Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.
Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.
Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".
Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Lia mengeraskan rahangnya. Ia tidak akan membiarkan Regas melihat setitik pun kerapuhan di matanya. Dengan langkah yang sengaja dibuat mantap, ia berjalan melewati laki-laki itu seolah Regas hanyalah salah satu pilar beton koridor yang mati.
"Lia, tunggu. Elena itu—"
"Permisi, Pak Regas. Bel sudah berbunyi. Saya punya tanggung jawab di dalam kelas," potong Lia tanpa menghentikan langkah. Suaranya datar, sedingin es, tanpa ada sedikit pun intonasi emosional yang bisa dimanfaatkan Regas untuk masuk.
Regas mencoba menghalangi jalan Lia dengan langkah lebar, namun Lia dengan tangkas menghindar. "Azzalia, tolong jangan begini. Kamu salah paham soal yang kamu lihat tadi."
Lia berhenti mendadak, namun ia tidak menatap wajah Regas. Ia hanya menatap lurus ke arah pintu kelasnya yang terbuka. "Salah paham? Saya melihat seorang laki-laki, istrinya yang sedang hamil, dan putri mereka yang manis. Itu bukan salah paham, Pak Regas. Itu adalah realita. Dan realita saya saat ini adalah mengajar murid-murid saya. Tolong, jaga batasan Anda sebagai orang tua murid."
Regas mengerutkan kening, tampak frustrasi. "Lia, elena itu "
"Cukup." Lia mengangkat tangannya, memberi isyarat berhenti yang mutlak. "Apa pun status wanita itu, dia sedang mengandung. Dan itu sudah cukup menjelaskan bahwa hidup Anda sudah berjalan sangat jauh sejak saya pergi. Jangan tarik saya kembali ke masa lalu yang sudah lama saya kubur."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Regas untuk mengeluarkan satu kata pun dari bibirnya yang sudah terbuka, Lia masuk ke dalam kelas dan menutup pintu dengan bunyi klik yang tegas. Bunyi itu seolah menjadi pernyataan perang—bahwa akses Regas ke dunianya telah ditutup rapat.
Di dalam kelas, Lia berdiri di depan para muridnya. Ghea menatapnya dengan mata bulat yang penuh rasa ingin tahu, duduk manis di barisan depan.
"Mari kita lanjutkan pelajaran sajak kita semalam," ujar Lia, suaranya kini kembali profesional meski tangannya di balik meja bergetar hebat. "Hari ini, kita akan belajar tentang 'Titik'. Ada yang tahu kapan kita harus menggunakan titik?"
Ghea mengangkat tangan. "Saat sebuah kalimat sudah berakhir, Bu Guru!"
Lia tersenyum getir, merasakan dadanya sesak. "Benar, Ghea. Saat semuanya sudah berakhir dan tidak ada lagi yang perlu dikatakan."
Dari balik kaca jendela pintu kelas, Lia bisa merasakan sepasang mata Regas masih menatapnya dengan penuh rasa bersalah dan kerinduan yang tertahan. Namun bagi Lia, bab itu sudah selesai—atau setidaknya, itulah yang ia paksakan untuk ia percayai.
Lia memalingkan wajahnya sepenuhnya dari kaca jendela, memutus satu-satunya jalur komunikasi visual yang masih tersisa antara dirinya dan Regas. Ia tidak peduli jika laki-laki itu masih berdiri di sana hingga kakinya kaku; baginya, sosok di balik kaca itu hanyalah hantu dari masa lalu yang salah alamat.
"Buka buku kalian halaman empat puluh dua," suara Lia menggema, tegas dan tak terbantah. "Kita akan belajar bahwa dalam sastra, sebuah titik bukan hanya tanda berhenti, tapi juga cara untuk menyelamatkan penulis dari kalimat yang terlalu melelahkan."
Sepanjang jam pelajaran, Lia bergerak dengan presisi yang menakutkan. Ia membedah rima, menjelaskan metafora, dan memuji tulisan murid-muridnya dengan nada yang sangat profesional. Ia sengaja memberikan perhatian lebih pada Ghea—bukan karena Regas, tapi karena ia tidak ingin menyalahkan anak itu atas luka yang dibuat ayahnya. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia bisa menghadapi Ghea tanpa harus melihat bayangan Regas di wajah anak itu.
Di luar, Regas akhirnya menyerah. Suara langkah sepatunya yang menjauh terdengar samar, diikuti sunyi yang panjang di koridor. Lia sempat terdiam sejenak, dadanya terasa sedikit lapang namun sekaligus hampa.
Dia sudah pergi, batin Lia. Sama seperti aku yang pergi lima tahun lalu. Sekarang kami impas.
Pukul dua siang, bel pulang sekolah berdering. Lia membereskan tasnya dengan cepat. Ia tidak ingin terjebak dalam drama "pencegatan" jilid dua di parkiran. Ia keluar melalui pintu samping yang biasanya digunakan oleh staf kebersihan, lalu memesan taksi daring menuju sebuah kafe kecil di pinggiran kota—tempat yang tidak mungkin dikunjungi oleh seorang CEO seperti Regas.
Di kafe itu, Lia duduk menyendiri di pojok ruangan. Ia membuka laptopnya, mencoba fokus pada draf modul pengajaran baru yang sedang ia susun. Namun, setiap kali ia mengetik satu kata, bayangan Elena yang sedang mengelus perut buncitnya muncul seperti iklan yang tak bisa dihentikan.
"Seharusnya aku senang," gumam Lia pelan sambil menyesap kopi pahitnya. "Dia tidak hancur karena kepergianku. Dia menemukan pengganti, dia membangun keluarga, dia hidup dengan baik. Bukankah itu yang harusnya terjadi pada setiap cerita yang sudah diberi tanda titik?"
Lia menutup laptopnya dengan kasar. Ia menatap pantulan dirinya di jendela kafe yang mulai berembun karena hujan sore. Ia mengenakan pakaian mahal, memiliki gelar bergengsi, dan dihormati banyak orang. Ia sudah mendapatkan impiannya. Namun, rasa sesak di dadanya justru memberi tahu hal yang berbeda: bahwa kesuksesannya terasa hambar jika pada akhirnya ia masih harus melarikan diri dari bayang-bayang seorang laki-laki yang sudah melangkah jauh di depannya.
Saat ia hendak berdiri untuk pergi, ponselnya berdenting. Bukan pesan dari Regas, melainkan sebuah notifikasi dari media sosial sekolah yang menampilkan foto kegiatan hari ini. Di sana, ada foto Ghea yang sedang tersenyum lebar sambil memegang sajak buatannya.
Lia tertegun melihat latar belakang foto itu. Di kejauhan, tampak Regas sedang berbicara di telepon dengan raut wajah yang sangat frustrasi, dan di tangannya—yang tidak sedang memegang ponsel—ia menggenggam erat sebuah buku puisi lama milik Lia yang dulu tertinggal di apartemen.
Lia segera memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia tidak ingin tahu. Ia tidak mau tahu. Baginya, sebuah titik tetaplah titik, tidak peduli seberapa keras penulisnya mencoba menghapusnya kembali menjadi koma.