Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangkar Emas
"Kalo udah sampe, kabari aku!" Bima menutup pintu taksi, membiarkan istrinya pulang sendiri.
Di dalam taksi yang mulai melaju, Nadira duduk dengan perasaan tak nyaman dan sebal. "Bagaimana bisa aku memutuskan komunikasi dengan Andini. Dengan Mas Arga, aku nggak peduli. Tapi, dengan anakku...?"
Nadira berdecak kesal. "Aku nggak boleh patuh gitu aja. Nggak peduli Mas Bima melarang. Aku masih bisa berkomunikasi dengan Andini tanpa sepengetahuan dia," gumam wanita itu sambil tersenyum miring penuh rencana.
Setelah hampir setengah jam, akhirnya taksi berhenti di depan gerbang kediaman keluarga Bima. Nadira segera turun, melangkah dengan penuh percaya diri sambil menenteng barang belanjaannya.
"Aku harus pandai memanfaatkan kesempatan untuk mengumpulkan banyak harta dari keluarga Mas Bima. Jadi, kalau misalkan aku sudah nggak tahan lagi dengan keluarga ini, aku bisa pergi dengan mudah," batin Nadira, penuh pertimbangan.
Ia membuka pintu rumah dan segera melangkah masuk. Baru saja di depan tangga, suara seseorang menghentikan langkahnya.
"Dira, bisa bantu Nenek?!"
Nadira mengeraskan rahang. Baru saja ia ingin senang-senang dengan perhiasan barunya dan sudah ada yang mengganggu.
Perempuan itu memutar tubuh dan berusaha menyunggingkan senyuman tipis, kaku. "Ya, Nek. Nenek butuh sesuatu?"
Ia mendekat dan menghampiri Marsinah di ruang tengah.
"Kamu pijat lagi kepala Nenek, ya!" titah Marsinah, tubuh tua itu bersandar di kursi dan memejamkan mata.
Nadira menggeram tertahan.
"Cepat! Kenapa masih di sana?!" desak Marsinah saat tak merasakan pergerakan dari Nadira.
"Ingat Nadira, hanya sampai kamu menikah dan menjadi anggota keluarga ini. Setelah itu, kamu akan punya kekuatan untuk menolak," batin Nadira.
Ia meletakan barang belanjaannya di atas meja lalu berjalan ke belakang tubuh Marsinah. Jari tangannya perlahan memijat kening wanita tua itu.
"Bima ngajak kamu ke mana?"
"Ke toko perhiasan," jawab Nadira singkat dan datar.
"Oh, bagus. Meskipun hanya jadi ibu rumah tangga, kamu harus pandai menjaga penampilan." Marsinah tiba-tiba menegakan tubuh dan meraih tas belanja Nadira.
Nadira langsung memasang tanda siaga, khawatir perhiasan yang dia beli dikomentari buruk oleh Marsinah.
"Wah, kalung yang sangat cantik. Selera kamu bener-bener bagus, Nadira," puji Marsinah.
Nadira tersenyum lebar lalu duduk di samping wanita tua itu. "Mas Bima juga ikut memilihkannya, Nek. Dia bilang, aku akan sangat cantik saat memakainya," dusta Nadira.
Jelas-jelas dia sendiri yang memilih semua itu, sementara Bima nampak tidak sabar menungguinya.
"Coba pakai. Perhiasan ini akan jadi identitas diri kita sebagai orang kalangan atas, Dira. Jangan ikuti calon mertua kamu itu yang sok sederhana."
Marsinah membatu Nadira memasangkan kalung, lalu tersenyum lebar. "Sangat cocok untuk kamu. Kamu memang pantas jadi menantu keluarga ini."
"Terima kasih, Nek. Aku akan memakainya seperti yang Nenek bilang tadi."
Marsinah mengangguk lalu bangkit dari duduknya. "Sekarang, karena kamu sudah pulang... kamu lihat calon mertuamu itu sana. Sejak tadi dia terus saja berisik!"
Wajah Nadira mendadak muram. "Kenapa harus di saat seperti ini?" Ia memperhatikan gelang yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Aku sudah memakai perhiasan seperti ini, tapi tetap mengurusi wanita lumpuh itu?" Ia berdecak kesal.
---
"Andini, bawa ini untuk makan di rumah, ya."
Rini menyerahkan rantang berisi makanan pada Andini dan Arga.
Mata Andini seketika bersinar terang. Sementara Arga, langsung diserang rasa tak enak hati.
"Jangan, Rin. Nggak perlu!" tolak Arga. Ia meraih rantang di tangan Andini dan hendak mengembalikannya lagi.
Rini segera menggeleng cepat. "Bawa aja, Mas. Ini hanya makanan sisa kalian tadi. Sayang kalo dibuang. Jadi, nanti Mas Arga nggak perlu masak lagi."
Ia kembali mendorong rantang itu mendekat pada Arga.
"Tapi..."
"Andini bilang tadi dia suka sama sup jamurnya. Kamu bawa, ya," kata Rini sedikit memaksa.
"Bawa aja, Mas. Di rumah nggak ada yang masak, kan?" usul Ruslan yang tengah mengemasi perkakas kerja.
"Bener. Mas Arga pasti capek setelah sampai di rumah. Makanan ini tinggal diangetin aja. Nggak perlu capek-capek masak lagi."
"Diterima ya, Mas. Soalnya nggak bakal ada yang makan lagi," bujuk Rini bersikeras.
Arga menatap wajah putrinya yang penuh harap. Ia menghela napas panjang lalu mengangguk pelan. "Kalo gitu saya terima, Rin. Makasih, ya."
"Sama-sama, Mas."
Tatapan Rini beralih pada Andini. "Besok, kalo Bu bidan ada waktu, kita belajar baca lagi. Di rumah, kamu bisa ulang baca cerita yang tadi aja dulu," kaga Rini penuh perhatian.
"Iya, Bu bidan. Dini bakal belajar lagi di rumah bareng Ayah," angguk Andini antusias.
"Ya sudah. Kami pamit pulang. Assalamualaikum," ujar Arga dan segera berbalik pergi meninggalkan kediaman sang bidan muda itu.
Arga berjalan sambil memperhatikan rantang yang dia bawa. "Nggak biasanya Rini kasih makanan meskipun ini sisa," batinnya merasa heran.
Namun, ia berharap tidak ada alasan khusus yang membuat wanita itu melakukannya.
"Ayah, Bu bidan baik banget, ya. Kasih Dini buku terus kasih makanan juga. Kayaknya Bu bidan suka deh sama Ayah," ucap Andini sambil cengengesan.
"Heh, jangan ngomong sembarang," tegur Arga sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling, khawatir ada yang mendengar ucapan putrinya.
"Tapi, Bu bidan hanya kasih makanan pada Ayah. Dia nggak kasih pada Om Ruslan. Kan ini aneh. Dia pasti suka sama Ayah," lanjut Andini lagi penuh keyakinan.
"Itu nggak mungkin, Dini. Bu Bidan ngelakuin ini mungkin karena hanya ingin bersedekah. Dan daripada makanannya mubazir, jadi dikasih ke kita," jawab Arga berusaha memberi penjelasan paling masuk akal.
Andini terdiam, otaknya mencoba memproses ucapan ayahnya. "Yahh... padahal kalo punya Ibu baru kayak Bu bidan, Dini pasti bakal seneng. Bu bidan baik banget."
Arga tidak menimpali lagi, hanya menatap putrinya sambil menggelengkan kepala. Ia juga merasa geli melihat wajah kecewa Andini.
"Dini, mandi dulu, ya. Nanti makan, biar ayah angetin dulu sup jamurnya," titah Arga setelah sampai di rumah.
Andini mengangguk. Tanpa menunggu perintah dua kali, gadis itu segera berlari masuk ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya yang sudah kotor karena sempat bermain adonan pasir.
Tak seberapa lama, dia keluar dengen selembar handuk. Indra penciumannya langsung menangkap aroma sedap dari makanan yang tengah dihangatkan sang ayah.
"Ayah, Dini mau makan!" serunya.
"Sana, pake baju dulu."
Arga menyajikan nasi di rantang yang masih mengepul, juga lauk yang sudah dia hangatkan di ruang tengah.
Beberapa detik kemudian...
Andini menghambur dengan hanya memakai pakaian dalam. Semenjak pakaiannya hanya ditenteng di tangannya.
"Dini, pake dulu bajunya."
"Iya, Ayah. Dini pake," sahut Andini tanpa mengalihkan pandangan dari semangkuk jamur yang sudah membuat dia ngiler.
Andini langsung duduk setelah berpakaian lengkap. Ia bersila dan mengambil nasi dan sup jamur. "Dini suka supnya, Ayah. Enak banget. Sama seperti sup buatan Ibu," kata Andini sambil menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
Arga tertegun mendengar ucapan putrinya. Ia sadar, di balik sikap ceria Andini, ada rasa rindu yang mungkin berusaha dibandung nya.
"Ayah, apa Ibu beneran nggak bakal pulang dan tinggal bareng kita lagi?" tanya Andini tiba-tiba.
Ia mengaduk-aduk nasi di piring, tatapannya kosong.
Arga membeku, lidahnya terasa kelu untuk menjawab. Tidak tahu harus mengatakan apa untuk menyenangkan hati putrinya. Tidak mungkin baginya untuk memberi harapan kosong.
"Dini, kamu sayang sama Ibu kan?" Arga mendekat dan memeluk tubuh putrinya.
"Andini sangat sayang sama ibu, Ayah. Tapi, Ibu... lebih sayang sama suami barunya makanya dia ninggalin kita. Andini kecewa." Tangis gadis itu pecah di pelukan ayah.
"Nggak papa. Meskipun kita tidak tinggal bersama lagi seperti dulu. Tapi, Ibu akan tetap jadi ibu kamu. Dia pasti akan datang berkunjung melihat kamu. Buktinya, tadi malam, Ibu juga nelpon kamu, kan?"
"Itu artinya, dia juga sayang sama kamu," tutur Arga berusaha memberi pengertian meskipun pahit.
Andini mengusap air mata dengan punggung tangan. Gadis itu mendongak menatap wajah ayahnya. Ia menarik-narik baju Arga perlahan.
"Ayah, Ayah punya pulsa nggak? Dini pengen nelpon ibu lagi. Dini mau bilang kangen sama Ibu. Semoga aja Ibu mau pulang temuin Dini," pinta gadis itu penuh harapan.
Arga mengangguk tanpa pikir panjang. "Ayah akan telpon ibu kamu. Sudah, jangan nangis lagi."
Senyuman lebar langsung tersungging di bibir Andini. Gadis itu ikut menatap ke layar ponsel jadul ayahnya yang hanya bisa menelpon dan mengirim pesan.
Sementara itu, di dalam sebuah kamar...
Nadira tengah sibuk mengganti popok calon mertuanya dengan susah payah. Wanita itu kini sudah penuh persiapan. Memakai masker berlapis-lapis, dan sarung tangan.
Baru saja dia menarik napas panjang, setelah berhasil memasangkan popok pada Gina, ponsel miliknya tiba-tiba berdering di atas nakas.
"Kamu angkat dulu aja, Dira. Mungkin Bima," kata Gina lemah.
"Nanti aja, Ma. Aku pakein Mama celana dulu," tolak Nadira.
Sebenarnya dia sangat malas berbicara dengan Bima, karena perbincangan di toko perhiasan beberapa saat lalu.
Nadira segera memakaikan celana pada Gina, setelah itu dia pamit pergi ke kamar mandi untuk membuang sampah.
Sepeninggal Nadira, tanpa diketahui, Gina yang kembali mendengar suara dering ponsel calon menantunya, akhirnya berinisiatif menjawab panggilan tersebut.
"Bima mau apa sih? Nelpon sampe berkali-kali. Apa dia nggak kerja?" gumam Gina sambil melirik ponsel tersebut.
Tangannya yang lemah terulur, meraih benda pipih itu. Matanya yang sayu menatap layar yang sebuah nomor tanpa nama.
"Siapa yang nelpon Nadira sejak tadi?"
Gina mulai menggeser layar untuk menjawab panggilan tersebut dan langsung menekan tombol pembesar suara.
"Ibu!"
Bersambung...