NovelToon NovelToon
Pedang Penakluk Langit

Pedang Penakluk Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Setahun Kemudian di Lautan Pasir

ARC 2: GURUN DARAH DAN KOTA KUNO

Gurun Tulang Merah.

Sejauh mata memandang, hanya ada lautan pasir berwarna merah bata yang membara di bawah terik tiga matahari. Di tempat ini, suhu udara pada siang hari cukup panas untuk merebus telur di atas batu, dan pada malam hari cukup dingin untuk membekukan darah.

Ini adalah wilayah tanpa hukum di perbatasan antara Kekaisaran Roh Azure dan Kekaisaran Gagak Api. Tempat di mana bandit, binatang buas, dan reruntuhan kuno terkubur di bawah bukit pasir yang selalu berpindah.

Di tengah badai pasir yang menderu, sesosok manusia berjalan sendirian.

Langkah kakinya berat, setiap pijakan membenamkan kakinya dalam ke pasir, namun dia terus bergerak dengan ritme yang stabil dan tak tergoyahkan.

Dia mengenakan jubah linen kasar berwarna cokelat pudar yang melilit tubuhnya, sebuah caping bambu lebar yang sudah retak di beberapa bagian menutupi wajahnya, dan syal tebal melilit lehernya untuk menahan debu.

Di punggungnya, terikat sebuah benda besar yang dibungkus kain perban hitam tebal. Benda itu panjang, lurus, dan terlihat sangat berat.

Pemuda itu berhenti sejenak. Dia mengangkat capingnya sedikit, memperlihatkan sepasang mata yang tajam dan tenang—mata yang telah melihat terlalu banyak kematian dalam setahun terakhir.

Itu adalah Ye Yuan.

Satu tahun telah berlalu sejak malam berdarah di Hutan Tulang Kering.

Dalam setahun ini, dia telah menempuh perjalanan ribuan mil, melintasi rawa beracun, mendaki pegunungan salju, dan kini menyeberangi gurun kematian. Dia bukan lagi murid sekte yang naif. Kultivasinya telah stabil di Ranah Pembentukan Fondasi Tingkat Empat (Tahap Menengah).

"Panas ini..." gumam Ye Yuan, suaranya lebih berat dan dewasa. "Bagus untuk menempa tubuh."

Dia tidak menggunakan Qi untuk melindungi diri dari panas. Dia membiarkan panas gurun membakar kulitnya yang kini berwarna tembaga gelap. Kulitnya tidak lagi mulus seperti giok, tapi kasar dan keras seperti kulit binatang buas purba.

[Tubuh Pedang Perunggu - Tahap Lanjut]

Ye Yuan menyesuaikan letak pedang di punggungnya.

Pedang itu—Asura—kini memiliki berat yang mengerikan. Setelah menyerap Baja Dewa Jatuh yang dia beli di pelelangan setahun lalu, berat pedang itu melonjak menjadi 500 kilogram.

Bagi orang biasa, membawanya saja mustahil. Bagi Ye Yuan, ini adalah latihan beban setiap detik dalam hidupnya.

"Air tinggal setengah kantong," Ye Yuan mengguncang kantong kulit di pinggangnya. "Kota Oasis masih dua hari perjalanan lagi."

Tiba-tiba, telinganya yang terlatih menangkap suara.

Bukan suara angin.

Suara dentingan logam. Teriakan manusia. Dan raungan binatang buas.

Ye Yuan menyipitkan mata, menatap ke balik bukit pasir di depannya. Jaraknya sekitar satu kilometer, tapi getarannya terasa sampai ke kakinya.

"Pertempuran?"

Ye Yuan tidak berniat ikut campur. Di gurun ini, mencampuri urusan orang lain adalah cara tercepat untuk mati. Namun, arah pertempuran itu menghalangi jalan satu-satunya menuju sumber air terdekat.

"Merepotkan," desis Ye Yuan.

Dia melangkah menaiki bukit pasir itu, merangkak di puncaknya untuk mengintip.

Di lembah pasir di bawah sana, sebuah karavan dagang sedang dikepung.

Ada sekitar lima kereta kuda yang ditarik oleh Unta Batu—binatang gurun yang kuat. Bendera karavan itu bergambar bunga kaktus emas. Klan Jin, pedagang terkenal di wilayah ini.

Mereka dikepung oleh puluhan pengendara Kadal Pasir.

Bandit.

"Kelompok Kalajengking Merah," Ye Yuan mengenali tato di lengan para bandit itu. Mereka terkenal kejam, tidak pernah menyisakan tawanan hidup-hidup.

"Serahkan barangnya! Dan tinggalkan wanitanya!" teriak pemimpin bandit, seorang pria bermata satu yang memegang gada berduri.

Para pengawal karavan sudah banyak yang tewas. Hanya tersisa sekitar sepuluh pengawal yang melindungi satu kereta mewah di tengah.

"Tahan mereka! Nona Muda harus selamat!" teriak kepala pengawal, seorang pria tua dengan luka di dada.

Ye Yuan mengamati dengan dingin. Dia tidak tertarik menjadi pahlawan. Namun, matanya tertuju pada pemimpin bandit itu. Di pinggangnya, tergantung beberapa kantong air yang penuh.

"Air..." Ye Yuan menjilat bibirnya yang pecah-pecah. "Dan mungkin peta yang lebih akurat."

Ye Yuan berdiri. Dia memutuskan.

Dia tidak akan menyelamatkan siapa pun. Dia hanya akan... mengambil air.

Di bawah lembah, situasi semakin kritis.

Pemimpin bandit, Si Mata Satu (Pembentukan Fondasi Tingkat Tiga), bosan bermain-main.

"Habisi mereka semua!"

Dia memacu kadal raksasanya. Kadal itu menyemburkan asam hijau ke arah barisan pertahanan pengawal.

"Aaargh!" Tiga pengawal meleleh seketika.

Si Mata Satu melompat dari kadalnya, gadanya berayun menghancurkan kepala pengawal tua itu.

"Kakek Gu!" teriak suara wanita dari dalam kereta.

Seorang gadis muda berusia sekitar tujuh belas tahun melompat keluar. Dia mengenakan pakaian sutra merah muda yang kotor oleh debu. Wajahnya cantik namun pucat pasi. Dia memegang belati pendek dengan tangan gemetar.

"Oh? Cantik juga," Si Mata Satu menyeringai bejat. "Kau akan jadi mainan yang bagus malam ini, Nona."

Dia mengulurkan tangan kekarnya untuk menjambak rambut gadis itu.

Gadis itu memejamkan mata, bersiap bunuh diri dengan belatinya daripada dinodai.

Namun, sebelum tangan kasar bandit itu menyentuhnya...

BOOM!

Sebuah benda hitam raksasa jatuh dari langit, menancap tepat di antara gadis itu dan si bandit.

Tanah bergetar hebat. Pasir menyembur setinggi sepuluh meter.

Si Mata Satu terlempar mundur karena gelombang kejut. Dia terbatuk, kaget setengah mati.

"Apa itu?!"

Debu pasir perlahan turun.

Di depan gadis itu, menancap sebuah benda yang terbungkus kain perban hitam. Bentuknya seperti pedang, tapi ukurannya sebesar papan peti mati. Benda itu menancap dalam sekali ke tanah pasir yang padat.

Lalu, sesosok bayangan mendarat dengan ringan di atas gagang pedang besar itu.

Seorang pemuda bercaping bambu, dengan jubah yang berkibar ditiup angin gurun.

Ye Yuan berdiri di sana, menatap Si Mata Satu dari ketinggian.

"Kau menghalangi jalanku," kata Ye Yuan datar.

Si Mata Satu mengerutkan kening. Dia memindai aura Ye Yuan.

"Tingkat Empat?" batin si bandit. "Hanya satu tingkat di atasku. Tapi dia sendirian, aku punya tiga puluh anak buah!"

"Siapa kau, Bangsat?!" teriak Si Mata Satu. "Ini wilayah Kalajengking Merah! Pergi atau mati!"

Ye Yuan tidak menjawab. Dia melompat turun dari gagang pedangnya. Tangannya meraih gagang itu.

"Berat..." gumam Ye Yuan, menikmati sensasi tarikan gravitasi dari senjatanya.

Dia tidak membuka perban kain itu. Dia mengangkat pedang seberat 500 kilogram itu dengan satu tangan, mengarahkannya ke Si Mata Satu.

"Tinggalkan air dan kudamu. Lalu pergi. Aku sedang tidak ingin membunuh hari ini."

"Sombong! Bunuh dia!" Si Mata Satu memberi perintah.

Sepuluh anak buahnya yang menunggangi kadal pasir menerjang maju sambil melempar tombak.

Ye Yuan menghela napas.

"Kenapa orang selalu memilih mati?"

Ye Yuan tidak menggunakan teknik pedang rumit. Dia memegang gagang pedangnya dengan dua tangan, memutarnya sekali, lalu menghempaskannya ke tanah secara horizontal.

Bukan menebas. Tapi menggeprek.

[Gaya Berat Asura: Gelombang Pasir!]

BLAAARRR!

Pedang terbungkus kain itu menghantam udara kosong. Tapi tekanan angin dan berat murni dari ayunan itu menciptakan gelombang kejut yang mengerikan.

Pasir di depan Ye Yuan meledak ke depan seperti tsunami.

Sepuluh bandit beserta kadal tunggangan mereka tidak sempat berteriak. Mereka dihantam oleh dinding pasir padat. Tulang-tulang mereka remuk seketika oleh tekanan udara. Mereka terlempar sejauh lima puluh meter, mendarat sebagai tumpukan daging dan tulang yang tak berbentuk.

Hening.

Gadis di belakang Ye Yuan menutup mulutnya, matanya terbelalak tak percaya.

Si Mata Satu gemetar. Gada di tangannya jatuh.

"Satu ayunan? Tanpa menyentuh?"

Itu bukan teknik Qi tingkat tinggi. Itu murni kekuatan fisik monster yang mengayunkan benda super berat!

Ye Yuan menoleh ke arah Si Mata Satu.

"Masih mau lanjut?"

Si Mata Satu berlutut seketika. Wajah garangnya hilang, digantikan teror murni.

"Ampun! Ampun, Tuan Pendekar! Ambillah semuanya! Air, harta, wanita ini... ambil saja!"

Ye Yuan berjalan mendekat.

"Aku tidak butuh wanitanya."

Ye Yuan mengambil kantong air dari pinggang bandit itu, meminumnya, lalu menyiramkannya ke wajahnya yang panas.

"Segar."

Ye Yuan menatap sisa bandit yang masih hidup.

"Enyahlah. Dalam hitungan tiga."

"Satu."

Para bandit itu lari terbirit-birit, bahkan meninggalkan tunggangan mereka, menghilang di balik bukit pasir.

Ye Yuan kemudian berbalik menatap gadis muda yang masih syok itu. Dia tidak peduli dengan kecantikannya. Dia hanya peduli pada satu hal.

"Hei, Nona," panggil Ye Yuan.

Gadis itu tersentak. "Ya... Ya, Tuan Penolong?"

"Kalian punya peta menuju Reruntuhan Kota Api Kuno?"

Mata gadis itu melebar. Itu adalah rahasia klannya. Bagaimana pengembara ini bisa tahu?

"A-aku punya," jawab gadis itu ragu. "Tapi... tempat itu terkutuk. Tuan mau apa ke sana?"

Ye Yuan menyarungkan kembali pedang besarnya ke punggung.

"Pedangku butuh makan," jawab Ye Yuan misterius. "Dan kudengar di sana ada api yang tidak pernah padam."

Ye Yuan menunjuk ke arah kereta kuda yang tersisa.

"Aku akan mengawalmu sampai ke kota terdekat. Sebagai bayarannya, berikan peta itu padaku."

Gadis itu menelan ludah, lalu mengangguk cepat. Dia tidak punya pilihan lain. Dan sejujurnya, berada di dekat monster ini terasa lebih aman daripada sendirian di gurun.

"Baik, Tuan. Namaku Jin Ling. Silakan naik."

Ye Yuan melompat ke atap kereta kuda, duduk bersila, dan menutup matanya.

Roda nasib kembali berputar. Ye Yuan tidak tahu bahwa Reruntuhan Kota Api Kuno bukan hanya berisi api, tapi juga menyimpan rahasia tentang ras kuno yang pernah menguasai benua ini—ras yang menciptakan pedang patah di punggungnya.

Perjalanan di gurun baru saja dimulai.

[Bersambung ke Bab 22]

1
Nanik S
pergi ke Benua Timur
Nanik S
Ronde dua pembantaian
Nanik S
Sial benar mereka berdua
Nanik S
apakah Ye Yuan dan Mu Bingyun bisa lolos dari mereka
Nanik S
Mu Bingyun peka sekali
Nanik S
Ye Yusn licin seperti belut
Nanik S
Bisakah Yuan selamat
Nanik S
Mu Bingyun... apakah Ye Chen akan pulang bersama Mu Bingyun
Nanik S
Kenapa tidak diambil cincin Komandan Zhu
Nanik S
Ye Chen.... jangan biarkan mereka membunuh Kakek Gu dan Jin Jinoi
Nanik S
Akirnya pedangnya yang patah kini telah utuh
Nanik S
Maaantap
Nanik S
Yuan ada saja.. ngakak main petak umpet di Neraka 🤣🤣🤣
Nanik S
Ternyata kota itu adalah Kuburan para Dewa dan Iblis
Nanik S
Perjalan baru di reruntuhan kuno
Nanik S
Harusnya menemui Tetua Mu
Nanik S
Mantap Tor... 👍👍👍
Nanik S
Semua masuk jebakan Yuan
Nanik S
Makin seru Tor
Nanik S
Shiiiip
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!