Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Fajar menyingsing di Benua Langit Azure, namun bagi para penghuni Dapur Luar Sekte Awan Mengalir, matahari pagi bukanlah tanda untuk memulai kegaduhan, melainkan aba-aba untuk memulai ritual "Keheningan Suci".
Cahaya keemasan yang menembus jendela kayu tidak lagi disambut dengan teriakan kasar Kepala Koki Wang Ta. Sebaliknya, pria gempal itu berdiri di tengah dapur dengan tangan bersedekap, matanya yang kecil terus mengawasi setiap pergerakan murid pelayan dengan intensitas seorang jenderal di medan perang. Jika ada yang berani meletakkan piring dengan bunyi denting yang sedikit terlalu keras, Wang Ta akan memberikan tatapan yang seolah-olah bisa mencabut nyawa orang tersebut di tempat.
Di sudut barat laut dapur, yang kini telah disulap menjadi semacam paviliun mini yang terisolasi oleh tirai kain linen bersih, Lin Fan sedang menikmati puncak dari segala pencapaian hidupnya.
Kasur bulu angsa premium milik Wang Ta ternyata jauh lebih mewah dari yang dibayangkan. Setiap kali Lin Fan menggeser posisinya, kasur itu seolah-olah memeluk tubuhnya dengan kelembutan yang tidak masuk akal. Ditambah dengan pasif Aura Bantalan Awan, Lin Fan merasa seolah-olah dia sedang mengapung di ruang hampa yang hangat. Tidak ada tekanan pada sendi, tidak ada kram pada otot. Ini adalah kesempurnaan.
Bzzzt.
Mata Lin Fan terbuka sedikit. Pemandangan di depannya adalah nampan kayu yang diletakkan di atas meja kecil di samping kasurnya. Di atasnya terdapat semangkuk bubur sumsum spiritual yang ditaburi irisan daging babi hutan yang sangat halus, lengkap dengan uap hangat yang membawa aroma jahe dan madu hutan.
Zhao Er berdiri di balik tirai, hanya menampakkan bayangannya. "Tuan Lin... sarapan sudah siap. Saya... saya menggunakan teknik memotong searah serat seperti yang Tuan tunjukkan kemarin. Semoga selera Tuan berkenan."
Lin Fan menghela napas panjang, sebuah desahan kepuasan yang membuat Zhao Er di balik tirai merasa seolah dia baru saja menerima berkah dari dewa. Lin Fan meraih mangkuk itu dengan gerakan yang sangat minim, bahkan tidak perlu mengangkat kepalanya dari bantal.
"Kerja bagus, Zhao Er," gumam Lin Fan, suaranya serak dan malas. "Kau sudah mulai memahami bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tapi soal bagaimana ia tidak memaksa rahangku untuk bekerja terlalu keras. Bubur ini... cukup lembut."
Di balik tirai, Zhao Er hampir saja melompat kegirangan, namun dia menahan dirinya agar tidak menimbulkan suara. Bagi seorang murid pelayan, mendapatkan pujian dari seseorang yang dihormati oleh Murid Inti Su Qingxue adalah sebuah kehormatan yang bisa dibawa hingga ke liang lahat.
Namun, kedamaian surgawi itu tidak berlangsung lama.
Dari arah gerbang utama Dapur Luar, terdengar suara langkah kaki yang berat dan angkuh. Bukan langkah kaki berjinjit ala pelayan dapur, melainkan langkah kaki yang sengaja dihentakkan ke lantai batu untuk menunjukkan otoritas.
BRAK!
Pintu ganda dapur ditendang terbuka dengan kasar. Sinar matahari yang tajam masuk menyilaukan mata, membawa serta sosok seorang pria paruh baya berjubah hijau tua dengan sulaman harimau di dadanya. Dia adalah Diaken Hu, penanggung jawab administrasi murid luar yang dikenal karena temperamennya yang meledak-ledak dan kebenciannya pada segala bentuk kemalasan.
Di belakangnya, dua murid penegak hukum sekte mengikuti dengan wajah datar dan pedang di pinggang mereka.
"Wang Ta! Apa yang terjadi dengan tempat ini?!" suara Diaken Hu menggelegar, memecahkan keheningan yang telah dijaga dengan susah payah selama berjam-jam. "Kenapa dapur ini sesunyi kuburan? Mana suara pisau? Mana uap tungku yang membumbung? Apakah kau ingin tiga ribu murid luar mati kelaparan hari ini?!"
Wang Ta, yang tadinya sedang mengawasi rebusan sup dengan tenang, hampir saja menjatuhkan sendok sayurnya. Wajahnya memucat seketika. Dia segera berlari menghampiri Diaken Hu, tangannya bergerak panik di depan mulutnya sendiri, memberikan isyarat untuk diam.
"Sssst! Diaken Hu! Tolong... rendahkan suara Anda!" bisik Wang Ta dengan nada memohon yang sangat putus asa. Keringat dingin mulai membasahi lehernya yang berlemak.
Diaken Hu mengerutkan keningnya hingga alisnya yang tebal menyatu. Dia menepis tangan Wang Ta dengan kasar. "Apa-apaan kau ini? Menyuruhku diam di wilayahku sendiri? Kau sudah gila, Wang Ta? Atau kau sedang menyembunyikan selir di dalam dapur ini?"
"Bukan... bukan begitu, Diaken," Wang Ta melirik dengan ngeri ke arah tirai di sudut ruangan. "Ada... ada seorang tamu agung... maksud saya, seorang ahli yang sedang bermeditasi di sana. Tolong, jika Anda membangunkannya, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada dapur ini."
Diaken Hu tertawa meremehkan, sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan amplas. "Ahli? Di dapur pelayan? Wang Ta, sepertinya uap sup telah merusak otakmu. Aku ke sini bukan untuk mendengar omong kosongmu. Aku ke sini untuk mengumumkan bahwa turnamen tahunan Sekte Luar akan dimulai dalam tujuh hari!"
Dia membuka sebuah gulungan perkamen besar dengan hentakan yang kasar.
"Perintah dari Tetua Aula Besar! Semua murid, tanpa terkecuali—termasuk para pelayan dapur dan penyapu jalan—wajib mendaftarkan diri. Siapa pun yang absen akan dianggap mengundurkan diri dari sekte dan akan dibuang ke Hutan Binatang Buas!"
Mendengar kata-kata 'Hutan Binatang Buas', seluruh murid pelayan di dapur gemetar. Itu adalah tempat di mana kematian adalah hal yang paling baik yang bisa terjadi pada seseorang.
Di sudut tirai, Lin Fan yang baru saja menyuapkan sesendok bubur ke mulutnya, terhenti. Matanya yang sayu menatap hampa ke arah langit-langit linen.
Turnamen? Wajib? batin Lin Fan, rasanya ingin memuntahkan buburnya kembali. Itu artinya aku harus berjalan ke arena, berdiri di bawah terik matahari, mengayunkan tangan, dan mungkin... berkeringat? Apakah sekte ini tidak punya rasa kemanusiaan sama sekali?
Tiba-tiba, suara sistem yang sudah lama tidak terdengar kembali berdenting di kepalanya.
[Ding! Terdeteksi ancaman terhadap gaya hidup rebahan Host.]
[Misi Utama Baru: Bertahan dalam Turnamen Sekte Luar tanpa harus berdiri lebih dari lima menit per pertandingan.]
[Hadiah Misi: Teknik 'Langkah Bayangan Malas' (Mampu berpindah tempat tanpa terlihat bergerak) dan 'Botol Air Kehidupan Abadi' (Air yang tidak pernah habis dan selalu dingin).]
[Misi Sampingan Saat Ini: Buat Diaken Hu meninggalkan dapur ini tanpa Host harus beranjak dari kasur.]
[Hadiah Misi Sampingan: Pengalaman Kultivasi +500 dan 'Kipas Angin Otomatis Energi Qi'.]
Mata Lin Fan yang tadinya hanya terbuka separuh, kini terbuka sepenuhnya. Kipas angin otomatis? Di dunia tanpa listrik dan AC ini, itu adalah benda suci bagi seorang pemalas!
Lin Fan menghela napas. Dia meletakkan mangkuk buburnya dengan pelan. Dia tahu, jika dia membiarkan Diaken Hu terus berteriak, waktu tidurnya akan hancur total.
"Koki Wang..." suara Lin Fan mengalun dari balik tirai, sangat pelan namun entah bagaimana terdengar jelas di telinga semua orang, seolah-olah suara itu berbisik langsung di samping kepala mereka.
Diaken Hu tersentak. Dia memutar tubuhnya ke arah tirai. "Siapa itu? Keluar dari sana! Berani-beraninya kau berbicara dengan nada yang begitu tidak sopan di hadapan Diaken Sekte!"
Lin Fan tidak keluar. Sebagai gantinya, dia menggunakan sedikit energi dari Langkah Awan Menguap dan Mata Persepsi Malas yang sudah menyatu dengan tubuhnya. Melalui celah tirai, dia melihat Diaken Hu.
Di mata Lin Fan, tubuh Diaken Hu tampak seperti mesin yang dipaksa bekerja terlalu keras. Ada sumbatan energi di bagian pinggangnya, mungkin karena terlalu banyak duduk saat mengurus administrasi atau karena teknik pernapasan yang salah.
"Diaken Hu," ucap Lin Fan, suaranya dihiasi nada simpati yang dibuat-buat. "Kenapa Anda berteriak di pagi hari yang tenang ini? Apakah nyeri di pinggang bawah Anda tidak cukup menyiksa malam ini? Saya bisa mendengar tulang belakang Anda merintih setiap kali Anda menghentakkan kaki."
Diaken Hu membeku. Wajahnya yang tadinya merah karena marah, tiba-tiba berubah menjadi pucat, lalu biru. Dia secara refleks memegang pinggang belakangnya. "Kau... bagaimana kau tahu?"
Nyeri pinggang itu adalah rahasia pribadinya. Dia sudah mencoba berbagai tabib, namun tidak ada yang berhasil menyembuhkannya. Rasa sakit itu biasanya memuncak di pagi hari, dan berteriak adalah caranya mengalihkan rasa sakit tersebut.
"Kebisingan hanya akan memperburuk aliran Qi Anda," lanjut Lin Fan, suaranya semakin berat oleh rasa kantuk. "Jika Anda terus berteriak, dalam tiga tarikan napas, kaki kiri Anda akan mati rasa, dan Anda akan jatuh tersungkur di depan murid-murid Anda. Sangat tidak gagah untuk seorang Diaken."
"Satu..." Lin Fan memulai hitungan mundur.
Diaken Hu menegang. Dia mencoba melangkah maju untuk merobek tirai itu, namun tiba-tiba, sebuah rasa sakit tajam seperti tusukan jarum melesat dari pinggangnya menuju kaki kirinya.
"Dua..."
Lutut kiri Diaken Hu bergetar. Dia mencoba menahan berat tubuhnya menggunakan meja jagal di dekatnya, namun tangannya terpeleset di atas permukaan yang licin oleh sisa minyak (yang sengaja tidak dibersihkan dengan sempurna oleh Lin Fan kemarin).
"Ti—"
"CUKUP!" teriak Diaken Hu, suaranya pecah. Dia hampir saja jatuh jika tidak segera ditangkap oleh dua murid penegak hukum di belakangnya. Keringat dingin bercucuran di wajahnya. Dia menatap tirai itu dengan pandangan horor, seolah-olah di baliknya bersemayam iblis yang bisa mengutuknya hanya dengan kata-kata.
"Siapa... siapa sebenarnya yang ada di sana?" tanya Diaken Hu dengan suara gemetar.
Wang Ta segera mendekat, berbisik dengan nada mendesak. "Saya sudah bilang, Diaken! Beliau adalah tamu dari Su Qingxue! Beliau sedang menguji ketenangan jiwa di sini! Tolong, jangan cari masalah!"
Diaken Hu menelan ludah. Menyebut nama Su Qingxue sudah cukup untuk membuat siapa pun di sekte luar gemetar. Ditambah dengan fakta bahwa orang di balik tirai bisa mendiagnosa penyakit rahasianya hanya dari suara langkah kaki, dia yakin bahwa dia baru saja menyinggung seorang ahli yang sangat eksentrik.
"B-baiklah! Aku akan pergi!" Diaken Hu mencoba menegakkan punggungnya meski rasanya seperti ditarik paksa. Dia melemparkan gulungan perkamen itu ke arah Wang Ta. "Catat semua nama! Termasuk dia! Aku tidak peduli siapa dia, hukum sekte adalah hukum sekte! Tujuh hari lagi di arena luar!"
Tanpa menunggu balasan, Diaken Hu berbalik dan berjalan pergi secepat yang diizinkan oleh kakinya yang pincang, diikuti oleh murid penegak hukum yang tampak bingung.
Setelah pintu dapur tertutup kembali, keheningan kembali merajai. Namun kali ini, keheningan itu dipenuhi oleh rasa kagum yang tak terlukiskan terhadap Lin Fan.
Wang Ta mengusap keringat di dahinya dengan lengan bajunya. Dia menatap tirai Lin Fan dengan tatapan yang nyaris seperti pemujaan dewa. "Tuan Lin... Anda benar-benar... saya tidak punya kata-kata lagi."
[Ding! Misi Sampingan Selesai!]
[Menerima Pengalaman Kultivasi +500]
[Inisiasi Terobosan Otomatis: Selamat! Host telah mencapai Pemurnian Tubuh Tingkat 4!]
[Menerima: 'Kipas Angin Otomatis Energi Qi'.]
Seketika, sebuah kipas kecil yang terbuat dari bulu burung spiritual muncul di samping bantal Lin Fan. Kipas itu mulai berputar sendiri dengan lembut, memberikan hembusan angin sejuk yang sangat pas—tidak terlalu kencang untuk membuat masuk angin, tidak terlalu pelan untuk membuatnya berkeringat.
Lin Fan merasakan aliran energi hangat mengalir di meridiannya, memperkuat otot dan tulangnya. Namun, dia hanya mendesah pelan.
"Tingkat 4... itu artinya tubuhku akan semakin berat dan aku akan butuh bantal yang lebih tebal," gumam Lin Fan. Dia menarik selimutnya kembali hingga menutupi dagu. "Dan turnamen itu... tujuh hari lagi. Zhao Er, pastikan tidak ada yang membangunkanku sebelum matahari benar-benar tinggi besok. Memprediksi penyakit orang sangat menguras tenaga."
"Baik, Tuan Lin!" sahut Zhao Er dengan penuh semangat.
Dapur Luar kembali sunyi. Wang Ta segera memerintahkan murid pelayan untuk memasang tanda "Dilarang Masuk" di depan pintu dapur. Bagi mereka, Lin Fan bukan lagi sekadar pelayan yang beruntung, melainkan pelindung mereka dari tirani sekte luar.
Sementara itu, di dalam pikirannya yang mulai terlelap, Lin Fan mulai menyusun rencana yang sangat rumit. Bukan rencana untuk memenangkan turnamen, melainkan rencana bagaimana caranya kalah dalam pertandingan pertama dengan cara yang paling terhormat sehingga dia bisa kembali ke kasurnya dalam waktu kurang dari satu menit.
Menang itu melelahkan, pikir Lin Fan sebelum akhirnya dengkuran halusnya kembali terdengar, berirama dengan putaran kipas angin spiritual di sampingnya. Tapi setidaknya kipas ini benar-benar sejuk.