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
bergabung dengan visi dan misi masing masing, yg pasti gak ada ketulusan. tapi semoga aja Kenzo gak dapat cewek lagi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!